
Kini tatapan kami pun saling bertautan. Hingga akhirnya kami sama-sama terkejut dengan ponselku yang berdering.
“Halo,” ucapku.
“Fir, lo di mana?” tanya orang itu yang ternyata Jio.
“Gue masih ada di rumah, Yo. Ada apa?” tanyaku sambil melirik ke arah Pak Fathan yang melanjutkan sarapannya.
“Lo bisa cepetan datang ke kampus gak? Gue ada berita penting nih,” ucapnya yang sepertinya sedang panik.
“Emang ada apa sih, Yo?” tanyaku.
“Udah. Lo cepetan datang aja. Gue tunggu. Jangan pakai lama ya. Tut..Tut..Tut..”
“Eh? Lha kok di tutup sih?” gumamku.
Dan di saat yang bersamaan,..
“Siapa?” tanya Pak Fathan.
“Jio, Pak.”
“Ngapain dia telepon kamu?”
“Gak tahu, Pak. Langsung di tutup.”
***
Saat sampai di kampus, Jio langsung berlari menghampiriku dan protes, “Fir, lo kok lama bener sih? Jam segini baru sampai. Emangnya lo lewat jalur mana?”
“Gue lewat jalur yang banyak pengkolannya, Yo.”
“Ish. Lo ini. O ya, lo tahu kan siapa orang yang terakhir kali meninggal di toilet?” tanya Jio tiba-tiba.
Aku pun menggeleng lalu menjawab, “Gue sih gak tahu persis dia siapa. Hanya saja gue tuh tahunya kalau namanya Ciko. Itu pun kalau gak salah ingat. Emang kenapa, Yo?”
“Dia, Fir. Dia itu salah satu teman dekatnya Deri dan Aryo,” ucap Jio.
“Lha terus?” tanyaku bingung.
“Emangnya lo gak ngerasa aneh apa?! Kenapa ke dua sahabat ini bisa meninggal di waktu yang tidak terlalu jauh. Jangan-jangan setelah ini giliran si Aryo. Secara mereka bertiga kan emang sahabatan,” ucap Jio.
“Hus. Jangan bilang kayak gitu kalau gak punya bukti. Bisa aja kan itu kebetulan aja. Udahlah jangan terlalu dipikirkan. Ayo kita ke kelas aja,” ajakku.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari Jio, aku pun langsung melangkahkan kakiku menuju kelas.
***
Saat di kantin kampus, aku pun terdiam dengan pikiran yang kosong. Tanpa memesan makanan atau pun minuman. Hal ini rupanya di perhatikan oleh Jio sehingga membuat dia bertanya, “Fir, lo kenapa? Lo kok gak pesan apa-apa?”
“Gue gak kenapa-kenapa, Yo. Cuma lagi gak nafsu makan aja. Gak ngerti kenapa,” sahutku.
“Aih. Lo ini. Makanlah sedikit-sedikit. Nanti kamu pingsan lho,” ucap Jio yang memberikan makanan pesanannya padaku namun aku menolaknya.
Jio yang sudah tahu tentang diriku pun akhirnya tidak memaksakan kehendaknya. Dimakannya sendiri makanan pesanannya tadi. Sementara itu aku meneruskan lamunanku.
Di saat aku sedang asyik-asyiknya melamun, tiba-tiba saja lagi-lagi aku didatangi oleh sekelompok mahasiswi yang tentunya adalah fans dari Pak Fathan.
“Hai, lo. Lo yang namanya Fira, kan?” tanyanya tanpa basa-basi.
Aku yang sedang melamun itu pun hanya diam melihatnya dan tidak menyahut.
“Eh, lo pada mau ngapain?” tanya Jio.
“Bukan urusan lo,...” sahutnya, “Eh Lo, Fir. Denger baik-baik ya. Lo jangan sok deketin Pak Fathan deh. Lo harusnya ngaca lo tuh siapa.”
Jio yang mendengar ucapan seperti ini pun serasa seperti tidak rela kalau aku di perlakukan seperti itu. Dengan emosi dia mengatakan kalau dia ini adalah cowokku dan dia tentunya tidak akan membiarkanku mendekati cowok lain.
Sementara aku yang mendengar itu pun melongo. Karena aku merasa kalau Jio terlalu berani mengaku-ngaku seperti itu.
Mereka pun kemudian pergi dan sesaat setelah itu, aku langsung memukul kepala Jio karena kesal.
“Eh, Yo. Ngapain lo tadi bilang kalau gue ini cewek lo, hah? Lo dapet keberanian dari mana tiba-tiba ngaku kayak gitu tadi?” protesku.
