
Keesokan harinya, aku sengaja berangkat lebih awal agar bisa menghindari Pak Fathan dan kebetulan juga di awal masuk ini, aku tidak memiliki jam mata kuliah Pak Fathan.
Dengan menopang daguku, aku duduk tenang di kantin kampus sambil menunggu pesananku di antar.
Ku perhatikan satu persatu mahasiswa yang datang ke kantin dan tidak sedikit dari mereka yang datang dengan sahabat mereka atau pun pacar mereka.
Di saat sedang asik melihat mereka yang lalu lalang, pesananku pun datang. Dengan segera aku pun langsung menyantap makananku.
“Bagi,” ucap seseorang yang ternyata Pak Fathan.
Aku pun spontan menoleh ke arahnya karena sendok yang aku pakai tiba-tiba saja di rebut olehnya.
“Kamu kenapa berangkat duluan?” tanyanya sambil mengunyah makanan di mulutnya.
Aku pun mengambil kembali sendok yang tadi dia rebut sambil berkata, “Lha kenapa? Kan emang harusnya begitu ya!?”
Aku pun lalu memasukkan makanan ke dalam mulutku. Setelah itu, seperti sebelumnya, Pak Fathan lagi-lagi merebut sendokku dan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Spontan lagi-lagi aku melihat ke arahnya sambil menyipitkan mataku lalu kemudian berkata, “Pak, Bapak bisa gak sih pesan makanan sendiri? Aku kan jadi gak kenyang.”
“Gak mau. Enakan juga gangguin kamu makan,” sahutnya santai.
Aku pun langsung memasang wajah cemberut.
“Kenapa emangnya? Kok kamu kelihatan benar-benar gak ikhlas begitu,” ucap Pak Fathan.
“Gimana mau ikhlas kalau aku terbayang-bayang bakal dapet musuh banyak,” celetukku sambil memonyongkan bibirku.
Mendengar ucapanku, Pak Fathan pun langsung menyentil keningku lalu berkata, “Daripada kamu khawatirkan itu, lebih baik kamu berhati-hati dengan sahabatmu itu. Karena aku gak bisa setiap saat ada di sisimu.”
Mendengar ucapan Pak Fathan, seketika hatiku menjadi kacau.
“Pak, kalau Bapak duduk di sini hanya untuk makan sarapanku dan mengungkit-ungkit soal itu, lebih baik kita gak usah deket dulu deh. Tolong beri aku waktu untuk menelaah semua kenyataan yang baru aku terima kemarin,” ucapku kesal.
Pak Fathan pun menghentikan aktifitas makannya lalu berkata, “Ok. Aku beri waktu kamu buat memikirkan masalah kemarin. Tapi jangan harap setelah kamu tahu semuanya kemarin, kamu bisa menghindariku.”
“Bapak mengancam aku?” tanyaku.
“Aku gak ngancem kamu, Fir. Aku cuma ingin menjagamu aja. Jangan sampai terjadi sesuatu sama kamu. Aku cukup kehilangan Adikku aja. Jangan sampai aku kehilangan kamu juga,” ucap Pak Fathan tegas.
Setelah berbicara seperti itu, tak selang berapa lama jam masuk pun berbunyi.
“Pulang tunggu aku di parkiran. Aku tahu kamu hari ini hanya satu jam pelajaran,” ucap Pak Fathan yang kemudian langsung pergi.
Sementara itu, aku yang di tinggal sendirian pun hanya bisa terdiam.
***
Di dalam kelas, aku pun jadi bingung bagaimana cara menentukan sikapku jika bertemu dengan Jio.
“Hai, Fir. Semalam lo sampai di kost-kostan jam berapa?” tanya Jio yang duduk di belakangku.
“Sekitar jam 7 an,” sahutku.
__ADS_1
“Kok malam?” tanyanya.
“Kan gue mampir ke mini market dulu, Yo,” jelasku.
“Oh. Pantas,” ucap Jio.
Tak selang berapa lama, Dosen yang akan mengajar mata kuliah pun datang. Dengan sendirinya Jio pun tidak melanjutkan obrolannya lagi.
“Fiuh,” desahku dalam hati.
Namun rasa lega ini tidaklah bertahan lama. Ketika mata kuliah selesai, hatiku pun menjadi terasa khawatir.
“Sungguh tidak nyaman,” ucapku lirih.
“Apanya yang gak nyaman, Fir?” tanya Jio tiba-tiba.
‘Deg’
“Oh. Gak. Gak apa-apa kok, Yo. Aku cuma merasa tiba-tiba kangen sama Pak Fathan aja,” kilahku.
