
setelah kejadian dua malam yang lalu baik aran, rian atau pun sandi tidak ada lagi yang menemui ningsih kalau dua hari yang lalu mereka berlomba untuk mendapatkan ningsih namun sudah dua hari berlalu mereka sangat di sibukan oleh perkerjaan bisnis yang mereka jalani.
ini sudah hari ketika mereka selalu pergi pukul enam pagi dan pulang sekitar jam dua malam, itu karna ada proyek yang sudah sampai waktu yang di tentukan namun perkerjaan belum selesai aran sangat pusing memikirkan hal itu, tapi hari ini perkerjaannya sudah hampir selesai dan ia memutuskan untuk pulang dan istirahat.
jam masih pukul tiga siang namun karna beberapa hari tidak ada waktu istirahat maka ia memutuskan istirahat di rumah saja.
seperti saat ini aran sudah berada di pintu utama rumahnya, ia mulai melangkahkan kakinya masuk ia mengedarkan pandangannya menyapu ruangan itu lalu manik matanya terhenti ketika melihat ningsih yang sedang memegang kemoceng sambil membersihkan pajangan yang ada diruangan itu.
aran mulai melangkahkan kakinya berjalan kearah ningsih, aran mulai mendekat, sementara ningsih yang membelakangi aran belum menyadari aran yang sudah sangat dekat di belakangnya, aran menyadari kalau ningsih tidak mengetahui keberadaannya disana.
aran terus mendekat dengan pelan agar ningsih tidak tau ia sudah sangat dekat dengannya, tiba- tiba muncul ide di kepala aran ia melihat ada kantung plasti berukuran kecil ia mengambil lalu meniup agar seperti balon yang terisi udara.
setelah ia rasa pelastik itu sudah cukup besar bergelembung, udara di dalamnya suda cukup aran mengikatnya, seolah seperti balon agar udara di dalamnya tidak keluar lalu aran mendekatkannya ke telingga ningsih, lalu memukulnya agar terdengar seperti suara ledakan.
Duuuaarrrrr..
pelastik yang mengelembung seperti balon itu pecah, tentu saja ningsih yang mendengar merasa sangat terkejut akan hal itu.
ningsih yang terkejut langsung terloncat kemoceng yang ia pegang terjatuh, di kakinya dan tampa sengaja menginjak kemoceng itu, ningsih berbalik dan terjatuh.
Bruuukkk...
ningsih terjatuh dengan posisi terlungkup ia tidak menyadari kalau aran ada di belakangnya ketika ia berbalik ia tanpa sengaja memeluk aran, aran yang terkejutpun langsung terjatuh terlentang dengang ningsih yang menindihnya,.
pasisi mereka sangat intim sekali mereka berdua terkajut dengan apa yang terjadi namun tidak ada yang masih salih melepaskan mereka berdua saling memandangi hanyut dalam pikiran masing- masing.
saras yang berada di ujung ruang tamu itu tau dengan apa yang terjadi pada ningsih dan putranya, tapi dia diam saja menjadi penonton, tapi saras menyadari tidak ada yang berniat bangun dari posisi itu.
eeeheeemmmzz..
saras bersuara dan itu sukses membuat ningsih terkejut, ningsih bangun dan aran juga bangun lalu berdiri.
"kalian sedang apa" saras bertanya seolah dia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.
"maaf nyonya, maaf tuan muda, saya terjatuh tapi saya benar- benar tidak tau anda di belakang saya tadi bahkan tanpa sengaja saya...." ucapa ningsih terputus ia tidak sanggup lagi melanjutkan ucapannya mengingat kejadian barusan terjadi.
__ADS_1
ia benar- benar merasa malu sekali, tapi ada juga rasa takut, bagai mana kalau tuan dan nyonyanya marah atau mengatakan ia menggoda tuan muda itu hal yang sangat memalukan.
ningsih terus tertunduk ia benar- takut bahkan untuk melihat wajah majikannya saja ia tidak punya keberanian.
"bunda..!!!! " rian berteriak tiba- tiba dari arah pintu.
" emmm anak bunda" kata saras tersenyum lembut ke pada rian.
" ningsih kamu lanjut kembali berkerja" kata saras ningsih langsung berlari menuju dapur ia takut bila lebih lama di sana karna jantungnya sudah berdetak sangat kencang karna menahan takut.
"kamu mau apa ke sini nyet??, " tanya aran pada rian.
