Cinta kelas orang rendah "catatan sang supir"

Cinta kelas orang rendah "catatan sang supir"
berlian di bak mobil truk


__ADS_3

Alhamdulillah. Dafa menghela napas lega. Akhirnya sampai juga ke rumah dengan selamat , setelah melakukan perjalanan selama dua hari satu malam untuk mengantarkan beras ke pasar induk Jakarta dengan mobil truknya.


Sebagai seorang supir bisa pulang dengan selamat, menurutnya perlu disyukuri. Ini anugrah. Sebab tidak sedikit yang terlibat kecelakaan. Bahkan ada yang sampai nyawa melayang.


Setelah mematikan mesin. Dafa turun dari ruang kemudi. Menggerak-gerakan tubuhnya untuk mengusir rasa penatnya. Lalu berjalan menuju pintu rumah. Tapi tiba-tiba Dia terkejut. Ada suara yang menyusup gendang telinganya.


"Ea.. ea..ea.!"


Suara bayi? Dafa mengerem langkahnya. Telinganya mencari sumber suara. Matanya mengawasi sekitar.


"Ea.. ea....ea.. !"


Dafa membuka pintu bak truknya. Dan matanya langsung terbelalak. Bayi? Kenapa ada bayi di mobilku? Anak siapa ini?. Dia segera membopong bayi yang masih merah itu dengan hati- hati. Nampak tubuhnya sudah membiru, mungkin karena kedinginan. Apakah bayi ini sengaja ditinggalkan orang tuanya. Atau orang tuanya hanya menaruh sementara dimobilku , mungkin mau ke kamar kecil dulu,setelah itu diambil lagi. Mungkin disangkanya mobilku tidak akan berangkat secepat yang dia kira.


Dafa tertunduk lesu. Lalu kira-kira bayi ini sejak kapan ada di mobilnya Seingatnya Dia hanya berhenti di pasar induk Jakarta untuk bongkar beras . Setelah semuanya beres dan menerima uang pembayaran bera,s Dia segera memacu truknya untuk pulang. Apa kira-kira saat Dia mengambil uang yang memakan waktu kurang lebih satu jam itu ada seseorang yang menaruh bayi ini? Dafa mengernyitkan dahi.


Ohya, saat sampai di kota Karawang Dia pun berhenti untuk melakukan sholat shubuh di masjid Baitul Makmur. Atau jangan-jangan saat itu ada seseorang yang menaruh bayi ini di trukku? Oh entahlah. Dia mengernyitkan dahinya.Tapi selain dikedua tempat itu Dia tidak berhenti lagi.


"Ea... ea....ea.. !"


Dafa tersentak. Dia baru tersadar kalau bayi ini perlu segera mendapat perawatan. Bergegas dia membuka pintu rumah.


"Aku harus membawanya ke Bidan"


Segera Dia mengeluarkan sepeda motor. Tapi tiba-tiba Dia ingat Sulis. Oya kenapa aku tidak menghubunginya ? Bukankah aku bisa minta bantuannya?


"Hallo...lagi apa yang?"sapanya manis. Lewat hp


"Baru saja habis mandi. Ada apa?"


"Bisa nggak segera ke rumahku?"


"Emang kamu sudah pulang?"


"Sudah. Barusan. Cepet sini ya?"


"Koq nggak sabaran. Kayak orang kebelet pipis"


"Cepet ya yang. Pleass..."


"Ya.ya. tunggu sebentar. Mau ganti daleman dulu."


Tidak lama kemudian Sulis datang dengan Varionya. Wajahnya nampak sumringah dan bergairah. Rambutnya yang masih agak basah diikat memanjang. Bajunya dan celana jeannya yang ketat membuat lekuk tubuhnya nampak kelihatan jelas. Tentu setiap mata lelaki akan memandanginya tanpa bosan.


"Ada apa sih kang mas. Koq kayaknya nggak sabaran?"tanyanya sambil memarkir motornya


"Sulis bisa nggak tolong aku?"


"Untuk orang yang tercinta. Masa sih nggak mau."


"Terimakasih." Dafa lega."Ayo masuk. "


"Ada apa sih" Sulis mengikuti Dafa dari belakang.


"Kamu gendong bayi itu. Kita bawa dia ke Bidan"


"Bayi.." Sulis sangat terkejut. Bayi merah yang terbungkus selimut itu ditatapnya kuat- kuat. Napasnya seketika memburu. Wajahnya memerah membara seperti terbakar. Lalu perempuan itu menatap Dafa dengan mata merah. Ada emosi yang memuncak..


"Oh.. !" Sulis meradang. "Rupanya kamu punya selingkuhan. Tidak kusangka!"


"Sulis...bayi ini bukan anakku." Dafa sedikitpun tidak menyangka kalau kekasihnya itu punya persangkaan separah itu. "Bayi ini aku temukan dibak trukku. Benar.."


"Lalu kamu kira aku bakal percaya dengan alasanmu itu?!"


