Cinta Dalam Misteri

Cinta Dalam Misteri
Disangka pacar


__ADS_3

Dan di saat yang bersamaan, karena mungkin menunggu terlalu lama, tiba-tiba saja Pak Fathan datang dan bertanya, “Apa yang sedang kalian lakukan di sini?”


Mendengar ucapan Pak Fathan yang tiba-tiba seperti itu membuat mereka pun terkejut. Jangankan mereka, aku sendiri pun terkejut.


“Oh, gak ada apa-apa, Pak. Kami hanya ingin mengobrol dengan Fira saja kok.”


“Apa benar itu, Fir?” tanya Pak Fathan memastikannya lagi padaku.


Aku pun mengangguk kencang karena terlalu tidak ingin menambah masalah. Terlebih lagi dengan para fans Pak Fathan. Membayangkannya saja sudah buat aku merinding apalagi kalau sampai harus benar-benar terjadi.


“Iiih,” gumamku dalam hati.


Sementara itu di saat yang bersamaan...


“Ya sudah. Kalian semua bubar,” perintah Pak Fathan.


Mereka yang mungkin masih ingin mengerjaiku terlihat seperti enggan pergi. Namun berhubung yang menyuruh mereka adalah Pak Fathan, alhasil mereka hanya bisa pasrah menurutinya.


Sesaat mereka semua telah pergi, Pak Fathan dengan lirih namun tegas berkata, “Cepatlah jika tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi.”


Pak Fathan pun kemudian pergi meninggalkan aku sendirian agar bisa cepat mengganti pakaianku.


***


Aku yang telah selesai mengganti pakaianku pun langsung datang memberi isyarat kepada Pak Fathan bahwa aku telah siap dan tak lama kemudian, Pak Fathan pun beranjak dari posisinya semula lalu berjalan menuju tempat parkir.


Sementara aku sendiri yang tidak bisa langsung pergi itu pun akhirnya hanya bisa duduk sejenak.


Namun di saat aku sedang duduk, dengan sangat mengejutkan Jio pun datang dan langsung duduk di sebelahku.


“Lo habis dari mana saja?” tanya Jio.


“Eh? Maksudnya gue habis dari mana itu apa, Yo?” tanyaku bingung dengan ucapannya.


“Maksud gue itu beberapa hari ini lo tuh ke mana aja. Gue cariin lo tapi gak bisa nemuin lo,” ucapnya.


“Lha lo nyarinya gue ke mana? Kok bisa sampai gak bisa nemuin gue,” tanyaku.


Jio pun terdiam. Dia sama sekali tidak menyahut pertanyaan dariku. Aku pun juga tidak penasaran dengan apa yang dia katakan. Hingga akhirnya aku mendapatkan miscall dari Pak Fathan.


“Yo, maaf. Sepertinya gue harus pergi sekarang. Gue gak bisa lama-lama nemenin lo,” ucapku yang langsung terburu-buru untuk pergi tanpa tahu bagaimana ekspresi wajah Jio saat itu.

__ADS_1


Sesampainya aku di tempat parkir, tiba-tiba saja mobil Pak Fathan langsung datang sehingga membuatku terkejut.


“Ya ampun ni orang. Kenapa sikapnya makin aneh aja sih?! Gak seperti waktu pertama kali bertemu,” gumamku dalam hati sambil masuk ke dalam mobilnya.


“Sudah siap?” tanyanya dan aku pun mengangguk.


Mobil pun akhirnya di lajukan dengan kecepatan sedang.


Aku yang merasa kelelahan pun tanpa sadar tertidur terlelap. Namun saat aku terbangun, aku mendapati mobil dalam keadaan diam dan Pak Fathan sudah tidak ada di kursi pengemudi.


Aku pun menengak-nengok dan mencari keberadaan Pak Fathan hingga akhirnya aku dapat melihat dia di kejauhan sedang menerima telepon.


Kalau di lihat dari wajahnya, tampaknya Pak Fathan sedang memiliki masalah karena ekspresi yang terlihat di wajahnya adalah ekspresi tegang dan seperti sedang menahan amarah. Aku pun menjadi bertanya-tanya dalam hati sebenarnya apa yang sebenarnya sedang terjadi dan dia sedang bicara dengan siapa.


Setelah tahu kalau Pak Fathan menyudahi teleponnya, aku pun langsung pura-pura kembali tidur karena aku tidak mau melihat tampangnya yang sedang emosi seperti itu, seram.


Dari pergerakan yang terjadi di dalam mobil, aku bisa tahu kalau Pak Fathan sudah masuk ke dalam mobil. Namun setelah itu entah mengapa tiba-tiba hening dan wajahku seperti rasanya menjadi agak hangat dan tidak terkena embusan angin.


Karena penasaran, aku pun akhirnya membuka mataku dan...


