
“Aaaaaaaaargh.. kenapa aku harus ada saat-saat seperti ini sih!?”
Jantungku berdebar sangat kencang sekali seakan seperti musik disco yang bergemuruh di telinga. Rasanya sungguh sangat tidak nyaman sama sekali.
“Fir, apa kamu baik-baik saja?” tanya Pak Fathan.
“Eh!? Iya. Aku baik-baik saja Pak,” sahutku gugup.
Setelah itu, aku pun langsung masuk kembali ke kamar mandi dan kemudian memakai pakaianku.
Saat telah selesai berpakaian, aku pun langsung keluar.
“Sudah selesai, Fir?” tanya Pak Nathan.
Aku pun mengangguk.
“Ya sudah. Ayo kita berangkat sekarang,” ajaknya.
“Ha?! Kemana?” tanyaku.
“Nanti kamu juga akan tahu sendiri,” sahut Pak Fathan.
Di jawab seperti itu aku pun langsung terdiam dan mengikuti saja ke mana Pak Fathan membawaku.
***
Selama dalam perjalanan, baik aku mau pun Pak Fathan, kami berdua hanya diam dan tidak ada salah satu pun dari kami yang memulai obrolan.
Hingga suatu ketika...
“Ini!?” gumamku dalam hati saat setelah sampai di tempat yang di tuju.
Kerena memang sudah sampai, Pak Fathan segera memarkirkan mobilnya lalu berkata, “Nah. Udah sampai. Ayo kita turun.”
Sementara itu aku yang melihat Pak Fathan turun itu pun akhirnya memutuskan untuk turun juga.
“Pak, tempat ini,...”
Aku tidak berani melanjutkan ucapanku. Karena aku tidak tahu apa sebenarnya maksud Pak Fathan mengajakku ke tempat ini.
Dengan menatap jauh ke depan, Pak Fathan pun berkata, “Kamu tahu, Fir!? Tempat ini adalah tempat di mana aku menemukan cinta pertamaku.”
Seketika ‘deg’ terasa di jantungku dan ada rasa perih di hati ini saat mendengar ucapannya.
“Oh.”
Hanya itu yang mampu aku ucapkan. Karena hatiku benar-benar terasa kacau.
“Dan kamu tahu, Fir!? Bagaimana caranya aku bertemu dengan dia?” tanya Pak Fathan dan aku pun menggelengkan kepala.
“Haaaaaaa,...” Pak Fathan pun menghela nafas panjang dan akhirnya berkata, “Saat itu aku bertemu dengannya saat dia sedang di kejar-kejar oleh tiga orang pemuda dan hampir saja dilecehkan.”
Saat mendengar ceritanya, seketika tanpa sadar aku langsung menoleh ke arahnya dan menceletuk bertanya, “Dilecehkan!?”
__ADS_1
Pak Fathan pun mengangguk lalu berkata, “Hum. Tapi di saat yang bersamaan, aku yang juga sedang mencari Adikku ini, akhirnya tanpa sengaja bertemu dengannya dan menolongnya.”
“Adik!?” celetukku lagi.
“Iya. Adikku saat itu memintaku untuk menolong temannya yang sedang membutuhkan pertolongan. Karena saat itu sedang ada urusan mendadak, jadinya aku datang terlambat,” jelas Pak Fathan.
“Oh begitu. Lalu setelah menolong perempuan itu, apa Bapak menemukan Adiknya Bapak?” tanyaku.
Pak Fathan pun terdiam. Tampak terlihat jelas kesedihan di raut wajahnya.
Pak Fathan pun hanya menggelengkan kepala dan kemudian berkata, “Saat itu, aku tidak bisa menemukannya. Namun,...”
“Namun apa, Pak?” tanyaku.
“Namun, beberapa hari setelah itu, aku mendapat kabar kalau Adikku telah tewas karena dibunuh oleh seseorang dan mayatnya ditemukan tidak jauh dari aku menemukan cinta pertamaku itu,” jelasnya.
“Oh. Maaf Pak. Aku tidak tahu dan aku sungguh tidak ada niat untuk membuat Bapak sedih,” ucapku menyesal.
“Gak apa-apa Fir,” sahutnya.
“Terima kasih Pak,...” ucapku, “o ya, Pak. Apakah ada kemungkinan kalau yang sudah membunuh Adiknya Bapak itu ke tiga orang tersebut?”
Pak Fathan pun menggelengkan kepala lalu berkata, “Bukan. Bukan mereka bertiga pelakunya.”
Aku yang mendapatkan jawaban tersebut pun merasa bingung dan kemudian bertanya lagi, “Lha kalau bukan, terus siapa? Dan kok bisa sampai Bapak kecolongan gak bisa nemuin?”
