
Begitu sampai rumah. Dafa bergegas mengeluarkan motornya untuk menuju rumah sakit tempat Nur dirawat. Tidak ganti pakaian dulu. Tidak mandi dulu. Bahkan cuci muka pun tidak. Tidak kepikiran. Yang ada dipikirannya cuma satu. Segera menemui Nur. Melihat kondisinya. Menungguinya sampai sembuh.
Sementara, tubuhnya yang masih cape tidak dihiraukan. Tidak dirasakan...!!
Bayangan yang menakutkan yaitu tentang kematian Nur. Berulangkali menyayat pikirannya. Memang Nur bukan siapa-siapanya. Tidak ada hubungan darah. Hanya sebatas ee.....anak yang ditemukannya. Tapi untuk kehilangannya....rasanya amat berat!. Dafa sudah mencintai Nur bagai anaknya sendiri. Bagai darah dagingnya sendiri.
Keinginan untuk segera tiba. Keinginan untuk segera menemui si gadis kecilnya, mendorong Dafa untuk melarikan motornya amat cepat. Seperti kilat. Semua kendaraan yang melaju di jalan itu disalipnya. Banyak pengendara yang kesal dan ngomel-ngomel karena ulahnya itu Tapi Dafa tidak peduli.
Sampai di rumah sakit, Dua segera menuju ruang informasi untuk menanyakan di kamar nomor berapa Nur dirawat. Tidak lama kemudian Dia sudah berjalan menyusuri koridor rumah sakit untuk menuju kamar di mana Nur terbaring sakit.
Terlihat olehnya di kamar itu gadis kecilnya sedang terbaring lemas dengan mata terpejam. Ditangannya ada jarum infus yang menusuk.
Dan saat Dafa mengawasi ruangan itu lebih teliti. Dalam sekian detik. Dia agak terperanjat. Dan terpana! Karena terlihat di samping dipan Nur, ada seseorang yang terduduk dengan wajah membenam di dipan itu. Letak wajah itu amat dekat dengan tubuh Nur. Seperti tidak ada jarak. Dafa meneliti dengan waspada. Ternyata yang punya wajah itu sedang tertidur pulas. Mungkin semalaman kurang tidur, untuk menjagai Nur. Dia yang sedang menunggui Nur itu ternyata ....Ibu Arini.
Dafa memasuki kamar itu amat hati-hati. Karena takut mengganggu tidurnya. Kakinya agak diseret. Biar tidak bersuara. Tapi ternyata usahanya sia-sia. Yang punya wajah itu terbangun. Perlahan mengucek matanya. Terlihat agak terkejut begitu tahu ada yang datang.
"Oh Bapak sudah datang. Syukurlah" Wanita itu agak gugup "Sudah lama Pa?"
"Barusan "jawab Dafa sigap. Sekilas menatap wajah wanita itu. Hatinya sempat berbisik " Nih perempuan tidak bermake up koq masih tampak cantik yah. Bibirnya tetap merah merona walau tanpa lipstik. Seperti buah delima yang matang. Pipinya walau tidak pakai bedak tetap terlihat putih mulus dan cerah. Alisnya......oh my God rapih banget. Tebal banget. Matanya pun tajam seperti mata pisau. Menikam jantung laki- laki yang bersitatap denganya. Pasti!
Dafa mendekati tubuh Nur. Kemudian tangannya mengusap rambut gadis kecil itu. Membelai dahinya. Pipinya. Lalu berpaling ke arah Bu Arini. "Bagaimana kondisi Nur, Bu?"
"Dokter tadi bilang. Masa kritisnya sudah terlewati. Sekarang sedang masa penyembuhan."
"Oh. Syukurlah."batin Dafa nampak lega. Demam berdarah adalah penyakit yang mematikan. Saat masa kritis jika terlambat ditangani atau salah dalam menanganinya nyawa akan melayang. Dafa bersyukur Nur telah ditangani dengan tepat dan benar. Insya Allah akan selamat. Insya Allah akan segera sembuh.
