
rian dan aran"pangeran" dan sandi sudah berada di kamar aran. masing- masing melilitkan handuk di pinggangnya.
"nyet pinjem baju ya, aku engga ada baju" kata rian "dingin tau engga pakai baju."
"najis entar aku ketular penyakit mata keranjangmu" jawab ketus aran atau pangeran.
" angkuh sekali anda tuan muda, anda harus sopan sama saya tuan muda, karna ibu saya duluan lahir baru ibu anda, dan kalau anda lupa biar saya ingatka.
kalau ibu saya tidak lahir ibu anda juga engga lahir- lahir masih tersimpan di rahim nenek" kata rian yang tidak jelas, mengoda sepupunya itu.
" situ sehat???" tanya aran
tanpa menunggu persetujuan aran, rian langsung menuju almari aran. mengambil kaos dan celana yang ternyaman menurutnya untuk di gunakan tidur,.
sandi juga mengikuti apa yang di lakukan oleh rian mencari baju di almari aran, tapi sebelum mencabut baju dari susunan di rak lemari tangan rian dan aran langsung menutup lemari tersebut, membuat sandi meringis kesakitan karna tangannya yang tercepit.
" aaawwww, sankit monyet"
" siapa yang ijinin kamu pakek baju aku??" tanya aran.
" aku engga butuh ijin dari kamu nyet, minggir," sandi yang berbicara ketus berusaha menyingkirkan tangan aran dan rian yang menutup pintu lemari, aran dan rian saling pandang seolah sedang bicara melalui tatapan mata.
"kamu mau pakek baju???," tanya aran di angguki oleh sandi.
" pakek baju daster bunda," rian menyambung kalimat yang terputus yang di ucapkan aran.
"what???, engga lagian ini udah malam, aku capek mau istirahat, minggir." ucapan sandi membuar aran dan rian menaikan sebelah alis nya lalu saling tatap, mereka berdua mendekat pada sandi, sandi yang mendapat tatapan dari kedua sepupunya merasa panas sekaligus dingin, ia merasa ada di tengah hutan yang lebat dan merasa horor.
"hey kalian mau ngapain"
"mau lepar kamu kebawah" kata rian
sandi merasa takut, dan bergegas melarikan diri tapi kedua sepupunya itu berhasil menangkapnya dan mengkat sandi ke balkon meletakan tubuh sandi di atas pagar balkon.
" nyet jangan nyet aku beneran takut" ucap sandi dengan keringat dingin.
" gimana mau terima hukuman dari kami atau belom" kata rian.
"tapi nyet apa mungkin aku pakek daster kalau ayang ningsih lihat gimana," tanya sandi yang memasang wajah sesedih mungkin agar di kasihani oleh kedua sepupunya itu.
__ADS_1
" sayang- sayang pala lo peang" jawab rian.
" kamu pakai daster, atau kain kafhan?." tanya aran alias pangeran.
sandi yang medengar aran berbicara seperti itu membuat ia merinding ia tau kalau sepupunya itu sudah berbicara dengan suara berat dan tatapan tajam berarti dia tidak main- main dengan ucapannya.
"maksudnya" tanya sandi yang belum terlalu mengerti namun sedikit banyaknya ucapan aran sudah ada bayangannya di kepalanya, hanya ingin meyakinkan apa yang di pikirkannya itu sama seperti yang di maksud aran.
" kalau pakex daster, kamu bisa makan jengkol, dan kalau kain kafhan kamu kami lempar kebawah, kamu mati lalu di kafhani, faham???. ucap rian pada sandi.
sandi yang masih berada di atas balkon melihat kebawah dengan keringat dingin yang mebasahi tubuhnya.
" iya aku mau, tapi turunin aku cepat" kata sandi. aran dan rian merasa puas dengan jawaban sandi langsung menurunkan sandi kelantai.
sandi sudah berdiri dilantai lansung terperosot karna lemas kakinya yang sudah bergetar ia terduduk di lantai masih dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya.
" kalian gila ya, kalau aku mati beneran kalian bisa di penjara dalam ke adaan perjaka" kata sandi dengan jengkelnya.
