Cinta kelas orang rendah "catatan sang supir"

Cinta kelas orang rendah "catatan sang supir"
17


__ADS_3

Besarnya sebuah gunung agaknya tidak sebesar rasa ingin tahunya Dafa terhadap cerita yang akan dituturkan Dewi, artis cantik itu. Konsentrasi segera dipasangnya kuat-kuat. Dan dipastikan untuk tidak bercabang-cabang. Fokus..!! Harus selalu fokus!


Sementara itu di atas kursinya, Dewi Amoy berulangkali menghela napas. Seperti sedang menenangkan pikirannya yang sedang terguncang. Isak tangisnya masih sesekali terdengar. Mengusik dinginnya malam.


Di luar, gerimis semakin membesar. Angin dingin yang berhembus masuk ke ruangan itu melalui ventilasi jendela. Menusuk ke kulit. Menikamkan rasa dingin.


Dan waktu terus berlalu.


"Sebetulnya aku malu untuk ...menceritakan kisah ini pada anda."suara lirih Dewi kemudian, mengusik suasana .


"Tapi karena jasa anda dan pengorbanan anda sangat besar terhadap anakku. Membesarkan anakku. Tentunya....dengan sangat susah payah. Maka aku akan paksakan. Aku akan ceritakan pada anda kisah kelamku itu."tutur Dewi dengan suara yang pilu.


"Tapi bolehkah aku minta syarat terlebih dulu?"tanya Dewi sambil memandang Dafa. Tentu...dengan mata yang sembab.


"Apa syaratnya?"tanya Dafa antusias!


"Anda jangan menceritakannya kejadian ini pada orang lain. Biar yang tahu cuma kita berdua. Setuju?"


Dafa mengangguk. "Ya."


Dewi Amoy menyeka matanya yang masih terlihat sembab. Lalu dia tertunduk menekuri permukaan meja. Entah apa yang dia lihat di sana Entah apa yang sedang dicarinya.?


Untuk sekian menit suasana pun agak lengang. Dan terasa mencekam.


Dafa tidak henti-hentinya memperhatikan wanita itu. Batinnya ingin mencari tahu perasaan yang sedang berkecamuk di dada sang artis itu. Namun....gagal!

__ADS_1


"Dulu aku ini adalah penyanyi kampung yang sering bernyanyi dari panggung ke panggung. " Dewi memulai kisahnya. Suaranya yang perlahan dan terasa getir itu melukiskan seberapa pedihnya hatinya saat itu. " Aku tergabung dalam grup dangdut Cahaya Musik."suara Dewi terhenti sesaat. Menghela napas berulang kali. Dan tatapan matanya menerawang jauh ke depan. Menerobos dinding kamar.


"Hidup sebagai seorang biduan kampung itu terus kujalani bertahun-tahun. Suka maupun duka yang datang kuanggap sebagai tantangan." Dewi melirik Dafa yang masih terpaku. Memastikan apakah laki-laki itu masih setia mendengarkannya. Atau sudah tidak lagi peduli.


"Hingga tibalah saat itu."tutur Dewi lagi.


"Maksud Dewi?"


Dewi mengibas-ngibaskan rambut panjangnya. Desah-desah napasnya terdengar bagai jeritan lara yang sangat menyayat. Hatinya seperti sedang menahan sakit. Perih. Ngilu....!!


"Suatu ketika, aku berkenalan dengan seseorang yang mengaku sebagai produser rekaman. Dia mengatakan suaraku ini unik. Punya kekhasan yang jarang dimiliki oleh penyanyi lain. Menurutnya...aku pasti akan jadi penyanyi terkenal kalau dibimbing oleh ahlinya. Selanjutnya dia pun bersedia untuk mengorbitkanku. Dia akan meminta ke pencipta lagu untuk menggubah lagu yang sesuai dengan karakter suaraku "


Di luar hujan mulai lebat. Udara makin terasa dingin. Untuk sementara Dewi menahan ceritanya. Waktu pun berlalu tanpa terasa.


"Lalu?" Dafa tampak penasaran. Cerita itu harus tuntas. Cerita itu jangan cuma separo.