Setelah itu. Kini Dafa dan Ibu Arini tidak bicara lagi. Mereka memilih diam. Sepertinya keduanya masih canggung untuk saling bertutur kata. Lidahnya masih kelu.
Dafa kemudian memilih duduk di kursi kosong yang ada di pojok. Menghela napas berkali-kali. Melerai beragam perasaan yang ada. Memandangi lantai keramik yang membisu.
"Oya Bu" Tiba-tiba suaranya mengejutkan. "Barangkali Ibu mau pulang. Mau istirahat di rumah....silahkan. Nur biar saya yang menjaga "
Bu Arini memandang Dafa dengan mata yang sayu. Cuma sekilas. Kemudian kepalanya menggeleng. "Saya ingin tetap menjaganya sampai Nur sembuh."
"Ibu 'kan harus mengajar?"
"Saya sudah minta ijin pada kepala sekolah"
"Ibu 'kan harus istirahat."
" Istirahat? Tidur maksud Bapak? Kalau cuma tidur mah 'kan di sini juga bisa. Tadi 'kan Bapak juga lihat saya tidut di samping dipan ini:"
Dafa dibuatnya jadi terpana. Sebegitu dalamnya perhatian Ibu Arini terhadap Nur. Terasa aneh! Wanita itu demi Nur mau berkorban sebesar itu. Sedalam itu...!Mengabaikan kepentingan dirinya, hanya untuk salah satu muridnya
"Saya tidak tega meninggalkan Nur. Takutnya jika Nur ingin pipis atau buang air besar. Walaupun Bapak itu adalah ayahnya. Tapi Bapak 'kan laki- laki. Pasti Nur akan merasa risih atau malu kalau Bapak yang melayaninya." Bu Arini memberi alasan.. "Jadi biarkan saya tetap di sini"
Ya ya. ...Dafa mengerti apa yang dimaksud Ibu Guru. Hatinya tambah terharu. "Terima kasih atas perhatian Ibu untuk Nur"
Wanita itu cuma menghela napas
Dafa pun tidak berbicara lagi . Kemudian matanya mengitari seisi ruangan Tiba-tiba Dia tersadar. Ternyata di ruangan itu tidak ada makanan atau bahkan sisa-sisa makanan. Oh...my God, berarti Bu Arini belum makan. Ternyata untuk membeli makanan pun , tidak dia lakukan. Mungkin karena tidak tega meninggalkan Nur sendiri. Oh!
Segera Dafa bangun dari kursinya "Ibu ...saya tinggal dulu ya?"
"Kemana Pa?"
"Beli makanan Bu." Dafa segera berlalu. Kemudian tidak berapa lama sudah datang lagi dengan mencangking tas kresek yang berisi nasi bungkus. Air mineral. Dan beberapa bungkus kue kering.
Bu Arini menolak nasi bungkus yang Dafa tawarkan dengan menggelengkan kepala. "Bapak saja yang makan. Biar saya mah nanti saja"
"Ibu harus makan. Jaga kesehatan Ibu Jangan sampai gara-gara menjagai Nur, Ibu jadi sakit."Dafa agak kecewa
"Saya sedang nggak selera."
"Kalau Ibu sakit. Nur pasti akan sedih lho. Ibu rela melihat Nur sedih?"bujuk Dafa. Ternyata itu adalah bujukan yang mujarab. Sebab Bu Arini akhirnya mau menerima bungkusan itu. Dan langsung menikmatinya. Soalnya Bu Arini tidak mau Nur sedih. Agar Nur tidak sedih, dia harus sehat. Kalau ingin sehat perlu ada asupan makanan. Tidak berselera, harus dipaksa! Harus .... !!!
*****
Malam terasa dingin menusuk. Angin yang bertiup bagai membawa butiran-butiran salju. Mendung yang sejak sore tadi bertengger di langit perlahan-lahan runtuh. Bermetamorfose menjadi rintik-rintik air yang jatuh menyapa genting.
Dafa yang sejak ba'da isya duduk di luar ruang perawatan Nur, terlihat kedinginan. Jaket yang dikenakannya dirapatkan ke tubuhnya. Berulangkali Dia membetullkan relsletingnya untuk memastikan kalau jaketya itu tidak terbuka. Dan tertutup rapat!