"apa sih ini rumah bunda ya engga usah sok berkuasa" kata rian yang asal itu sudah terbiasa bagi aran atau pun rian.
"bun aran ke atas dulu mau bersihin badan sama pikiriran karna lihat monyet" kata aran pada bundanya tapi penglihatannya pada rian.
" wah engga sopan aku ini abg kamu monyet" kata rian pada aran.
aran sama sekali tidak perduli pada apa yang di katakan rian ia terus menaiki tangga menuju kamarnya, dengan hati yang tampak bahagia mengingat insiden saat ia terjatuh sambil memeluk pembantunya itu.
wah aku ini sepertinya sedang tidak beres aran keluar dan membersihkan dirinya, kini ia sudah memakai handuk yang terlilit di pinggangnya.
setelah selesai dengan memakai pakaian santainya dan mengeringkan rabut yang basah, tentu denga parfum yang mewangi pula di tubuh kekarnya, ia mulai menuruni tangga ia ingin mengajak pembantunya jalan- jalan, entah apa yang sekarang ada di kepalanya.
"bunda" panggil aran ternyata saras sedang duduk di kursi meja makan menunggu mie instan yang sedang di buatkan bik sumi.
" rian di mana bun" tanya aran karna tidak melihat rian
"oh dia lagi di taman belakang nemenin ningsih nyiram bunga" kata bunda sambil meniupkan mie instan yang sudah di hidangkan bik sumi barusan.
tanpa bertanya lagi ara langsung berjalan menuju taman belakang di mana ada ningsih dan rian, ningsih yang sibuk menyirami tanaman dan rian yang berdiri di sampingnya.
" ning, ini kan malam minggu, kita keluaryuk??. tanya rian pada ningsih dengan sangat lembit dan sambil menaruh sebelah tangannya pada saku jaketnya.
" iya nanti ning ijin sama nyonya ya tuan ning juga sudah hampir sebulan di kota ini tapi belum pernah jalan- jalan" ucap ningsih aran hanya mendengar dari kejauhan ia berdiri sambil melipat tangan di dada kali inj ia hanya menjadi pendengar setia.
__ADS_1
" ya udah nanti malam aku jemput kamu ya jam delapan malam, sekaran aku pulang dulu," kata rian
" ya tuan baiklah hati- hati ya tuan, " jawab ningsih yang di balas senyuman oleh rian.
rian berjalan dan meninggalkan ningsih di sana sendiri sambil menyiram bunga, tapi setelah rian pergi tiba- tiba aran berjalan mendekati ningsih.
" hai" sapa ara.
" iya tuan apa tuan butuh sesuatu," tanya ningsih yang merasa takut pada majikannya itu.
" ya sepertinya saya memang butuh sesuatu" kata aran tanpa melihat ningsih pandangannya lurus dengan memasukan tangannya pada saku celananya.
" apa tuan kata ningsih" yang hendak menaruh selang di tangannya.
" lanjut kan saja menyiramnya, saya butuh bantuan kamu nanti malam bukan sekarang," kata aran
"bantuan apa tuan" tanya ningsih yang bingung.
" em saya belum pernah ke pasar malam, tapi saya sangat ingin ke sana dan kamu harus temani saya!!!," ucap aran tampa bisa di bantah lagi.
" maaf tuan tapi saya tidak bisa, karna saya sudah janji pada tuan rian bila di ijinkan nyonya kami akan keluar. " ucap ningsih dengan sopan dan suara yang sangat pelan.
" emm kamu siap- siap nanti jam tujuh kalau kamu masih mau berkerja di sini!!. " kata rian yang secara tidak langsung mengancam ningsih.
ninsih diam memikirkan ucaran aran dia juga bingung bagai mana dengan rian dia dian tanpa sadar selang dengan air yang cukup kencang itu mengarah pada aran.
buuurrrrr....
"ningsih!,,, " teriak aran ningsih tersadar dari lamunanya mukanya sangat memerah karna takut, aran mengambil selang di tangan ningsih lalu berbalik menyiram ningsih.
"tuannnnn" ningsih berterian
"'whahahahahha kamu suda dua kali menyiram saya ya, ahahhahaha, " aran terus berteriak sambil tertawa bahagia.
selanjutnya ningsih mengambil selang satunya lagi menghidupkan dan menyirami aran balik, dan terjadilah insiden siram menyiram.
__ADS_1