Cinta kelas orang rendah "catatan sang supir"

Cinta kelas orang rendah "catatan sang supir"
10


__ADS_3

Seorang suster mengantarkan Dafa menuju ruang perawatan yang ditempati korban kecelakaan yang terjadi tadi malam. Sementara Arini terus mengikutinya dari belakang. Koridor rumah sakit dilaluinya agak tergesa-gesa . Langkahnya pun diupayakan agar cepat. Biar segera sampai. Agar rasa penasarannya segera terobati.


Di sebuah ruang perawatan kelas VIP suster itu berhenti. Pelan-pelan tangannya membuka daun pintu kamar. Dafa dan Arini mengikutinya memasuki ruangan itu. Dengan hati yang tentu saja....penuh debaran.


"Betulkah dia anak Bapak?"tanya suster itu sambil menoleh ke Dafa. Mata tajamnya menghujam wajah Dafa


Begitu memandangi wajah pasien. Wajah orang yang terbaring itu, Dafa dapat memastikan. Dan yakin... tidak keliru. Dia yang terbaring di dipan itu......adalah Nur. Gadis kecilnya yang minggat dari rumah tujuh hari yang lalui.


"Nur Hasanah..."suaranya lirih sambil melangkah mendekat. Kemudian tangannya mengusap wajah si gadis dengan iba. Penuh belas kasihan.... sepenuh dada.


Arini perlahan mendekati tubuh Nur juga. Dua bola matanya mulai berkaca-kaca. Sedihkah karena melihat muridnya sedang terbaring sakit. Atau bahagiakah karena gadis yang selama ini dicarinya sudah diketemukan? Hanya Arini yang tahu jawabannya. Bisa jadi itu air mata duka. Bisa jadi juga ..itu air mata bahagia.....!!!


"Nur..... segera sembuh nak. Ibu sayang sama kamu"katanya sambil memegangi kaki sang murid yang terbalut selimut.


Sekian menit kemudian, mata Dafa dan mata Arini tiba-tiba saling bertemu. Lewat mata itu, mereka seperti ingin menuangkan perhelatan perasaan yang kali ini sedang berkecamuk. Antara bahagia dan duka...!!


"Jadi benar pak?"tanya suster lagi.


"Betul sus. Dia anakku yang selama ini kami cari."jawab Dafa " Oya sus bagaimana kondisinya?"


"Tadi pagi sudah diperiksa oleh dokter. Kata dokter anak Bapak ini nggak kenapa-kenapa. Hanya ada luka sedikit bekas benturan. Mungkin dua atau tiga hari sudah bisa pulih."


Dafa menghela napas lega ketika mendengar keterangan suster. Rasa khawatir yang tadi membelenggunya lepas seketika. Runtuh bercerai-berai! Pikirannya menjadi ringan melayang. Bagai kapas-kapas yang beterbangan.


"Oya sus, siapa yang menabrak Nur? Apakah orang itu kabur?"


"Maksud Bapak. Tabrak lari begitu?"


"Iya sus."


"Tidak. Malah dia yang mengantarkan anak Bapak ke sini. Dia berjanji akan menanggung semua biaya pengobatan sampai sembuh total."


"Oh, syukurlah.." Hati Dafa menjadi lega.


"Dia adalah seorang artis yang sedang naik daun."


"Maksud sus?"


"Yang menabrak anak Bapak itu seorang penyanyi yang sekarang sedang ngetop dengan singel lagu terbarunya."


"Seorang artis? Siapa dia?"


"Nanti Bapak juga akan tahu."jawab suster merahasiakan. "Sekarang dia sedang ke Jakarta, mau teken kontrak untuk shownya minggu depan. Katanya.... kalau urusannya sudah beres dia akan datang ke sini lagi. Mungkin ya ....habis maghrib-lah."

__ADS_1


Dafa dan Arini senantiasa sabar mendengarkan penjelasan suster dengan kepala yang terkadang manggut-manggut. Sangat serius...!!


Setelah itu, sang suster minta izin untuk meninggalkan mereka.


"Saya tinggal dulu ya Pak, Bu."katanya kemudian. "Kalau nanti perlu bantuan saya....bisa temui saya di ruang jaga.."


"Iya, sus...."


Begitu suster pergi, Dafa memandangi wajah Nur. Wajah itu terlihat kusut dan tidak terawat. Tubuhnya kurus kering. Kurang makan..... tentunya. Membayangkan hari-hari si gadis yang terlunta-lunta entah di mana. Membayangkan hari-harinya makan apa? Membayangkan kalau malam, tidur di mana? Membayangkan hari-hari itu. Hari-hari kepergiannya, membuat batin Dafa seperti tersayat-sayat. Sangat sakit. Ingin rasanya menangis.


Hanya saja.....kali ini Dafa berusaha menahan tangisnya


Berhasil menemukan kembali Nur, bagi Dafa merupakan kebahagiaan. Kebahagiaan yang tidak terlukiskan. Hanya sayang.... kenapa Allah mempertemukannya dalam keadaan yang tidak mengenakkan. Dalam keadaan Nur terkena cobaan. Menahan rasa sakit. Menahan rasa perih. Harus terbaring di rumah sakit.


