Cinta Dalam Misteri

Cinta Dalam Misteri
Kesal


__ADS_3

Di dalam mobil, aku pun menghela nafas panjang. Begitu menyeramkannya tatapan mata mereka padaku. Seperti hewan buas yang akan menerkam mangsanya.


“Iiiih,” gumamku bergidik jika ingat itu.


Tak lama kemudian, Pak Fathan pun masuk ke dalam mobil dan langsung melihat ke arahku dengan tatapan aneh.


“Kamu ini kenapa sih, Fir?” tanyanya.


“Masih segala tanya lagi. Emang gak merasa ya kalau para fans Bapak itu melihatku seperti akan menerkam ku,” keluhku.


“Wkwkwkwk..”


Tawa Pak Fathan seketika pecah.


“Kamu ini benar-benar sesuatu banget sih, Fir. Udah jelas kamu harus waspada pada seseorang, eh sekarang kamu malah waspada sama sesuatu yang belum jelas,” ucap Pak Fathan.


Sambil melirik ke arah Pak Fathan dengan tatapan sinis, aku pun berkata, “Untuk apa aku waspada dengan sesuatu yang sudah jelas. Toh karena jelas itulah, aku jadi bisa berfikir akan bagaimana nantinya. Lha ini.. Justru gak jelas inilah, maka aku harus waspada karena ada banyak kemungkinan yang akan terjadi.”


Pak Fathan pun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menyalakan mesin mobil lalu berkata, “Iya iya.”


Ketika mobil sudah berjalan, kami pun terdiam satu dengan lainnya untuk beberapa saat. Hingga akhirnya...


“Pak, tadi katanya Bapak mau jelasin sesuatu?” tanyaku.


Tampak terlihat Pak Fathan melirik ke arahku dan kemudian berkata, “Kenapa? Masih penasaran rupanya.”


Mendengar ucapan Pak Fathan, sontak membuat aku merasa kesal.


“Ya udah kalau gak jadi cerita,” ucapku sewot dan Pak Fathan pun tersenyum.


“Fir, foto yang kamu lihat itu adalah fotomu 10 tahun yang lalu,” ucap Pak Fathan.


“Iya. Aku tahu. Lalu kenapa Bapak bisa punya fotoku waktu usia segitu? Apa jauh sebelum ini kita pernah bertemu?” tanyaku.


Lagi-lagi terlihat ada senyum di wajah Pak Fathan.


“Pak! Aku tuh tanya. Kenapa kok malah senyum aja dari tadi?” tanyaku sewot.


“Iya iya,...” ucapnya, “Jadi begini. Kamu ingat tidak acara perkemahan waktu di SD mu dulu?”


“Kemah?” tanyaku.


“Hum,” sahutnya.


Aku pun mencoba mengingat-ingat kembali dan mencoba memutar flash back ingatanku ke umur 10 tahun. Hingga sesaat kemudian...


“Oh. Acara kemah itu ya!? Iya. Aku ingat. Lalu hubungan kemah itu sama Bapak itu apa?” tanyaku bingung.

__ADS_1


“Hais.. Kamu benar-benar lupa rupanya,” ucapnya dengan nada kecewa.


“Ish,” ucapku singkat.


Kami pun lalu terdiam sejenak lalu kemudian Pak Fathan melanjutkan ceritanya dengan berkata, “Kamu ingat dengan salah satu kakak pembina yang selalu menolongmu ketika kamu berulang kali hampir celaka karena kecerobohan mu sendiri?”


“Kakak pembina?” tanyaku dan Pak Fathan pun mengangguk.


Aku pun lagi-lagi kembali mencoba mengingat-ingat tentang apa yang di ucapkan Pak Fathan barusan.


Hingga beberapa saat kemudian...


“Aaaaaah.. Aku ingat. Jadi.. Jangan-jangan,...”


Ucapanku tidak aku lanjutkan. Namun secara spontan tubuhku menghadap ke arah Pak Fathan sambil menunjuk ke arahnya.


“Wkwkwkk.. Akhirnya ingat juga. Gimana!? Ternyata istilah Dunia selebar daun kelor itu benar ada ya?! Hahahaha,” ucap Pak Fathan dengan nada bahagia.


Sedangkan aku, di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja aku sudah merasa di tipu habis-habisan dengan Dosen satu ini.


Seketika raut wajahku pun berubah kesal. Ingin rasanya benar-benar aku marah habis-habisan dengan orang yang ada di sebelahku ini.


“Kenapa, Fir? Kok wajahmu seperti itu?” tanyanya yang rupanya sadar dengan perubahan suasana hatiku.


“Pikir aja sendiri,” ucapku yang lagi dan lagi sewot.


