
Menjelang tengah malam, Nur sudah tertidur pulas dengan jarum infus yang masih tertancap di pergelangan tangannya. Sementara... Arini pun sedang tertidur pulas, di atas lantai beralaskan selembar karpet. Mungkin...perempuan itu kali ini sedang dibuai oleh mimpinya
Dafa masih terjaga. Matanya serasa sulit untuk dipejamkan. Terlihat dia duduk di pojok ruangan sambil memainkan hpnya, sekedar untuk mengurai beragam kecamuk yang ada di dadanya. Dan melupakan masalah yang sedang dihadapinya.
Saat Dewi Amoy mendekat sambil menyuguhkan secangkir kopi, Dafa agak terkesiap. Tidak menduganya!
"Anda suka kopi 'kan?"tanya sang artis seraya meletakkan cangkir kopi di depan Dafa
"Kenapa repot-repot? Saya bisa membuat sendiri koq" timpal Dafa merasa tidak enak. Pelan-pelan Dia mengangkat matanya. Berpaling dari hpnya.
"Nggak repot koq. Aku buatnya sekalian dua cangkir. Satunya buat aku. Satunya buat anda." Dewi kemudian mengambil tempat duduk di sebelah Dafa. "Biasanya kalau minum kopi kuat melek. Biar kita bisa begadang menunggui Nur sampai pagi. Ayo diminum."
"Oya, terima kasih."
"Ini. .. aku bawakan juga kacang garing buat camilan."
Ketika Dewi Amoy mengangkat cangkirnya, Dafa pun berbuat yang sama. Isi dalam cangkir itu di sruputnya perlahan. Mulutnya seketika menjadi basah. Menjalar sampai ke tenggorokan. Hangat dan nikmat. Dan benar, .....matanya tambah melek lagi.
"Anak anda pergi dari rumah sudah semingguan? Betul?"tanya Dewi setelah meletakkan cangkirnya di lantai.
"Betul. Aku dan Bu Arini terus mencarinya. Tapi tidak pernah ketemu."
Dewi Amoy menghirup napas panjang. Berpikir beberapa detik. Dan terus memainkan jemarinya yang lentik.
"Apa penyebab minggatnya Nur? Apa anda mengusirnya?"
"Tidak. "
"Atau anda memarahinya?"
"Tidak, saya tidak memarahi dia."
"Lantas?"
"Dia kecewa pada saya."
__ADS_1
"Kecewa?"
"Iya "
"Kecewa karena apa?'
Dafa sejenak terdiam menghirup napasnya. Kemudian matanya mengembara menatap langit-langit kamar.
"Apa yang membuat Nur kecewa pada anda?"tanya Dewi lagi. Mengulangi. Penuh penasaran...!
"Saya belum memenuhi permintaannya."jawab Dafa kemudian. Datar. Dan setelah itu, Dafa menarik napas dalam.
"Emang apa permintaan Nur?"
"Berziarah ke makam mamahnya."
"Oh...."desah sang artis. Terlihat agak terkejut. Aneh! Batinnya berkata, permintaan sesederhana itu kenapa tidak segera dikabulkan? Sampai-sampai.....anak gadisnya kecewa dan pergi dari rumahnya .
"Tapi tadi saya sudah berjanji pada Nur. Begitu Nur sembuh akan saya ajak untuk berziarah."
Dewi terlihat manggut-manggut. Sedetik kemudian membuang napasnya jauh-jauh . Suasana senyap seketika. Mungkin mereka sedang dipermainkan oleh pikirannya masing-masing.
Dewi tiba-tiba mengambil cangkirnya lagi. Menuangkan isinya ke dalam mulut. Kemudian meletakkan kembali cangkirnya di atas lantai. Sambil menghirup napasnya sepenuh dada.
"Aku jadi sangat iba pada Nur. Sudah ditinggal mati sama ibunya. Keinginannya untuk ziarah belum kesampaian. Kini,.....aku mencelakainya. Membuatnya menahan rasa sakit."suara sang artis merintih. Menahan sedih. "Aku sungguh sangat menyesal."
"Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Yang penting anda mau bertanggung jawab. Saya tidak akan menghujat anda. Karena anda pun sebenarnya tidak sengaja bukan?"
