
Kami saling diam untuk beberapa saat dan Pak Fathan pun duduk di sebelahku.
“Pak,” ucapku.
“Hum. Ada apa?” tanya Pak Fathan.
“Kenapa Bapak tega memanfaatkan aku?” tanyaku to the poin.
“Memanfaatkan!? Maksud kamu apa?” tanya Pak Fathan.
Aku pun memandang lurus jauh ke depan lalu berkata, “Gladis sudah menceritakannya padaku.”
Terlihat ekspresi terkejut dari wajah Pak Fathan.
“Kenapa Pak? Jadi emang benar seperti itu ya!?” ucapku ada rasa kecewa.
“Haaaa,...” Pak Fathan menghela nafas panjang dan kemudian bertanya, “emangnya apa yang sudah di katakan oleh Gladis?”
Masih dengan menatap lurus ke depan, aku pun menyahut, “Dia bilang kalau aku jangan terlalu banyak berharap untuk Bapak benar-benar tulus sayang sama aku. Dia juga bilang kalau Bapak melakukan itu hanya karena untuk menyelidiki kematian Adiknya Bapak yang berhubungan dengan Jio.”
Pak Fathan pun terdiam entah apa yang sedang ada dalam pikirannya.
“Pak, kalau Bapak diam kaya’ gini, jangan salahkan aku kalau punya pikiran bahwa apa yang di katakan Gladis itu semuanya benar,” ucapku.
Pak Fathan pun masih terdiam beberapa saat dan hingga akhirnya ia pun berkata, “Tidak semua yang di katakannya itu benar.”
“Lalu yang benarnya itu yang bagaimana?” tanyaku.
Lagi-lagi terlihat dengan jelas kalau Pak Fathan menghela nafas panjang.
“Hmm, begini Fir. Tolong dengarkan penjelasanku hingga selesai,” pinta Pak Fathan.
Aku pun mengangguk, mengiyakan.
“Jadi emang benar kalau kematian Adikku itu berhubungan dengan Jio. Tapi itu tidak ada hubungannya dengan perasaanku padamu. Aku benar-benar menyayangimu dan tidak ada niatan dariku untuk memanfaatkanmu,” jelas Pak Fathan.
“Benarkah?” tanyaku tidak percaya.
Pak Fathan pun mengangguk dan kemudian berkata, “Iya, Fir. Aku sama sekali gak bohong.”
“Lalu atas dasar apa Bapak menuduh Jio ada kaitannya dengan kematian Adiknya Bapak?” tanyaku bingung.
Pak Fathan pun terdiam sejenak lalu kemudian berkata, “Fir, apa kamu benar-benar lupa dengan kejadian beberapa tahun yang lalu?”
Ucapan Pak Fathan ini membuat aku bingung dan kemudian bertanya, “emangnya ada kejadian apa, Pak?”
“Hadeuh,...” ucap Pak Fathan, “Fir, ingat gak ketiga orang yang tewas belakangan ini?”
“Oh. Mereka ya!? Ingat. Emang ada apa dengan mereka?” tanyaku.
__ADS_1
“Begini, sebelum aku bertemu denganmu, aku mendapat petunjuk kalau orang yang telah menewaskan Adikku itu berada di kampus tempatmu kuliah,” ucapnya.
“Lalu?” tanyaku.
“Lalu, sebenarnya aku sendiri adalah seorang polisi yang tengah menyelidiki kasus narkoba dan kebetulan hasil penyelidikanku berada di tempat yang sama dengan tempat di mana orang yang menewaskan Adikku itu berada,” jelasnya.
“Tunggu. Polisi!? Jadi jangan bilang kalau Bapak ini seorang polisi yang sedang menyamar,” ucapku.
“Hum. Yup. Tepat sekali. Aku di sana menyelidiki kasus narkoba yang ternyata semua yang bersangkutan telah tewas di tangan satu orang,” jelasnya lagi.
“Jangan bilang, satu orang yang di maksud itu adalah Jio,” ucapku lagi.
“Yup. Tapi itu masih kecurigaanku aja. Belum ada bukti kuat untuk bisa menangkapnya,” sahut Pak Fathan.
“Kok bisa?” tanyaku.
Pak Fathan pun terdiam dan kemudian berkata, “Hais.. ternyata kamu lupa.”
“Maksudnya?” tanyaku tambah bingung.
“Ya sudah. Aku buat sederhana. Dengarkan aku,” ucap Pak Fathan.
Aku pun mengangguk.