“Aaaaaargh!...” teriakku, “Bapak!”


Sementara itu Pak Fathan yang mendapatkan reaksi seperti itu dariku pun langsung memegang telinganya sambil berkata, “Fir, teriakkanmu itu sangat keras sekali. Orang yang gak tahu di sangka aku sudah menganiaya kamu.”


“Lagian Bapak sih. Ngapain juga wajah bapak sedekat itu di depan wajahku?!” protesku.


“Gak. Gak kenapa-kenapa,” sahutnya yang kalau aku perhatikan wajahnya berubah menjadi merah.


Dia pun langsung menjalankan mobilnya lagi. Di sepanjang jalan, kami hanya diam dan tidak ada satu pun dari kami yang membuka obrolan. Hanya sesekali saja dia bertanya tentang di mana alamat rumahku. Selebihnya kami tidak bicara tentang apa-apa lagi.


Setelah beberapa waktu perjalanan, akhirnya kami sampai juga di rumahku. Aku yang sebenarnya sudah sangat rindu sekali dengan Ayah dan Ibu ini pun akhirnya turun meninggalkan Pak Fathan yang pada akhirnya membawakan semua barang bawaanku.


“Ibu,” ucapku saat melihat Ibu yang sedang menjemur pakaian di samping rumah.


“Fira?!...” ucap ibu terkejut, “kapan kamu sampai sayang?”


“Barusan, Bu. Ayah mana?” tanyaku.


“Ayah belum pulang, sayang. Sepertinya Ayahmu akan pulang terlambat lagi karena katanya di kantornya sedang banyak pekerjaan,” jelas Ibu.


“Oh begitu,” sahutku.

__ADS_1


Sesaat kemudian, ternyata Ibu menyadari kehadiran Pak Fathan dan kemudian bertanya, “Siapa pria itu, sayang?”


“Di—di—dia,...”


“Oh ibu tahu. Dia itu pasti pacarmu, kan?” tebak ibu yang langsung memotong ucapanku.


“Bu—bu—bukan Bu,” sahutku tapi ibu masih saja tidak percaya dan tetap saja bersih kukuh dengan pendapatnya itu.


“Hadeuh. Gimana jadinya kalau ini sampai ketahuan ma Pak Fathan?! Bisa-bisa aku di kira ngaku-ngaku lagi,” gumamku dalam hati.


Ibu yang telah selesai menjemur pakaian ini pun akhirnya mengajakku untuk menemui Pak Fathan.


“Pak,” sapaku padanya yang sedang berada di posisi membelakangi kami.


Merasa dirinya di panggil, Pak Fathan pun akhirnya memutarkan badannya dan menghadap kami.


“Pak, kenalkan. Ini Ibuku,” ucapku yang memperkenalkan Ibuku padanya.


“Apa kabar, Tan?” sapanya sopan.


“Baik, Nak. Ayo silakan masuk,” ucap Ibu dengan nada ramah.


Kami pun akhirnya masuk ke dalam rumah dan berbincang-bincang sejenak dan tidak lama setelah itu, Ayah pun pulang. Dengan sopan Pak Fathan menyapa Ayah.


Ayah yang baru kali itu mengetahui kalau aku membawa seorang pria datang ke rumah pun akhirnya bertanya tentang siapa Pak Fathan. Belum juga Pak Fathan memperkenalkan dirinya, Ibu langsung berkata kalau Pak Fathan ini adalah pacarku. Betapa malunya aku. Sambil menahan malu, aku pun menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku hingga aku tidak tahu bagaimana ekspresi wajah Pak Fathan saat itu.


Ayah yang mengira ucapan Ibu itu benar, akhirnya berkata pada Pak Fathan agar ia mau menjagaku saat jauh dari rumah. Pak Fathan pun mengangguk. Namun aku tidak tahu apa yang sedang di pikirkannya.


Kami pun berbincang-bincang hingga larut malam dan akhirnya Ayah dan ibu menyuruh kami untuk menginap. Tanpa di duga, hal ini langsung di iyakan oleh Pak Fathan dan hasilnya kami pun mau tidak mau akhirnya menginap. Tentunya kami tidur di kamar yang terpisah. Aku di kamarku sendiri dan Pak Fathan di kamar tamu.


Aku yang baru selesai menyiapkan kamar tamu untuk Pak Fathan pun tiba-tiba terkejut melihat Pak Fathan sedang termenung melihat sebuah foto.


“Pak, Bapak sedang lihat apa?” tanyaku.


“Fir, ini foto kamu?” tanyanya yang menunjukkan ke sebuah foto diriku saat masih berusia sepuluh tahun.


Aku pun mengangguk dan seketika raut wajah Pak Fathan berubah sehingga membuat aku menjadi bertanya, “Pak, Bapak kenapa?”


“A—aku,...”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2