Cinta Dalam Misteri

Cinta Dalam Misteri
Kenekatan Jio


__ADS_3

Aku pun spontan mengikuti arahan Pak Fathan yang kemudian diam dan memperhatikan keheningan hutan yang menakutkan.


‘Srek.. Srek.. Srek..’


Terdengar suara itu lagi dan kali ini benar-benar seperti mengarah mendekati tempat kami berada.


Di saat seperti ini, debar jantungku terasa begitu cepat dan sangat mengganggu. Keringat dingin tak sedikit yang mengucur di keningku. Telapak tangan pun ikut bergetar dan berkeringat.


Pak Fathan yang melihat keadaanku seperti ini pun langsung menggenggam tanganku dengan erat dan saat itu, spontan aku melihat ada ketegangan juga di wajahnya.


“Gue tahu lo ada di sekitar sini, Fir. Lebih baik lo yang menyerah sendiri Fir dari pada gue yang berhasil nemuin lo,” teriaknya mengancam.


Aku pun langsung menatap Pak Fathan dan Pak Fathan memberi isyarat agar aku tetap diam dan tenang.


“Fir, keluar! Gue hitung sampai tiga. Kalau lo tetap juga masih gak mau keluar, maka jangan salahin gue bakal bertindak di luar akal sehat,” ancamnya lagi.


Aku pun lagi-lagi menatap wajah Pak Fathan dan Pak Fathan pun menggelengkan kepalanya.


“1,...”


“2,...”


Di saat yang bersamaan, Pak Fathan menepuk pundakku dan berbisik, “Apa pun yang terjadi, tetap diam di sini sampai polisi datang.”


“3.”


Lagi-lagi di saat yang bersamaan Pak Fathan pun berdiri dan kemudian pergi menghampiri Jio.


“Pak!” panggilku lirih namun tidak juga dia hiraukan.


Sementara itu, Jio yang melihat Pak Fathan keluar ini pun menjadi terkejut.


“Bapak?! Jadi dari tadi Bapak ada di sini dan tahu semuanya? Lalu di mana Fira?” tanya Jio terkejut.


“Iya, Yo. Dari tadi aku ada di sini dan mendengar suara teriakanmu. Sedangkan keberadaan Fira, dia sudah aku sembunyikan di tempat yang aman,” ucap Pak Fathan.


“Pak, tolong serahkan Fira padaku. Aku berjanji akan selalu menjaganya,” rayu Jio.


“Yo, maaf. Sampai kapan pun aku gak akan pernah nyerahin Fira padamu. Sebab rasa sayangmu itu gak tulus,” ucap Pak Fathan.


“Hahahaha... Bapak salah. Rasa cintaku ke Fira ini jauh lebih tulus dari siapa pun. Bapak tahu kenapa?! Karena rasa cintaku ini membuat aku bersedia melakukan apa pun demi dia,” ucap Jio penuh rasa bangga.


“Iya. Termasuk juga membunuh orang juga. Iya?” ucap Pak Fathan.

__ADS_1


“Cih. Deri, Ciko, dan yang terakhir Guntur, mereka memang pantas mendapatkannya. Karena mereka telah membuat orang yang aku sayangi menderita,” ucap Jio.


“Benarkah!? Lalu apa alasanmu membunuh Adikku juga? Dia kan gak membuat menderita Fira. Dia bahkan sangat menyayangi Fira,” ucap Pak Fathan.


“Adiknya Bapak? Oh.. Maksud Bapak si Arin itu?” tanya Jio memastikan dan Pak Fathan pun mengangguk.


“Asal Bapak tahu aja ya. Dia memang pantas mendapatkan hal itu. Karena gara-gara dia yang selalu dekat dengan Fira, maka kasih sayang dan juga perhatian Fira gak hanya buat aku aja,” jelas Jio.


Di saat yang bersamaan, aku yang mendengar ucapannya seperti itu pun sontak membuat darahku mendidih.


Entah keberanian dari mana, akhirnya aku keluar sambil berteriak, “Lo gila Yo. Lo udah kena saraf.”


Spontan Jio pun menengok ke arahku lalu berkata, “Oh lo akhirnya keluar juga, Fir?”


Dan di sisi lain...


“Fir, kenapa kamu keluar?” teriak Pak Fathan.


