Cinta Di Atas Normal

Cinta Di Atas Normal
Bab 7


__ADS_3

sementara ningsih yang asik dengan dunianya sendiri,yang sedang bernyanyiria tidak jelas, tiba- tiba melihat ada orang yang sedang menaiki pagar, yang berniat memasuki rumah majikannya itu, tanpa pikir panjang ningsih langsung ke arah orang tersebut yang masih di atas pagar yang hanya dua meter lagi hampir berhasil.


Brukkkkk....


orang tersebut terjatuh dan berteriak minta tolong, karna ningsih memukulnya dengan sapu lidi,setelah jatuh ningsih menyiram dengan air selang yang tadinya ia gunakan untuk menyiram tanaman, tapi sekarang beralih jadi menyiram orang tersebut.


"toooolooongggg!!!" teriak orang tersebut


"toollloonnggg!!!" teriakannya semakin kencang


"dasar maling ya, tau ajja rumah besar banyak barang- barang nya juga mahal, tapi masih pagi udah mau maling" oceh ningsih yang terus memukuli dan juga menyirami lelaki tersebut.


tangan kanan ningsih memegang sapu, sementara tangan kirinya memegang selang air yang cukup kencang.


"hei brens*k, aku bukan maling" kata pria tersebut membela dirinya dan berusaha lepas dari amukan ningsih..


"dari jaman dulu jaman nenek moyang, jaman kuno, sampai jaman modern sekarang , belum pernah ada maling ngaku maling" ucap ningsih tangannya tidak pernah berhenti.


"hey bod*h, aku bukan maling"kata peria itu


" masih belum ngaku ya kamu udah ketangkap basah juga, kalau kamu bukan maling terus kamu apa??? kenapa masuknya manjat pagar, apa kamu mau bilang kalau kamu monyet makany manjat- manjat" ningsih terus memukuli orang tersebut. tidak tanpa ampun, tidak tau kondisi pria itu sudah seperti apa,.


sementara saras yang melihat, segera berjalan dengan cepat ke arah ningsih, karna ia tau yang di hajar ningsih bukan maling melainkan anak kesayangannya dan bintang ayah dari lelaki itu hanya diam menjadi penonton, sambil melihat pertunjukan yang menghibur, menurutnya di pagi hari ini.


"bik sumii!!!" teriak bintang


"ada apa tuan" jawab bik sumi yang sudah ada di hadapan tuanny


"buatkan saya teh, seperti biasa jangan terlalu manis"


"ini tuan" kata bik ningsih setelah tadi masuk dan membuat teh, kemudian mengantarnya pada majikannya


sambil menyerut teh hangat buatan bik sumi, bintang sudah duduk di kursi teras rumah sambil menjadi penonton setia tanpa berniat, meredakan pertarungan sengit yang sedang berlangsung.


"ningsihhhh" saras berteriak cukup kencang setelah mendekat ke pada dua orang yang sedang perang itu,.


ningsih menatap pada, saras dan berhenti memukuli lelaki itu...

__ADS_1


"bunda" kata lelaki itu


"bunda?" ningsih bingung


"ningsih yang kamu hajar ini bukan maling, tapi pangeran anak saya" saras menjelaskan siapa pangeran.


mendengar penjelasan majikannya ningsih tak berkutik, maju tidak berani, mundurpun rasanya kakinya taksanggup lagi melangkah,dengan badan gemetar tangannya melepas selang dan sapu yang ia pegang.


takut, pucat, gemetar itu yang ningsih rasakan bibirnya sudah tidak tau lagi harus berucap apa.


"kamu" kata pangeran sambil menunjuk ningsih dengan baju basah, badannya sedikit membiru terutama di sudut bibirnya sedikit berdarah.


ningsih menunduk ketakutan, tidak berani menatap pangeran.


" kamu berani sekali sudah menghajar saya, dasar wanita sil*lan kamu,."


"kamu msih mau hidup atau mau mati dengan ke adaan tersiksa???" tanya pria itu.


tentu saja aku ingin hidup dan kalau pun saat ini aku harus mati maka hantu ku akan menghantuimu sampai kamu pun mati menyusulku lalu kita menjadi hantu bersama.


