
Dengan semangat luna mengangguk dia tidak menyangka bahwa hari ini akan tiba saatnya dia menerima pernyataan cinta dari seorang pria
"iya aku mau" dengan suara lembut serta senyum manis luna memberikan jawaban yang mantap
Andre yang mendengar itu juga merasa senang akhirnya setelah menunggu lama dia bisa bersama pujaan hatinya
"mulai hari ini kamu milikku"
"kakak juga mulai saat ini punyaku"
mereka menatap satu sama lain dan tertawa bersama dengan di temani semilir angin sejuk
andre yang melihat luna tertawa begitu cantik pun perlahan mendekat dengan pasti wajah keduanya semakin dekat hingga sedikit lagi bibir mereka bersentuhan
"andre ada telpon dari pak alex" dengan tidak ada angin tidak ada hujan anderson datang tiba tiba dan mengejutkan mereka
anderson yang melihat posisi mereka pun seakan sadar akan perbuatannya dan sedikit tertawa canggung
"gua ga liat apa apa kok, silahkan di lanjutkan gua balik dulu, satu dua tiga action" setelah mengatakan itu andreson berbalik badan
namun baru beberapa langkah dia kembali lagi "kalo udah selesai jangan lupa lu telpon balik pak Alex, oke dah bye"
andre yang melihat kelakuan saudara kembarnya tersebut hanya bisa menghela napas kesal, bagaimana mungkin dia tidak memiliki malu seperti itu
luna juga hanya bisa tersenyum maklum bagaimana anderson sangat lucu menurutnya
"kak anderson lucu ya"
"jangan dekat dekat dengannya nanti kamu ketularan penyakitnya"
"ehh kak anderson sakit apa?!" luna tidak tau anderson memiliki penyakit
penyakit apa yang di derita saudara kekasihnya itu apakah parah namun dia tidak melihat tanda tanda orang sakit pada diri Anderson
"sakit jiwa" dengan tanpa beban andre menjawab
"heh ga boleh gitu" Luna tanpa sadar memukul andre
"kok mukul sih? tadi nyubit sekarang mukul, kamu ga akan kdrt kan by" andre mengeluh kesakitan
luna yang melihat itu seketika panik dan berusaha menenangkan andre "aduhh maaf mana yang sakit sini aku obatin"
andre yang melihat luna panik hanya tersenyum jahil nampaknya tingkahnya sudah membuat luna khawatir, dengan senyuman manis Andre menunjuk ke arah bibirnya
"ini sakit banget dokter, obati dong" lalu dengan masih tersenyum dia memajukan bibirnya seolah olah siap untuk di beri obat
luna yang melihat hal tersebut tersenyum dan memberikan kecupan manis di bibir andre
"muah udah ga sakit lagi pasti"
__ADS_1
"kurang dokter"
Luna lalu memberikan kecupan bertubi tubi ke pada andre tidak hanya di bibir melainkan seluruh wajah andre luna kecup
"nah udah sembuh"
dengan tersenyum andre berkata "makasih sayang"
"sama sama"
Luna dan andre melanjutkan makan malam bersama setelah itu andre mengantar luna pulang karena dia memiliki janji temu dengan pak Alex
sesampainya di rumah luna andre tidak lupa membukakan pintu untuk Luna, Luna yang di perlakukan istimewa seperti ini pun merasa amat senang
"tidur yang nyenyak manis, besok mau di jemput ga?! kamu besok kuliah kn"
"hm ga usah deh aku besok mau berangkat bareng andisa"
"yaudah kalo gitu, masuk gih aku juga harus balik"
"iya kamu hati hati di jalan"
setelah itu andre masuk kembali ke mobilnya dan meninggalkan rumah luna, luna yang sudah tidak melihat mobil andre lagi langsung masuk ke rumahnya
saat tengah menuju tempat pak alex andre mendapat telepon dari edgar
"otw kantor bos"
"lah ngapain?"
