Cinta Dalam Misteri

Cinta Dalam Misteri
Sport jantung dan malunya setengah hidup


__ADS_3

Seperti yang sudah dijadwalkan sebelumnya, hari itu adalah hari di mana masa wisata pemandian air panas pun berakhir dan kami pun harus pulang.


Aku yang dari pagi sudah mendapatkan kejutan sport jantung ini pun hanya bisa terduduk lemas di dalam bus.


“Fir, lo kenapa dari tadi diam aja?” tanya Jio yang duduk di sebelahku.


Aku pun menggelengkan kepalaku. Namun setelah ku pikir-pikir...


“Mana dia? Bukannya dia juga jadi salah satu tamu penginapan?” gumamku lirih sambil menengak-nengok ke sekeliling.


“Aneh. Kok gak ada ya!?” gumamku lagi karena tidak berhasil menemukan sosok Pak Fathan.


“Lo lagi cari siapa, Fir?” tanya Jio yang ternyata memperhatikan sikapku.


Aku yang tersadar kalau sikapku ini ternyata terlalu menarik perhatian, membuat aku memutuskan untuk langsung duduk tenang dan menyahut, “Oh. Gak. Aku gak lagi cari siapa-siapa kok.”


“Oh,” ucap Jio singkat.


Setelah hal itu, aku pun langsung mengalihkan pandanganku ke arah luar jendela mobil dan tentunya masih berharap bisa melihat Pak Fathan lagi.


***


Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, akhirnya kami pun sampai di kampus.


Ada rasa kecewa karena setelah kejadian di dalam kamar, aku lagi-lagi tidak bisa menemukan Pak Fathan.


“Pak, sebenarnya hal apa yang sedang kamu sembunyiin dari aku!?” gumamku dalam hati.


Karena merasa kalau hari itu aku tidak mungkin lagi bertemu dengan Pak Fathan, aku pun akhirnya memutuskan untuk pulang saja ke tempat kost-kostanku.


“Waaaaaah.. lelahnya,” ucapku yang langsung menaruh tas bawaanku dan langsung menjatuhkan diri di atas tempat tidur.


Entah sejak kapan aku terlelap, hingga akhirnya aku terbangun akibat dering telepon yang sangat keras.


“Halo,” ucapku dengan nada orang baru bangun tidur.


“Fir, kamu masih pulang ke kost-kostanmu sendiri?” tanya seseorang dari seberang telepon.


Aku pun langsung benar-benar tersadar saat mendengar suara siapa yang sedang meneleponku ini.


“Oh. Pak. Iya. Aku balik ke kost-kostanku sendiri,” sahutku santai.


“Ya ampun Fir,...” Terdengar suara helaan nafas panjang, “ya sudah. Kalau kamu tetap kekeh di sana. Maka aku yang akan menghampirimu.”


Setelah mengatakan hal itu, seketika telepon pun di tutup.


“Ha?”


Aku pun sesaat melihat ke arah layar ponselku dan kemudian meletakkannya di samping tubuhku.


“Hadeuh.. ada yang bisa jelasin gak sih, ini tuh sebenarnya ada apa?” gumamku pada diri sendiri sambil melihat ke langit-langit atap kamarku.

__ADS_1


Aku pun langsung bangun dari rebahanku dan kemudian berjalan ke meja untuk mengambil segelas air minum.


Karena tiba-tiba teringat kalau diri ini belum mandi, akhirnya aku pun langsung bergegas menyegarkan diri.


Di saat aku sedang berada di dalam kamar mandi, tiba-tiba saja...


'Ceklek'


Aku yang mendengar suara pintu terbuka ini pun langsung menghentikan aktivitas mandiku.


Aku terdiam sambil mengamati dan menebak-nebak, kira-kira siapa yang sudah dengan mudah masuk ke kost-kostanku ini.


Ketika beberapa saat kemudian...


“Aneh, kenapa sepertinya keadaan di luar menjadi sangat hening? Apakah tadi pencurinya sudah mendapatkan barang curiannya dan kemudian pergi?” gumamku penuh dengan tanda tanya.


Aku pun langsung mengelap tubuhku dengan handuk dan kemudian langsung memakai pakaian yang sudah aku bawa masuk.


Setelah aku selesai memakai pakaianku, aku pun perlahan-lahan membuka pintu kamar mandi dan mengintip keadaan di luar.


“Sepi?!” gumamku dalam hati.


Aku pun mengendap-endap keluar dari kamar mandi. Mencari tahu siapa gerangan orang yang sudah masuk.


