Cinta Dalam Misteri

Cinta Dalam Misteri
Bertemu


__ADS_3

POV 3


Dua hari telah berlalu dan Pak Fathan masih belum juga menemukan titik terang di mana keberadaan Fira.


Semua usaha sudah dia lakukan termasuk mengerahkan semua tim nya untuk mencari keberadaan Fira. Namun hasilnya tetap saja Nihil.


“Fir, kamu di mana? Jangan sampai kamu bernasib sama seperti Adikku waktu itu,” gumam Pak Fathan lirih.


Di saat yang bersamaan..


“Pak, lapor. Kami sudah menemukan di mana Jio berada,” ucap salah satu anak buah Pak Fathan.


“Di mana?”


***


Tanpa membuang waktu, Pak Fathan pun langsung bergegas mencari Jio dan menemuinya.


Hingga beberapa saat kemudian..


“Pak Fathan!? Kenapa Pak Fathan bisa ada di sini?” tanya Jio.


“Yo, kamu tahu gak di mana Fira saat ini?” tanya Pak Fathan.


“Nggak Pak. Bukannya dia ada di kampus atau di kost-kostannya sendiri?” tanya Jio menutupi hal yang sebenarnya.


“Dia gak ada di mana-mana, Yo. Sudah hampir tiga hari ini dia menghilang,...” ucap Pak Fathan, “kamu yakin benaran gak tahu di mana Fira?”


“Nggak Pak. Soalnya kebetulan sekali sudah hampir tiga hari ini juga aku sibuk. Ada banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan jadi aku belum ketemu sama Fira,” kilah Jio.


“Oh ya sudah kalau begitu. Nanti kalau dia ada ngabarin kamu, kamu cepat kasih tahu aku ya,” ucap Pak Fathan.


“Siap Pak,” ucap Jio.


Sementara itu di saat yang bersamaan, dalam hati Jio, dia bergumam, “Walau gue tahu juga gue gak bakal ngasih tahu Bapak. Fira itu buat gue dan hanya boleh jadi milik gue seorang.”


***


Di perjalanan kembali ke kantor kepolisian, Pak Fathan menelepon bawahannya.


“Tolong kamu tetap awasi dan ikuti terus ke mana pun Jio pergi,” ucap Pak Fathan.


“Baik Pak,” sahutnya.


Panggilan pun diakhiri dan setelah itu, Pak Fathan bergumam, “Gak semudah itu kamu mau mengecohku, Yo. Kali ini aku gak bakal kecolongan lagi sama seperti waktu itu.”


***


Keesokan harinya, Pak Fathan yang sudah sangat gelisah sekali ini pun akhirnya memutuskan untuk pergi sendiri mencari keberadaan Fira.


Ditelusurinya setiap pelosok di penjuru kota namun tetap saja tidak ada tanda keberadaan Fira.


Kini rasa putus asa yang dialami Pak Fathan telah sampai pada puncaknya. Dia benar-benar tidak dapat berfikir jernih lagi.


“Fir, kamu sebenarnya ada di mana?” gumam Pak Fathan sambil mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


Namun di saat yang bersamaan..


“Halo,” ucap Pak Fathan.


“Lapor, Pak. Sepertinya kecurigaan Bapak benar. Sekarang Jio sudah mulai bergerak,” ucap bawahannya.


“Bagus. Terus ikuti. Jangan sampai lolos,” ucap Pak Fathan.


“Baik Pak,” sahut bawahannya tersebut dan panggilan pun diakhiri.


Setelah mendapatkan sebuah titik terang, Pak Fathan pun langsung menambah kecepatan laju mobilnya.


***


POV 1


Aku yang sudah hampir satu minggu ini di sekap ini pun lama kelamaan merasa harus melakukan sesuatu.


“Gak. Gak bisa begini terus. Jika memang sesuai dengan yang dikatakan oleh Jio, maka sudah bisa di pastikan kalau besok atau lusa dia akan ke sini. Gak. Sebelum itu terjadi, aku sudah harus bisa melarikan diri dari rumah ini,” ucapku pada diriku sendiri sambil menengak nengok barangkali ada celah untuk bisa melarikan diri.


Aku pun kemudian mengecek satu persatu ruangan yang ada di rumah tersebut. Setiap jendela dan juga pintu tidak lolos dari pengecekan ku.


Hingga beberapa saat kemudian, terdengar suara motor.


“Gawat. Ternyata lebih cepat dari perkiraanku,” gumamku yang kemudian di saat bersamaan menemukan sebuah celah.


Tanpa membuang waktu, aku pun langsung bergegas melarikan diri lewat celah yang tersebut.


Dengan secepat mungkin aku pun berlari menjauhi rumah tersebut.


