Cinta Dalam Misteri

Cinta Dalam Misteri
Sebotol air minum


__ADS_3

“Pak, kok begini?” Saat setelah mendapatkan kabar tersebut dari para mahasiswa. “Jadi orang itu bernama Ciko, ya?”


Pak Fathan yang saat itu sedang mengerjakan pekerjaan Dosennya pun tiba-tiba berhenti dan menoleh ke arahku sambil berkata, “Jadi dari awal kamu gak tahu nama dari orang tersebut?”


Aku pun menggelengkan kepala dan kemudian berkata, “Tapi Pak, jujur. Aku merasa sangat familiar sekali dengan nama tersebut. Seperti pernah dengar gitu. Tapi di mana, aku lupa.”


“Oh,” sahutnya singkat seperti tidak menanggapi ucapanku dengan serius.


Aku yang merasa tidak di hiraukan ini pun akhirnya pergi. Namun sebelum aku pergi, aku meminta padanya agar mengembalikan ponselku yang waktu itu dia sita.


Setelah mendapatkan ponselku, aku langsung menghubungi Ayah dan Ibuku di rumah.


“Halo,” ucapku saat telepon sudah di angkat oleh Ibu.


“Halo, Fir. Akhirnya kamu menelepon kami juga. Gimana kabarmu?” tanya Ibu.


“Baik, Bu. Lalu bagaimana kabarnya di sana? Apakah semuanya baik-baik saja?” tanyaku.


“Kabar Ayah dan Ibu baik-baik saja, sayang,” sahut ibu.


“Oh begitu. Syukurlah,” ucapku.


“O ya, kapan kamu akan pulang?” tanya Ibu.


“Belum tahu, Bu. Aku bisanya pulang kapan. Lihat situasi nanti,” sahutku.


“Oh. Ya sudah kalau begitu. Kamu baik-baik ya di sana. Jaga kesehatan dan jangan suka begadang,” pesannya.


“Iya Bu,...” sahutku, “Ya sudah ya, Bu. Aku tutup teleponnya.”


“Iya,” sahut Ibu singkat dan telepon pun diakhiri.


Sesaat setelah telepon diakhiri, tiba-tiba saja Pak Fathan masuk ke dalam kamarku dan berkata kalau dia akan menemaniku pulang esok hari.


Betapa terkejutnya aku sehingga membuat aku berkata, “Tapi Pak,...”


“Gak ada tapi-tapian. Sudahlah. Pokoknya setelah acara kampus selesai, kita akan langsung berangkat,” ucapnya yang selalu saja tidak mau di bantah.


Aku pun diam tidak bisa menolak. Hingga dia berkata lagi, “Maaf, Fir. Aku hanya ingin kamu melupakan sejenak semua mimpi burukmu.”


Aku pun masih terdiam dan tidak menyahut.

__ADS_1


“Ya sudah. Cepatlah istirahat. Besok kamu harus tampil. Jangan sampai kamu pingsan nanti,” ucapnya sambil hendak pergi.


Namun sebelum Pak Fathan benar-benar pergi, aku sudah terlebih dahulu memanggilnya dan bertanya, “Pak, kenapa Bapak sangat peduli padaku?”


Dia pun menghentikan langkahnya dan menyahut, “Aku sendiri juga tidak tahu jawabannya.”


Setelah mengatakan hal itu, dia pun langsung pergi meninggalkan aku.


Sementara itu aku yang di tinggalkan sendirian oleh Pak Fathan pun hanya bisa melongo sambil bergumam, “Gimana bisa gak tahu?! Bukannya dia kan yang jalanin?!”


***


Keesokan harinya di mana acara kampus akan segera di mulai, aku yang ikut pentas pun sudah bersiap-siap dengan mengganti pakaianku.


Namun di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja ponselku berdering. Berhubung aku sedang tidak fokus dengan ponsel, akhirnya aku pun langsung saja mengangkatnya dan berkata, “Halo,”


“Bagaimana hadiahku tempo hari? Apakah kamu menyukainya, sayangku? Itu baru yang ke dua. Masih ada dua lagi yang akan aku hadiahkan padamu. Hahahahaha.... Tut..Tut..Tut..”


Mendengar itu spontan aku pun langsung merasa syok. Tubuhku gemetar dan pandanganku pun entah mengapa menjadi kabur.


Ketika tubuhku hendak jatuh, tiba-tiba saja ada yang menyanggaku sehingga aku tidak jadi jatuh.