Namun ketika aku sedang fokus memperhatikan di beberapa sudut ruang kamarku, tiba-tiba saja...


“Jam segini baru mandi?” ucap orang itu.


‘Deg’


“Bapak!?” ucapku spontan.


“Hum,...” sahutnya, “udah sampai dari tadi tapi jam segini baru mandi?”


“Hehehe.. tadi aku ketiduran karena terlalu lelah,” jelasku.


“Sini,” panggilnya agar aku mau duduk di sebelahnya.


“Mau ngapain?” tanyaku.


Mendapati aku tidak langsung datang, dia pun bangun dan menghampiriku.


“Mau apa?” tanyaku yang pelan-pelan mundur ke belakang.


Pak Fathan tidak menjawab. Dia justru semakin mendekat ke arahku.


Di saat yang bersamaan, jantungku berdegup sangat kencang sekali.


“Fir,...” ucapnya ketika tatapan kami bertemu, “aku akan tinggal di kamar sebelahmu.”


“Apa?” tanyaku spontan karena terlalu terkejut.

__ADS_1


“Dengan begini, aku bisa terus menjagamu,” tambahnya.


Aku pun terdiam seribu bahasa, tidak tahu lagi harus berbuat bagaimana.


“Ya sudah. Aku datang hanya mau memberi tahu soal itu saja. Kamu lebih baik cepatlah istirahat. Besok akan aku bawa kamu ke suatu tempat,” ucapnya sambil mengelus-elus rambutku dan kemudian pergi.


Aku yang ditinggal sendiri ini pun hanya bisa terdiam termangu. Mencoba mencerna apa yang telah terjadi barusan.


***


Keesokan harinya, kuliah masih di beri libur selama dua hari dan akan masuk lusa.


Aku yang tahu kalau Pak Fathan tinggal di sebelahku ini pun merasa tenang dan dapat tidur dengan nyenyak. Kehadirannya mampu membuat aku tidak merasa gelisah lagi.


Di saat aku sedang terbuai dengan mimpi indahku, tiba-tiba saja...


‘Ssrrrt’


Aku merasa selimut yang sedang aku pakai tiba-tiba saja seperti ada yang menarik sehingga aku pun mengerjapkan mata.


“Aaaah.. jangan ganggu aku. Aku masih mau tidur lagi,” ucapku dengan malas-malasan.


Dengan posisi mata masih terpejam, tiba-tiba saja ke dua tanganku di tarik sehingga membuat aku duduk dalam keadaan setengah sadar.


Dan sesaat kemudian, aku merasa ada yang menepuk pelan pipi kiriku dengan pelan sambil berkata, “Fir, bangun sayang.”


Begitu aku mendengar itu adalah suara Pak Fathan, spontan aku pun langsung membuka mataku.


“Aaaaaaaargh..!!” teriakku sehingga membuat Pak Fathan langsung membungkam mulutku dengan ciuman mesranya.


Hal ini lagi-lagi membuat aku terkejut dan tanpa sadar mataku pun terbuka penuh.


“Sudah bangun?” tanyanya ketika menyudahi ciumannya.


“Bapak!? Ngeselin banget tahu gak sih?” rajukku.


“Biarin. Yang penting kan itu cara efektif buat ngebungkam kebiasaan kamu yang selalu berteriak di saat yang seperti ini,” ucapnya yang membuat aku semakin kesal.


Aku pun langsung mendorong tubuhnya agar menjauh dari hadapanku.


Aku pun segera bangun dan kemudian bergegas mengambil handuk lalu mandi.


Ketika aku sudah selesai mandi, aku baru saja tersadar kalau...


“Hadeuh.. kenapa bisa lupa bawa baju ganti?” rutukku sambil memukuli keningku sendiri.


Aku pun mencoba menenangkan diri dengan mengambil nafas dalam-dalam lalu kemudian melangkahkan kakiku keluar dari kamar mandi dengan hanya selembar handuk membungkus tubuhku.


Dapat ku lihat dengan jelas, bagaimana ekspresi wajah Pak Fathan saat melihatku seperti itu dan itu semakin membuatku semakin menjadi salah tingkah.


Dengan secepat mungkin aku mengambil acak bajuku di lemari tanpa harus memilihnya terlebih dahulu dan itu membuat Pak Fathan menjadi tersenyum.

__ADS_1


“Aaaaaaaaargh.. kenapa aku harus ada saat-saat seperti ini sih!?”


Bersambung..


__ADS_2