Dengan segera aku pun keluar dari mobil dan langsung menuju ke kost-kostan ku.


Di dalam kamar, aku melemparkan tas ku dan menjatuhkan pantatku dengan kasar di tepi tempat tidur.


“Kenapa sih gak cerita soal itu dari awal? Udah dari soal Adiknya lha, identitas dia yang polisi lha, yang nolongin aku waktu mau di lecehkan lha, yang ternyata kakak pembinaku lha. Kenapa sih gak bilang semuanya sekaligus dari awal!? Jadinya kan aku merasa seperti orang bodoh aja,” gerutuku kesal.


Di saat yang bersamaan Pak Fathan masuk ke dalam kamar kost-kostan ku dan itu membuatku menjadi tambah kesal.


“Fir, kamu ini kenapa sih?” tanya Pak Fathan yang sepertinya tidak mengetahui di mana letak salahnya.


Aku pun membuang mukaku dari tatapannya.


“Fir, aku benar-benar bingung dengan sikapmu dari kemarin. Sebenarnya apa kesalahanku?” tanya Pak Fathan lagi.


“Aku kesal. Aku juga kecewa,” sahutku jutek.


“Kesal? Kecewa? Karena apa?” tanya Pak Fathan.


Mendengar pertanyanya itu, aku pun langsung spontan melihat ke arahnya dan berkata, “Emang ya?! Kalian para laki-laki itu gak pernah peka dengan sendirinya. Semuanya apa-apa harus di jelaskan terlebih dahulu.”


“Eh eh eh.. Lha kok jadi begini?!” ucap Pak Fathan yang sepertinya benar-benar bingung.

__ADS_1


“Sudahlah. Selama Bapak belum menyadarinya, lebih baik Bapak gak usah nemuin aku dulu deh. Sudah. Mending Bapak balik pulang ke rumah Bapak aja. Jangan tinggal di sebelahku lagi,” ucapku kesal sambil mendorong tubuhnya ke luar dari kamarku dan kemudian langsung menutup pintu kamar.


“Fir! Tok.. Tok.. Fir!” panggilnya dari luar namun tidak aku hiraukan.


***


Keesokan harinya murapakan hari di mana aku sangat enggan sekali untuk pergi ke kampus. Pasalnya hari itu terdapat matakuliah Pak Fathan.


Dengan langkah lesu, aku pun berjalan menyusuri koridor kelas dan di saat yang bersamaan...


“Fir,” ucap seseorang yang ternyata Jio.


“Oh, lo Yo,” ucapku lesu.


“Lo kenapa, Fir? Pagi-pagi udah gak semangat gitu?” tanyanya.


“Gue lagi males masuk kuliah Yo,” sahutku.


“Males? Lha kalau lo males, kenapa juga datang ke kampus?” tanya Jio yang sepertinya bingung.


“Kalau seumpama gue gak ke kampus, trus gue mau ngapain juga di kost-kostan. Sama-sama nge-BT in juga ujung-ujungnya,” ucapku.


“Oh gitu, ya!? Hmm.. Gimana kalau kita berdua bolos. Kebetulan hari ini gue off kerja. Kita main aja yuk,” ajaknya.


“Main?” tanyaku dan dia pun mengangguk.


“Ke mana?” tanyaku.


“Udah deh. Pokoknya lo percaya deh ma gue. Tempat ini tuh bakalan bisa buat ngilangin BT nya lo tahu,” ucap Jio.


“Beneran?” tanyaku memastikan.


“Iya, Fir. Ya udah yok. Mending kita langsung pergi aja sekarang. Sebelum kepergok sama Dosen nanti,” ajaknya dan aku pun mengangguk.


Alhasil, demi tidak mau bertemu dengan Pak Fathan, hari itu akhirnya aku benar-benar bolos.


Namun biar pun begitu, tapi entah kenapa ada rasa mengganjal di hatiku. Seperti ada perasaan seolah-olah ini tuh tidak benar.


“Aih,” gumamku lirih sambil berjalan menuju parkiran motor.


Di halaman parkir, Jio langsung memberikanku helm dan menyuruhku naik dan hingga detik itu juga, entah mengapa tiba-tiba saja aku ragu dengan apa yang aku lakukan ini.


“Yo, lo yakin kita gak apa-apa bolos kaya’ begini?” tanyaku.


“Hais.. Lo Fir. Ya gak apa-apa kali. Kan gak tiap hari juga kita bolos. Ya kan?!” ucapnya.


Setelah mendengar ucapan Jio, aku merasa ada benarnya juga yang dia katakan. Sontak keraguanku pun hilang dan kami pun langsung pergi meninggalkan kampus.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2