
Di rumah Jio...
“Masuk, Fir. Maaf kalau berantakan,” ucap Jio begitu pintu telah terbuka.
Tanpa segan, aku pun masuk. Ku pandangi sekeliling ruangan tersebut dan dapat kulihat kalau memang agak sedikit berantakan.
“Yo, memangnya lo gak pernah beresin apa kamar lo ini?” tanyaku sambil mencoba membantu Jio merapikan benda-benda yang berserakan.
“Gak terlalu sempat, Fir. Ya maklum lha, Fir. Lo kan tahu sendiri kalau gue bukan hanya kuliah aja. Gue juga harus kerja buat hidup gue sehari-hari,” jelasnya.
Saat itu, aku hanya diam saja tidak menanggapi ucapannya. Aku masih terus melanjutkan aktifitasku membereskan barang-barang. Hingga suatu ketika...
“Foto ini lagi. Sepertinya foto ini tidak asing,” gumamku dalam hati.
“Ada apa, Fir?” tanya Jio yang ternyata memperhatikan aku.
“Oh. Ini, Yo. Setiap gue ke sini, gue kok selalu nemuin foto ini di atas meja ini. Emangnya ini siapa, Yo?” tanyaku.
“Mana? Coba sini gue lihat,” ucap Jio sambil kemudian ikut melihat ke arah foto yang terpajang.
“Oh ini. Ini kan teman SMU kita, Fir. Masa’ lo lupa sih!?” ucap Jio.
“Teman SMU kita?” tanyaku memastikannya.
Jio pun mengangguk lalu berkata, “Iya. Dia kan Arin, Fir.”
“Arin?” tanyaku lagi.
“Iya. Arin. Coba lo inget-inget lagi deh. Dulu lo tuh deket banget sama dia. Sampe-sampe gue cemburu lho,” ucap Jio.
“Apaan sih lo ini, Yo. Ngapain juga cemburu ma teman perempuan?” tanyaku menggoda dan Jio pun hanya cengengesan.
Setelah mengatakan itu, aku pun kembali memandangi foto tersebut.
“Sepertinya aku pernah melihat foto ini!? Tapi di mana ya!?” gumamku dalam hati sambil mencoba mengingat-ingat kembali.
Setelah beberapa saat kemudian..
“O iya, sekarang aku ingat. Sepertinya foto ini pernah aku lihat di kamar Pak Fathan waktu itu. Jangan-jangan,...”
Aku tiba-tiba saja teringat ucapan Gladis.
\=\= Flash back ON \=\=
“Fir, aku peringatkan sama kamu. Lebih baik kamu jangan banyak berharap pada Fathan. Dia mendekatimu demi untuk menyelidiki kasus tewasnya Adiknya yang berhubungan dengan temanmu, Jio,” ucap Gladis.
“Maksud kamu apa?” tanyaku.
“Maksudku sudah cukup jelas. Kamu itu hanya sekedar di manfaatkan saja oleh Fathan. Jadi jangan terlalu banyak berharap lebih,” ucap Gladis.
\=\= Flasbac Off \=\=
__ADS_1
“Ah. Lebih baik aku memastikannya lagi,” gumamku dalam hati.
Walau aku punya pikiran seperti itu, aku tetap tidak ingin Jio menjadi curiga. Aku akhirnya melanjutkan membantu Jio membereskan kamarnya tanpa banyak bicara.
“Fir, ini lo minum dulu,” ucap Jio sambil menyodorkan segelas air mineral dingin.
“Terima kasih, Yo.”
Aku yang memang haus ini pun akhirnya meminumnya.
“Fir, lo kenapa tiba-tiba aja ingin main ke sini?” tanya Jio yang rupanya masih penasaran.
“Oh. Gue lagi suntuk, Yo. Jadinya gue ingin main tapi gue gak tahu mau main ke mana,” jelasku memberi alasan.
“Oh begitu. Kenapa gak bilang dari tadi kalau lo lagi suntuk, Fir?” tanya Jio.
“Hahaha.. Gue pikir lo udah bisa nebak. Jadinya gue gak ngomong lebih lanjut,” ucapku.
“Yeee... Gimana gue bisa nebak. Lha lo nya aja ngomongnya kaya’ orang panik gitu,” protes Jio.
“Ha? Iya kah?” tanyaku.
“Heleh,” sahutnya.
Kami pun megobrol dan bercanda seperti biasanya. Hingga sore pun tiba dan aku pun memutuskan untuk pulang.
“Gue antar ya Fir,” ucap Jio menawarkan.
“Gak usah, Yo. Gue pulang sendiri aja,” tolakku.