“Sori, Fir. Gue terpaksa. Gue gak mau ke depannya lo di ganggu ma mereka lagi,” ucap Jio membela diri.
Aku pun terdiam mendengar penuturan dari Jio. Hanya saja aku merasa kalau ada efek di luar dugaan yang akan terjadi padaku nanti.
“Aih,...” ucapku sambil menepuk jidatku, “bakalan masalah lagi ini sih.”
“Apa lo tadi bilang, Fir?” tanyanya yang mungkin tidak jelas mendengar ucapanku.
“Oh bukan apa-apa. Udah yuk. Balik ke kelas,” ajakku yang langsung berdiri dan pergi meninggalkannya.
***
Sore hari ketika kelas sudah bubar, Jio yang sudah terlebih dahulu keluar karena harus ke toilet ini membuat aku berjalan sendirian.
__ADS_1
Namun ketika aku sedang santai berjalan di lorong kelas, tiba-tiba saja tanganku di tarik seseorang hingga aku masuk ke dalam kelas yang kosong.
“Ba—ba—bapak! Bapak ngapain sih tarik tanganku ke sini?” protesku.
“Ststtst.. pelankan suaramu,” ucapnya.
“Iya. Tapi ada apa ini, Pak?” tanyaku lirih.
“Fir, apa maksud dari orang-orang bilang kalau kamu pacaran sama teman cowokmu itu?” tanyanya tiba-tiba membuat aku terkejut.
“Pak, maksud Bapak apa?” tanyaku balik tanpa menjawab pertanyaannya.
“Jangan balik tanya. Jawab aja pertanyaanku tadi,” ucapnya lirih namun tegas.
“Aku.. aku.. aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Jio. Mereka semua sudah terima mentah-mentah ucapan Jio tadi,” jelasku.
Pak Fathan pun menyipitkan matanya lalu bertanya, “Maksud kamu apa?”
“Jadi gini,...” Aku pun akhirnya menjelaskan semuanya kenapa bisa sampai ada hal seperti itu dan Pak Fathan pun terlihat seperti sedang mendengarkan penjelasanku dengan seksama.
Dia pun sepertinya mengerti dengan apa yang aku jelaskan dan sesaat kemudian, “Ya sudah kalau memang ceritanya seperti itu. Mulai sekarang kamu harus benar-benar berjanji padaku kalau kamu sebisa mungkin untuk tidak terlalu dekat dengannya.”
Aku yang mendengar ucapan Pak Fathan ini pun menjadi bingung. Apa maksudnya dia bilang seperti itu.
“Ya suka-suka aku lha, Pak. Aku mau dekat dengan siapa itu kan hak ku,” ucapku.
“Kamu,...” ucapnya dengan nada kesal, “pokoknya jangan dekat ya jangan dekat. Gak ada pembantahan.”
“Pak, Bapak itu kenapa sih? Kenapa Bapak selalu saja melarangku untuk dekat dengannya? Padahal kami kan cuma berteman saja,” protesku.
Saat mendapatkan pertanyaan seperti itu dariku, tampak terlihat kalau Pak Fathan sedang mengepalkan tangannya dan kemudian menarik nafas panjang.
“Ok.. ok.. jika memang kamu ingin tahu yang sebenarnya,...” Untuk sesaat dia pun memejamkan matanya dan kemudian, “Aku melakukan itu semua karena aku menyukaimu. Apakah jawaban ini sudah cukup agar kamu mau menurutiku?” ucapnya lagi.
Mendengar jawabannya yang seperti itu, membuat aku lagi-lagi terkejut lalu bertanya, “Pak, Bapak bohong kan?”
“Menurutmu?”
Dan di saat yang bersamaan tiba-tiba saja ponsel Pak Fathan berbunyi sehingga membuatnya langsung menjawab panggilan tersebut.
“...ya saya akan segera ke sana.” Entah apa yang sedang dibicarakan tapi yang pasti telepon tersebut langsung diakhiri.
“Fir, aku gak bisa pulang bareng. Kamu naik Taxi aja. Ini uangnya. Ingat, langsung pulang dan jangan ngobrol ma cowok itu. Kalau tidak, kamu akan aku hukum setelah aku pulang,” ucapnya sambil memberikan uangnya dan kemudian pergi.
__ADS_1
Sesaat setelah Pak Fathan pergi, aku pun langsung terduduk di lantai dan mencoba menenangkan diri dari sport jantung setelah mendengar ucapannya.
Bersambung..