Suasana rumah sakit sudah senyap. Para penjenguk sudah pada pulang sejak beberapa jam yang lalu. Yang tertinggal cuma para penunggu yang sekarang berada di ruangan masing- masing. Di ruangan tempat sanak keluarganya yang dirawat inap.
Sebenarnya Dafa ingin masuk ke dalam ruangan untuk mengurangi rasa dingin yang dirasakannya itu. Tapi hati kecilnya gamang Rasanya kurang pantas atau kurang etis berada dalam satu ruangan bersama Bu Arini. Bukan apa-apa. Takutnya Bu Arininya merasa risih.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Dafa meliriknya. Bu Arini berdiri sambil memegangi daun pintu. Matanya memandang Dafa dengan sayu.
"Saya mau bicara dengan Bapak. Bisa?"tanyanya kemudian. Agak dipaksakan.
__ADS_1
Dafa agak terkejut.. "Oya, Bu.......silahkan"
Wanita itu perlahan melangkah. Kemudian menempati kursi yang berada di samping tempat yang Dafa duduki.
Beberapa saat lamanya ada jeda waktu. Kesenyapan untuk sementara berkuasa. Bu Arini seperti agak berat menyampaikan apa yang ingin diutarakannya. Berulangkali menghela napas. Berulangkali memompa kekuatan.
Sementara di depan sana, gerimis terus turun. Kecil-kecil tapi rapat.
"Sebelum sakit, Nur minta tolong pada saya untuk membujuk Bapak." Akhirnya Bu Arini mampu juga menyampaikan maksud dan tujuannya.
Dafa agak heran dengar kalimat itu. Tidak mengerti jelas. Ke mana arah pembicaraan Ibu Arini
"Maksud Ibu?"tanyanya dengan dahi dikerutkan.
"Kata Nur. Nur sudah berkali-kali ngomong ke Bapak agar diantarkan ke makam ibunya. Untuk ziarah. Untuk mendoakan almarhumah. Tapi Bapak belum pernah mengabulkannya. Bapak selalu janji. Ada saja alasannya. Bahkan ketika Nur bilang ' Kalau Bapak tidak ada waktu. Nur akan ziarah sendirian asal Bapak kasih tahu letak kubur mama' Tapi itu pun Bapak tetap tidak mengabulkan. Betul seperti itu Pa?" Bu Arini menatap tajam kearah Dafa. Ingin tahu jelas dan gamblang jawaban Dafa.
Dafa tertunduk seketika. Kepalanya terasa amat berat untuk ditegakkan. Terasa dipikirannya pun ada yang menggantung. Ada yang membebani. Sangat berat. Sangat.. .... berat!!!
"Benar seperti itu Pa?" Bu Arini mengulang pertanyaannya lagi
Mulut Dafa tidak mampu menjawab. Seperti terkunci. Hanya kepalanya saja yang mengangguk mengiyakan.
Bu Arini mendesah. Jawaban yang didapat dari Dafa amat mengecewakan hatinya. Bahkan terasa menyakitkan. Dia terlihat geleng-geleng kepala. Di matanya ada duka. Ada air yang mau keluar..
"Saya sedih atas jawaban Bapak. Saya heran kenapa Bapak bisa sekejam itu pada Nur. Saya sebagai orang yang bernasib sama dengan Nur. Ditinggal mati sejak lahir oleh ibu, bisa merasakan apa yang Nur rasakan." Bu Arini seperti mau menangis.
"Dulu, saya pun pernah meminta ayah untuk mengantarkan ke makam ibu. Dan ayah dengan senang hati menuruti kemauan saya. Bahkan selanjutnya seminggu sekali ayah mengajak saya untuk ziarah ke makam ibu. Kami berdoa disana. Agar arwah almarhumah diampuni semua dosa-dosanya. Diterima amal baiknya. Dan ditempatkan di tempat yang indah"lanjut Bu Arini.
