Cinta Dalam Misteri

Cinta Dalam Misteri
Mengakuinya juga


__ADS_3

Dan di saat yang bersamaan tiba-tiba saja Jio merasa terkejut. Bola matanya pun membulat seperti orang yang benar-benar ketakutan.


“Fi—Fi—Fira, I—i—itu,...” ucap Jio yang tergagap seperti melihat sesuatu yang aneh.


“Itu apa, Yo? Udah ah. Lo jangan nakutin gue kayak gitu,” ucapku yang spontan merasakan sensasi merinding di bulu kudukku.


“I--i—itu, Fir. Itu,” ucapnya.


“Itu apaan sih?” tanyaku yang kemudian menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Jio.


“Eh copot.. copot,” ucapku spontan saat melihat Pak Fathan sudah ada persis di belakangku.


“Kok copot sih, Yang? Apanya yang copot?” tanya Pak Fathan bingung.


Aku yang mendengar ucapannya memanggilku sayang di hadapan Jio itu pun spontan menunduk. Sehingga membuat Jio menjadi melongo.


“Ba—ba—bapak tadi memanggil Fira apa? Sayang? Saya gak lagi salah dengar kan?...” gumamnya, “Eh, Fir. Ini beneran? Fir?”


Aku pun mengangguk pelan dan Pak Fathan pun langsung mengelus-elus rambutku.


Entah apa yang ada di dalam benak Jio. Tapi spontan dia langsung berkata, “Wuih selamat ya, Fir. Gue senang banget dengernya.”


Mendengar ucapan Jio, aku pun langsung spontan melihat ke arahnya, bingung. Karena gak biasanya dia seperti ini.


“Yo, Lo habis di pukul orang kok jadi aneh gini? Kesambet setan mana lo?” tanyaku heran.


“Maksud lo aneh tuh apa, Fir? Bukannya gue emang kayak gini?” ucapnya.


“Ya aneh aja. Lo kan biasanya selalu meledek gue. Lha sekarang malah sok dewasa gitu. Kan jadinya berasa aneh. Kayak lo tuh lagi kesambet setan gitu,” jelasku.


“Hadeuh,...” sahutnya singkat.


Sementara itu, Pak Fathan hanya memperhatikan tingkah kami berdua.


“Oh ya, Yo. Kamu tahu gak alasan kamu di pukul seperti itu?” tanya Pak Fathan tiba-tiba.


Jio pun menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Saya gak tahu, Pak.”


“Lalu kamu sempat lihat siapa orangnya?” tanya Pak Fathan mode interogasi ON.

__ADS_1


Lagi-lagi Jio hanya menggelengkan kepalanya dan kemudian menjawab, “Saya gak lihat, Pak. Hanya saja sebelum pingsan aku sempat mendengar kalau masih ada dua orang lagi yang akan menjadi sasarannya.”


Aku pun melihat ke arah Pak Fathan yang ternyata juga Pak Fathan melihat ke arahku.


“Oh ya sudah kalau begitu. Kamu banyaklah istirahat,...” ucap Pak Fathan, “Yang, bisa kita bicara sebentar.”


Aku pun mengangguk lalu menengok ke arah Jio sambil berkata, “Yo, gue tinggal dulu sebentar, ya.”


Jio pun mengangguk lalu aku pun menyusul Pak Fathan ke luar.


“Ada apa, Pak?” tanyaku.


“Yang, aku pergi dulu ya. Tiba-tiba aku teringat kalau ada hal yang harus aku selesaikan,” ucapnya.


“Iya. Hati-hati,” pesanku.


Dia pun tersenyum lalu mencium keningku dan berkata, “Nanti kalau ada apa-apa dan aku belum datang, tolong kamu segera hubungi aku aja, ya.”


Aku pun mengangguk dan Pak Fathan pun pergi.


Sesaat setelah Pak Fathan pergi, aku pun kembali masuk ke dalam dan duduk di samping tempat tidur Jio.


“Sori Yo, lama.”


“Oh. Dia tiba-tiba ada urusan mendadak. Jadi dia harus segera menyelesaikannya,” sahutku.


“Oh,...” ucapnya, “Eh iya, Fir. Lo ceritain donk gimana ceritanya lo ma Pak Fathan bisa jadian?”


