Cinta Dalam Misteri

Cinta Dalam Misteri
Insiden


__ADS_3

“Ha?”


Aku benar-benar terkejut mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Pak Fathan barusan. Aku sama sekali tidak mengerti apa maksud dari Pak Fathan bertanya seperti itu padaku.


“Kok ha sih?” protesnya.


“Eh?! Lha?! Cowok?! Maksud Bapak, Jio?” tanyaku yang mencoba memastikannya dulu dengan siapa yang dia maksud.


“Hm,” sahutnya.


“Oh. Dia hanya temanku saja kok, Pak. Aku sudah mengenalnya dari aku SMU. Jadi aku menganggap dia sudah seperti sahabatku saja,” jelasku.


Dan di saat yang bersamaan, dalam hatiku bergumam, “Kenapa aku menjelaskannya?”


“Oh. Jadi hanya sahabat saja?” tanyanya setelah mendapatkan penjelasan dariku.


Aku pun mengangguk dan kemudian bertanya, “Emangnya ada apa, Pak?”


“Gak. Gak ada apa-apa. Hanya saja kamu kalau bisa mulai saat ini sebisa mungkin jaga jarak darinya,” ucapnya.


“Kenapa?” tanyaku yang heran sekaligus bingung.


“Gak kenapa-kenapa. Pokoknya kamu harus ingat pesanku ini,” ucap Pak Fathan yang terdengar sangat misterius sekali buatku.


“Ya sudah. Kalau begitu kita pulang sekarang,” ucapnya beberapa saat kemudian.


***


Dalam perjalanan pulang, kami berdua hanya terdiam untuk beberapa saat dan di saat yang bersamaan, lagi dan lagi ponselku berdering. Spontan aku langsung melihat siapa orang yang telah meneleponku.


Ketika aku mau mengangkatnya, tiba-tiba...


“Eh, Pak. Kok ponselku Bapak ambil sih?” protesku saat ponselku di ambil dan langsung dimatikan oleh Pak Fathan.


Pak Fathan yang mendapatkan protes dariku seperti itu hanya diam dan tidak menjawab. Dia memasang wajah yang sangat menakutkan.


Melihatnya seperti itu, lagi-lagi aku bergumam, “Ini orang kenapa sih dari tadi? Apa mungkin salah minum obat?”


Seketika mobil di lajukan dengan sangat kencang sehingga membuatku berpegangan kencang.


***


Ketika kami sudah sampai di rumah, kakiku gemetaran hingga aku benar-benar berjalan sempoyongan seperti orang yang sedang mabuk.

__ADS_1


“Hadeuh.. aku gak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu, Pak. Tapi satu hal yang pasti aku tahu, kau ini ternyata jauh lebih menyeramkan dari mimpi-mimpiku kalau lagi seperti ini,” gerutuku.


“Apa kamu bilang?” tanyanya yang ternyata mendengar gerutuanku.


“Eh?! Oh. Gak apa-apa kok Pak. Hehehe..” sahutku yang menjadi salah tingkah.


Aku pun pelan-pelan melangkahkan kakiku yang gemetar masuk ke dalam rumah. Namun di saat yang bersamaan aku terkejut karena tiba-tiba saja Pak Fathan langsung membopongku sampai masuk ke dalam kamar.


Mendapatkan perlakuan seperti itu, aku benar-benar menjadi sangat gelisah.


Setelah menaruhku di pinggir tempat tidur, Pak Fathan pun langsung pergi tanpa berbicara sepatah kata pun.


***


Beberapa hari setelah kejadian itu, aku dan Pak Fathan seperti sepasang kekasih yang sedang perang dingin. Tak ada salah satu dari kami yang menegur terlebih dahulu. Bahkan ponselku pun masih di sita olehnya dan belum dikembalikan.


“Haiya..” desahku saat istirahat latihan.


“Lo kenapa?” tanya Jio.


“Oh. Gue gak apa-apa, Yo. Sudah ah,” ucapku yang mengharapkan agar dia tidak melanjutkan pertanyaan apa-apa lagi.


Sementara itu di sisi lain, lagi dan lagi, hampir semenjak kejadian itu, Pak Fathan selalu saja menatapku dengan tatapan yang sangat tajam. Apalagi di saat aku sedang bersama dengan Jio.


“Oh ya, Fir. Gue gak bisa nemenin lo sampai selesai latihan, ya. Gak apa-apa kan?” tanyanya.


“Gak apa-apa kok. Emangnya lo mau ke mana?” tanyaku.


