
Aku yang masih terduduk lemas ini pun tiba-tiba saja mendengar suara telepon berdering.
“Halo,” ucapku.
“Fir, lebih baik kamu sekarang kembali ke kamarmu. Urusan kabar yang barusan saja kamu dengar, lebih baik kamu jangan terlalu memikirkannya,” ucap orang itu yang langsung saja mematikan ponselnya.
Aku yang sudah merasa kacau dan bingung pun memastikan kembali tentang siapa sebenarnya yang sudah meneleponku barusan.
“Nomor siapa ini?” Gumamku yang merasa tidak pernah menyimpan nomor tersebut.
Di saat aku sedang merasa bingung, tiba-tiba saja ada satu pesan masuk.
“Save nomorku. Jika terjadi sesuatu, kamu cepat hubungi nomorku ini.”
Saat membaca pesan tersebut, rasa penasaranku semakin besar sehingga aku pun membalasnya dengan berkata, “Iya. Tapi ini siapa dulu?”
Tak menunggu lama, pesan balasan pun aku terima kembali yang isinya, “Tulis aja dengan tulisan suamiku tersayang.”
Saat membaca balasannya yang seperti itu, seketika rasa takutku menjadi berkurang.
“Huek.. Narsis banget sih. Siapa juga yang mau jadi istrimu,” ucapku sambil memberikan sebuah nama pada nomor tersebut dengan tulisan 'High Narsis'.
Setelah selesai, aku pun langsung kembali ke kamarku sendiri dan kemudian langsung menutup pintu lalu menguncinya.
***
Dua jam setelah kejadian...
‘Tok.. Tok..'
Terdengar suara ketukan pintu kamar. Aku yang saat ini sedang merasa waspada ini pun akhirnya tidak berani untuk membukakan pintu.
Namun setelah beberapa saat kemudian samar terdengar suara panggilan dari arah luar kamar.
“Fir, Fir.. ini gue. Cepetan lo bukain pintunya,” panggil seseorang yang suaranya sangat tidak asing di telingaku.
“Jio!?” gumamku yang kemudian langsung bergegas membuka pintu.
“Aih, Fir. Lo lama banget sih bukain pintunya!?” keluh Jio yang kemudian langsung saja menyelonong masuk.
“Yo, lo kenapa? Lo baik-baik aja kan?” tanyaku yang melihat Jio penuh dengan keringat dan nafas yang tersengal-sengal.
“Hmm,...” dia pun mencoba mengendalikan nafasnya dan kemudian kembali berkata, “aku gak kenapa-kenapa, Fir.”
Aku pun menyipitkan mataku saat mendengar penjelasan Jio. Aku merasa kalau ada sesuatu yang sedang ia tutupi.
“Fir, lo gak apa-apa kan?” tanya Jio.
Aku pun duduk di tepi tempat tidur lalu menggelengkan kepala sambil berkata, “Gue gak apa-apa, Yo.”
“Yakin?” tanyanya.
__ADS_1
Aku pun menganggukkan kepalaku.
“Syukurlah,...” ucapannya dengan nada lega, “Ya sudah. Kalau begitu gue ke kamar gue dulu ya. Mau mandi. Gerah.”
Aku pun mengangguk.
“Kalau lo ada apa-apa, lo cepet kasih tahu gue ya,” pesan Jio dan aku pun lagi-lagi mengangguk.
Jio pun kemudian langsung pergi meninggalkan aku sendirian di dalam kamar.
Aku yang dari kejadian itu sudah seperti orang linglung ini pun tiba-tiba terkejut dengan bunyi sebuah pesan masuk.
“Fir, sebentar lagi aku mau ke kamar. Kamu ada makanan yang mau aku bawakan gak?”
Betapa Bingungnya aku saat membaca pesan tersebut.
“Ha? Jadi orang narsis ini yang sekamar denganku?” gumamku antara percaya dan tidak percaya.
Karena merasa tidak ingin makan apa-apa, aku pun akhirnya tidak menjawab pesan tersebut.
Hingga setengah jam kemudian...
‘Ceklek’
Terdengar suara handle pintu. Aku yang saat itu sedang duduk di dekat jendela ini pun spontan langsung menengok ke arah sumber suara.
Betapa terkejutnya aku saat melihat siapa yang masuk.
“Fir, kamu gak apa-apa kan?” tanyanya yang langsung berhambur memeluk tubuhku.
