
“Aaaah!”
Dia pun langsung menarik tanganku sehingga tubuhku terjatuh di samping tubuhnya dan menindih lengan kirinya.
Aku pun terkejut dan tanpa sadar tatapan mata kami bertemu sehingga membuat aku merasakan detak jantung yang sangat tidak beraturan. Dengan cepat aku berusaha mengalihkan pandanganku, namun lagi-lagi dia membuatku terkejut dengan perkataannya yang mengatakan, “Fir, aku bahagia bertemu denganmu.”
Aku yang tadinya mau mengalihkan pandanganku darinya, tiba-tiba saja langsung melihat ke arahnya dengan ekspresi wajah yang heran.
Dia yang mungkin mengetahui apa yang sedang aku pikirkan itu pun langsung menarik tubuhku sehingga menjadi sangat dekat dengannya. Sambil memegangi telapak tanganku, dia pun berkata, “Fir, ke depannya aku ingin kamu selalu percaya padaku. Ya?!”
Dia pun langsung mencium keningku dan setelah itu memelukku. Aku yang mendapatkan perlakuan seperti ini dari Pak Fathan pun tiba-tiba menjadi merasa sedih.
“Pak, andaikan Bapak tahu tentang diriku yang sebenarnya, apakah Bapak masih bisa memiliki perasaan seperti ini padaku?” gumamku dalam hati.
***
Malam harinya, aku pun terbangun karena merasa perutku lapar. Saat aku membuka mataku dan hendak bangun, tiba-tiba saja aku tersadar kalau ada tangan Pak Fathan sedang memeluk tubuhku.
“Aih. Kenapa bisa ada seorang Dosen tampan yang imagenya tiba-tiba saja berubah jadi seperti ini?!” gumamku dalam hati yang lalu berusaha pelan-pelan memindahkan tangan Pak Fathan dari atas tubuhku.
Sesaat setelah berhasil lepas, aku pun langsung berdiri dan melangkahkan kakiku keluar dari kamar.
Aku berjalan menuju dapur lalu kemudian mengambil segelas air minum dan mencari Bibi.
“Bi, bibi gak masak ya?” tanyaku yang tidak menemukan adanya makanan di dapur.
“Oh, Non. Memangnya Tuan belum memberi tahu Non?” tanyanya.
Aku pun menggelengkan kepala.
“Non, tadi pagi Tuan melarang Bibi untuk masak. Katanya Tuan mau ngajak Non makan di luar,” jelas Bibi.
Aku yang mendengar penjelasan Bibi pun akhirnya melongo. Dalam hati aku berkata, “Si Pak Dosen satu ini mau ngapain lagi sih?! Aih.. dah ah. Laper.”
Aku pun langsung bergegas mencari-cari sesuatu yang bisa buat di masak dan beruntung, ternyata ada Mie instan yang waktu itu aku beli.
__ADS_1
“Oh, ternyata kamu di bawa ke sini?!” gumamku yang lalu mengambil dua bungkus Mie dan membuatnya.
Di saat aku sedang asyik-asyiknya menikmati mie yang sudah aku masak, tiba-tiba saja sebuah tangan langsung memegang tanganku dan menarikku.
“Ganti lah pakaianmu. Kita keluar makan,” ucap Pak Fathan dan kemudian keluar.
Aku yang sebenarnya masih ingin menghabiskan mie tersebut hanya mendengus kesal.
“Sungguh pintar menghancurkan suasana hati,” gerutuku yang kemudian mandi dan mengganti pakaianku.
Setelah aku selesai, aku pun berniat menghabiskan mie ku yang tadi. Namun saat aku tiba di ruang makan, ternyata...
“Lha kok udah habis?! Siapa yang makan?” gumamku.
Dan di saat yang bersamaan...
“Gimana? Sudah siap? Kalau udah, kita berangkat sekarang,” ucap Pak Fathan yang menghampiriku di dapur.
Aku pun terdiam sama sekali tak bergeming sehingga membuat dia menjadi bertanya, “Kok diem aja? Kamu lagi lihat apaan sih?”
“Sudah.. sudah. Jangan di pikirkan lagi soal itu mie masih ada atau habis. Bukannya sekarang kita mau makan di luar?!” ucap Pak Fathan yang langsung merangkul bahuku dan membawaku pergi.