“Hadeuh. Kenapa aku ngomong begitu sih!?” rutukku dalam hati.
“Oh. Memangnya kalian sama sekali belum ketemu lagi ya?” tanya Jio.
“Udah sih. Tapi cuma sebentar. Maka dari itu aku kangen sama dia,” jelasku.
Setelah beberapa saat kemudian, ponselku pun berbunyi.
“Datang ke ruangan Dosen sekarang,” ucap orang tersebut yang ternyata Pak Fathan.
“Mau ngapain?” tanyaku.
“Pokoknya datang aja dan tunggu aku di sana,” ucapnya lagi dan kemudian panggilan pun diakhiri.
Di saat yang bersamaan, Jio ternyata memperhatikan aku.
“Dari Pak Fathan ya?” tanyanya.
“Iya,...” sahutku, “sori Yo. Gue harus ke ruang Dosen sekarang. Lo pulang sendiri aja gak apa-apa kan?”
“Iya. Gak apa-apa kok. Kebetulan gue juga mau langsung kerja,” ucap Jio.
“Oh. Ya udah kalau gitu. Gue pergi dulu ya,” pamit ku dan dia pun mengangguk.
***
Di ruang Dosen, aku pun celingak celinguk mencari keberadaan Pak Fathan namun tidak juga aku temukan.
“Meja Pak Fathan itu di mana sih?” gumamku.
Di saat yang bersamaan...
“Mau ada perlu dengan siapa?” tanya salah satu Dosen yang kebetulan mungkin memperhatikan aku.
__ADS_1
“Pak, meja kerjanya Pak Fathan di mana ya? Soalnya tadi dia ada suruh aku menemuinya,” ucapku.
“Oh. Itu di sana,” ucap Dosen tersebut sambil menunjuk ke arah sebuah meja.
“Oh. Terima kasih, Pak,” ucapku.
Tak menunggu lama, aku pun langsung datang ke mejanya.
“Ternyata ini meja kerja Pak Fathan,” gumamku sambil memperhatikan meja kerjanya.
Aku pun melihat dengan seksama apa saja yang ada di atas meja kerjanya.
Setelah beberapa saat kemudian, pandanganku terhenti pada sebuah bingkai.
Ku ambil bingkai tersebut dan kulihat siapa yang ada di foto tersebut. Betapa terkejutnya aku saat melihat foto tersebut.
“Ini,...”
“Ehm,...” potong seseorang yang ternyata Pak Fathan, “kamu tuh kebiasaan sekali ya, Fir. Rasa penasarannya gak ketulungan.”
“Ish. Siapa juga yang penasaran,” gerutuku.
“Pak, kenapa ada foto kecilku di meja Bapak?” tanyaku bingung.
“Kan.. Kan.. Gak mau ngaku kan kalau emang beneran penasaran,” goda Pak Fathan.
“Apa sih si Bapak ini?!” ucapku salah tingkah yang membuatnya tersenyum.
“Kamu ini ternyata telah melupakan semuanya, ya?!” ucap Pak Fathan yang terdengar gemas denganku.
“Maksud Bapak?” tanyaku lagi.
“Ya sudah. Ayo kita pulang sekarang. Nanti di jalan akan aku kasih tahu,” ucapnya.
“Ha? Tapi Pak,...”
Apa yang ingin aku ucapkan ini ternyata tidak di hiraukan oleh Pak Fathan. Dia justru tetap melangkah pergi meninggalkan aku yang masih berdiam diri di tempat semula.
Ketika aku sadar kalau diriku benar-benar telah di tinggal, dengan segera aku pun menyusul Pak Fathan yang entah sudah berjalan sampai mana.
Setelah beberapa saat kemudian, aku pun dapat melihat keberadaan Pak Fathan. Tak jauh dari tempatnya berjalan, aku pun memandangi punggungnya dan bergumam, “Apakah dia yang benar-benar akan menjadi jodohku?”
Namun di saat yang bersamaan, aku tiba-tiba tersadar kalau ada banyak mata yang memperhatikan aku. Seolah-olah ingin menerkam ku.
Dengan spontan aku pun mempercepat langkahku sehingga aku pun melewati Pak Fathan.
“Fir, hei. Ngapain buru-buru gitu?” teriak Pak Fathan.
“Pak, kalau aku gak buru-buru, di belakang ada banyak bahaya yang mengincar ku,” sahutku yang juga sambil berteriak.
“Ha?”
Bersambung...
__ADS_1