“Gue ada sedikit urusan, Fir. Biasalah. Namanya juga bujang. Apa-apa harus usaha sendiri kalau mau dapetin sesuatu,” ucapnya.


“Oh. Ya sudah kalau begitu. Lo hati-hati,” pesanku.


“So pasti lha. Gue bakalan hati-hati,...” ucapnya sambil mengacak-acak rambutku, “dah ah. Gue pergi dulu, ya.”


Aku pun menganggukkan kepala dan kemudian Jio pun pergi.


Sesaat setelah Jio pergi, entah mengapa Pak Fathan langsung duduk di sebelahku dan menatap jauh ke depan lalu kemudian berkata, “Sudah kubilang jangan terlalu dekat dengannya.”


Pak Fathan pun langsung pergi entah ke mana dan aku yang mendengar ucapannya itu pun spontan langsung melihat ke arahnya. Ingin rasanya aku bertanya padanya tentang apa hak dia mengaturku seperti itu. Tapi apa daya, aku tidak berani.


***


Saat sore hari pun tiba. Latihan pun beberapa saat lagi akan segera berakhir. Namun di saat kami masing-masing bersiap-siap untuk pulang, tiba-tiba...

__ADS_1


“Aaaaaaaargh!!”


Terdengar suara teriakan yang sangat kencang sekali. Pak Fathan yang juga mendengar itu pun langsung segera mencari asal sumber teriakan tersebut. Sementara aku yang memang penakut ini pun langsung mengikutinya begitu saja di belakangnya dan saat kami sampai di tempat sumber suara tersebut...


“Pa—pa –pak, i—i—itu,...” ucapku yang tidak aku lanjutkan.


Pak Fathan yang sadar kalau aku pun ada di sana dan melihatnya langsung berkata, “Sudah. Jangan lihat lagi.”


Dia pun langsung menutup mataku dengan salah satu tangannya dan menyuruh semua orang agar tidak pergi dulu. Dia pun tidak lupa untuk menghubungi polisi agar segera diselidiki.


Aku yang terlalu takut itu pun benar-benar tidak mau jauh dari Pak Fathan. Bahkan saat Pak Fathan memberikan keterangan kepada pihak kepolisian.


Setelah beberapa lama kemudian, kami semua yang ada di sana pun akhirnya diperbolehkan untuk pulang.


Sementara itu, semenjak melihat kejadian tersebut, ekspresi wajah Pak Fathan tampak sedikit tegang. Entah apa yang sebenarnya sedang dia pikirkan. Tapi yang pasti aku merasa kalau dia sedang memikirkan soal kejadian tadi.


Saat di perjalanan, aku mencoba untuk mengajaknya bicara dengan berkata, “Pak, orang yang meninggal tadi bukannya sama persis ya sama yang ada di dalam Foto tempo hari?”


“Sepertinya seperti itu, Fir. Cuma yang aku bingung, ini semua itu apa hubungannya sama kamu? Dan kenapa juga orang yang meneror kamu itu memberi tahu semua itu ke kamu?” ucapnya sambil masih tetap fokus pada kemudinya.


Aku pun terdiam tidak dapat menjawab karena aku sendiri pun tidak tahu jawabannya.


“Fir, jika memang semua ini ada hubungannya sama kamu, aku mohon bantuan kerja samanya dari kamu,” ucapnya lagi.


“Iya, Pak. Jika aku memang ada hubungannya dengan semua ini, tentunya aku akan senang hati bekerja sama. Apalagi Bapak kan tahu sendiri kalau aku ini penakut, jadi mana mungkin aku pendam semuanya sendiri. Pastilah aku akan cerita,...” ucapku, “o ya, omong-omong, sebenarnya selain bapak ini Dosen di tempatku kuliah, pekerjaan Bapak apa lagi?”


Pak Fathan pun sekilas melihat ke arahku dan kemudian kembali fokus dengan kemudinya sambil berkata, “Aku ya aku. Seperti yang kamu tahu kalau aku ini hanya seorang Dosen di tempatmu kuliah.”


“Oh,” sahutku singkat.


Di saat yang bersamaan dalam hati aku bergumam, “Yaaaa.. aku pikir dia juga seorang polisi.”


***


Beberapa hari setelah insiden tersebut, akhirnya pihak kepolisian memastikan kalau semua itu hanyalah kecelakaan dan polisi pun menyebut namanya dengan sebutan Ciko.


Seketika hatiku 'deg’.


Bukan hanya karena kesimpulan dari kecelakaan itu tapi juga karena aku merasa kalau namanya begitu familiar di telingaku.


“Pak, kok begini?”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2