
Dan di saat yang bersamaan tiba-tiba saja...
'Cup'
Aku bisa merasakan sentuhan bibir Pak Fathan di bibirku sehingga aku membulatkan mataku karena terlalu terkejut.
Dengan sekuat tenaga aku mencoba menyudahi ciuman tersebut. Bukannya berhasil menyudahi ciuman tersebut, malah menambah semakin dalam Pak Fathan menciumku sehingga aku merasa kehabisan nafas.
Setelah beberapa saat menghadapi ciuman Pak Fathan, akhirnya Pak Fathan menyudahi ciumannya sambil berkata, “Ini hukuman buat kamu karena kamu lebih percaya pada orang lain.”
Aku pun yang saat itu spontan langsung mengusap bibirku dengan kesal pun kemudian berkata, “Pak, bagaimana aku bisa percaya pada Bapak jika di hari yang sama aku melihat Bapak jalan dengan perempuan lain dan di hari esoknya perempuan itu bilang kalau dia pacar Bapak?”
Saat mendengar ucapan dariku, Pak Fathan terlihat benar-benar emosi dan baru kali ini aku melihatnya seperti itu.
Dia pun mencoba memejamkan matanya beberapa saat sebelum akhirnya dia berkata, “Baiklah. Aku akan menceritakan semuanya tentang siapa Gladis yang sebenarnya. Namun setelah kamu mendengarnya, aku mohon kamu percaya padaku dan bisa menerimaku.”
Aku pun terdiam. Hatiku masih merasa sangat kesal sekali. Apalagi jika teringat kejadian saat aku bertemu dengan perempuan itu. Ingin rasanya aku benar-benar ingin bicara kasar.
Mungkin Pak Fathan dapat merasakan kekesalanku ini sehingga dia pun berkata, “Ok. Terserah padamu saja. Tapi yang pasti aku akan menceritakan semuanya padamu.”
Tanpa menunggu lama dan dengan menarik nafas panjang, Pak Fathan pun akhirnya memulai dengan menceritakan siapa dia yang sebenarnya. Aku yang tadinya kesal pun tiba-tiba saja meluluh.
“Jadi seperti itulah Gladis yang sebenarnya di hatiku,” ucapnya setelah itu.
“Jadi itulah sebabnya Bapak selalu saja tiba-tiba pergi?” tanyaku memastikan.
Pak Fathan pun mengangguk lalu berkata, “Iya. Kami sering terlihat bersama dan dekat karena kami ini sedang memiliki hubungan kerja sama. Jika kerja sama ini selesai, maka aku tidak ingin dekat dengannya lagi.”
Mendengar jawaban dari Pak Fathan, tiba-tiba saja hatiku 'deg'.
“Lalu bagaimana dengan apa yang sudah di katakan oleh Gladis? Apakah itu semua benar kalau Bapak mengatakan suka karena Bapak merasa kasihan padaku?” tanyaku.
“Aih. Bukan seperti itu kejadiannya. Aku sama sekali tidak menganggap perasaanku ini hanya semata-mata kasihan padamu. Perasaanku ini benar-benar tulus dan nyata,” jelasnya.
Dan di saat yang bersamaan tiba-tiba saja ponselku berdering dan aku pun langsung mengangkatnya.
“Halo,”
__ADS_1
“...”
“Apa?! Baik. Aku segera ke sana.”
Aku pun langsung mematikan panggilannya.
“Ada apa?” tanya Pak Fathan khawatir.
“Pak, Jio Pak,...” ucapku panik.
“Ada apa dengannya?” tanyanya.
“Ji—ji—jio, dia... tiba-tiba saja ada yang memukul kepalanya hingga dia tidak sadarkan diri dan sekarang dia langsung dilarikan ke Rumah Sakit,” ucapku.
“Ya sudah. Kita ke sana sekarang,” ucapnya yang langsung menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya.
***
Di Rumah Sakit, kami segera mencari kamar tempat Jio di rawat dan kami pun langsung ke sana.
Di saat yang bersamaan pula aku melihat sosok Jio sedang di balut perban di daerah kepalanya. Namun saat sebelum kami masuk tadi, kami bertemu dengan Dokter yang menangani Jio. Dokter tersebut menyampaikan bahwa Jio sangat beruntung. Pasalnya, tidak ada cedera serius di kepalanya akibat pukulan tersebut.
“Yo.. Yo.. siapa yang sudah tega melakukan hal ini padamu?” ucapku sambil duduk di samping tempat tidur Jio.