“Begini. Aku adalah polisi. Aku di tugaskan untuk menyelidiki kasus narkoba di kampusmu. Tiga orang yang telah tewas adalah orang-orang yang berkaitan dengan kasus narkoba ini. Ketiganya tewas di bunuh oleh satu orang yang sama dan sebelum atau kejadian, pelaku pasti akan memberitahumu, bukan?” ucap Pak Fathan dan aku pun mengangguk.
“Karena ketiga orang ini adalah orang-orang yang sama yang hampir saja melecehkan mu,” ucap Pak Fathan.
‘Deg’
Hatiku tiba-tiba saja pedih teringat hal itu.
“Dan sekarang aku tanya padamu, selain aku, siapa lagi orang yang mengetahui peristiwa itu?” tanya Pak Fathan.
Dan spontan tanpa aku sadari aku menyahut, “Jio.”
“Nah. Sampai di sini apa kamu sudah bisa menarik kesimpulan?” tanya Pak Fathan.
Aku pun terdiam termangu. Benar-benar tidak bisa aku terima kalau Jio yang melakukan semua kasus itu.
“Lalu, Jio dengan kasus pembunuhan dengan Jio kasus tewasnya Adiknya Bapak itu apa?” tanyaku.
“Oh. Tunggu sebentar. Aku ambil sesuatu dulu,” ucap Pak Fathan yang kemudian beranjak pergi masuk ke dalam rumah.
Hingga beberapa saat kemudian...
“Ini,” ucapnya sambil menyodorkan sebuah buku Diary.
Aku pun menerimanya dan kemudian membukanya. Di sana terdapat sebuah foto dan juga tulisan yang isinya..
__ADS_1
“Aku punya dua orang teman dekat, yaitu Fira dan Jio. Tapi kadang Jio selalu mengancamku untuk menjauhi Fira. Tapi ucapannya itu, tidak aku anggap serius karena kami adalah teman.”
‘Deg’
Aku pun terdiam seribu bahasa. Sementara itu, Pak Fathan pun berkata, “Aku menemukannya setelah kita pulang dari rumahmu waktu itu dan itu juga lha yang membuat kecurigaanku mengarah pada Jio yang terlalu posesif terhadap kamu.”
“Gak. Gak mungkin Jio. Lagi pula, itu artinya, laki-laki yang udah menyelamatkan aku dari pelecehan itu adalah Bapak?” tanyaku.
“Hum. Akulah yang saat itu menyelamatkanmu,” sahut Pak Fathan.
Aku pun langsung terdiam lemas mendengar semua kenyataan ini. Tapi ada rasa menyangkal di dalam diri ini ketika teringat kalau Jio ada hubungannya dengan semua ini.
“Fir, apa sekarang kamu masih meragukan aku?” tanya Pak Fathan.
“Pak, aku ingin sendiri dulu,” ucapku yang kemudian pergi meninggalkan Pak Fathan begitu saja.
“Fir!!...” panggil Pak Fathan, “Ayo kita pulang bersama-sama.”
Aku tidak menghiraukan ucapan Pak Fathan dan tetap terus melangkahkan kakiku hingga akhirnya Pak Fathan menarik tanganku dan menyuruhku masuk ke dalam mobil.
Di perjalanan, aku hanya diam tak berbicara. Perasaanku sangatlah kacau setelah mengetahui semua kenyataan itu.
Sementara itu, Pak Fathan juga ikut diam dan fokus dengan kemudinya.
Hingga beberapa saat kemudian, ponselku pun berbunyi.
“Halo Fir,” ucapnya yang ternyata Jio saat telepon ku angkat.
“Hum,” sahutku.
“Kamu udah sampai kost-kostan? Kenapa masih belum juga kasih kabar,” ucap Jio.
“Oh. Ini lagi di jalan. Sebentar lagi sampai,” sahutku datar.
“Oh begitu. Ya sudah. Setelah sampai, kamu istirahat ya,” ucap Jio.
“Hum,” sahutku yang langsung mematikan teleponnya.
Sesaat setelah mematikan panggilan, dapat kurasakan aura cemburu dan juga kesal di dalam diri Pak Fathan. Tapi aku juga tahu kalau Pak Fathan tidak ingin memulai pertengkaran denganku setelah kejadian tadi.
Beberapa saat kemudian, kami pun akhirnya sampai di kost-kostan.
Aku yang sedang enggan bicara ini pun akhirnya langsung masuk ke dalam kostan ku sendiri dan meninggalkan Pak Fathan.
Di dalam kamar, aku pun langsung menjatuhkan diri berbaring di atas tempat tidur sambil kembali menatap langit-langit kamar.
“Kenapa harus kutemui kenyataan yang seperti ini?”
Bersambung...
__ADS_1