Sambil berjalan mendekati Pak Fathan, aku pun menyahut, “Aku udah gak tahan dengan Jio, Pak. Dia itu seorang pengkhianat sekaligus penjahat yang mengatasnamakan cinta untuk melakukan perbuatan keji.”


Saat aku semakin dekat dengan Pak Fathan, aku pun langsung melingkarkan tanganku di pinggang Pak Fathan.


Jio pun sepertinya tidak terima dengan apa yang dia dengar dan dia lihat. Sehingga membuat dia pun berkata, “Fir, gue tuh ngelakuin ini semua karena lo. Gue gak suka lihat lo menderita. Tapi kenapa lo malah nyebut gue gitu?”


Jio pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Emosinya sepertinya telah tersulut oleh ucapanku.


“Fir, jadi lo sekarang malah nyalahin gue dengan setelah apa yang udah gue lakuin buat lo?” tanya Jio.


Aku pun terdiam tidak menyahut. Rasanya percuma jika aku berkata lebih banyak lagi. Sebab itu akan menambah emosi Jio jauh lebih bertambah.


Di saat yang bersamaan..


“Yo, lebih baik kamu menyerah dan menyudahi semua ini,” bujuk Pak Fathan.


Tampak terlihat Jio sepertinya sedang berpikir sesuatu. Entah apa yang sudah di pikirkan sehingga membuat dia berkata, “Gak semudah itu, Pak. Karena aku akan tetap menyelesaikan apa yang semua telah aku mulai.”


‘Deg’


Aku dan Pak Fathan pun saling pandang satu sama lain. Aku dan mungkin juga Pak Fathan, sama-sama merasakan firasat tidak enak.


“Lo mau ngapain Yo?” tanyaku.


“Hahahaha... Gue mau ngapain!? Gue mau bunuh lo berdua!” ucapnya sambil menjulurkan sebuah pistol yang entah sejak kapan dia memilikinya.

__ADS_1


“Yo, kamu jangan aneh-aneh deh. Lebih baik kamu menyerah sekarang sebelum semuanya terlambat,” ucap Pak Fathan mencoba memperingati.


Namun peringatan dari Pak Fathan ini rupanya tidak dia hiraukan. Karena, dalam seketika...


‘Dor’


Terdengar letusan senjata api dan saat aku tersadar, ternyata letusan itu di arahkan pada diriku sehingga dada kiri bagian atas ku terkena tembakan peluru.


Dan di saat sadar itu lha, tiba-tiba aku merasakan sakit yang luar biasa dan pandanganku semakin terasa berat.


Pak Fathan yang melihat keadaanku seperti ini pun semakin menjadi panik.


Dengan nada emosi sekaligus sedih, dia pun berteriak, “Yo, kamu sudah gila. Kenapa kamu bisa lakuin ini ke orang yang kamu sayangi?”


Namun jawaban Jio sungguh di luar ekspetasi. Dia justru tertawa terbahak-bahak dan kemudian berkata, “Justru aku sangat menyayanginya dan gak mau dia dimiliki orang lain, jadinya aku lebih baik membunuhnya. Adil kan?! Hahahaha..”


Pak Fathan pun menggeleng-gelengkan kepala lalu kami pun duduk dan aku berada di pelukannya.


Dapat ku lihat dengan jelas ada air mata mengalir di pipinya.


Sambil berusaha mengusap air matanya, aku pun berkata, “Pak, jangan sedih. Di pertemuan kita yang selanjutnya, aku pasti akan membuat Bapak jatuh cinta lagi padaku.”


Pak Fathan pun mengangguk-anggukan kepala sambil masih tetap meneteskan air mata.


Dan di saat yang bersamaan...


POV 3


“Firaaaaaaa!!!...” teriak Pak Fathan, “bangun sayang. Jangan tinggalkan aku sendirian lagi.”


Jio yang melihat kejadian ini pun akhirnya merasa puas dan tertawa terbahak-bahak.


“Angkat tangan! Jatuhkan senjata!” ucap seseorang yang ternyata polisi.


***


Tiga hari setelah kejadian itu...


“Lapor, Pak. Semua prosedur telah di selesaikan,” ucap salah satu bawahan Pak Fathan.


“Bagus. Kita ke sana sekarang,” ucap Pak Fathan.


“Baik, pak.”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2