Cinta Dalam Misteri

Cinta Dalam Misteri
Gladis


__ADS_3

Sambil masih dengan ekspresi wajah yang tidak percaya, aku berjalan sambil termenung. Dengan mengulang kembali ingatan demi ingatan yang terjadi tadi, aku pun masih merasa kalau semua itu hanyalah candaan semata.


“Aih,” ucapku sambil mengacak-acak rambutku.


Tak selang berapa lama kemudian, kendaraan umum pun lewat dan aku menaikinya. Walau tadi Pak Fathan berpesan padaku agar memesan taxi, tapi menurutku sangat sayang kalau uang di keluarkan begitu saja untuk membayar taxi.


Saat sedang duduk sambil memandang ke arah luar, aku tidak sengaja melihat Pak Fathan sedang bersama dengan seorang wanita.


“Cih, tadi aja bilang menyukaiku. Sekarang sudah jalan sama perempuan lain,” gumamku dalam hati.


Beberapa saat kemudian aku pun sampai di rumah. Dengan rasa lelah, aku pun menjatuhkan diriku di atas tempat tidur dan teringat kembali apa yang sudah tadi aku lihat.


“Untung aku masih belum percaya seratus persen. Kalau sampai aku benar-benar percaya, berarti aku bodoh. Huh dasar cowok,” gerutuku.


***


Malam ini lagi-lagi Pak Fathan tidak pulang. Entah apa yang sedang dilakukannya di luar. Tapi aku pun tidak ambil peduli. Hingga keesokan harinya, aku pun berangkat ke kampus sendiri. Namun entah mengapa rasanya aku ingin sekali mampir membeli secangkir minuman hangat di kafe dekat kampus.


Dengan langkah mantap, aku pun memasuki kafe tersebut dan memesannya. Namun di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja aku didatangi oleh seorang wanita.


“Hai,” sapanya.


Aku pun tersenyum dan bertanya, “Siapa, ya?”


“Kamu pasti Fira, kan?! Kenalkan, aku Gladis. Pacarnya Fathan,...” ucapnya memperkenalkan dirinya.


Mendengar itu tiba-tiba saja hatiku 'deg'. Ada rasa sakit yang tidak bisa aku ungkapkan.


“Fathan sering bercerita tentang kamu. Katanya kamu itu sedang ada masalah, jadinya Fathan membantumu,” ucapnya dengan wajah yang sumringah.


“Hehehe.. gak juga kok,” sahutku.


Di saat yang bersamaan, pesananku pun sudah jadi dan aku pun membayarnya. Namun ketika aku hendak melangkahkan kakiku tiba-tiba saja dia berkata, “Oh ya, Fir. Kalau kamu ketemu Fathan, tolong suruh dia jangan lama-lama. Aku dah kangen soalnya.”


“Hehehe..” ucapku.


“Cih, bucin banget sih jadi perempuan,” gumamku sambil melanjutkan langkahku.


Sesampainya aku di kampus, benar saja. Ternyata aku memang benar-benar bertemu dengan Pak Fathan. Sesuai amanah, aku pun langsung to the point menyampaikan pesan wanita tersebut dan kemudian langsung pergi begitu saja tanpa menghiraukan bagaimana respon Pak Fathan.

__ADS_1


Dengan Badmood, aku pun langsung duduk di dalam kelas sambil meminum minuman yang tadi aku beli.


“Hai, Fir. Lo kenapa? Kenapa muka lo ditekuk-tekuk kayak gitu sih?” tanya Jio yang tiba-tiba saja duduk di sebelahku.


“Gak. Gue gak apa-apa,” sahutku singkat.


Kelas pun di mulai. Namun hari itu aku sama sekali tidak bisa fokus. Rasanya aku tuh ingin sekali marah.


“Aaaargh..! Ini semua gara-gara Pak Fathan. Kenapa sih pakai acara bilang suka dan setelah itu ternyata bohong. Berasa kaya orang bego aja aku,” gumamku dalam hati.


Aku yang merasa kesal ini pun akhirnya memutuskan untuk tidak pulang ke rumah Pak Fathan, melainkan pulang ke kost-kost an ku sendiri yang memang belum sepenuhnya aku tinggalkan.


“Haaaaaaa.. sudah lama sekali tidak tidur di tempat tidur ini,” ucapku yang tiba-tiba saja tertidur pulas.


Entah berapa lama aku tertidur hingga saat aku terbangun, aku melihat layar ponselku sudah dipenuhi oleh sederet panggilan tak terjawab dari Pak Fathan.


“Ck ngapain telepon aku? Bukannya udah punya pasangan juga,” ucapku yang langsung melemparkan ponsel ke tempat tidur dan segera bangkit untuk membersihkan diri.


