
DUA HARI KEMUDIAN...
seperti biasanya ningsih selalu bangun pagi- pagi sekali, seperti hari ini pukul lima pagi sebelum azan berkumandang ninsih sudah bangun, lalu membantu bik sumi menyiapkan sarapan untuk majikannya.
dreeet dreet drettttt
terdengar suara ponsel ningsih berdering bertapa bahagia nya hatinya tertera nama adik nya disana itu berarti ibu nya yang ingin bicara dengannya, tanpa pikir panjang ningsih langsung menjawab pangilan tersebut.
"***halo"
"assalammualaikum, niingsih"
"walaikmsallam bu, ibu apa kabar, ningsih kangen ibu"
"ibu sehat nak, ibu juga kangen sama kamu, kamu apa kabar"
"ningsih baik bu"
" ningsih majikan kamu di sana baik nak??"
" baik kok bu di rumah ini semuanya baik malahan majikan ningsih juga hatinya lembut sekali bu, kalau bicara bikin hati adem gitu bu"
keculi anak laki- lakinya itu, lebih tepatnya monster itu, meluhat wajahnya saja aku suda trauma berkepanjangan. kalau aku berjupa dia ingin rasanya aku cincang terus aku kasih buat makanan buaya gila.
"0 sukurlah kalau begitu sudah dulu ya nak, nanti kita lanjut lagi ngobornya"
"ya bu, ningsih juga masih banyak kerja***"
TUUUUUtttt....
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"bik sumi" panggil pangeran pada bik sumi yang sedang menuangkan air putih pada gelas, ya pagi ini seperti biasanya semua angota keluarga duduk di meja makan kecuali putri, kakak pertama pangeran karna dia sudah menikah dan tingga di kota j bersama suaminya.
"ya tuan muda" jawab bik sumi sambil melihat pada tuannya
__ADS_1
"bekicot dimana, dia masih bekerja di sini kan?" tanya pangeran
"bekicot, maksudnya siapa tuan saya bingung" jawab bik sumi yang memang tidak mengerti tentang pertanyaan pangeran.
"itu si pembantu baru bik, yang menjengkelkan dan udik"pangeran menjelaskan siapa yang dimaksudnya
"o itu namanya ningsih tuan, dan dia masih berkerja di sini tuan, apa perlu saya panggilkan tuan" kata bik sumi pada majikannya bik sumi merasa aneh, baru kali ini tuannya menanyakan seorang pembantu.
ya memang semenjak kejadian dua hari yang lalu ningsih tidak pernah menampakan batang hidungnya lagi terutama pada pangeran.
ningsih selalu menghindar terutama pada pengeran.
ningsih merasa takut kalau dirinya akan di hajar habis- habisa oleh majikannya itu, apa lagi kalau sampai di pecat bagaimana dengan nasipnya, dapat pekerjaan di kota sangat susah pikir ningsih.
mulai saat itu ningsih selalu menghindar dari majikannya itu, bila ada pekerjaan cepat- cepat ia kerjakan agar tidak sampai berjumpa dengan pangeran.
kalau mau membereskan meja makan, ningsih menunggu semua majikannya sudah tidak ada di sana baru ia datang dan membereskannya.
"kenapa hem, nanya si ningsih kangen??" saras bertanya pada putranya
"kalau bukan rindu kenapa di tanya emm" goda saras sambil menyuapi nasi goreng buatan bik sumi.
pangeran diam tidak menghiraukan ucapan bundanya yang sedang menggodanya, pangeran terus melanjutkan sarapannya, lagi pula pekerjaan d kantor juga sudah bikin pusing, jadi diya tidak mau ambil pusing lagi dengan ucapan bundanya.
pangeran sudah menyelesaikan sarapanya, lalu meminum kopi buatan bik sumi yang menurutnya tidak ada duanya, lalu pangeran bangun dari duduknya dan berpamitan pada, ayah, bunda, dan kakaknya.
"ayah, bunda, kakak, aku brangkat dulu ya" ucapnya pada mereka yang ada di meja makan.
