Cinta Dalam Misteri

Cinta Dalam Misteri
Jadi malu


__ADS_3

Saat di ruang makan, kami berdua saling diam dan tidak ada yang mencoba untuk memulai pembicaraan. Entah apa yang di pikirkan oleh pak Fathan saat ini. Tapi yang pasti, aku jadi merasa segan pada Pak Fathan.


\=\=Flash back On\=\=


“Pak, bangun,” ucapku menggoyang-goyangkan tubuhnya.


Dia pun akhirnya membuka matanya lagi dan kemudian bertanya, “Ada apa, Fir?”


“Bapak jangan tidur lagi soalnya Bapak belum menjawab pertanyaanku tadi,” ucapku.


“Pertanyaan yang mana sih, Fir?” tanyanya yang kemudian mencoba untuk memejamkan matanya kembali.


“Bapak! Bangun!...” ucapku membangunkannya lagi, “Bapak, kenapa Bapak bisa tidur di sini? Dan kenapa posisi tidur kita seperti ini?”


“Oh, itu. Itu karena semalam kamu memelukku dengan kencang dan tidak mengizinkan aku untuk pergi,” sahutnya santai dan kemudian memejamkan matanya kembali.


Mendengar jawaban Pak Fathan, aku pun antara percaya dan tidak percaya akhirnya mencoba mengingat kembali kejadian waktu semalaman dan setelah beberapa saat kemudian, aku pun akhirnya berhasil mengingat semuanya.


\=\=Flash back off\=\=


“Iiih,...” gumamku dalam hati jika mengingat kejadian semalam hingga tadi pagi, “tapi eit. Tunggu dulu. Tadi pagi kita dalam posisi seperti itu bukan berarti kita melakukan macam-macam kan?!”


Aku pun diam-diam melirik ke arah Pak Fathan yang sedang makan sarapannya.


“Ah, gak. Gak mungkin terjadi apa-apa. Pakaian kami pun masih utuh. Jadi mana mungkin kami melakukannya. Gak.. gak mungkin,” gumamku dalam hati lagi.


Setelah beberapa saat kemudian, Pak Fathan tiba-tiba saja membuka obrolan dengan mengatakan, “Aku dengar kamu akan tampil di pertunjukan acara kampus nanti lho.”


“Uhuk..uhuk..”


Aku pun langsung mengambil segelas air minum dan meminumnya lalu bertanya, “Bapak kata siapa?”


“Gak kata siapa-siapa. Kan aku yang merekomendasikan kamu supaya bisa ikut tampil dalam acara tersebut,” sahut Pak Fathan santai.


“Pak, Bapak kok seenaknya memutuskan hal itu tanpa bertanya dulu padaku?” protesku.


Pak Fathan pun langsung menghentikan makannya dan kemudian berkata, “Fir, aku hanya ingin membantumu.”


“Membantuku?! Maksudnya?” tanyaku.


“Fir, dengan mengikuti kegiatan seperti itu, waktumu akan semakin sibuk dan pikiranmu pun akan teralihkan,” jelas Pak Fathan.


“Tapi Pak,...”


“Gak ada tapi-tapian. Tenang saja. Aku tidak akan pulang duluan sebelum kamu selesai latihan,” ucap Pak Fathan memotong ucapanku.


Aku yang mendengar ucapan Pak Fathan ini pun mau tidak mau hanya bisa menurutinya.

__ADS_1


***


Di kampus, aku pun berjalan lesu. Sebenarnya aku sangat tidak tertarik dengan acara-acara semacam itu. Aku lebih baik di suruh menonton pertunjukan dari pada harus di suruh ikut tampil.


“Hai! Melamun aja. Lo mikirin apa sih?” tanya Jio.


Aku pun menggelengkan kepala dan kemudian berkata, “Gak. Aku gak lagi mikirin apa-apa. Hanya aja,...”


“Hanya aja apa, Fir?” tanya Jio.


“Hanya aja aku bingung kenapa bisa-bisanya ada namaku di daftar pemain dalam pertunjukkan nanti,” ucapku asal karena sebenarnya aku sendiri sudah tahu jawabannya.


“Bbbwahahahahaha.. aku pikir ada masalah apa?...” ucap Jio sambil tertawa lepas, “sudah sih. Ikut aja. Sekali-kali lha. Siapa tahu bisa jadi pengalaman yang tak terlupakan. Iya, kan?!”


“Iyanya sih iya. Tapi kan lo tahu sendiri kalau gue sama sekali gak ada bakat dalam hal kesenian,” ucapku.