“Segarnya,...” ucapku, “mulai sekarang, aku harus belajar berani menghadapi semuanya sendiri. Jangan lagi tergantung pada Pak Fathan. Aku pasti bisa.”


Setelah mengatakan kata kalimat penyemangat untuk diri sendiri, aku pun tersadar kalau perutku lapar.


Aku pun langsung mengambil jaket beserta uang dan kemudian aku pergi mencari makanan di minimarket tidak jauh dari tempat kost ku.


Sesampainya di sana, aku pun memilih barang-barang yang ingin aku beli. Di saat yang bersamaan tiba-tiba saja ada yang menepuk pundakku dan berkata, “Fir, lo beli apaan?”


Ya, orang tersebut adalah Jio.


“Eh lo, Yo. Gue pikir tadi siapa. Ini gue lupa kalau di rumah kehabisan stok makanan, jadinya gue sekarang beli,” ucapku.


“Oh. Sini gue bantu bawain,” ucapnya yang langsung meraih keranjang belanjaan milikku.


“Eh, terima kasih Yo,” ucapku.


“Gak usah sungkan gitu,” sahutnya.


“Hehehe, iya. O ya, Yo. Lo ngapain malam-malam ada di daerah gue kayak gini?” tanyaku.


“Gu—gu—gue tadinya mau ke kost-kost an lo. Tapi berhubung gue datangnya udah kemalaman dan takut ganggu lo, jadinya gue batalin dan gue belok ke sini deh. Lha di sini kok gue malah bisa nemuin lo. Hahaha..” jelasnya.

__ADS_1


“Ish,” sahutku.


Aku yang sudah selesai memilih barang pun akhirnya pergi menuju kasir untuk membayarnya dan balik pulang. Ya tentunya bersama Jio.


“Eh, Yo. Tadi lo bilang mau ke kost-kost an gue. Lo nyari gue ya? Lo ada apa nyari gue?” tanyaku di tengah perjalanan.


“Ya gak ada apa-apa sih, Fir. Gue cuma mau main aja ke tempat lo, secara kan gue udah lama gak main ke sana,” jelasnya.


“Oh,...” sahutku, “gue kira ada hal penting apa.”


Kami pun terus melangkahkan kaki menuju kost-kostan ku. Namun di saat hampir mendekati kost, tiba-tiba saja Jio mengurungkan niatnya untuk main.


“Fir, gue lain kali aja lha mainnya. Udah malam juga. Gak baik kalau sampai banyak yang salah menilai,” ucapnya dan aku pun mengerti maksud ucapannya.


“Ya sudah, Yo. Hati-hati di jalan. Sampai ketemu di kampus, besok,” ucapku dan dia pun mengangguk lalu kemudian pergi.


Aku yang sudah tidak ditemani oleh Jio lagi ini pun akhirnya segera bergegas untuk melanjutkan langkahku. Namun belum juga aku sampai di depan kost-kostan ku, tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggilku dan secara otomatis aku pun langsung menengok ke arah sumber suara.


Betapa terkejutnya aku karena ternyata yang memanggilku adalah orang yang sudah membuat aku kacau.


Ya, dia adalah Pak Fathan. Karena terlalu ingin menghindarinya, aku pun segera berbalik dan bergegas melangkahkan kaki. Namun di saat yang bersamaan, Pak Fathan pun langsung memegang tanganku dan menariknya lalu membawaku ke dalam mobilnya.


Dia pun langsung melajukan mobilnya tanpa menunggu jawaban dariku terlebih dahulu dan membawaku entah ke mana.


Sesampainya kami di sebuah tempat, lebih tepatnya sebuah taman bermain dekat rumahnya, dia pun langsung mematikan mesin mobilnya dan kemudian berkata, “Kamu, kamu kenapa tidak bilang padaku sebelumnya kalau kamu pulang ke kost-kost an mu?”


“Buat apa aku bilang?” tanyaku dengan nada dingin.


Pak Fathan pun langsung memegang ke dua bahuku dan memutarnya sehingga aku kini menghadap ke arahnya.


“Fir, dengar ya. Kita ini punya hubungan. Sudah sewajarnya kalau aku ingin tahu ke mana orang yang aku sayangi pergi,” ucapnya.


“He? Apa tadi Bapak bilang?! Kita punya hubungan?! Lalu siapa perempuan yang bernama Gladis itu ha? Dia dengan pasti mengatakan padaku kalau dia itu pacarmu dan dia bilang juga kalau Bapak dekat sama aku itu hanya untuk membantuku karena aku penakut. Jadi, Pak. Lupakan.. lupakan saja. Anggap semua hanya lelucon,” ucapku yang penuh emosi karena merasa seperti sudah dibodohi.


Dan di saat yang bersamaan tiba-tiba saja...


'Cup'


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2