
Aku yang memang saat itu sedang dalam keadaan lapar ini pun mau tidak mau memakan makanan yang sudah di antarkan.
“Waaaah.. Ternyata enak banget ya makanan di penginapan ini,...” ucapku sambil dipenuhi makanan di dalam mulut, “tapi siapa sih cowok itu? Kenapa pula harus bilang kalau yang di kamar ini istrinya?”
Walau dengan hati dan pikiran yang masih dipenuhi dengan banyak pertanyaan, namun hal itu tidak bisa menghentikan aku menikmati makanan lezat yang ada di hadapanku.
“Hmmm.... Kenyangnya,” gumamku sambil mengelus-ngelus perutku yang kekenyangan.
Setelah selesai makan, aku pun merapikan semua piringnya dan kemudian berjalan melihat ke arah luar jendela.
Di sana terlihat jelas kalau para mahasiswa sedang menikmati waktunya.
“Aku juga mau ke luar ah,” ucapku sambil mengambil tas selempang kecilku.
Saat aku sudah berada di luar, tanganku tiba-tiba saja di tarik oleh seseorang.
“Fir, lo ikut gue sebentar deh,” ucap orang itu yang ternyata Jio.
“Mau ke mana sih, Yo?” tanyaku.
“Sudah. Pokoknya lo ikut saja,” ucap Jio.
Mendengar ucapan Jio seperti itu, aku pun akhirnya hanya bisa mengikutinya saja.
Setelah beberapa saat kemudian...
“Wah, Yo. Bagus banget. Kok lo bisa sih nemuin tempat yang indah begini?” tanyaku heran sekaligus kagum dengan apa yang aku lihat.
“Siapa dulu donk?! Jio gitu lho. Gimana? Lo suka gak?” tanya Jio dengan ekspresi bangganya.
Aku pun mengangguk dengan pandangan mata yang masih terpukau.
“Oh ya, Fir. Gue boleh tanya sesuatu gak sama Lo?” tanya Jio.
Mendengar pertanyaan Jio, spontan aku pun langsung menoleh ke arahnya.
“Boleh,...” sahutku, “mau tanya apa?”
Bisa kulihat dengan jelas kalau Jio sepertinya sedang ragu-ragu sehingga membuatku kembali bertanya, “Yo, lo mau tanya apa?”
“Hmm, Fir. Tapi lo janji jangan marah ya,” ucap Jio dengan penuh harap.
Aku pun mengangguk lalu berkata, “Iya, Yo. Gue gak akan marah kok.”
Lalu Jio pun terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Fir, lo dan Pak Fathan sedang ada masalah ya?”
‘Deg’
“Oh. Itu... Kami gak kenapa-kenapa kok. Kami baik-baik saja. Lo gak usah khawatir,” ucapku.
“Beneran?” tanyanya lagi yang sepertinya kurang percaya dengan apa yang aku katakan.
Aku pun mengangguk kencang lalu berkata, “Beneran kok, Yo. Kami berdua baik-baik saja.”
“Oh syukurlah kalau begitu,” ucapnya sambil menatap lurus ke depan.
***
__ADS_1
Menjelang malam hari, aku dan Jio pun memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing. Namun sebelum itu, kami sudah berjanji akan bertemu lagi saat makan malam.
Dengan menggunakan pakaian santai, aku pun melangkahkan kakiku ke coffee shop hotel dan memesan beberapa menu makanan dan munuman.
Sambil menunggu pesanan diantar, aku pun duduk dengan tenang sambil memainkan ponselku sebelum akhirnya Jio pun datang.
“Udah lama, Fir?” tanya Jio.
Aku pun menggeleng lalu menjawab, “Gak kok. Aku juga barusan sampai.”
“Udah pesan makanan?” tanyanya sambil kemudian duduk di hadapanku.
“Udah kok,” sahutku sambil kembali serius dengan layar ponsel.
Tak lama setelah itu, makan yang aku pesan pun di antarkan dan di susul dengan makanan yang di pesan oleh Jio.
Kami berdua pun akhirnya menikmati hidangan yang ada di hadapan kami.
“Ternyata makanan di sini enak ya, Fir?” celetuk Jio sambil mengunyah makanannya.
Aku pun mengangguk sambil memakan makananku sendiri.
“Beruntung ini semua gratis. Hmm.. kalau gak, walau seenak apa pun makanannya, gak bakal mampu kita menikmatinya,” ucap Jio.