Pak Fathan pun terdiam sejenak lalu menyahut, “Sudahlah. Gak usah di bahas lagi. Pokoknya tempat ini sudah menyimpan dua kejadian penting dalam hidupku.”
“Tapi apa, Fir?” tanyanya.
“Hmm... Tapi, dulu awal-awal kata Bapak, Adiknya Bapak akan sesekali pulang saat liburan sekolah!? Lalu kenapa sekarang ada kenyataan seperti ini dan Bapak tidak menceritakannya di awal-awal aku pindah ke rumah Bapak?” tanyaku.
“Fir, saat itu aku belum memastikan sesuatu. Tapi sekarang, aku sudah memastikannya dan bahkan sudah yakin akan hal itu. Jadi baru sekarang aku mampu menceritakan ini semua padamu,” jelas Pak Fathan.
“Maksudnya?” tanyaku spontan karena aku merasa bingung dengan ucapan Pak Fathan barusan.
Pak Fathan pun langsung menghadapkan tubuhnya ke arahku dan memegang ke dua pundakku.
“Fir, sudahlah. Tadi itu aku hanya ingin jujur padamu. Yang penting sekarang aku menyayangimu. Jadi,...” Pak Fathan menghentikan sejenak ucapannya lalu kemudian kembali berkata, “jadi kamu gak usah memikirkan hal yang macam-macam.”
Walau dirinya sudah mengatakan hal itu, tapi tetap saja dalam hatiku ada rasa penasaran. Apakah yang sedang aku pikirkan dan simpulkan ini sama seperti maksud yang tersirat dalam ucapan Pak Fathan.
***
Keesokan harinya, masih ada satu hari masa liburan kuliah sebelum akhirnya aktif.
Namun, aku tidak sengaja melihat kalau sudah sedari pagi Pak Fathan sudah pergi entah ke mana.
Aku yang tengah bosan dan ingin keluar ini pun akhirnya memutuskan untuk pergi berjalan-jalan mencari udara segar.
Ku datangi taman yang tidak jauh dari tempat kost-kostan ku dan ku lihat di sana ada beberapa Ibu sedang menunggui anak-anaknya yang sedang asik bermain.
Saat itu aku membayangkan, jikalau aku dan Pak Fathan berjodoh lalu kami menikah, apakah aku akan bisa menjadi seorang ibu juga seperti mereka.
__ADS_1
Pikiran dan bayangan tentang masa depan terlintas dalam pikiranku. Namun ketika aku sedang asik membayangkan masa depan seperti itu, tiba-tiba saja ada seorang datang menghampiriku.
“Kak, ayo kita main,” ajaknya sambil menarik tanganku.
Karena tidak ingin mengecewakan seorang anak kecil, aku pun mau tidak mau mengikuti kemauannya.
Hingga tanpa terasa hari menjelang siang dan aku pun memutuskan untuk pulang.
Namun, saat hampir saja sampai di dekat kost-kostanku, tiba-tiba saja aku melihat Gladis sedang berdiri di sana.
Entah apa tujuan ia berdiri di sana, namun aku merasa kalau itu pasti berkaitan dengan diriku.
Tapi biar pun begitu, aku tetap melangkahkan kakiku ke sana dan ketika aku berjalan sudah semakin dekat, aku pun memutuskan untuk berpura-pura tidak melihatnya.
Namun saat aku hendak melewatinya, tiba-tiba saja...
“Fir!” panggilnya.
Aku pun spontan menghentikan langkahku dan menoleh ke arahnya.
“Ada apa?” tanyaku.
“Bisa kita bicara?” tanyanya.
“Bisa. Mau bicara apa?” tanyaku.
***
Di dalam kamar, aku pun langsung menjatuhkan diriku di atas tempat tidur dan ku pandangi langit-langit kamarku.
Dan di saat yang bersamaan...
‘Tok.. Tok..’
Aku pun langsung melihat ke arah pintu dan berteriak, “Siapa?”
“Fir, ini gue,” sahut seseorang dari balik pintu.
Aku pun langsung bangun dan kemudian membukakan pintu kamar.
“Oh lo, Yo. Masuk,” ucapku.
Aku pun langsung duduk di tepi tempat tidur dan bertanya, “Kebetulan lo datang. Gue boleh gak main ke rumah lo?”
“Eh!?” ucapnya yang sepertinya terkejut.
“Ya tentu saja boleh. Kapan mau main?” tanyanya kemudian.
Tanpa basa basi, aku pun langsung menjawab, “Sekarang.”
“Ha?!”
Bersambung...
__ADS_1