"pangeran sama yang di belakang kamu engga pamit, hem itu lohh si ningsih,."bunda yang masih menggoda pangeran yang sepertinya salah tinggkah dengan ucapan bundanya.
"apa sih bunda engga jelas tau" ucap pangeran yang bingung karna pertanyaan bundanya dia sedikit salah tinggkah.
"cieee cieee, itu mukanya biasa aja, abg pangeran wijaya engga usah memerah gitu juga keles" ucap bunda yang terus menggoda pangeran.
"bunda ku sayang ku cintaku, nanti pangeran kenalin sama pacar pangeran yang baru" ucap pangeran pada bundanya, untuk menutupi salah tingkahnya, mendekat pada bundanya dan mencubit pelan pipi bundanya itu.
__ADS_1
saras langsung menepis tangan pangeran pada pipinya dengan emosi level tinggi.
"apa yang baru, W.O.W. wow, yang lama kemana sudah 29 kali kamu bawa , pacar kamu ke bunda, satupun engga ada yang mau kamu nikahi, ini mau di bawa ke mana lagi hah" ucap saras yang mulai dengan nada tinggi karna mulai emosi dengan tingkah anak laki- lakinya ini, sambil menunjuk- nujuk anak kesayanganya itu.
saras menjeda ucapannya lalu melanjutkan kembali kata- katanya.
"kamu itu ya pacar kamu udah mau nikah sama kamu, eh kamu nya engga mau."
"giliran kamu udah ngerasa cocok udah mau nikah sama pacar kamu, eh malah pacar kamu yang engga mau nikah sama kamu"
lalu saras berkataa dengan lembut pada pangeran yang sudah mundur dua langkah menjauh dari saras.
"sepertinya ada yang salah dengan kamu, malam jum'at kliwon kayaknya kamu harus bunda mandiin, di kali, pakek kembang tujuh rupa buat buang sial di badan kamu,"
ucap saras dengan panjang kali lebarnya, bertapa jengkelnya ia punya putra semata wayangnya itu tak laku- laku.
pangeran merasa jengkel pada bundanya bagai mana bisa dunia sudah modren begini percaya dengan hal- hal seperti itu.
"udah bun, unek uneknya udah keluar semua, kalau belum maaf bun nanti ajja di lanjut lagi setelah pangeran pulang kerja, nah sekarang pangeran jalan dulu, mau kerja buat masa depan yang katanya indah pada waktunya"
ucap pangeran lalu berlalu meninggalkan anggota keluarganya yang sedang sarapan.
"jangan lama- lama pacaranya bunda udah pengen nimang cucu" teriak bunda pada anaknya yang hampir hilang dari ruang makan itu.
"kalau bunda engga sabar buat pengen gendok baby, tuhh bunda ajak ayah bikin adk bayi lagi" ucap pangeran segera berlari menuju mobilnya.
"PANGERAAANNNNN" teriak saras dari ruang makan tersebut yang mungkin suaranya sampai ke rumah tetangga.
pangeran yang keluar dari rumahnya memasuki mobilkesayangannya sambil menenteng tas kejanya, merasa aneh dengan bundanya dia langsuh menghidupkan mesin mobilnya dan pergi menuju kantor.
apa ia aku ini harus buang sial tapi di pikir- pikir omongan bunda sedikit banyaknya ada benarnya, kenapa usia aku yang udah segini matang belum juga ketemu jodoh,.
apa aku harus mandi di sungai buang sial, dengan kembang tujuh rupa itu, supaya cepet dapat jodoh, eh tunggu- tunggu ke napa aku jadi mikirin omongan anehnya bunda tadi kan aku sendiri yang menolaknya,.
ah ini tidak benar, kenapa ucapan bunda tadi terus ada di kepala ku, ahh sudah lah aku jadi mirip bunda kalau begini, tapi wajarkan aku mirip bunda akukan anaknya.
__ADS_1
sepanjang perjalanan ke kantor pangeran hanya berdebat dengan hatinya, sampai akhirnya ia di halaman wijaya group.