Mendengar ucapan Jio, aku pun menggeleng-gelengkan kepala lalu terdiam sejenak.
“Tapi emang benar juga sih. Untung gratis,” gumamku dalam hati.
Dan malam itu kami benar-benar sangat kenyang sekali. Sungguh nikmat seakan baru saja kembali hidup setelah tidur panjang.
Saat hendak berpisah jalan dengan Jio, tiba-tiba saja ada pesan masuk ke ponselku. Namun aku tidak begitu memedulikannya. Hingga akhirnya aku sampai di kamarku sendiri.
“Oh, betapa nikmatnya tempat tidur ini,” ucapku yang kemudian langsung tertidur pulas.
***
Keesokan harinya, aku pun terbangun dari tidurku.
“Hoam...”
Aku pun menengok ke kanan dan ke kiri.
“Ternyata gak datang,” gumamku yang tidak terlalu peduli dengan siapa sebenarnya teman sekamarku.
'Ting'
Tiba-tiba saja terdengar ada pesan masuk.
Aku pun langsung melihat dan mengeceknya.
“Hai putri tidur. Bangun! Udah siang. Ayo kita ke kolam pemandian. Gue tunggu lo di bawah.”
Begitulah isi pesannya.
“Ck.. dasar Jio,” gumamku.
Aku pun tiba-tiba teringat kalau semalam sepertinya ada pesan masuk yang belum sempat aku lihat. Tapi setelah aku cek, ternyata tidak ada.
__ADS_1
“Apa semalam perasaanku aja ya?...” gumamku sambil mencoba mengingat-ingat kembali, “ah, sudahlah.”
Aku pun langsung membawa perlengkapanku ke dalam tas kecilku dan kemudian pergi menemui Jio.
Sesaat kemudian...
“Ah Lo, Fir. Kalau udah molor bener-bener deh. Udah kayak putri tidur aja,” goda Jio.
“Hehehe.. maklumlah. Baru kali ini ngerasain tempat tidur yang nyaman. Jadi betah deh buat molor. Hahahah...” sahutku.
“Heleh,” ucap Jio kesal.
Aku pun menahan tawaku saat melihat ekspresi Jio yang seperti itu.
“Dah yok. Kita berangkat,” ajakku.
Setelah beberapa saat kemudian, kami pun sampai di kolam pemandian air panas.
“Yo, kolamnya terpisahkan?” tanyaku memastikan.
“Ya tentu saja, Fir. Lo ini ada-ada aja,” ucap Jio.
“Ya.. gue kan boleh donk khawatir,” gumamku.
“Iya.. iya.. ya udah. Kita pisah di sini aja ya. Lo tahu kan tempatnya?” tanya Jio dan aku pun mengangguk.
Kami pun akhirnya berpisah arah dan menuju kolam pemandian kami masing-masing.
Namun setelah sampai di kolam, aku merasa terkejut karena di sana terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang sedang berendam.
“Apa mungkin kemarin mereka langsung mandi ya!?...” gumamku, “Ah sudahlah."
Aku yang sudah siap ini pun akhirnya menikmati berendam di kolam tersebut.
“Oh. Sungguh nikmatnya,” gumamku sambil memejamkan mataku.
Ketika aku sedang asyik-asyiknya berendam, tiba-tiba saja...
“Aaaaaaaaaa..!!!!”
Seketika aku pun membuka mataku dan kemudian aku melihat orang-orang yang ada di sekitarku berhamburan keluar.
Aku pun langsung otomatis berdiri dan langsung memakai handuk.
“Ada apa?” tanyaku pada seorang wanita yang tadi juga berendam bersama denganku.
“Kurang tahu. Tapi sepertinya ada yang sudah tenggelam di kolam sebelah,” jelasnya dan kemudian pergi meninggalkan aku.
'Deg'
Aku pun langsung melangkahkan kakiku ke arah di mana tasku kutaruh dan melihat ponsel ternyata ada satu pesan teks masuk.
“Bagaimana hasil kerjaku? Apakah kau menyukainya? Hahahahaha..”
Seketika kakiku terasa lemas dan aku seperti orang yang kehilangan keseimbangan.
“Kenapa? Kenapa begini di saat seperti ini?”
__ADS_1
Aku pun langsung terduduk lemas.
Bersambung...