
Mendengar ******* napas yang agak keras, yang terdengar dari ruang sebelah, mengagetkan Dafa . Laki-laki yang sejak tadi terfokus mengamati Dewi dan Nur yang masih berpelukan erat itu, pelan-pelan bergeser dari tempat berdirinya.
Kemudian kakinya digerakkan untuk menuju suara tadi. Tentu saja.....dengan hati yang penuh tanda tanya
Di tempat itu, di ruang keluarga yang hanya dibatasi tembok dengan ruang tamu, terlihat Arini duduk di sofa dengan wajah murung. Kesal. Dan cemberut.
Mata perempuan itu kelihatan berkaca-kaca. Kelihatan ada yang melukai hatinya. Ada rasa sakit di sana. Dafa tak bisa mengerti. Apa gerangan pemicunya?
Pelan-pelan laki-laki itu duduk di samping Arini. Sambil menatapnya lembut.
Arini mengusap matanya dengan sapu tangan. Kemudian menatap Dafa dengan sorot mata galak. Dan tidak bersahabat. Tidak seperti biasanya.
"Besok pagi kita pulang'kan?"tanya Arini dengan nada seperti kesal.
"Aku nggak tahu. Terserah Dewi saja."jawab Dafa segera, seraya mengangkat bahu.
"Kalau kalian nggak pulang. Aku mau pulang sendiri. Aku mau naik angkutan umum."sambung Arini kian ketus.
"Lho koq begitu....?" Dafa tampak terkejut. "Kita 'kan berangkat bersama, pulang juga harus bersama dong ."
"Nggak."geleng Arini. "Aku pulang duluan saja....!"
"Emang kenapa, Arini?"
"Biar aku tidak mengganggu kalian."
"Mengganggu ? Maksudmu apa?"
"Biar kalian lebih leluasa."
"Leluasa? Apa maksudnya?"
__ADS_1
Arini membuang napasnya ke udara. Berulang kali. Seperti ada rasa yang ingin dia buang serta. Arini merasa sudah tidak kuat lagi membiarkan rasa itu berlabuh di hatinya. Rasanya teramat perih...!!
Hening sesaat.
"Aku tidak mau mengganggu kebahagiaan kalian."suara Arini kemudian. Datar dan lemah.
"Mengganggu kebahagiaan? Apa maksudmu?"
"Kamu dan Dewi sedang berbahagia 'kan? Kalian sedang merencanakan pernikahan'kan?"'tanya Arini sigap
"Merencanakan pernikahan?"
"Iya. Aku tadi mendengarnya. Kamu mau menikah dengan Dewi."
"Aku dan Dewi mau menikah?" Dafa mengernyitkan keningnya.
"Ya."tukas Arini. "Demi menebus jasamu. Dewi sudah menawarkan dirinya. Dia siap menikah denganmu. Tadi Dewi berkata seperti itu 'kan padamu?"
"Kamu pasti setuju 'kan? " Arini menatapnya "Mana ada sih laki-laki yang bisa menolak tawaran dari perempuan secantik dia. Sekaya dia. Dan setenar dia."
"Kamu yakin aku mau menerima tawaran Dewi?"
"Aku yakin. Pasti."
"Kalau kamu yakin dan berharap aku menikah dengannya. Aku akan menerima tawaran Dewi. Tapi kalau...."
"Kalau apa?!"
" Kalau hatimu terasa sakit karena pernikahan itu. Aku akan menolak tawarannya."
"Kenapa hatiku tersakit?"
__ADS_1
"Benar kamu tidak akan tersakiti?" Dafa menatap kuat ke wajah Arini. Seperti ingin mengorek sesuatu yang tersembunyi di balik wajah itu
Arini tidak menjawab pertanyaan itu.
"Arini....Aku tahu kamu mencintaiku. Seperti kamu juga tahu..aku pun mencintaimu. Kenapa kamu mau membohongi dirimu. Kenapa kamu malah menyuruhku menikah dengan perempuan lain? Kecantikan. Harta yang berlimpahan. Bahkan ketenaran, tidak mampu menggoyahkan rasa cintaku "
Arini tetap membisu. Terlihat ada lelehan air mata yang membasahi pipinya.
"Arini tataplah mataku. Dan jawablah pertanyaanku. Maukah kamu aku lamar untuk menjadi istriku? Ayo Arini jawab?"
Arini tidak mampu menjawabnya. Suasana kembali hening. Matanya yang basah beradu pandang dengan mata Dafa. Lalu tiba-tiba perempuan itu jatuh dalam pelukan Dafa.
"Sepulang dari sini, aku akan menikahimu."tutur Dafa kemudian.
"Secepat itu?"tanya Arini sambil mengangkat wajah dari pelukan Dafa.
"Kalau kelamaan, aku takut kamu diambil orang."
"Papa mau menikah sama ibu Arini?"tanya Nur tiba-tiba. Ternyata gadis kecil itu sudah berada di ruang itu. Sudah sejak tadi.
Dafa dan Arini spontan menatap Nur. Tampak wajah gadis itu amat ceria.
"Nur sangat bahagia mendengar rencana itu. Nur setuju.....banget!" Gadis itu kemudian memeluk Dafa dan Arini.
Untuk sekian lama, mereka bertiga saling berpelukan. Mengumbar rasa bahagia yang membuncah di dada.
"Selamat berbahagia untuk kalian."terdengar suara Dewi tiba-tiba. "Semoga rencana kalian segera terwujud." Dewi memeluk mereka bertiga. "Semoga nanti rumah tangga kalian sakinah, mawadah, warohmah........"
*****
Sekian......
__ADS_1