Di saat sedang bingung, tiba-tiba saja aku melihat ada sebuah hutan dan tanpa berpikir panjang, aku pun langsung berlari ke arah sana.


Di saat aku sedang merasa kelelahan, tiba-tiba saja..


‘Srek.. Srek.. Srek..’


“Oh tidak. Suara apa itu? Jangan-jangan,...” gumamku dalam hati sambil mencoba mengatur nafasku.


Di saat yang bersamaan...


“Fir, lo mending gak usah lari lagi deh. Lo selamanya gak akan bisa lepas dari tangan gue. Hahahaha...” teriak Jio.


‘Deg’


“Aduh. Bagaimana ini? Mana aku sudah tidak ada tenaga lagi buat lari. Dia sepertinya sudah semakin dekat,” gumamku dalam hati.


‘Srek.. Srek.. Srek..’


Suara gesekan suatu benda berat di tanah terasa semakin dekat dan saat itu aku marasa kalau akankah nyawaku akan berakhir sampai di sini.


Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja dari arah belakang ada sebuah tangan yang langsung membekap mulutku.


‘Deg’


Lagi-lagi benar-benar merasa seperti nyawa ini di ujung tanduk.

__ADS_1


“Ststtst,” bisik seseorang sehingga membuatku spontan langsung menoleh ke arahnya.


Betapa terkejutnya aku karena ternyata orang yang telah membekap mulutku itu adalah Pak Fathan.


‘Srek.. Srek.. Srek..’


Lagi-lagi suara itu terdengar semakin dekat dan kali ini tiba-tiba saja berhenti.


“Jangan-jangan udah ketahuan,” pikirku.


Tak lama setelah itu, terdengar kembali suara tersebut namun dalam keadaan menjauh.


Kali ini aku bertanya, “Apakah kita udah aman, Pak?”


“Untuk sementara udah,” sahut Pak Fathan.


Setelah mendengar jawaban Pak Fathan, aku pun langsung melihat ke arah Pak Fathan dan langsung memeluknya sambil menangis.


“Pak, aku takut,” ucapku.


“Sudah sudah.. Dasar. Cerobohnya masih ke bawa sampai sekarang,” ucap Pak Fathan sambil menyentil hidungku.


“Maaf, Pak. Aku ngaku salah. Terus sekarang kita harus bagaimana?” tanyaku.


“Untuk sementara kita tunggu sampai hari gelap. Baru setelah itu kita cari jalan keluar,” ucap Pak Fathan dan aku pun mengangguk.


Sambil menunggu hari gelap, akhirnya kami berdua pun mengobrol sejenak.


“Pak, kenapa Bapak gak ceritain semuanya dari awal?” tanyaku tiba-tiba.


“Ceritain soal apa?” tanya Pak Fathan bingung.


“Ceritain soal siapa diri Bapak yang sebenarnya, ceritain tentang Adiknya Bapak, ceritain kalau ternyata kita sebelum ini pernah ketemu,” sahutku.


“Soal itu. Semuanya serba kebetulan, Fir. Aku sendiri gak menyangka kalau gadis 10 tahun yang selalu aku rindukan ternyata mampu membuat aku jatuh cinta berulang kali di saat kami bertemu,” jelas Pak Fathan.


“Maksudnya?” tanyaku ganti yang bingung.


“Maksudnya, saat aku menolongmu dari peristiwa pelecehan itu, aku tidak tahu kalau kamu adalah gadis 10 tahun yang sudah membuat aku putus asa karena sudah mencari ke mana-mana tapi tidak bisa bertemu lagi. Hingga akhirnya aku bertemu denganmu di saat itu dan aku jatuh cinta lagi untuk yang ke dua kalinya padamu tanpa tahu kalau kamu adalah gadis 10 tahun tersebut,” jelas Pak Fathan.


“Oh. Lalu?” tanyaku lagi.


“Lalu lagi-lagi kamu menghilang tanpa aku tahu siapa kamu sebenarnya hingga kita bertemu lagi di kampus,” jelas Pak Fathan.


“Jadi saat itu Bapak sudah tahu siapa aku?” tanyaku.


Pak Fathan pun menggelengkan kepala sehingga aku pun merasa bingung dan kemudian kembali bertanya, “Kok bisa?”


“Karena saat itu penampilan dan juga wajahmu ada sedikit perubahan sehingga membuat aku tidak mengenalimu. Sampai akhirnya,...”


Pak Fathan menghentikan ucapannya lalu memberi isyarat untuk diam.


Aku pun spontan mengikuti arahan Pak Fathan yang kemudian diam dan memperhatikan keheningan hutan yang menakutkan.


‘Srek.. Srek.. Srek..’

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2