“Fir, kamu tahu gak!? Aku sangat-sangat merindukanmu,” ucapnya sambil menatap lekat ke arahku.
“Pak, kenapa Bapak bisa ada di sini dan bisa menjadi teman sekamarku? Apa gak takut dicurigai oleh dosen yang lainnya?” tanyaku.
Pak Fathan pun menggelengkan kepalanya lalu berkata, “Ceritanya panjang. Sekarang belum saatnya kamu tahu. Kamu gak usah khawatir ya.”
“Oh,” sahutku singkat.
“O ya. Ini ada makanan dan minuman untuk kamu. Ada juga camilan. Aku harap bisa buat kamu santai sejenak,” ucapnya yang langsung memberikan sebuah plastik.
Tanganku pun refleks menerimanya.
“Terima kasih,...” ucapku, “o ya, Pak. Jadi tadi itu Bapak sudah tahu tentang kejadian di kolam pemandian?”
Dia pun mengangguk pelan lalu duduk di tepi tempat tidur.
“Kali ini siapa, Pak? Soalnya beberapa saat setelah kejadian, aku ada menerima sebuah pesan,” ucapku.
“Pesan!? Mana sini coba aku lihat,” ucapnya.
Tanpa banyak bicara, aku pun langsung memberikan ponselku ke Pak Fathan.
__ADS_1
Pak Fathan pun menyipitkan matanya dan kemudian berkata, “Fir, aku kali ini benar-benar minta tolong sama kamu. Tolong kamu pulang ke rumahku.”
Aku pun terdiam sejenak lalu berkata, “Untuk apa aku balik lagi ke rumah Bapak? Toh Bapak sendiri juga menjauhiku.”
Mendengar ucapanku, Pak Fathan pun terdiam lalu beberapa saat kemudian berkata, “Fir, tolong. Percaya sama aku. Aku masih belum bisa menjelaskan apa-apa untuk saat ini. Tapi ada satu hal yang pasti, aku melakukan ini karena itu untuk kebaikanmu.”
Aku yang mendengar ucapan Pak Fathan pun lalu berkata, “Ya sudah. Lihat nanti. Akan aku pikirkan lagi.”
Pak Fathan pun mengangguk dan kemudian berkata, “Ya sudah. Makanlah dulu.”
“Hum,” sahutku singkat.
***
Keesokan paginya, entah mengapa tiba-tiba saja...
“Bapaaaaaaak!!!” teriakku terkejut saat mendapati Pak Fathan tengah tidur pulas di sebelahku.
“Hoaaaam.. ada apa sih? Kok pagi-pagi udah ribut begini sih Yang?” tanyanya yang masih setengah sadar sambil langsung memeluk tubuhku.
Sontak aku pun terdiam terpaku hingga akhirnya aku tersadar dan berkata, “Pak, Bapak kenapa tidur di sebelahku? Di sana kan ada tempat tidur satu lagi.”
“Hiks hiks hiks.. enakan juga tidurnya sama kamu, Yang. Hangat,” ucapnya dengan penuh manja.
Aku yang diperlukan seperti itu pun hanya bisa menarik nafas panjang.
“Sabar sabar.. tenang..,” gumamku dalam hati.
“Pak, hangat sih hangat. Tapi kalau terjadi sesuatu yang melebihi sekedar tidur, gimana?” tanyaku.
“Haaa!? Jadi kamu mau yang seperti itu ya?” ucapnya tiba-tiba yang membuatku terkejut setengah mati.
“Gak. No. Gak mau,” sahutku yang ikut tiba-tiba juga.
“Oh,...” ucapnya lesu, “ya sudah deh. Padahal toh dua bulan lagi kita akan menikah.”
Mendengar ucapannya, rasanya aku seperti tersambar petir.
“Apa? Menikah? Dua bulan lagi?” tanyaku.
Namun pertanyaanku itu tidak dihiraukan oleh Pak Fathan. Dia malah kembali tidur sambil memeluk tubuhku.
“Pak!!”
Aku pun mencoba membangunkannya dengan memukul-mukul lengan tangannya.
“Apa maksudnya menikah dua bulan lagi, Pak?” tanyaku.
Sambil membenamkan raut wajahnya di sebelah telingaku, ia pun berbisik, “Kamu adalah wanita yang sudah aku pilih sejak dulu pertama kali bertemu untuk menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku.”
Seketika 'blush'. Pastinya wajahku akan memerah jika di lihat di cermin.
__ADS_1
“Bapaaaaaaak!!!!!”
Bersambung..