
"Oh.....aku sedang ada di mana?"suara Nur tiba-tiba. Lirih. Pelan. Penuh kebingungan. Menerobos kesenyapan
Dafa yang sedang berdzikir sehabis mengerjakan sholat magrib di dalam ruangan itu, terkesiap seketika. Segera Dia mengakhiri doanya. Bangkit dari duduk simpuhnya . Kemudian bergegas menuju dipan tempat Nur terbaring.
"Syukurlah..... kau sudah siuman nak" Dafa hatinya merasa lega . Di samping dipan untuk sementara waktu Dafa berdiri terpaku. Dipegangnya lengan sang gadis kecilnya sepenuh rasa. Di dadanya, rasa syukurnya kian bertambah...!!!
"Papah....?"tanya Nur terlihat kebingungan. Matanya yang sayu menatap Dafa lekat, masih ragu pada penglihatannya. Masih belum percaya pada apa yang terlihat. Nur tidak yakin kalau yang dilihatnya itu adalah benar Dafa.
"Iya nak. Ini papah."
Nur menghela napasnya. Mengatur napasnya. Matanya kemudian mengitari ruangan itu. Ruangan yang putih bersih terawat dan asri. "Nur sekarang ada di mana?"
"Kamu sedang di rumah sakit nak. Sedang dirawat."
"Oh...."desahnya. "Apa yang terjadi pada Nur?"
"Tidak ada yang terjadi padamu nak. Kamu baik-baik saja. Kamu hanya perlu mendapat perawatan saja" Dafa mencoba menenangkan. Dafa tidak ingin Nur dibebani oleh pikiran macam-macam. Dafa tidak ingin Nur ingat pada apa yang telah terjadi pada gadis itu.
Arini yang baru selesai melaksanakan sholat sunah bada maghrib, beberapa menit kemudian menghampiri Nur. Masih mengenakan mukenah. Wajahnya terlihat sumringah melihat sang murid sudah sadarkan diri.
"Nur....kamu sudah siuman nak?" Arini mencium kening Nur yang berdaki.
"Ibu.....oh..."Tangan Nur memeluk ibu gurunya. Diselingi isak tangis. Mungkin karena haru. Mungkin karena bahagia. Atau mungkin pula karena sedih dan rindu. Mungkin....
"Kamu baik-baik saja 'kan nak?"tanya Arini. " Ibu dan papahmu sangat khawatir padamu."
"Terimakasih atas perhatian papah dan Ibu."
Ibu Arini mengangguk seraya tersenyum.
Kemudian, untuk sekian menit Nur hanya memandangi wajah Ibu gurunya. Terlihat wajah itu begitu meneduhkan. Memancarkan kelembutan. Nur...merasa beruntung memiliki guru sebaik Ibu Arini.
"Kamu cepat sembuh ya, nak."kata Ibu Arini kemudian.
"Iya, kamu cepat sembuh."timpal Dafa. "Nanti setelah kamu sembuh, papah akan ajak.kamu ziarah ke makam mamah. Kamu mau 'kan?
"Papah akan ajak Nur ziarah ke makam mamah?"tanya gadis itu penasaran.
"Iya."
"Papah janji?"
"Iya. Makanya kamu lekas sembuh."
"Pasti, Nur akan sembuh secepatnya."tekad Nur membara. "Ibu guru juga nanti ikut ziarah ya. Biar tambah khidmat."
"Demi murid ibu yang tercinta, Ibu siap ikut."balas Arini.
"Benar ibu mau ikut?"
Ibu Arini mengangguk mengiyakan
__ADS_1
"Oh ..,.... bahagia banget Nur rasanya." Mata Nur yang terlihat ceria menatap Dafa dan Arini bergantian. Ruangan itu menjadi hangat seketika. Nur lupa pada rasa sakitnya. Dafa dan Arini pun sudah lupa pada jerih payahnya. Penat dan pusingnya!.
Beberapa lama kemudian, pintu ruangan diketuk. Dafa terkesiap seketika. Pelan-pelan berjalan membuka pintu. Dan .....di ambang pintu itu, sekian detik laki-laki itu terlihat tertegun. Mengucek matanya karena takut keliru pada penglihatannya.
"Assalamualaikum "salam orang yang baru datang itu.
"Wa alaikumussalam."jawabnya masih belum meyakini pada penglihatannya. Apakah mungkin ...dia? Ah.... apa penglihatanku yang keliru?. Bukankah dia itu.....? Diia itu......?!!!
"Dewi Amoy........?"desahnya pelan, masih kurang percaya.
Perempuan yang parasnya cantik sekali itu tersenyum manis. Memikat sekali. !!! Perempuan itu pun mengangguk. "Anda tahu aku?"
"Oh, betulkah anda Dewi Amoy......?"
Perempuan itu mengangguk lagi. "Anda mengenali saya?"
"Siapa yang nggak kenal dengan artis beken seperti anda?"
"Terimakasih.'"balaasnya. "Anda keluarganya pasien?"