"Benar Sulis aku tidak bohong. Kamu sudah tahu'kan siapa aku?"


"Aku tidak percaya. Kalau bukan anakmu mana mungkin ada perempuan yang mau menyerahnya padamu."


"Sulis. "


"Memang aku juga sering dinasehati oleh teman- teman, supaya jangan punya calon suami yang jadi supir. Supir kalau ada susu pasti mampir. Pacarnya dimana-mana." Sulis meradang. Matanya semakin merah. "Dengar ya baik- baik. Mulai saat ini juga...kita putus. PUTUS...... ! Dan tidak usah lagi mikir-mikir kapan kita mau melangsungkan pernikahan. Atau mrencanakan bulan madu. Putustus..!Tuuusss.....!!!" Gadis itu segera berlari keluar. Kemudian memacu motornya kencang. Kencang sekali.

__ADS_1


Dafa terduduk lesu. Lunglai Tubuhnya seperti tidak memiliki tulang belulang lagi. Tidak ada mimpi. Tidak ada firasat....tahu-tahu cintanya kandas. Oh Sulis..


"Ea.. ea...ea...!"


Dafa terkejut. Suara melengking dari bayi itu mengganggunya. Sedetik kemudian bayi itu ditatapnya kuat-kuat. Bayi penyebab cintanya kandas. Cinta sucinya. Cinta yang besar.. Sebesar gunung. Oh lebih. Bayi sial...!


"Ea....ea....ea.. !"


Oh,ya .Tapi aku harus membawa bayi ini ke Bidan. Dia perlu pertolongan. Jangan sampai kehilangan nyawanya sebelum ada pertolongan.


Dan Dafa pun segera membawa bayi itu ke seorang Bidan yang terdekat


*******


"Bagaimana kondisi anak itu bu? Oh, bagaimana kondisi anak saya bu?" Dafa memburu Bidan Bayi begitu sang Bidan keluar dari ruang perawatan.


Sejenak sang Bidan menatap Dafa. Menghela napasnya dalam-dalam. "Kalau saja dibawa kesininya terlambat sedikit lagi. Mungkin...?"


"Maksud ibu?"


"Alhamdulillah... sekarang sudah tertolong."


"Alhamdulillah." Dafa bernapas lega. Ada rasa damai yg menerpa. Entah, itu muncul begitu saja tanpa Dia sadari. Padahal bayi itu bukan siapa-siapanya. Bahkan bayi itu pembawa petaka.


"Bapak mau melihatnya? Ayo.." Sang Bidan mengajaknya menuju ruang perawatan.


Bayi merah itu nampak terkulai lemah di atas ranjang. Matanya terpejam rapat. Dilengannya tertancap jarum infus.


"Dia kehabisan cairan. Dan tubuhnya membiru karena kedinginan." Sang Bidan mengawasi bayi itu dengan seksama. "Lain kali jangan sampai teledor seperti ini lagi "


Dafa mengangguk-anggukan kepala. Bayi ini kekurangan cairan dan kedinginan?pikirnya. Tentu saja!. Beberapa jam tidak menyusu. Pasti cairan ditubuhnya habis. Dan beberapa jam berada di bak truk yang melaju dimalam dingin, pasti membuat tubuh bayi itu menggigil.


"Oya maap. Ini dengan Bapak siapa?"tanya Sang Bidan membuyarkan perenungannya.


"Oh saya Bu?"


"Iya. Nama Bapak."


"Bapak Dafa." Sang Bidan mengulangi seperti hendak memastikan bahwa Dia tidak salah dengar. "Oya, istri Bapak kenapa tidak ikut?"


"Maksud Ibu?"


"Ibunya bayi ini."


"Oh..." Dafa manggut-manggut sambil memandangi cat tembok ruangan itu. Putih. Mungkin untuk mencari jawaban dari pertanyaan itu. Dia bingung mau menjawab apa? Haruskah aku katakan siapa bayi ini sebenarnya? Tapi...tapi. oh tidak! Takut nanti ada apa-apanya. Kalau aku harus berbohong, lalu apa jawaban yang cocok dan tidak mencurigakan?.


"Pak..."tegur sang Bidan mengagetkan.


"Oh ya Bu."timpalnya tergagap. "Istriku belum pulih betul Bu. Maklum habis operasi."jawabnya sekenanya. Mudah-mudahan sang Bidan bisa menerimanya. Dan tentu saja mempercayainya.


Sang Bidan manggut-manggut "Oh istri Bapak dicesar?"


"Iya Bu " angguknya. Dan terasa plong dan lega


"Oya anak ini sudah dikasih nama'kan?" Sang Bidan menatap Dafa lagi . "Siapa namanya?"


Nah. Dafa kembali bingung dan harus memutar otak dalam beberapa detik. Masalahnya kalau sekedar nama sih gampang. Tapi masalahnya Dia tidak tahu kalau bayi yang ditemukannya itu berjenis kelamin laki-laki apa perempuan? Dia tidak sempat memeriksanya tadi.