“Fir, ada apa denganmu?” tanya orang itu yang ternyata Pak Fathan.


Mendengar ucapanku, Pak Fathan pun langsung mengambil ponselku dan benar saja, nomor teleponnya di sembunyikan.


“Sudah.. sudah.. nih kamu minum dulu dan coba tenangkan dirimu dulu,” ucap Pak Fathan yang kebetulan membawa sebotol air mineral.


Tanpa menunggu lama, aku pun langsung meminumnya dan kemudian berkata, “Terima kasih banyak, Pak. Bapak sudah bawakan aku air minum.”


“Siapa yang niat bawakan kamu minum. Itu kan emang minumanku yang tadi aku minum,” celetuknya.


‘Uhuk..uhuk..'


“Apa tadi Bapak bilang?! Bapak barusan juga minum ini?” tanyaku dan dia pun mengangguk.


“Bapaaaak! Kenapa gak bilang?” protesku.


“Lha kenapa juga harus bilang. Emang ada ngaruhnya ya kalau kita minum dari tempat yang sama?” tanyanya yang buat aku kesal.


“Ya jelas ngaruhlah, Pak. Ini kan namanya ciuman gak langsung. Bapak ini gimana sih?” gerutuku yang tidak berani bilang jujur.

__ADS_1


Karena ulah Pak Fathan inilah yang membuat aku menjadi sedikit santai dan bisa melupakan soal yang terjadi di telepon tadi.


Setelah beberapa saat kemudian, pentas pun di mulai dan kini giliran fakultasku yang akan tampil. Dengan jantung yang deg-degan, aku pun berusaha menampilkan peranku sebaik mungkin.


“Aaaaaah.. akhirnya selesai juga,” ucapku yang belum mengganti pakaian pentasku tadi.


“Ini,...” ucap Pak Fathan memberikan sebotol air minum lagi padaku, “good job.”


Aku pun menerima botol tersebut namun sambil bertanya, “Botol air minum ini, botol yang tadi bukan?”


“Hmm,” sahutnya singkat.


Mengetahui hal itu, aku pun refleks langsung menaruh kembali botol tersebut.


“Kenapa di taruh? Kamu memangnya gak haus?” tanyanya.


“Gak, Pak. Aku gak haus. Dah ah. Aku ganti pakaian dulu,” ucapku mencoba mengalihkan pembicaraan.


Entah apa yang ada di pikiran Pak Fathan saat ini. Tapi aku benar-benar merasa merinding jika dia bersikap seperti itu padaku.


Saat aku sedang berada di ruang ganti, tiba-tiba saja ada sekelompok mahasiswi mendatangiku. Aku yang merasa tidak memiliki urusan apa-apa pun menjadi bingung apa maksud mereka mendatangiku seperti ini.


“Ada apa, ya?” tanyaku.


“Halah. Gak usah berlagak gak ngerti deh. Lo sebenarnya ada hubungan apa sama Pak Fathan?”


Mendengar pertanyaan itu, sontak membuat aku sadar kalau memang ternyata kedekatanku yang aku anggap sudah biasa ini justru malah membuat curiga mereka.


“Oh. Gue gak ada hubungan apa-apa kok sama Pak Fathan,” sahutku yang merasa memang tidak memiliki hubungan apa-apa.


“Bohong!”


“Gak kok. Gue beneran jujur ngomong apa adanya,” ucapku.


“Kalau lo emang gak ada hubungan apa-apa sama Pak Fathan, lalu kenapa Pak Fathan selalu perhatian sama kamu? Bahkan tadi gue lihat sendiri dia kasih botol minumannya sama lo.”


Aku pun terdiam tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya. Tidak mungkin kan aku bilang kalau aku ini penakut dan akhirnya ingin meminta perlindungan dari Pak Fathan. Nanti yang ada mereka malah berpikir lebih negatif lagi.


“Kok lo diem aja. Berarti beneran donk kalau lo ada hubungan sama Pak Fathan.”


Mereka pun tiba-tiba mendekatiku saat aku sedang berdiri. Mereka semakin membuatku melangkah mundur hingga menempel pada dinding.

__ADS_1


Dan di saat yang bersamaan, karena mungkin menunggu terlalu lama, tiba-tiba saja Pak Fathan datang dan bertanya, “Apa yang sedang kalian lakukan di sini?”


Bersambung...


__ADS_2