"Diiming-imingi kesuksesan. Ketenaran. Uang yang berlimpah, membuat aku jadi gelap mata. Aku jadi terbuai oleh mimpi-mimpi itu. Hingga tanpa pikir panjang lagi, aku mengikuti ajakannya untuk ikut dia."


Dewi kemudian terisak-isak.


"Beberapa bulan kami pun tinggal bersama di satu rumah yang lumayan mewah. Tapi janji dia untuk membawaku ke dapur rekaman tidak kunjung ditepati. Dia selalu berkilah. Belum ada lagu yang cocok untukku."


"Kalian hidup berdua layaknya suami istri?" Dafa penasaran.


Dewi tidak menjawab pertanyaan itu. Dia malah semakin terisak-isak. "Aku sangat menyesal." Dewi memukul meja dengan tangannya. Melampiaskan rasa kalutnya ."Ternyata dia itu laki-laki brengsek! Ternyata dia cuma menghendaki tubuhku. Ternyata semua janjinya itu tipu belaka! " Dewi agak histeris. Suara tangisnya tidak mampu dia tahan lagi.

__ADS_1


Dafa larut dalam pikiran Dewi. Mendalami perasaan Dewi. Pasti... perempuan ini batinnya sedang terguncang. Dan tercabik-cabik...!!


"Dan jahatnya lagj, dia malah kabur dari rumah itu saat aku menuntutnya untuk segera menikah, karena saat itu aku sudah hamil."


"Kabur dari rumah itu? Bukankah itu rumahnya?"tanya Dafa tak habis mengerti. Seraya kening lelaki itu dikerutkan


"Ternyata itu bukan rumahnya."


"Maksud Dewi?"


"Rumah itu ternyata rumah yang dia sewa. Seminggu setelah dia pergi, tiba-tiba datang orang yang punyanya. Untuk menagih uang sewa. Karena aku tidak punya uang sebesar yang dimintanya, maka saat itu juga, aku disuruh angkat kaki dari tempat itu."


Terasa miris, setidaknya itu yang Dafa rasakan. Laki-laki yang tidak berperasaan. Dasar...!! Sudah menipu. Sudah memanfaatkan tubuh seorang perempuan. Bahkan sampai hamil malah. Bukannya bertanggung-jawab. Eh..malah pergi dan meninggalkan perempuan itu tanpa tempat tinggal. Apa dia lahir bukan dari rahim seorang perempuan? Coba kalau ibunya yang dibegitukan, apa dia mau?!!! Apa dia terima....!!!!


"Aku pun segera pergi dari rumah itu tanpa tahu akan kemana,?" Kenang Dewi sambil terisak. Hatinya sangat sakit. "Mau pulang ke orang tua, aku tidak berani. Selain aku malu, aku juga takut."


Dafa mencoba menenangkan Dewi, dengan mengusap lengannya yang terkapar di atas meja.


Tangis Dewi sedikit agak mereda. Kemudian memandang mata laki-laki yang tampak merasa iba akan nasibnya saat itu. Tanpa disadari perlakuan Dafa itu melahirkan satu kekuatan tersendiri bagi Dewi. Energi positif..!


"Beruntungnya aku saat itu masih punya sedikit perhiasan. Aku pun segera menjualnya. Uang hasil penjualan itu, aku gunakan untuk mengontrak sepetak kamar. Dan sisanya aku gunakan untuk biaya hidup sehari-hari."cerita Dewi terpotong sejenak untuk menghela napas panjang. "Dan aku tinggal di kamar kost itu sampai aku melahirkan."


Dafa semakin larut dalam cerita itu. Seperti melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri. Duka yang dirasakan Dewi seperti juga menjadi bagian dari perasaannya.


"Tepat seminggu setelah aku melahirkan. Setelah tubuhku sudah mulai punya daya. Di tengah malam aku pergi dari kamar kost itu. Karena aku malu pada orang-orang sekitaran yang memandangku nyinyir. Mencemoohkanku. Mereka mencapku sebagai wanita murahan. Wanita asusila. Punya anak .....tidak ada bapaknya!"

__ADS_1


Dafa menggeleng-gelengkan kepalanya. Kisah yang memilukan dari perjalanan sang artis menusuk hatinya. Mendatangkan keprihatinan yang dalam.


*****


__ADS_2