Dewi menggeleng. Matanya menerawang jauh ke depan. Ke dipan tempat Nur berbaring. Gadis kecil yang kini masih terlelap pulas.
"Malam itu..... aku ada show di alun-alun Haugeulis. Pukul 12 malam aku pamitan pada teman-teman dan kru, untuk pulang lebih dahulu, karena paginya aku akan teken kontrak untuk show berikutnya di Jakarta ." Dewi tanpa diminta, menuturkan kejadian itu.. "Dengan mengendarai mobil, aku terus menyusuri jalanan yang sudah sepi . Sudah sangat sepi '
Dafa dengan seksama dan antusias mendengarkan penuturan Dewi. Kisah yang membuat penasaran. Sesekali sambil ngemil kacang garing. Dan sesekali menyruput kopinya.
"Tapi naas...." Dewi agak menahan suara pilunya. Goresan lukanya. "Di jalanan yang di sampingnya ada komplek makam, tanpa diduga tiba-tiba muncul seorang anak yang lari dari dalam komplek makam itu ke jalan. Aku berusaha mengerem mobilku. Tapi tetap masih membentur anak itu. Aku segera turun dari mobil, meskipun dengan diselimuti rasa takut yang sangat. Kemudian tanpa pikir panjang lagi
__ADS_1
.... anak itu aku bawa ke sini."
Dafa tertegun mendengar cerita itu. Ternyata kecelakaan itu terjadinya. di sekitaran makam. Dafa akhirnya mengerti. Mungkin Nur waktu itu sedang berkelana dari satu makam ke makam lainnya. Untuk mencari lokasi makam mamahnya. Kemungkin di malam itu..... ada sesuatu yang membuatnya takut. Bisa jadi ...dia mendengar suara aneh atau mungkin saja melihat penampakan yang aneh.
Hal itu tentu saja membuat Nur segera berlari keluar dari komplek makam itu. Dan tentu saja....dengan sangat terburu-buru. Selanjutnya terus berlari ke arah jalan raya dengan tanpa memperdulikan apa pun.
Bersamaan dengan itu sebuah mobil meluncur melintas di jalan Dan .......peristiwa kecelakaan itu pun tidak terhindarkan lagi.
"Setelah aku bawa Nur ke rumah sakit. Aku mengundang seorang wartawan, temanku. Untuk menulis berita tentang kejadian itu. Tujuanku agar keluarga korban segera mengetahuinya. Dan segera menjenguknya. Tapi .....andai korban tidak ada keluarganya. Aku berniat untuk mengangkat dia sebagai anak. Aku akan mengadopsinya." Dewi terus bertutur kata. Lirih. Perih. Sepenuh rasa. Nyata ada kepiluan. Matanya terlihat mulai basah.
"Oya, ibunya Nur meninggal saat melahirkan Nur?"tanya Dewi antusias. Matanya yang terlihat masih sembab mencoba menatap Dafa. Ingin mendapati kejelasan yang akurat.
"Iya" Angguk Dafa
"Anda pernah menziarahi kubur almarhumah?"
"Belum pernah"
"Kenapa semudah itu anda melupakannya? Apa anda tidak mencintainya?"
"Sebetulnya....ada keinginan untuk berziarah. Cuma belum sempat. "
"Anda masih ingat di mana letak makamnya?"
"Mudah-mudahan masih."
"Mudah-,,mudahan masih?"tanya Dewi heran. "Sepertinya anda merasa ragu bisa menemukannya."
"Nanti akan saya ingat-ingat "jawab Dafa kemudian.
"Aku doakan...semoga anda bisa menemukan makam istri anda."
"Amin...."jawab Dafa sigap.
Selanjutnya...artis cantik itu kemudian diam termenung. Di pikirannya serasa ada yang melintas. Seperti ada menghantui pikirannya. Sang artis cantik itu....!
__ADS_1
Sementara itu...Dafa di tempat duduknya. Di pojok ruangan itu, juga tidak berbicara lagi. Mulutnya dikunci rapat. Hanya saja.....pikiran laki-laki itu tidak dibiarkannya untuk diam. Pikirannya terus diperas untuk bekerja keras. Tujuannya cuma satu......agar sandiwara yang sudah direncanakannya bisa sukses. Sekali lagi....bisa sukses.. .!!
*****