" engga akan kalau kamu engga percaya ayo kita buktikan," kata aran lalu melihat rian memberi sinyal agar kembali mengangkat sandi seperti yang mereka lakukan tadi.
melihat kedua sepupunya itu semakin mendekat padany, sandi langsung memohon agar ia tak di naikan lagi di atas pagar itu.
udah engga usah ngancam- ngancam, udah mana dasternya aku juga mau makan udah lapar ini" ucap sandi karna mereka memang belum makan malam jedangkan jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
rendi yang mendengar ucapan sandi langsung berjalan keluar dari kamar dimas lalu menaiki lift dan sampai di lantai satu,.
tok tok tok...
" bunda"
" apa rian bunda ini udah ngantuk" kata bunda setelah membuka pintu dan melihat ternyata rian yang menggagu istirahatnya.
" pinjem dasternya bun" kata rian yang sukses menghilangkan kantuknya iya menatap intens keponakannyaitu, dengan tidak percaya.
" bunda ngatuk ini, coba ulangi lagi!," kata saras karna ia yakin kalau dirinya salah mendengar yang di ucapkan oleh keponakanya itu.
" bunda rian pinjem daster" rian mengulangi ucapannya.
"ohhh tidak, apa yang bunda pikirkan tentang kamu dan sandi tadi siang itu benar" kata saras metatap tidak percaya.
__ADS_1
tapi tentu saja rian tidak mau di curigai yang bukan- bukan oleh bundanya itu, rian mulai mencerita kan dari a sampai z semua rian ceritakan, karna ia takut bundanya berpikir maca- macam tentang dirinya.
" oh ya udah tunggu di sini bunda ambil dulu"
"ini" kata saras lalu menutup pinyu dengan cepat ia sangat malas melihat ketiga jagoan kesangannya itu karna kalau sudah ngumpul pasti sudah berperilaku aneh.
kalau orang luar tau tingkah ke tiga jagoannya itu pasti para bawahannya atau pun rekan bisnisnya akan menertawai mereka habis- habisan.
bagai mana tida diketawai tingkah mereka lebih aneh dari tingkah bocah, berbalik ketika mereka berada di luar, wajah garang, mata tajam dan bersikap dingin sangat di takuti dan di segani.
setelah mendapat apa yang ia cari ia bergegas kembali kekamar pangeran.
" ini pake, cepat aku lapar mau makan" kata rian sambil meberi daster itu pada sandi.
sandi langsung memakainya ia sudah sangad lapar dan ingin segera mengisi perutnya karna cacing- cacing di dalam sana sudah berdemo besar- besaran minta di isi.
"whaaahahahaha"
"puas" kata sandi karna di tertawai kedua sahabatnya itu.
waahahahaaaaa...
mereka sudah menurunni tangga menuju lantai dasar karna mereka mau makan malam semua keluarga besar sudah pulang setelah mereka makn bersama, tapi tidak dengan ketiga peria yang aneh itu, karna kesibukan mereka yang sedikit nyeleweng jadi mereka melukapan makan malamnya mereka baru sadar belum makan setelah perut mereka terasa lamar,.
kini ketiga peria tampan itu sudah duduk ganteng di kursi meja makan tersebut, tapi dengan sandi yang memakai daster uang panjang selutut tanpa lengan, dengan srdikit motip renda pada pinggir daster tersebut.
"ningsihhhhhh" panggil rian entah dari mana ningsih berada tiba- tiba sudah ada di hadapan pria aneh itu.
"kami lapar belum makan, tolong hangatkan makan dan jangan lama- lama karna kami sudah sangat lapar" kata rian yang di iyakan oleh ningsih.
" ah tunggu ningsih" ningsih berbalik kembali karna aran memanggilnya.
" iya tuan"
"apa hari ini bik sumi masak jengkol"
"ada tuan kebetulan tadi bik sumi bikin rendang jengkol"
" baik, emm sekalian kamu hidangkan jengkolnya nanti ke mari" kata pangeran dan langsung di kerjakan oleh ningsih perintah tuan mudanya itu.
__ADS_1