"mana gua tau, orang gua cuma di kasih tau suruh dateng. tunggu, lu ga di suruh dateng juga?"
"ga tau gua, soalnya gua baru selesai rapat. tadinya gua mau ngajak lu main tapi karena lu sibuk besok aja dah"
"besok gua ga bisa"
"kenapa lagi? perasaan besok kita ga ada balapan, lu juga ga ada pesanan bengkel maupun kantor"
"gua ada kencan"
"hah? sejak kapan punya pacar lu. jangan bilang sama luna"
"hm"
"gila akhirnya temen gua melepas masa lajang setelah 24 tahun hidup"
"kampret lu"
"udah dulu dah gua juga mau cari pacar. bye"
__ADS_1
setelah itu sambungan telepon pun terputus andre kembali fokus pada jalanan yang sudah terbilang cukup sepi walaupun belum tengah malam
tidak membutuhkan waktu lama akhirnya andre sampai pada sebuah gedung tinggi pencakar langit
dengan tenang andre melewati sensor keamanan tingkat tinggi yang di miliki perusahaan tersebut
walaupun andre bukan karyawan di perusahaan tersebut namun dia sudah tidak asing lagi dengan perusahaan itu dia sudah sering keluar masuk sana
langsung berjalan menuju lift dan menekan angka lantai tertinggi di mana ruangan ceo berada
selang beberapa menit akhir andre sampai di lantai yang di tuju dia lantas berjalan lurus karena memang tidak ada ruang lain selain hanya satu ruangan ceo saja di lantai itu
perlahan andre mengetuk pintu, tidak lama terdengar suara balasan memerintahkannya untuk masuk
andre masuk kedalam dan melihat seorang pria berdiri dengan memegang sebuah dokumen
namun bukan pria ini yang ingin dia temuin melainkan pria yang sedang duduk sambil melihat ke arah monitor laptop nya
"duduklah"
andre langsung duduk menghadap pria yang kita kenal sebagai pak alex, ceo dextrox crop perusahaan teknologi pertama di kotanya dan juga menjadi perusahaan terbesar ke 8 di dunia
jadi tidak heran bahwa beliau dapat dengan mudah membuka tutup jalan demi menyelenggarakan balapan
benar sekali pak alex adalah dalang sekaligus pendana yang mendanai balapan yang terjadi 2 bulan sekali itu
bagi andre bertemu dengan pak alex adalah kesempatan sekali seumur hidup yang bisa dia jangkau
dengan bantuan dari pak alex lah dia bisa berjaya berdiri di atas kakinya sendiri
"ada apa bos" tanya andre yang penasaran akan topik apa yang mereka akan bahas saat ini
"langsung saja untuk balapan selanjutnya saya ingin kamu yang mengaturnya"
Andre yang mendengar itu sedikit terkejut pasalnya jika bikan pak Alex sendiri yang mengatur maka beliau akan memerintahkan Gibran selaku sekretaris dan juga tangan kanan kepercayaannya
benar orang yang berdiri diam saja sambil memperhatikan di ujung ruangan adalah gibran
"mengapa tiba tiba bos?!" andre tidak menolak dia hanya merasa belum pantas untuk di beri tanggung jawab sebesar itu
"tidak ada alasan, tenang saja saya tidak akan memberikan kuasa penuh untuk mu masih ada gibran yang akan mengawasi jalannya pertandingan"
Andre yang mendengar itu pun seketika bisa bernapas lega setidaknya dia masih bisa bertanya pada gibran jikalau ada hal yang tidak dia pahami
dengan anggukan mantap andre menjawab "baiklah dengan penuh hormat saya menerima tugas ini bos"
"bagus kamu bisa pergi sekarang"
selesai dengan urusan tersebut andre langsung izin untuk pergi dan tidak membuang buang waktu dia langsung tancap gas menuju rumahnya.
__ADS_1