"kamu!!!. ikut saya, bersihkan badan saya, obati luka saya ini, cepat!!" kata pangeran sambil berjalan masuk kedalam rumah, karna ningsih masih di mode takutnya jadi dia masih mematung tak bergerak dari tempatnya


"heeyyyy ikut saya cepat, ngapain diam di situ mau jadi patung dasar bod*h" kata bintang dengan penuh emosi yang sudah sampai di ubun ubun.


"sudah sana ikuti anak saya" kata saras pada ningsih lalu pergi menuju di mana bintang sedang duduk sambil meminum teh.


"ii-iya tuan" jawab ningsih dengan rasa takut dan mengikuti tuannya dan masuk ke dalam rumah.


mereka terus berjalan dengan pangeran yang di depan dan ningsih mengikuti dari belakang, sebelum menaiki tangga pangeran berbalik, melihat ningsih yan masih jauh darinya, dengan jalan yang lambat.


"hey kau manusia atau bekicot, lambat sekali, cepat!!!... jalan woy jangan ngesot" kata pangeran dan melanjutkan langkahnya menuju kamarnya


"ii-iya tuan" jawab ningsih


kamar pangeran memang di lantai tiga jadi berjalan ya cukup jauh karna harus menaiki tangga, tapi sebenarnya rumah itu memiliki lift tapi pangeran lebih senang menaiki tangga menurutnya sambil olah raga.


ningsih terus berjalan mengikuti tuannya, dan mereka sampai di kamar tuannya ningsih memang bekerja di rumah besar itu tapi ningsih masih sampai di lantai dua ini kali pertama ningsih menginjakan kakinya dilantai tiga, karna memang ningsih baru empat hari bekerja di rumah besar itu.

__ADS_1


Ceklek...


pangeran membuka pintu kamarnya dan masuk mendudukan diri nya di sopa kamar kamar tersebut.


"hey kicot masuk" kata pangeran yang melihat ningsih hanya berdiri di depan pintu kamarnya


aku di suruh masuk kekamarnya aku mau di apain ohh tidak apa aku akan???,. ningsih yamg masih mematung di tempatnya terus berdebat dengan pikiran buruk yang ada di kepalanya,.


oh tidak kalau itu terjadi bagai mana ini aku harus apa, wah ini tidak benar aku benci keadaan ini keadaan macam apa ini,.


"pergi ke kamar mandi dan siapkan air mandi untuk ku" kata pangera


"cepat " perintah pangeran dengan suara yang setengah berteriak, dengan segera ningsih berlari mengerjakan perintah tuannya, dengan cepat karna takut di marahi tuannya.


"sudah tuan" kata ningsih yang sudah keluar dari kamar mandi menyiapkan air untuk tuannya mandii


"saya mau mandi, dan kamu buatkan saya segelas teh hangat, bawa ke mari, jangan lupa bawa kotak obat" kata pangeran lalu memasuki kamar mandi.


hhhuuuffff ningsih merasa sedikit lega setelah keluar dari kamar tuannya itu, langsung menuruni tangga dan mengerjakan apa yang di parintahkan tuannya barusa.


dia bukan manusia bahkan lebih kejam dari maikat pencabut nyawa aku sangat takut sekali dia itu monster yang mengerikan.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


cklekkk...


"wwwaaaaaaaaaa" ningsih berteriak setelah membuka pintu, dan membawa apa yang di perintahkan tuannya.


"engga usah teriak- teriak kicot" ucap pangeran dengan santainya, yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya.


ningsih menaruh nampan yang ada gelas yang berisi teh hangat dan kotak obat di meja sopa kamar tersebut lalu keluar dengan cepat dan menutup pintunya kembali.


" apa itu tadi yang aku lihat, ohhh itu dia tidak memakai baju, oh tidak mata suci ku kini sudah tidak perawan lagi,.


" kenapa manusia sebaik dan selembut nyonya saras bisa melahirkan monster seperti itu.


huuuuffff ningsih terus berbicara sendiri sambil menurunni tangga, ningsih yang melintas tidak jauh dari tempat saras duduk mendengar ucapan ningasih, dia hanya geleng- melihat tingkah pembantu unik itu.

__ADS_1


__ADS_2