Ya,ya..... tapi semua itu sudah suratan. Manusia tinggal menjalaninya saja. Yang pasti setiap takdir dari Sang Pencipta pasti ada hikmahnya. Bukankah Allah menciptakan manusia bukan untuk disakiti. Disiksa. Dibuat susah? Allah menciptakan manusia sejatinya untuk disenangkan. Dibahagiakan. Dinyamankan. Tinggal kitanya bisa memahami atau tidak...!!


"Setelah Nur sembuh. Nur kita bawa pulang'kan.,?"tanya Arini tiba-tiba. Mengusir senyap seketika.


"Iya."


"Setelah itu apa rencana kita?"tanya Arini lagi, agak galau.


"Maksud ibu? Eh, maksud Rini?" Dafa meralat pertanyaannya yang keliru.


Dafa terbengong beberapa saat. Pertanyaan Arini tadi bukan mustahil bakal terjadi. Siapa yang bisa memastikan kalau nanti Nur tidak minggat lagi? Tidak kabur lagi?! Dan siapa yang bisa menjamin nanti Nur mau tinggal bersama seperti dulu?!!


"Supaya tidak minggat lagi. Kamu punya cara?" Dafa bertanya penuh antusias.


"Mungkin kita harus segera ajak Nur ziarah ke kubur."jawab Arini serius.


"Ziarah kubur? "


"Iya.*


"Kubur siapa?"


"Kita harus bersiasat."


"Oo....kubur orang lain gitu. Lalu kita bilang pada Nur, kalau itu adalah makam mamanya?"


"Barangkali itu adalah solusi terbaiknya."


Dafa manggut-manggut memahami. " Oke .. oke.. aku setuju usulanmu ."

__ADS_1


Keduanya kemudian terdiam. Sementara pikirannya terus mengembara. Ini mungkin solusi gila. Tapi mencari solusi lain,.. rasanya tidak ada. Mungkin nanti... Dafa dan Arini akan survei dulu, makam mana yang kira-kira tepat. Makam itu kira-kira sudah berumur tujuh tahun. Berjenis kelamin perempuan. Dan namanya....oh tapi syukurlah masalah nama sepertinya tidak ada masalah, sebab Dafa belum memberi tahu pada Nur nama ibunya. Untungnya...!


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Ternyata seorang dokter masuk untuk memeriksa ulang kondisi pasien. Dafa dan Arini memperhatikannya dengan seksama.


"Bagaimana kondisinya dok?"tanya Dafa setelah dokter itu selesai memeriksa tubuh Nur.


" Kondisinya baik. Sebentar lagi akan siuman. Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir."


Dafa dan Arini menghela napas lega hampir bersamaan. Terasa plong. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi


"Kejadian tertabraknya anak Bapak lewat tengah malam. Emang anak Bapak habis dari mana?"tanya Dokter itu penasaran." Apa anak Bapak suka keluyuran malam?"tanyanya lagi. Matanya agak tajam menikam wajah Dafa.


Dafa agak ragu untuk menjawabnya. Mulutnya terasa sulit untuk berkata-kata


"Sepertinya anak Bapak itu lama tidak pulang ke rumah, ya? Saya lihat dari pakaiannya dan tubuhnya. Betul'kan, pak?*


"Dia minggat dari rumah sejak seminggu yang lalu, dok "


Dokter itu mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Oo....begitu" kata dokter itu lagi. Kemudian menatap wajah Dafa lebih tajam lagi. "Koq anak bisa sampai minggat sih?" Dokter itu makin tidak habis pikir. " Makanya mendidik anak jangan terlalu keras, pak. Anak sekarang berbeda dengan anak zaman kita dahulu. Anak zaman dulu dididik keras tambah menurut. Anak sekarang dididik keras malah berontak."


"Iya Dok. Saya salah. Saya sadar sekarang "


.


"Supaya nanti anak bapak tidak minggat lagi, tolong anak bapak jangan dikerasi lagi ya, pak?"


Dafa mengangguk.


Setelah itu dokter pamit pergi dari ruangan itu.


Mata Dafa mengikuti tubuh dokter itu, sampai tidak terlihat lagi. Dafa tadi sengaja tidak membantah. Dan tidak menjelaskan yang sebenarnya menjadi penyebab minggatnya Nur.


Ya, ya ....penyebab minggatnya Nur sebenarnya bukan karena didikannya yang keras. Yang kejam. Tidak... !!


Penyebab Nur pergi dari rumah..... tidak lain hanya karena Dafa belum mengabulkan keinginan Nur untuk ziarah ke makam mamahnya.


.


Satu permintaan yang menurut Nur sangat sepele. Tapi untuk Dafa.......terlalu berat. Dan bagaimana mungkin bisa diwujudkan.....!!!


*****

__ADS_1


__ADS_2