Cinta Dalam Misteri

Cinta Dalam Misteri
Menikah


__ADS_3

POV 3


Di Rumah Sakit..


Orang tua Fira yang sudah mengetahui semua cerita tentang Fira ini pun dengan sabar menunggui Fira yang masih belum sadarkan diri.


Saat kejadian, Fira memang telah kehilangan banyak darah sebelum akhirnya dia mendapatkan pertolongan dari tim medis.


Pak Fathan yang sudah benar-benar tidak mau menunggu juga tidak mau kehilangan lagi ini pun meminta pada orang tua Fira agar di perbolehkan menikahi putri mereka bagaimana pun keadaannya.


Awalnya orang tua Fira ragu dengan niat tulus Pak Fathan. Namun mereka teringat akan kebahagiaan Fira saat terakhir kali dia pulang ke rumah bersama Pak Fathan.


Dengan mengingat akan hal itu, pada akhirnya orang tuanya Fira pun setuju menikahkan putrinya tersebut.


Dan hari ini adalah hari yang telah di sepakati oleh ke dua belah pihak. Dalam keadaan belum sadarkan diri, Pak Fathan pun menikahi Fira.


Acara berlangsung hikmat dan juga mengharukan. Namun bagi Pak Fathan, setelah acara ini selesai, Fira akan sah menjadi istrinya dan juga seutuhnya menjadi miliknya.


***


Tiga hari setelah menikah..


POV 1


Pagi itu, aku merasa kalau sudah lama sekali aku tidak tidur senyenyak ini. Namun entah mengapa, ketika aku ingin sekali membuka mataku, rasanya kepalaku sangat pusing. Sehingga membuatku hanya pelan merintih.


“Kamu udah sadar, sayang?” tanya seseorang.


“Kepalaku kenapa sakit? Dan mataku terasa sangat berat untuk terbuka?” tanyaku lirih sambil memegangi kepalaku dengan tangan kanan.


“Sudah sudah. Kamu tenang dulu. Ibu panggil Dokter dulu,” ucapnya yang ternyata adalah Ibuku.


Setelah beberapa saat kemudian, Dokter pun datang dan memeriksaku. Dokter tersebut mengatakan kalau apa yang aku rasakan ini adalah hal yang wajar terjadi dan akan bisa pulih dengan sendirinya setelah beberapa saat.


Mendengar akan hal itu, Ibu pun akhirnya dapat bernafas lega.


Sesaat setelah Dokter pergi, masih samar ku lihat Ibu tersenyum padaku.


“Fir, syukurlah kamu sudah sadar. Jika Ayah dan suamimu tahu, mereka pasti sangat senang,” ucap Ibu.


Walau aku mendengar ucapan ibu, entah mengapa aku masih belum ada kekuatan untuk mengobrol dengannya. Aku justru merasa sangat mengantuk dan ingin sekali tidur.


***


Sore harinya saat aku terbangun, aku melihat ada sesosok pria yang tidak asing untukku. Ya, dia adalah Pak Fathan. Saat melihatnya, aku pun terkejut sekaligus bahagia. Karena ternyata dia baik-baik saja setelah kejadian waktu itu.


“Fir, kamu sudah bangun sayang?” tanyanya yang akhirnya tahu kalau aku sedang memperhatikannya.


“Masih pusing gak?” tanyanya lagi.


Aku pun menggeleng pelan lalu menyahut, “Gak, Pak. Udah gak pusing.”


“Baguslah kalau begitu,” ucap Pak Fathan.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, untuk beberapa saat kami pun terdiam hingga akhirnya aku pun teringat tentang Jio.


“Pak, Bagaimana kabarnya Jio?” tanyaku.


Pak Fathan pun terdiam sejenak dan kemudian berkata, “Dia sudah di penjara.”


“Di penjara?” tanyaku lebih memastikannya lagi.


Pak Fathan pun mengangguk.


“Pak, aku boleh menjenguknya gak? Kan biar bagaimana pun dia itu temanku,” ucapku mencoba membujuk Pak Fathan.


Pak Fathan pun lagi-lagi terdiam dan kemudian dia pun akhirnya mengangguk lalu berkata, “Tapi ada syaratnya.”


“Apa itu Pak?” tanyaku.


“Syaratnya adalah, kamu harus benar-benar pulih dulu. Baru setelah itu kamu boleh pergi menjenguknya,” ucap Pak Fathan sambil menyentil hidungku.


Sementara itu di saat yang bersamaan...


“Duh mesranya yang pengantin baru,” goda Ibuku yang tiba-tiba datang bersama ayah.


Aku yang mendengar kata-kata pengantin baru ini pun sontak menjadi bingung.


“Pengantin baru? Maksudnya? Siapa yang pengantin baru?” tanyaku sambil melihat ke semua orang yang ada di ruangan tersebut.