Di halaman rumah sakit. Gerimis sudah berubah menjadi hujan. Angin sudah semakin dingin. Dafa terlihat menggigil. Tapi sejatinya bukan karena pengaruh hawa itu yang membuatnya tersiksa itu. Tapi konflik yang sedang berkecamuk dihatinya yang menyebabkannya!
Dafa mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Ibu Arini. Hanya saja, ada satu hal yang tidak Ibu Arini ketahui apa yang sesungguhnya terjadi?.
"Nur pun pernah bilang. Dia tidak pernah melihat photo ibunya walau cuma satu lembar. Karena katanya Bapak telah melenyapkan semua photo tentang ibunya. Alasan Bapak, katanya agar bisa move on lagi. Betul apa yang disampaikan Nur Pa?" Bu Arini ingin mengorek lebih dalam lagi. Sangat antusias!
Dafa makin menggigil kedinginan. Ibu Arini masih menunggu jawabannya. Tapi Dafa tidak mampu menjawab dengan kata. Dia hanya mengangguk lemah. Amat lemah.
"Oh kasihan sekali nasibmu Nur. Kasihan sekali nasibmu nak " Bu Arini terisak. Sebagai orang yang sejak bayi ditinggal pergi oleh ibunya. Tidak pernah kenal belai kasihnya. Itu sudah cukup membuat hati amat sedih. Bisa melihat wajah ibu dalam photo. Bisa ziarah ke makam ibu sedikit- banyak bisa mengurangi beban duka itu. Mengurai kepiluan itu...!
"Saya mohon dengan sangat ke Bapak. Nanti kalau Nur sudah sembuh ajak dia ke makam ibunya. Luangkan waktu walau sebentar. Kalau memang perlu, saya juga siap diajak. Kita bertiga ziarah. Berdoa untuk almarhumah." Bu Arini memutus kata- katanya. "Bisa kan Pa? Bisa kan Pa?! Bisa kan?!"
Dafa mendesah. Beberapakali mendesah. Berusaha menguatkan diri untuk bertutur kata. Tapi Dia nampak ragu harus memulainya dari mana. Diam sekian lama. Berpikir lama. Lalu bibirnya bergetar. " Saya harus tunjukkan Nur pada kuburan mana? "
"Maksud Bapak.?" Ibu Arini terlihat bingung.
"Jadi istri Bapak pergi meninggalkan Nur, saat masih bayi. Gitu?"
"Sebelumnya saya minta maap, jika saya akan berkata jujur pada Ibu."
"Oya, silahkan Pak. Justru itu yang saya tunggu."
"Saya itu sebenarnya belum pernah punya istri"
Bu Arini semakin bingung. "Jadi Nur bukan anak Bapak?"
Dafa terdiam untuk beberapa saat. Matanya menatap air yang turun dari langit. Membiarkan waktu berjalan dalam bisunya kata. Tapi tidak dengan suara hati.
"Sebenarnya saya tidak mau bercerita pada siapa pun. Tapi berhubung Ibu telah menyudutkan saya. Terpaksa saya jelaskan pada Ibu, siapa sebenarnya Nur itu?"tutur Dafa kemudian. Setelah menimbang-nimbang untung ruginya.
"Ceritakan pada saya Pa" pinta Bu Arini.
Setelah mengambil napas. Dafa mulai bercerita pada Bu Arini. Sejak awal sampai saat ini. Sejak tujuh tahun yang lalu. Saat Dia menemukan seorang bayi merah di bak truknya.
Bu Arini mendengar cerita itu dengan seksama. Kepalanya terus mengangguk-angguk. Dia baru tahu . Mengapa Dafa sulit mengabulkan Nur untuk ziarah ke makam ibunya. Dan mengapa Dafa tidak bisa menunjukan sebuah photo ibunya Nur .
"Saat umur Nur sekitar lima tahunan. Nur menanyakan tentang ibunya. Waktu itu saya jawab ' ibunya mati saat melahirkannya'. Karena menurut saya itulah jawaban yang paling aman dan mudah diterimanya" Dafa terdiam sesaat. Mungkin untuk berpikir dulu. "Dan saya pikir tidak akan ada masalah. Tapi belakangan ini baru saya ketahui. Ternyata jawaban saya itu melahirkan masalah baru. Ya, ketika Nur minta diantar ke makam ibunya. Saya bingung apa yang harus saya perbuat?"