Di sepanjang jalan kami hanya diam saja. Tidak ada satu hal pun yang bisa di bahas. Hingga kami sampai di sebuah restoran keluarga.
Kami pun memesan makanan terlebih dahulu sebelum akhirnya kami duduk.
Saat kami sedang menunggu pesanan kami di antar, tiba-tiba saja datang seorang wanita menghampiri kami.
“Hai, Than. Gak nyangka kita bisa ketemu di sini,” sapa wanita tersebut yang ternyata Gladis langsung duduk bersama kami.
Pak Fathan hanya tersenyum dingin, sedangkan aku pura-pura untuk cuek.
“Eh, Than. Dengar-dengar di daerah sini sedang ada pasar malam lho. Kita ke sana yuk. Soalnya aku kangen nih pingin jalan berdua aja sama kamu,” rengek Gladis.
“Sori, Dis. Sebenarnya aku gak bisa jalan sama kamu kalau bukan karena pekerjaan,” ucap Pak Fathan.
__ADS_1
“Maksudmu?” tanyanya.
Pak Fathan pun mengambil nafas panjang dan kemudian berkata, “Jujur. Kamu jangan salah paham dengan sikapku ke kamu selama ini. Aku seperti itu karena pekerjaan. Bukan karena ada alasan yang lain. Lagi pula kamu jangan pernah mengharapkan lebih dariku karena aku sudah punya calon untuk aku nikahi.”
“Brak.”
Terdengar meja yang dipukul kencang sehingga mengagetkan aku yang sedang diam memainkan permainan di ponselku.
“Kamu!! Kamu ternyata mempermainkan aku ya selama ini?!...” ucapnya yang terdengar seperti tidak terima, “ingat, Than. Rahasiamu masih ada padaku. Jika kamu tidak ingin rahasiamu terbongkar, lebih baik kamu pikirkan lagi ucapanmu barusan.”
Setelah mengatakan hal itu, Gladis pun langsung pergi. Sementara itu, Pak Fathan hanya terdiam. Aku yang melihat ekspresi wajah Pak Fathan pun menjadi sedikit curiga. Sebenarnya apa yang di maksud dengan Gladis rahasia.
Tak selang berapa lama, pesanan kami pun datang dan kami pun memakannya.
Malam itu yang seharusnya kami makan dengan nikmat, tiba-tiba saja berubah menjadi hambar.
“Ah, tahu begini kan mending makan mie ku tadi. Makannya tenang lagi. Tanpa melihat ekspresi wajah seperti ini,” gumamku melirik ke arah Pak Fathan yang sedang termenung.
***
Beberapa hari setelah malam itu, sikap pak Fathan pun mendadak menjadi berubah. Entah apa yang menyebabkan dia jadi seperti itu. Namun yang pasti dia jadi lebih sering jarang pulang ke rumah.
Lalu hari ini. Hari di mana seharusnya menjadi hari mata kuliahnya, aku melihat ekspresi raut wajah Pak Fathan yang sedikit serius. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi. Namun saat aku berniat untuk menyapanya, dengan sangat cepat dia menghindariku.
“Fir, lo ma Pak Fathan baik-baik aja kan?” tanya Jio yang ternyata memperhatikan keadaanku dengan Pak Fathan.
“Entahlah, Yo. Aku sendiri juga bingung,” sahutku.
Di saat jam mata kuliah sudah selesai, aku pun langsung pulang. Namun saat aku hendak keluar dari gerbang kampus, aku melihat Pak Fathan sedang bersama dengan Gladis. Dari penglihatanku, mereka terlihat sangat mesra sekali membuat aku berpikir apakah selama ini ucapan Gladis adalah yang paling benar dan Pak Fathan lah yang sebenarnya sudah mempermainkan hatiku.
Memikirkan hal itu, terasa dengan pasti kalau di hati ini sangatlah pedih. Aku tidak habis pikir kenapa Pak Fathan segitu teganya mempermainkan aku.
Dengan lesu, aku pun melangkahkan kakiku meninggalkan kampus. Aku saat ini tidak tahu, apakah aku masih pantas tinggal di rumah Pak Fathan ataukah tidak.
Saat aku berjalan sambil termenung, tiba-tiba saja dari arah belakang ada seseorang yang menepuk pundakku dan ketika aku menengok ternyata...
__ADS_1
Bersambung...