
saat ini ningsih dan aran sudah memasuki pasar malam itu ningsih terus tersenyum melihat sekelilingnya ia berjalan dengan aran yang berada di sampingnya.
" dulu setiap tahun di kampung saya juga akan ada pasar malam seperti ini tuan, ya tapi masih lebih sederhana dari pasar malam ini, mungkin karna di kampung ya tuan," ucap ningsih memecahkan ke heningan di antara mereka berdua.
"em panggil aran saja, engga enak di dengar orang lagian kita lagi di luar itu berarti kita teman, bukan asisten rumah tangga dan majikan," ucap aran
"eee ya tua- maksud nya aran." ningsih menjeda ucapannya.
" tuan boleh pangil saya, ning ajja tapi kalau tuan mau panggil sayang juga tidak apa," ucap ningsih asal agar tidak merasa canggung di antara mereka berdua.
aran yang mendengar itu merasa lucu dalam hatinya ningsih memang gadis yang riang.
"ternyata kamu cerewet ya, " kata aran
"tuan ahh maksudnya aran,gimana kalau kita masuk kerumah hantu itu,!," tunjuk ningsih pada rumah hantu yang ia maksud aran mengikuti kemana arah yang di tunjuk ningsih dan benar saja itu rumah hantu.
" yakin kamu mau masuk??" aran tidak yakin ningsih berani
"tuan meremehkan saya??" ningsih balik bertanya seolah menantang aran.
aran melihat keseriusan wajah ningsih ia langsung menarik tangan ningsih untuk membeli tiket masuk, ningsih yang melihat aran menggengam tangannya merasa jantungnya berdetak di tambah wajahnya merah seperti tomat, untung malam hari lampu di tempat itu sedikit redup jadi tidak terlihat kalau pun wajahnya kini memerah.
"ayo masuk," kata aran yang membuat ningsih terkejut dari lamunanya.
" iya tuan " jawab ningsih aran menatapnya, ningsih tau apa maksud tatapan aran, tapi mau bagai mana lagi tidak sopan rasanya memanggil aran dengan sebutan nama mau bagai mana pun aran tetaplah majikannya.
saat ini mereka sedang masuk di rumah hantu itu, awalnya ningsih terlihat biasa saja tapi lama- lama ia mulai erat menggenggam tangan aran, semakin lama semakin bergetar dan mengeluarkan keringat dingin.
"whaaaaaaaaaa" ningsih berteriak karna tiba- tiba hatunya muncul di hadapannya.
"hahhahahahaha" aran tertawa, melihat muka ningsih yang ketakutan, karna melihat bertapa sombongnya ia menantang aran tadi rasanya tidak mungkin ningsih ketakutan.
__ADS_1
mereka masih di dalam rumah hantu itu dengan ningsih memeluk lengan aran jarinya menggenggam jari aran, aran merasa risih karna berdekatan dengan ningsih jauh lebih mengerikan ternyata dari matanya melihat hantu- hantu bohongan itu bagai mana tidak, dua gunung ningsih memenpel pada lengannya.
" ini benar- benar cobaan besar tuhan" aran berbicara dalam hatinya.
"whaaaaaaaaa plakk" ningsih terkejut melihat setan yang tiba- tiba muncul di hadapannya. setannya terjatuh pingsang karna ningsih dengan reflex menampar hantu itu dengan sangat kencang.
"tuan bagai mana ini hantunya pingsan" ucap ningsih pada aran yang terlihat kawatir.
aran geleng- geleng kepala melihat tingkah unik ningsih, menurutnya ningsih ini stok yang langka, apa lagi dengan menampar kuntilanak bohongan yang sedang pingsan di hadapannya.
"kamu temani dia di sini" ucap aran dengan santai.
" tuan apa aku di sini???, temani hantu ini??" ucap ningsih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan ningsih barusan.
ningsih berjongkok karna sudah merasa sedikit tenang memastikan apa hantu itu mati tapi tetap saja ia masih merasa takut.
" nona ini sakit sekali" hantu wanita itu tersadar dari pingsannya dan berbicara pada ningsih, ningsih yang merasa takut tentu saja merasa terkejut ia langsung menarik tangan aran dan keluar dari rumah hantu itu.