Dafa tampak menelan ludah yang mengering di kerongkongannya. "Apa saya harus menunjukkan makam orang lain .Dan mengatakan pada Nur kalau makam itu adalah makam ibunya ?" Dafa seperti ingin melemparkan pertanyaan itu untuk Ibu Arini.
"Mau membohongi Nur?"tanya Bu Arini seperti kurang setuju.
"Atau kalau Ibu punya solusi. Tolong bantu saya."
Bu Arini menghela napasnya. Wajahnya terlihat bingung. Dahinya dikerutkan seperti sedang mengerjakan soal ulangan yang sangat sulit. Perkara yang rumit.
"Ibu punya jalan keluar?" Dafa kembali bertanya.
Wanita disampingnya menggeleng-gelengkan kepalanya. Merasa bingung. Mencari jalan keluar yang sulit. Seperti mengurai benang kusut.
*****
__ADS_1
Setelah mendapatkan perawatan dan pengobatan beberapa hari di rumah sakit. Kini Nur Hasanah sudah sembuh total. Bisa beraktifitas lagi. Bisa berangkat sekolah lagi.
Sementara perlakuan Ibu Arini pada gadis kecil itu tetap sama seperti dulu. Cintanya. Sayangnya. Perhatiannya. Walaupun saat ini Bu Arini sudah tahu siapa sebenarnya Nur itu?
Dafa pun begitu. Cintanya. Sayangnya. Dan perhatiannya pada Nur tidak kurang sedikitpun.
Justru yang sikapnya agak berubah adalah Nur. Gadis kecil itu kini sering murung. Tidak periang seperti dulu. Tidak lagi suka bercerita pada Dafa menjelang tidurnya. Tawanya. Candanya pergi entah kemana?,
Tetapi Dafa tidak curiga apa-apa pada perubahan itu. Dia anggap wajar. Mungkin suatu saat nanti juga akan kembali seperti dulu lagi. Tapi harapan Dafa ternyata sia-sia. Gadis itu makin hari makin parah perubahannya. Sampai pada akhirnya gadis itu tiba-tiba pergi dari rumah.
Saat itu Dafa pulang kerja. Nur yang biasanya menyambutnya di depan pintu tidak terlihat Kemudian Dafa membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Berjam-jam di dalam rumah. Nur belum pulang-pulang. Dafa berpikir mungkin Nur masih di rumah Ibu Arini.
Menjelang malam , barulah Dafa menelpon Bu Arini. Menanyakan keberadaan Nur.
"Bu mau nanya. Apa Nur masih di situ?"
" Sudah pulang Pa. Sejak habis subuh"
"Ke mana ya anak. Di rumah tidak ada."
"Tidak ada Pa?"
"Iya Bu " Dafa nampak bingung. Dia mondar-mandir tidak karuan. Setiap ruangan rumah itu diperiksanya dengan teliti. Barangkali saja Nur ada di situ. Tapi ternyata tidak ada. Dia makin gelisah. Pikirannya mulai dihantui oleh hal-hal yang tidak-tidak. Ya .....penculikan anaklah. Ya.... pembunuhan lah. Ya...... jual-beli anaklah. Dan lain-lain.
Ya Allah kemana anak itu?Batinnya terus merintih. Sebelum akhirnya Dafa menemukan selembar kertas yang terletak di bawah gelas kopi yang ada di meja.
"Pah....ijinkan Nur pergi. Terima kasih atas perlakuan papah selama ini." Dafa membaca surat itu dengan sangat terkejut. Oh Tuhan...kenapa kamu pergi nak?
Buru-buru Dia hubungi Ibu Arini. "Bu ternyata Nur minggat!"suaranya hampir menangis.
"Bapak tahu darimana?"
"Surat yang Nur letakkan di bawah gelas kopi."