Sementara itu Pak Fathan bertanya padaku apakah aku ingin tinggal dan menemani Jio ataukah pulang.
Dengan mempertimbangkan keadaan sekitar Jio dan juga kondisi Jio, aku akhirnya berkata kalau aku akan menemaninya di Rumah Sakit. Pak Fathan yang mendapatkan jawaban seperti itu dariku akhirnya menarik nafas panjang dan kemudian ikut bersamaku menemani Jio sampai bangun.
***
Keesokan paginya, aku yang rupanya tertidur ini pun bangun dalam keadaan duduk bersandar di bahu Pak Fathan dan tangan Pak Fathan melingkar di pinggangku sambil memegang erat telapak tanganku.
Saat itu aku melihatnya yang sedang memejamkan mata tampak terlihat tampan sekali. Dengan mengenakan kemeja biru dan celana bahan, membuatnya tampak sangat dewasa sekali. Di saat yang bersamaan, detak jantungku menjadi bergemuruh saat melihatnya seperti itu.
Saat aku sedang termenung menatap dengan seksama raut wajah Pak Fathan, tiba-tiba saja Pak Fathan membuka matanya lalu berkata, “Pagi, sayang.”
Sehingga membuatku langsung spontan mengalihkan pandanganku karena terlalu malu sudah tertangkap basah melihat wajahnya diam-diam.
__ADS_1
Masih dengan posisi semula, Pak Fathan pun mendekatkan dirinya padaku lalu berbisik, “Tidak usah malu. Kamu bebas melihatku seperti itu. Aku sudah menjadi milikmu.”
Mendengar itu lagi-lagi detak jantungku menjadi tidak karuan dan di saat yang bersamaan tiba-tiba saja terdengar suara mengerang dari Jio sehingga membuat aku dan Pak Fathan langsung melihat ke arah Jio dan menghampirinya.
“Pak, Jio kenapa?” tanyaku.
“Sebentar. Aku panggilkan Dokter dulu,” ucapnya yang langsung pergi memanggil Dokter.
Setelah beberapa saat menunggu, Dokter pun akhirnya datang dan segera memeriksa keadaan Jio. Dokter pun langsung memberikan obat anti nyeri pada Jio sehingga membuat Jio bisa jauh lebih tenang.
Sebelum Dokter keluar, Dokter itu mengatakan kalau keadaan Jio stabil. Kejadian tadi adalah hal yang wajar ketika reaksi obat pereda sakitnya habis. Tapi keadaan seperti itu tidak akan berkepanjangan. Seiring berjalannya waktu dan dengan meminum obat secara rutin, tentunya cederanya akan sembuh.
Mendengar penjelasan Dokter, aku pun merasa lega.
Sesaat setelah Dokter pergi, Pak Fathan meminta ijin padaku untuk pulang sebentar untuk membawakanku pakaian ganti dan juga makanan untuk sarapan. Aku pun mengizinkannya. Namun sebelum dia pergi, terlebih dahulu yang dilakukannya adalah mengecup keningku sambil tersenyum.
Aku yang mendapatkan perlakuan seperti itu selalu saja mengalami sport jantung.
***
Satu jam setengah setelah Pak Fathan pergi, Jio pun akhirnya bangun dan terlihat terkejut melihatku.
“Fi—Fira?! Lo kok di sini? Ini di mana?” tanyanya bingung.
Aku yang melihat Jio sadar pun akhirnya berkata, “Yo, akhirnya lo sadar. Ini di rumah sakit, Yo. Semalam ada yang udah mukul lo dari belakang.”
Mendengar ucapanku, Jio langsung merasa pusing dan kemudian berkata, “Ada yang mukul gue?! Bentar.. gue inget sekarang. Semalam sesaat sebelum gue pingsan, gue sempat dengar dia bilang kalau setelah ini, akan ada dua korban lagi yang bakal dia serang.”
“A—apa, Yo? Dia bilang gak ke dua orang itu siapa saja?” tanyaku.
Jio menggelengkan kepalanya dan dia berkata, “Gua gak tahu karena setelah itu gue udah keburu gak sadarkan diri.”
Dan di saat yang bersamaan tiba-tiba saja Jio merasa terkejut. Bola matanya pun membulat seperti orang yang benar-benar ketakutan.
“Fi—Fi—Fira, I—i—itu,...”
Bersambung...
__ADS_1