“Aih. Walau gak ada bakat kan bisa berlatih. Makanya itulah gunanya ada latihan,...” ucapnya, “udah ah. Gak usah di pikirin lagi. Jalanin aja. Tenang, ada gue. Gue bakal nemenin lo kok.


Setelah mengatakan itu, Jio pun langsung merangkul pundakku dan membawaku ke kelas.


***


Siang harinya ternyata hari pertama di mana akan di adakan latihan. Seperti yang sudah di katakan oleh Jio, dia pun dengan senang hati selalu menemaniku untuk latihan.


Sama halnya dengan Jio, Pak Fathan pun ternyata juga ada di ruang latihan. Entah apa yang dilakukannya. Tapi yang pasti melihat Pak Fathan yang juga ada di ruang latihan membuat aku agak canggung setelah mengingat apa yang telah terjadi semalam.


“Eh, Fir. Lihat tuh Pak Fathan. Di sekelilingnya selalu saja ada banyak mahasiswi yang mengelilinginya,” ucap Jio menunjuk ke arah Pak Fathan.


“Ish lo ini, Fir. Lo emang sama sekali gak tertarik sama Pak Fathan?” tanya Jio.


“Uhuk.. uhuk..”


Mendengar ucapan Jio, tiba-tiba saja aku teringat kejadian semalam.


“Lo kenapa, Fir?” tanya Jio sambil menepuk punggungku.


“Gak. Gue gak apa-apa, Yo,” sahutku sambil mencoba menenangkan diri.


Sementara itu aku diam-diam melirik ke arah Pak Fathan yang kebetulan ternyata sedang melihat ke arahku.


‘Deg'


“Aih.. ada apa dengan diriku ini?!” gumamku dalam hati.


Latihan pun berlangsung hingga sore hari. Aku yang sedang membereskan perlengkapan latihan pun tiba-tiba terkejut dengan dering ponselku.


Dengan ragu aku melihat siapa yang sedang meneleponku. Setelah yakin, aku pun mengangkatnya.

__ADS_1


“Halo,” ucapku.


“Fir, aku tunggu di ruangan dosen,” ucap orang tersebut yang ternyata Pak Fathan.


“Iya,” sahutku singkat.


Setelah itu panggilan pun diakhiri. Namun saat aku sedang mengangkat panggilan telepon dari Pak Fathan, ternyata Jio memperhatikanku karena tak sesaat kemudian Jio berkata, “Telepon dari siapa, Fir?”


Aku yang terkejut pun spontan menyahut, “Oh. Itu tadi telepon dari rumah. Katanya gue di suruh pulang akhir pekan ini.”


“Oh gitu. Gue boleh ikut gak?” tanya Jio.


Dan aku lagi-lagi spontan langsung menjawab, “Gak boleh.”


Melihat dari caraku menjawab seperti itu, Jio pun langsung memasang wajah sedih dan teraniaya. Dia pun lalu berkata, “Lo jahat ih. Masa’ gue gak boleh ikut? Gue kan calon mantu mereka. Masa’ gak boleh ketemu.”


Mendengar ucapan Jio, refleks aku langsung memukul pelan kepalanya Jio sambil berkata, “Mantu pala lo peang. Sejak kapan lo daftar jadi calon laki gue?! Dah ah. Jangan bercanda mulu. Gue udah harus balik sekarang.”


Aku pun langsung berjalan pergi meninggalkan Jio. Jio yang tersadar kalau aku sudah meninggalkannya pun spontan langsung berteriak, “Hei tunggu gue!”


Sesaat setelah itu...


“Eh. Lo beneran mau langsung pulang?” tanya Jio saat berhasil berjalan di sebelahku.


“Gak. Gue mau ke toilet dulu. Lo mau ikut?” tanyaku.


“Idih. Ogah. Ya sudah. Gue balik duluan deh,” ucapnya.


“Hmm,” sahutku singkat.


***


Aku yang sudah tidak diikuti oleh Jio ini pun langsung ke ruangan Dosen untuk menemui Pak Fathan.


Sesampainya di sana, betapa Bingungnya aku saat melihat ekspresi raut wajah Pak Fathan saat itu.


“Pak,” sapaku tapi dia diam saja.


“Ni orang kenapa sih?” batinku.


Karena melihat Pak Fathan yang seperti itu pun aku menjadi takut untuk menyapanya. Hingga suatu saat...


“Fir,” ucapnya.


“Ya,” sahutku.


“Ada hubungan apa kamu dengan cowok yang selalu ada di sebelahmu itu?” tanyanya.

__ADS_1


“Ha?”


Bersambung...


__ADS_2