“Hmm.. Soalnya gue mau mampir ke mini market dulu,” ucapku yang benar-benar sudah kehabisan alasan.
“Oh. Ya udah kalau begitu. Tapi lo hati-hati ya. Nanti kalau udah sampe jangan lupa ngabarin gue,” ucap Jio dan aku pun mengangguk.
Tanpa membuang waktu lebih lama, aku pun langsung bergegas pergi dari rumah Jio dan kemudian menuju rumah Pak Fathan.
Setelah beberapa saat kemudian..
“Eh. Non akhirnya pulang,” ucap Bibi.
Aku pun tersenyum lalu bertanya, “Pak Fathan ada, Bi?”
“Lha bukannya Tuan pindah ke sebelah tempat tinggal Non?” tanya Bibi bingung.
“Iya sih. Tapi siapa tahu aja Pak Fathan pulang ke sini hari ini,” ucapku sambil salah tingkah.
Bibi pun hanya tersenyum dan tidak menyahuti ucapanku itu.
“Ya udah, Non. Masuk aja. Kamar Non masih sama seperti semula kok,” ucap Bibi dan aku pun mengangguk.
Di dalam kamar...
__ADS_1
Aku yang sudah hampir satu minggu meninggalkan kamar itu pun terbilang cukup rindu.
Kutelusuri setiap sudut kamar dan sesaat kemudian, pandanganku terhenti pada sebuah bingkai foto.
Ku hampiri dan ku lihat kembali wajah yang ada di bingkai tersebut.
“Ini,...”
Aku sangat terkejut dengan apa yang kulihat.
Ternyata, foto yang saat ini sedang aku lihat adalah foto orang yang sama seperti yang aku lihat di rumah Jio.
“Ternyata memang sama,...” gumamku, “tapi, apa hubungannya sama Jio? Kalau emang benar kecurigaanku ini, lalu apa alasan Jio melakukannya? Bukannya kami berteman!? Ah, lebih baik aku tanyakan pada Bibi. Siapa tahu Bibi tahu.”
Aku pun meletakan kembali bingkai tersebut dan segera mencari Bibi.
“Bi, sedang sibuk ya?” tanyaku pada Bibi yang sedang menyapu halaman.
“Oh, Non. Gak juga kok, Non. Ada apa?” tanya Bibi.
“Bi, aku boleh bertanya tentang Adiknya Pak Fathan gak?” tanyaku.
Bibi pun spontan menghentikan aktifitas menyapunya dan terdiam.
Aku yang merasa ada yang kurang beres ini pun akhirnya berkata, “Bi, gak apa-apa kok kalau gak boleh.”
Bibi pun akhirnya menghela nafas panjang dan kemudian berkata, “Apa yang mau Non tanyakan?”
“Hmm, begini. Belum lama ini Pak Fathan menceritakan padaku perihal kisah Adiknya yang ternyata telah tewas. Lalu saat ini, aku hanya ingin pastiin ke Bibi, apa benar itu Bi? Kalau memang benar, apa pelakunya sudah di tangkap?” tanyaku.
Bibi pun terdiam sesaat. Terlihat dengan jelas raut wajah kesedihan terpancar di rona wajahnya.
“Iya, Non. Apa yang Tuan ceritakan itu benar. Hanya saja, hingga saat ini Tuan masih belum menemukan pelakunya,” jelas Bibi.
“Oh. Jadi itu semua benar ya, Bi?”
Bibi pun mengangguk dan kemudian kembali berkata, “Itu lha sebabnya, semenjak kejadian itu, Tuan tidak pernah tersenyum. Bahkan hingga saat ini, Tuan selalu berusaha untuk menemukan pelakunya.”
‘Deg’
“Oh. Begitu ya Bi,” ucapku.
Di saat yang bersamaan, Pak Fathan pun datang.
“Tuan pulang?” tanya Bibi heran.
“Iya, Bi. Tadinya cuma mau mastiin aja, tapi ternyata emang benar ada di sini,” sahutnya sambil melihat ke arahku.
Bibi yang sepertinya sudah tahu dengan maksud ucapan Pak Fathan ini pun akhirnya berkata, “Tuan dan Non ngobrol aja. Saya masuk dulu ke dalam.”
Bibi pun akhirnya pergi meninggalkan kami berdua dan sesaat setelah Bibi sudah tidak terlihat, Pak Fathan pun berkata, “Jadi kamu sudah memutuskan untuk mau tinggal di sini lagi?”
__ADS_1
Spontan aku pun langsung menatap wajah Pak Fathan.
Bersambung...