" wkwkwkw" aran tertawa melihat kelucuan ningsih, sementara ningsih masih merasa lelah dan keringat di tubuhnya karna berlari dan itu sangat melelahkan.
" minum ini" kata aran sambil memberikan botol minuman dingin yang ia beli dari penjual yang tidak jauh dari mereka saat ini berdiri.
ningsih mengambil minuman itu dan meminumnya dengan sekali tegukan sampai tidak tersisa lagi, setelah itu dengan napas yang ngos- ngosan ia mendudukan dirinya pada tanah karna rasanya ia tidak kuat untuk berdiri, aran juga mengikuti apa yang di lakukan oleh ningsih, mereka duduk di tanah sementara tidak jauh dari mereka banyak orang yang berlalu lalang.
" makanya jangan sok" kata aran pada ningsih yang terlihat sudah lebih segar dari sebelumnya.
" heheheeehee aku kira engga serem tuan, ini kali pertamanya saya masuk tuan srius" ucap ningsih sambil mengangkat dua jarinya telunjuk dan tengah.
" ia melihat semangat dan kesombongan kamu tadi, rasanya tidak mungkin kamu seperti ini, sepertinya ini yang pertama dan terakhir kamu memasuki rumah hantu" ucap aran sambil melihat ningsih.
" kenapa tuan????" ningsih bingung dengan ucapan tuannya.
__ADS_1
" saya kasian sama hantu korban kamu tadi, dan kalau kamu masuk lagi kerumah hantu itu atau rumah hantu yang lainnya, mereka semua bisa jadi korban kamu" ucap aran sambil tersenyum menginngat tingkah ningsih,.
" tuan aneh kasihan kok sama hantu, kasian saya lah tangan saya juga sakit karna nampar hantu gadungan itu" ucap ningsih dengan wajah yang di buat seolah jengket pada aran, aran yang melihat tingkah lucu ningsih, langsung menyentil hidung ningsih dan mereka tertawa bersama.
mereka bukan terlihat seperti pembantu dan majukan lebih seperti orang yang sedang pacaran mungkin menurut orang- orang yang ada di tempat itu juga.
"tuan" ucap ningsih ia berdiri dan membersihkan sedikit bokongnya yang terkena tanah, melihat ningsih berdiri ia pun bangun dari duduknya ikut berdiri di samping ningsih.
"apa" jawab aran dengan wajah cueknya tapi ningsih tidak perduli dengan hal itu menurutnya aran memang cuek jadi tidak lucu melihat tingkah aran bila sewaktu- waktu berubah.
"tuan liat itu permainan lempar kaleng, itu permainan jadul tapi keren tuan, itu hadiah nya boneka besar" ucap ningsih pada aran, tapi aran merespon biasa saja sama sekali tidak tertarik dengan ucapan ningsih.
"ayo lah tuan, main itu dan kalau tuan berhasil layankan saya dapat boneka geatis" ucap ningsih dengan sangat semangat.
" engga ah, malas sekali" ucap aran dengan nada cueknya.
" oh saya ngerti" ucap ningsih sambil menaruh jarinya di sudut bibirnya sambil menganguk- anggukan kepalanya.
" apa" kata aran yang penasaran apa yang ada di otak pembantu kocaknya itu.
" tuan kan horang kaya, banyak duit mana mau yang geratisan" ucap ningsih
" itu tau" jawab aran sambil memasukan kedua tangannya ke masing- masing saku jaketnya.
" iya tuankan juga anak mami, tentu saja tuan tidak akan bisa mendapatkan boneka itu denga usaha tangan tuan sendiri," ucap ningsih menyindir ara tanpa melihat wajah aran.
aran yang mendengar ucapan ningsih tentu saja merasa tertantang karna ningkih berani meraguka ke tangkasannya.
"baik lah" ucap aran lalu berjalan di mana permainan yang di maksut ningsih itu berada.
saat ini aran telah memegang bola di tangannya dua kali meleset dan bola yang ketiga berhasil tentu saja ningsih sangat bahagia bisa memdapat boneka yang besar dan geratis itu.
__ADS_1
setelah itu mereka segera pulang karna sudah sangat larut malam, keduanya juga merasa sangat lelah.