"Oh. Jangan-jangan kertas yang tadi ada di atas mejaku juga surat dari Nur" Bu Arini ingat pada sesuatu.
"Maksud Ibu?"
"Ada selembar kertas yang terletak di samping laptopku. Belum sempat saya baca."
"Coba baca Bu. Barangkali benar surat dari Nur." Dafa nampak penasaran. Hatinya berdebar-debar tidak sabar.
"Benar Pa dari Nur. Saya baca ya ' Buat Ibu guruku yang baik hati.... Nur sangat berterima kasih atas kebaikan Ibu selama ini. Biarkan Nur pergi. Nur akan mencari makam mamah. Tanpa minta bantuan siapa pun'"
Oh Tuhan, keluh Dafa. Ternyata Nur minggat karena permintaannya tidak pernah dikabulkan. Sebenarnya permintaan yang sederhana sih. Hanya ingin ziarah kubur. Tetapi bagi Dafa justru sangat sulit untuk mewujudkannya. Karena Ibunya Nur Hasanah belum tentu sudah mati. Dan kalau sudah mati pun dikuburnya dimana?. Dafa tidak tahu.
"Saya akan mencarinya."kata Dafa tiba-tiba dengan nada panik.
"Saya ikut."timpal Bu Arini dari seberang telpon.
Dafa terkejut. "Inikan sudah malam Bu. Ibu tidak usah ikut."
"Apa Bapak kira. Bapak saja yang khawatir gitu. Saya juga sangat khawatir Pa"
"Tapi....?"
"Kalau Bapak tidak ajak saya mencari Nur. Saya akan berangkat sendiri"
"Jangan Bu. Jangan sendirian. Nanti ada apa-apa."
"Kalau begitu. Bapak jemput saya"
"Iya Bu."
Akhirnya mereka berdua berboncengan motor menerobos kegelapan malam. Angin yang dingin menyapu mereka tanpa ampun. Menyusuri setiap jalan. Bahkan gang-gang sempit. Kalau ada orang yang kumpul-kumpul ditanyai barangkali menjumpai atau melihat seorang gadis kecil yang lewat. Sambil menunjukkan ciri-ciri si gadis.
Berjam-jam mencari. Malam pun sudah melewati tengah malam. Tapi yang dicari belum ketemu. Bahkan tanda-tandanya pun belum ada. Dafa dan Ibu Arini makin gelisah.
"Kita harus mencari ke mana lagi Bu?"tanya Dafa agak frustasi. Mereka tengah duduk beristirahat di pos ronda yang kosong.
"Entahlah." Ibu Arini pun sama. Frustasi.
Akhirnya keduanya terdiam. Keheningan malam bersatu dengan keheningan mereka. Sekian lamanya. Hati mereka yang panik membuat mereka sulit untuk berkata-kata.
Hidup benar-benar penuh misteri. Siapa sangka akan seperti ini?. Siapa sangka Nur akan minggat? Siapa sangka Dafa dan Ibu Arini harus keluyuran malam-malam untuk mencarinya? Di malam yang sangat dingin. Siapa sangka.?!
Dafa mencoba memahaminya. Inilah barangkali jalan hidup yang sudah digariskan. Seperti dulu juga Dia harus memahami garis hidupnya. Saat menemukan bayi merah di bak truknya. Saat cintanya dengan Sulis kandas karena kecurigaan Sulis yang berlebihan. Saat menyaksikan Sulis menikah dengan lelaki lain Saat Dia harus mengurusi Nur. Saat....
Ah. Tiba-tiba pikiran Dafa terputus . Saat bahunya terasa berat. Diliriknya perlahan. Ternyata di bahunya bersandar kepala Ibu Arini. Rupanya wanita itu tengah tertidur di bahu Dafa karena saking kantuknya.
__ADS_1
Dafa sangat terharu pada wanita itu. Demi Nur. Demi muridnya mau berjuang seberat ini. Sungguh mulia hatimu Bu. Batinnya. Sementara kepala Bu Arini yang bersandar di bahunya dibiarkannya dan tidak mau mengganggunya. Sampai kapan pun!
*****