“Ish, kepo. Rahasia donk,” sahutku dengan nada meledek sehingga membuat Jio memonyongkan bibirnya karena kesal.


***


Sore harinya, Pak Fathan datang dengan membawakanku pakaian ganti dan juga makanan. Aku pun tersenyum melihatnya begitu perhatian padaku dan tak selang berapa lama Dokter datang dan memberi tahukan kalau Jio lusa sudah boleh pulang.


Aku pun lega mendengarnya, begitu pula dengan Jio. Namun ada satu hal yang tidak aku mengerti. Kenapa dari awal dia di rumah sakit, tidak ada satu orang keluarga pun yang datang untuk sekedar menengoknya.


“Eh, Yo. Orang tua lo tahu gak kalau lo di Rumah Sakit sekarang?” tanyaku sambil memakan makanan yang Pak Fathan bawakan.


“Yang, kamu tuh kebiasaan banget deh. Habiskan dulu makanan yang di mulut setelah itu baru bicara,” ucap Pak Fathan menyela ucapanku.

__ADS_1


“Hehehe..” sahutku.


Jio pun tersenyum melihatku dan Pak Fathan lalu kemudian dia menjawab, “Kedua orang tua gue sudah lama meninggal dan Adik gue pun tewas kecelakaan.”


Setelah mengatakan hal itu, ekspresi wajah Jio terlihat sangat murung sehingga membuatku merasa bersalah dan kemudian berkata, “Eh, Yo. Maafin gue. Gue gak tahu.”


“Lo gak salah kok, Fir. Gue emang belum sempat ceritain ke lo. Soalnya waktu gue habis buat banting tulang cari uang biaya sekolah gue sendiri dan biaya sehari-hari gue,” ucapnya lirih sambil menunduk.


Aku pun langsung melihat ke arah Pak Fathan dan setelah itu aku berkata, “Iya. Sudah. Gak apa-apa, Yo. Gue gak protes juga kok.”


“Makasih, Fir,” ucapnya dan aku pun mengangguk.


***


Dua hari kemudian, seperti yang sudah di katakan oleh Dokter, Jio pun akhirnya di perbolehkan untuk pulang.


Karena keadaannya yang belum sehat benar, membuat Jio harus banyak istirahat sesaat setelah dia sampai di rumah.


“Ya sudah ya, Yo. Gue pamit kalau begitu. Ini sudah sore. Lo gak apa-apa kan kalau gue tinggal sendirian?” tanyaku.


Ia pun menggelengkan kepalanya dan berkata, “Iya. Gak apa-apa kok. Lo pulang aja. Lo kan pasti udah capek beberapa hari ini selalu nemenin gue di Rumah Sakit. O ya, salam buat Pak Fathan juga. Bilang padanya kalau gue mengucapkan banyak terima kasih karena dia udah mau minjemin lo ke gue.”


Aku pun mengangguk lalu kemudian berkata, “Ya sudah Yo. Gue pamit pulang dulu kalau begitu. Lo jangan lupa istirahat dan minum obat.”


Dia pun mengangguk dan kemudian Aku pun pergi.


***


Aku yang telah dipaksa untuk kembali pulang ke rumah Pak Fathan pun akhirnya sampai dan kembali ke kamar yang telah di siapkan olehnya.


Saat aku masuk ke dalam kamar, aku terkejut melihat Pak Fathan yang ternyata sudah ada dan berbaring di tempat tidurku.


Aku pun melangkahkan kakiku mendekatinya dan duduk pinggir tempat tidur. Sambil memukul kakinya aku pun berkata, “Pak, jam segini kok Bapak udah ada di rumah? Katanya ada hal yang penting yang harus di selesaikan. Lagi pula kenapa Bapak tidur di sini?”


“Aih. Cerewet banget sih kayak burung Beo lagi ngoceh,” celetuknya.


“Apa Bapak tadi bilang?! Aku kayak burung Beo?! Sembarangan aja nyamain aku kayak burung,” protesku sambil memukuli badannya dengan menggunakan bantal.


Aku sangat kesal sekali mendengarnya mengatakan aku seperti Beo. Bukannya dijawab pertanyaanku malah seenaknya mengatakan aku seperti burung Beo. Namun di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja...

__ADS_1


“Aaaah!”


Bersambung...


__ADS_2