
Cecil tak ingin membantah lagi ucapan Arka, ia juga butuh penjelasan akan hal ini.Selama ini ia penasaran apa sebenarnya hubungan Arka dan Fahira
" Abang dan Fahira tidak ada hubungan apapun selain sebagai sekretaris dan atasan , abang pernah beberapa kali kerumah nya itu hanya karena orang tua nya ,bukan untuk Fahira ,"
" Orangtua Fahira kenapa ?."
" Dua tahun yang lalu karena kelalaian abang saat mengendarai abang menabrak pengendara motor ,hingga meninggal ." Arka mengusap wajahnya ketika mengingat kejadian itu , sungguh ia menyesal dan sampai saat ini ia masih di liputi rasa bersalah .
" Apa yang meninggal itu ayahnya ka Fahira?." Tebak Cecil
" Ya , dan abang baru tahu kalau itu adalah ayahnya Fahira ."
" Kenapa bisa begitu ."
" Saat itu abang berusaha mencari identitas nya namun tidak ada ,di bantu pihak kepolisian dengan melacak plat no motor nya, abang sudah ke rumahnya namun saat itu memang tidak ada Fahira dan ketika mendengar kabar tersebut ibu dari Fahira terkena stroke. "
Cecil menutup mulutnya karena terkejut
" kasihan sekali ."
" Ya semenjak saat itu abang jadi merasa bersalah , dan abang kerumah Fahira hanya untuk menjenguk orangtuanya , dan mengantarkan nya saat kontrol , abang harap kamu mengerti ." Arka memegang kedua tangan Cecil berharap gadis itu akan mengerti .
" Lalu kapan abang tau kalau itu orang tua Fahira ?."
" Saat di kantor , sempat dia meminta izin beberapa hari , dan abang beberapa kali melihat dia seperti habis menangis "
# Flasback #
" Fahira kamu kenapa ?." Tanya Arka yang tanpa sengaja melihat Fahira menahan tangis saat lewat di depan meja nya ,
" Tidak apa apa pak !." Fahira mengelap air matanya
" Apa ada sesuatu yang terjadi ?."
" Tidak pak , hanya sedang teringat almarhum ayah saya !."
" Ayah mu meninggal ?."
" Iya beberapa bulan lalu ,karena kecelakaan ?."
" Saya turut berduka , kalau kamu memang sedang tidak enak badan ambil cuti saja ."
" Terimakasih pak ,mungkin besok saya izin karena akan mengantarkan ibu saya kontrol ke Rumah sakit !."
" Ibu mu sakit apa ?."
" Ibu terkena stroke saat mendengar ayah meninggal ."
" Deg,,," Arka jadi teringat akan seseorang yang di tabraknya beberapa bulan lalu,
__ADS_1
" Siapa nama ayahmu ?."
" Pak Budiman ."
Dan benar saja seorang yang di tabraknya itu adalah orang tua Fahira.
# Flasback off#
" Tolong jangan berfikir buruk tentang abang ,percayalah ." Arka menarik Cecil dalam pelukan nya, mendekap erat tubuh mungil yang sulit sekali ditaklukkan , " Abang tidak ingin kamu salah paham, karena Fahira dan ibu nya menjadi tanggung jawab abang sebagai ucapan maaf karena kesalahan yang abang perbuat ."
Cecil melepaskan pelukan nya lalu menatap Arka " Tanggung jawab abang ?,"
Arka mengangguk.
" Ka Fahira sudah dewasa dan abang selama ini sudah bertanggung jawab , lalu tanggung jawab seperti apa yang mau abang tunjukkan , dengan mengantar dan menjemput setiap hari ?, dengan mendatangi rumah nya , atau jangan jangan ibunya meminta abang untuk menikahi ka Fahira ?." Ucap Cecil sedikit kesal,
" Cecil , kenapa kamu berbicara seperti itu ?." Arka membentak Cecil tanpa sadar , hingga membuat Cecil terjingkat kaget .
Cecil segera berdiri dan meninggalkan Arka masuk ke dalam kamar , Ia tak menyangka Arka akan semarah itu, bukankah pertanyaan itu wajar , perlakuan Arka itu justru akan menimbulkan persepsi yang berbeda untuk Fahira .
Arka mengusak rambutnya kasar ,ia sungguh tak bermaksud seperti itu ,ia pun menyusul Cecil namun pintunya terkunci .
" Cecil ,buka pintu nya , abang minta maaf, !." Arka terus mengetuk pintu sampai akhirnya ia menyerah dan duduk kembali namun matanya tetap tertuju pada pintu yang tertutup .
Di dalam kamar Cecil berdiri di depan jendela besar, matanya tertuju pada hamparan pepohonan yang begitu rindang dari kejauhan terlihat luas dan hijaunya kebun teh .