"Pak. .."


"Ohya Bu." Dafa terkejut. "Hasan Bu."


"Hasan ?" Sang Bidan mengukirkan senyum di bibirnya. Terasa ada yang ganjil. Yang tidak lazim. "Nama yang aneh."


"Maksud Ibu?"


"Masa anak perempuan namanya Hasan."


"Oh maksud saya namanya Hasanah. Lebih tepatnya Nur Hasanah." Dafa menjawab sekenanya.


Bu Bidan manggut-manggut."Nama yang bagus. Nur itu artinya Cahaya .Hasanah itu artinya Kebaikan. Cahaya Kebaikan. Ya Cahaya Kebaikan. Mudah-mudahan kelak,... kalau sudah dewasa anak Bapak ini akan bisa menebar kebaikan, untuk lingkungan keluarga maupun lingkungan yang lebih luas."

__ADS_1


"Amin...."timpal Dafa dengan hati yang lega


****


Setelah mendapat perawatan dari Sang Bidan selama sehari semalam bayi itu kini tampak segar dan sehat.


Tadi pagi bayi itu dibawa pulang. Dan saat ini sedang tertidur pulas di atas dipan. Setelah sejam yang lalu Dafa beri minum susu melalui dot.


Duduk di ruang tamu sendirian, dalam belenggu pikiran yang tidak menentu dan sarat kebingungan membuatnya sulit untuk menentukan langkah apa yang akan Dia tempuh?


Bayi itu, Ya Tuhan.....batinnya berulangkali gelisah. Apa yang harus aku lakukan terhadapnya? Mengurusnya? Ah, bagaimana mungkin? Aku seorang lelaki dan terlebih belum pernah punya anak. Mana mungkin aku bisa. Mana mungkin aku sanggup..


Atau aku titipkan ke Panti Asuhan? Sesaat niat itu muncul dibenaknya. Sepertinya inilah solusi terbaik. Tapi sesaat kemudian Dia ragu. Dia takut kalau bayi itu nantinya malah justru akan dijual belikan seperti yang sering Dia dengar dari pemberitaan.


Oh. Tiba-tiba ada ide yang masuk ke otaknya. Perlahan hp yang ada di meja Dia ambil. Mencari sebuah nama. Barangkali ini solusinya.


Orang yang Dia hubungi adalah temannya yang jadi makelar beras di pasar induk Jskarta.


"Halo Sam...ada dimana?"tanyanya lewat hp.


"Ada dimana? Ah kamu ini nanya koq aneh. Ya ada di pasarlah."


"Oh."


"Emang ada apa? Kalau mau kirim beras mah tinggal datang saja."


"Nggak. Bos belum perintah " jawabnya. "Sam bisa nggak tolong aku?"


"Minta tolong apa? Pinjam duit? Aku lagi kosong. Habis buat biaya lahiran istri."


"Nggak. Bukan itu. Tapi...."


"Oh pasti kamu suruh aku jadi jomblang yah. Kamu lagi naksir Asiyah kan? Si pelayan Warteg itu? haha....... " Sam tertawa.


"Bukan itu Sam. Aku serius nih. Jangan bercanda."


"Ooh...."


"Gini Sam " suara Dafa nampak serius Sam pun terbawa serius mendengarnya. "Pulang kirim beras tiga hari yang lalu, di bak truk ada..."


"Ada apa?"


"Bayi. Ada bayi di bak trukku."


"Ada bayi?"tanya Sam kaget.


"Iya."


"Terus kamu minta tolong ke aku. Apa maksudnya?"


Dafa menarik napas dalam. Ada jeda waktu beberapa detik. "Barang kali ada orang yang kehilangan bayi. Tolong bilangin kalau bayi itu ada di aku."


"Maksudmu?" Sam tampak bingung.


"Waktu mobilku parkir di pasar induk barangkali ada seseorang yang menaroh bayinya di mobilku. Mungkin dia mau ke kamar kecil.


Tapi begitu dia keluar dari kamar kecil ,mobilku sudah pergi " Dafa terdiam sesaat."Maksudku barangkali orang itu mencari bayinya yang hilang.. ,bilangin ada di saya. Dafa."


"Ooo .. " Sam manggut- manggut. "Tapi......" tiba-tiba Sam menyela. "Kayaknya sih bayi itu sengaja dibuang."


"Apa?" Dafa kaget seperti menerima pukulan yang telak di wajahnya.


"Kayaknya memang sengaja dibuang."ulang Sam.


"Tujuannya apa?"


"Mungkin bayi itu hasil hubungan gelap. Daripada menanggung malu,terpaksa orang tuanya membuang bayi itu."


Dafa tertegun mendengar


penuturan Sam. Andai benar yang Sam katakan, terus Dia harus bagaimana? Tetap mengurus bayi itu? Atau memberikannya pada orang lain?

__ADS_1


*****


__ADS_2