"Saya ayahnya"
"Oo ...." Sang artis mengangguk-anggukan kepala. Diam sejenak. "Saya minta maap atas kejadian ini. Saya telah menyebabkan anak anda celaka. Tapi anda tidak perlu khawatir, saya akan bertanggung jawab sepenuhnya. Semua biaya pengobatan akan saya tanggung seratus persen. Sebelum anak anda sembuh total, saya harap jarngan dibawa pulang dulu. Kalau sudah fit seratus persen baru boleh pulang."
"Terima kasih atas tanggung jawab Anda "
"Oya, bagaimana kondisinya sekarang?"
"Sudah siuman."
"Oh, silahkan" Dafa menggeser tubuhnya untuk memberi jalan.
Sang artis pelan-pelan memasuki ruangan. Langkahnya memukau seperti peragawati yang sedang berjalan di atas catwok. Indah dan enak dipandang. Bau wangi tubuhnya membuat hidung tidak mau berpaling. Ada nuansa romantis yang ditimbulkannya.
Dafa baru menyadari. Ternyata artis yang satu ini lebih cantik jika dilihat langsung. Jika dilihat dengan mata kepala sendiri. Dari pada kalau dilihat dii layar televisi.
Arini menyambut jabat tangannya. Sejenak matanya terkagum-kagum. "Dewi Amoy yah?"
Dewi hanya mengangguk sambil tersenyum. Sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya menuju tempat Nur berada. Di dipan itu!
"Bagaimana keadaanmu, nak?"tanya Dewi sesampainya di samping Nur
Nur tidak langsung menjawab. Malah melongo bengong seperti orang kesurupan. Beberapa saat.
"Tante Dewi 'kan?" Nur malah balik bertanya.
"Iya sayang. Aku tante Dewi. Kamu siapa?"
"Saya.... Nur tante. Nur Hasanah"
"Nur Hasanah..." Dewi mengeja nama itu. Dengan bibirnya yang indah sensual.
__ADS_1
"Nur ngefans sekali sama tante. Lagu tante yang lagi ngehits itu selalu Nur nyanyikan setiap saat."
"Terima kasih kalau begitu" tukas Dewi. "Jadi kamu bisa menyanyikan lagu itu?"
" Bisa tante."
"Oya. Kalau begitu nanti kalau kamu sudah sembuh kita nyanyi duet yah? Mau?"
"Mau tante."
Dafa dan Arini yang sedari tadi melihatnya dari kejauhan. Perlahan mendekati mereka. Bergabung dengan mereka. Sesaat mereka saling pandang. Merajut keakraban.
"Oya, tante hampir lupa. Tadi di Jakarta tante beliin kamu sesuatu." Dewi membuka tas kreseknya. "Tante beliin kamu pakaian. Ini coba kamu lihat. Suka nggak?"kata Dewi lagi.
Nur melihatnya dengan seksama. Kemudian terkagum-kagum. Terlihat senang sekali. " Bagus banget tante. Nur suka"
"Kamu juga, tante beliin jam tangan. Ini lihat jamnya "
"Itu buat Nur, tante?"tanya Nur kurang yakin.
.
"Iya buat Nur."
"Oh bagus banget. Terima kasih tante."
"Makanya Nur cepat sembuh yah? Biar barang-barang dari tante, bisa segera di pakai" kata Bu Arini menimpali.
"Iya bu guru Nur pasti secepatnya akan sembuh."jawab gadis itu semangat. Mantap.
" Bu guru?" Dewi mengernyitkan dahinya. "Jadi anda gurunya Nur? Kirain saya mamahnya. Jadi mamahnya Nur ke mana?"
"Sudah meninggal, tante. Waktu melahirkan Nur."jawab Nur sigap.
"Oo......" Dewi manggut-manggut mengerti. "Jadi yang mengurus Nur dari kecil siapa?"
"Ya cuma papah doang. Karena sampai sekarang papah belum mau menikah lagi."
"Oo......" Sang artis manggut-manggut lagi. Sebersit keprihatinan terlihat melintas di wajah cantik sang artis.
"Bu Arini itu guru Nur yang paling baik. Dia masih sendiri. Tapi dia bukan apa-apanya papah. Iya 'kan Bu?" Mata Nur menatap gurunya. Memastikan kalau pertanyaannya itu benar.
"Iya. Ibu dan papahmu jika selama ini sering bersama itu hanya .....karena sedang mencari Nur."jawab Arini menjelaskan.
"Mencari Nur?" Dewi terlihat bingung. Tidak memahami arah pembicaraan Arini.
"Iya. Mencar Nur."
"Emang Nur kenapa?"
"Nur minggat dari rumah sudah semingguan. Kalau tidak ada berita di koran. Mungkin kami sampai saat ini belum bisa menemukan Nur," Giliran Dafa yang menjawab.
__ADS_1
"Oo......" Dewi terbengong beberapa saat. Ada satu jawaban yang sudah ditemukannya. Pantas gadis kecil itu, malam-malam masih ada di jalanan. Pantas pada malam kejadian itu .....Nur masih keluyuran. Rupanya Nur....kabur dari rumahnya ....!!
*****