Pak Fathan pun tersenyum, begitu pula Ayah. Hal ini semakin membuatku bingung.


“Hayo lah.. Jangan main tebak-tebakan seperti ini. Ini tuh lebih sulit jika di bandingkan dengan ujian kuliah,” keluhku.


“Ha?” ucapku terkejut sambil melirik ke arah Pak Fathan yang saat itu memberi isyarat berupa anggukan kepala yang artinya ya, benar sekali.


“Kok bisa? Kapan? Kok aku gak tahu?” tanyaku yang merasa kalau semua ini tuh hanya dalam mimpi saja.


Mendapatkan pertanyaan seperti ini, lagi-lagi mereka pun tersenyum sehingga membuatku kesal.


“Ya udah kalau gak mau kasih tahu. Anggap nikahnya gak sah karena aku nya gak merasa udah nikah,” ucapku merajuk.


Ibu yang mendengar ucapanku dan melihat tingkahku ini pun spontan menjadi tertawa.


“Fira fira.. Kamu udah besar dan udah jadi seorang istri ini pun masih bersikap seperti anak kecil begini. Masih suka merajuk,” goda Ibu.


“Siapa juga yang merajuk dan siapa pula yang udah jadi seorang istri? Gak merasa tuh,” ucapku sambil memonyong-monyongkan bibirku.


Pak Fathan yang melihatku seperti itu pun kemudian berkata, “Iya iya. Kalau kamu masih belum merasa kalau kamu udah nikah, bagaimana kalau kita mengulanginya untuk yang ke dua kalinya?”


Mendengar ucapan Pak Fathan, aku pun mau tidak mau menjadi benar-benar yakin kalau memang benar kami berdua sudah menikah.


“Apaan sih? Gak ah. Kurang kerjaan,” sahutku.


“Nah sekarang dengan kamu menjawab seperti itu, berarti kamu sudah mengakuinya kan?” goda Pak Fathan.


Aku pun tersenyum sambil mengangguk.

__ADS_1


Ayah dan Ibu yang melihat kami seperti ini ikut tersenyum bahagia.


***


Satu minggu kemudian...


Aku yang sudah merasa jauh lebih baik ini pun akhirnya di perbolehkan untuk pulang.


Dengan ditemani Ayah, Ibu dan juga Pak Fathan, aku pun kembali ke rumah Pak Fathan.


Awalnya aku merasa bingung dan juga aneh, kenapa harus pulang ke rumah Pak Fathan. Tapi pada akhirnya aku sadar karena memang seharusnya seperti ini.


Ayah dan Ibu hanya menginap satu hari di rumah Pak Fathan. Karena ada banyak pekerjaan Ayah yang harus diselesaikan, membuat mereka harus cepat pulang.


Dan malam ini..


“Fir, akhirnya,” ucap Pak Fathan menggodaku sambil memposisikan tubuhnya di atas tubuhku yang terbungkus selimut.


Aku pun menggelengkan kepalaku dan kemudian dia pun menyipitkan matanya lalu berkata, “Hayolah. Ini kan bukan hal pertama buat kita berada di tempat tidur berdua.”


“Tapi itu kan beda, Pak. Kita kan gak ngapa-ngapain,” kilahku.


“Oh gitu ya!? Beda ya!? Tahu dari mana kalau kita sekarang akan ngapa-ngapain?” goda Pak Fathan lagi.


“Bapaaaaaaak!!!” teriakku salah tingkah.


“Kok Bapak sih!? Jangan panggil gitu donk,” protesnya.


“Terus mau panggil apa?” tanyaku.


“Hmm... Panggil sayang aja. Gimana? Biar mesra,” pintanya.


Aku pun terdiam sesaat lalu berkata, “Sayang.”


Sesudah mengatakan itu, aku pun langsung menyembunyikan wajahku di balik selimut.


Melihat tingkahku, Pak Fathan pun berkata, “Ih, ngegemesin. Jadi tambah gak sabar.”


“Aaaaaaaah.. Sayang!!!!!” teriakku yang benar-benar terkejut dengan serangannya.


Alhasil, malam itu pun kami akhirnya melakukan malam pertama kami dan itu tuh sangat menyakitkan juga sesuatu yang tidak akan mungkin bisa terlupakan.


***


Beberapa hari kemudian, aku dan Pak Fathan pun datang mengunjungi Jio. Saat itu dia terlihat seperti orang yang kurang waras.


Saat melihatku, dia tidak berkata apa-apa namun tatapannya mengisyratkan sepertinya dia ingin menerkamku.


Melihatku takut, Pak Fathan pun langsung mengajakku pergi.


***


POV 3 (Jio)

__ADS_1


“Fira, tunggu saja. Sampai kapan pun lo gak bakal gue lepasin. Kita pastinya akan bersatu juga bagaimana pun caranya. Hahahaha...”


--Tamat--


__ADS_2