Bolehkah kali ini ia cengeng, rasanya ingin sekali menjerit dan menagis , nafas nya sesak entah untuk apa , Entah perasaan nya tidak menerima Arka memperlakukan Fahira yang menurutnya tidak masuk akal, Seberapa lama Arka akan melakukan hal itu ,bahkan ini sudah berjalan dua tahun lebih , dan ia melihat kalau Fahira memiliki perasaan yang lebih mereka sama sama perempuan, dari cara memandang dan tersenyum nya pun berbeda , dan Cecil masih ingat kalau Fahira pernah bercerita tentang lelaki yang di sukainya dan tebakan nya adalah Arka dan mungkin memang benar .
" Cecil maaf , tadi abang tidak sengaja .!'Arka langsung berdiri dan memegang kedua tangan Cecil dengan raut wajah penyesalan.
" Tidak apa apa , itu hak abang , oh iya kita pulang yuk ini sudah siang ,aku ada janji dengan seseorang ." Cecil memasang raut wajah biasa saja seperti tak terjadi apa apa . ia melepaskan pegangan tangan Arka dan berjalan keluar lebih dulu .
" Tunggu Cecil." Arka mencegah Cecil menarik tangan nya untuk duduk kembali .
" Entah apa yang harus abang lakukan untuk meyakinkan mu !".
" Abang tidak perlu melakukan apa apa , karena hubungan kita hanya ....."
" Hubungan kita lebih dari adik kakak dan kita bukan teman !." Tegas Arka
" Lalu ?."
" Abang ingin kita menjadi sepasang kekasih !!."
" Aku .....!"
" Jangan menjawab sekarang , pikirkan dulu , ya walau apapun jawaban mu kamu akan tetap menjadi milik abang, dan itu harus !."
" Ciiìhhhh, pemaksa!." Cecil bangun dari duduk nya dan berjalan ke arah mobil .Meninggalkan Arka yang masih duduk diam .
__ADS_1
" Abang mana ponsel ku ? ," Dari awal datang Cecil tak melihat tas juga ponsel nya .
" Tuh ." Arka memberi kode kalau tas Cecil ada di kursi belakang ,
Banyak panggilan tak terjawab ,salah satunya dari Edward , ia pun membaca pesan yang di kirim lalu ia menelfon balik
" Hallo Edward, maaf aku baru membaca pesan mu , " Cecil melirik kesal pada Arka," Oke jam 4 nanti kita ketemu ditempat biasa ." Lalu Cecil menutup panggilannya.
" Mau kemana kamu ?." Tanya Arka dengan nada sedikit ketus .
Cecil tak menjawab ia justru memilih diam .
" Abang tak suka jika kamu dekat dengan Edward !."
" Abang tidak punya hak !."
" Tentu saja abang berhak atas kamu ." Balas Arka tak mau kalah .
" Enak saja ,aku wanita bebas ya !."
" Itu hanya menurut mu ."
Cecil tak ingin berdebat lagi , ia kini lebih memilih diam , Cecil sengaja mempermainkan perasaan Arka, agar tau rasanya jadi dia dulu seperti apa , si sombong dengan kepala batu yang mau seenaknya sendiri saja . Lagi pula Cecil punya alasan sendiri sampai nanti tak ada keraguan lagi .
Arka menepikan kendaraannya di pinggir jalan yang sepi ." Batalkan pertemuanmu dengan Edward !." Arka berucap dengan serius
" Aku tidak mau !."
" Sepertinya kamu harus di beri pelajaran !."
" Aabang mau apa ?." Cecil memundurkan tubuhnya hingga membentur pintu .
" Memberi pelajaran pada kucing yang susah di atur !." ( apakah ada yang ingat dengan kata kata ini ?).
" Eeumm,." Arka membungkam mulut mungil Cecil dengan mulutnya , ada rasa cemburu di balik ciuman itu sehingga terasa menggebu gebu ,
Cecil memukul mukul sambil mendorong tubuh Arka, tentu saja tenaga Cecil tak sebanding dengan tenaga Arka yang sedang di liputi rasa cemburu.
Dan tak hanya ciuman, bahkan Bibir Arka kini berada di leher mulus nan jenjang milik Cecil, Arka benar benar marah saat ini , ia memegang tangan Cecil agar tak berontak .
" Abang ,hentikan ,aku mohon ,,aakhh,,." Cecil justru melenguh karena sensasi rasa yang berbeda ..
" Tidak , tidak abang ,,jangan....!!" Bibir Arka sudah berpindah.......
-
-
tbc
__ADS_1
Jangan lupa like dan beri bintang selesai membaca ya ka , terimakasih 🤩