Cinta kelas orang rendah "catatan sang supir"

Cinta kelas orang rendah "catatan sang supir"
Berkah atau musibah


__ADS_3

Malam itu Dafa sulit tidur. Pikirannya sulit untuk mencairkan masalah yang sedang dihadapi.


Dia besok diberi tugas oleh bosnya untuk mengantarkan beras ke pasar induk, sementara bersamanya ada seorang bayi yang perlu perawatan. Yang tidak mungkin bisa ditinggal di rumah sendirian.


Apa yang mesti kuperbuat, ya Allah...? Dafa terus memegangi kepalanya. Apa bayi ini kubawa serta? Kubaringkan di sampingku


Hingga sampai ke Jakarta?


Ya. Dan semoga nanti di Jakarta ketemu dengan orang tuanya. Lalu dikembalikan padanya. Kalau bisa seperti itu. Urusan akan kelar. Urusannya pasti akan beres. Pasti Sulis bisa diajak damai lagi. Kalau Sulis perlu kesaksian. Dafa bisa ajak orang tua si bayi, untuk menjelaskan perkara sang bayi.


Tapi masalahnya apa bayi itu kuat jika diajak perjalanan jauh. Sejauh ratusan kilo? Dan bagaimana kalau di perjalanan bayi itu terus-terusan menangis. Apa tidak mengganggu konsentrasinya? Padahal menyupirkan butuh konsentrasi yang penuh. Lengah sedikit terkadang membawa mala petaka hebat.


Dafa menggersah lagi. Rasanya tidak mungkin jika bayi itu Dia bawa. Tentu bukan saja akan berakibat buruk bagi si bayi. Tapi bisa jadi...berakibat buruk pula baginya!


Terus bayi itu di bagaimanakan ya? Dafa terus mencari jalan terbaik. Dititipkan sajakah? Oh ya.... bukankah aku punya adik. Ya, ya ...besok aku minta tolong Della untuk menjaga si bayi. Dafa seketika itu merasa lega. Alhamdulillah .....ada solusinya!


Esoknya.


Dafa segera berkemas untuk membawa si bayi ke rumah adiknya yang berjarak sekitar sepuluh kilo meter. Dengan bermodalkan kain sarung yang dikaitkan ke lehernya, laki-laki itu menggendong Nur Hasanah. Si bayi itu.


Motornya dikemudikan dengan perlahan. Takut sang bayi kedinginan. Karena udara di pagi itu sangat dingin menusuk tulang.


Sampai di rumah Della, laki-laki itu mengetuk pintu. Tampak mata adiknya terbelalak saat nelihat kakaknya datang di pagi itu dengan membawa sang bayi.


"Anak siapa Kak?" Della bertanya masih di ambang pintu.


Dafa segera masuk. Menghempaskan diri di kursi. Sementara sang adik masih terbengong-bengong.


"Anak Kakak? Terus ibunya siapa?"


"Ini bukan anakku. Dan aku nggak tahu ibunya siapa. Aku temukan bayi ini di bak trukku."


Della bengong kayak ayam yang mau bertelur. "Koq bisa?"


"Maksudmu. Kamu mencurigai aku kalau aku ini berhubungan dengan seorang perempuan. Lalu punya anak ini 'kan?"


"Tapi Kakak tidak berbuat seperti itu'kan?"


"Masa kamu .menuduhku separah itu sih. Kamu 'kan adikku. Tahu'kan siapa aku ?"


Della mengangguk. Memang si Kakak adalah orang baik. Rajin sholat. Suka sedekah. Dan orangnya penyayang.


Di dalam, Dafa menuturkan maksud dan tujuan kedatangannya. Yang tidak lain untuk minta bantuan si adik untuk sementara waktu merawat si bayi. Karena nanti sore Dia harus berangkat kerja.


"Kenapa Kakak nggak minta tolong ke Kak Sulis. Kan enak lebih dekat."Della menimpali.


Dafa termangu beberapa menit. Wajahnya mendadak berubah murung . Seperti langit yang tiba-tiba bermendung.


"Dia lagi marahan sama aku. Bahkan mengancam untuk putus"


"Alasannya?"


"Dia mencurigai aku. Disangkanya bayi ini anakku hasil selingkuhan."


"Oh, kasihan nasib kakak " Della turut prihatin. Turut sedih. Cobaan yang menimpa sang kakak sangat menyakitkan! Semoga Allah memberi kekuatan pada kakakku, bathinnya.


Tanpa persyaratan ini-itu Della siap merawat bayi itu. Mungkin ini saatnya untuk membalas kebaikan sang Kakak.


Dafa sangat berterima kasih. Kemudian Dia memberi uang untuk membeli susu dan kebutuhan lain si bayi .


"Oya, suamimu mana?"tanya Dafa ketika beranjak pulang.


"Berangkat kerja."


Dafa manggut-manggut. Terus matanya menatap perut si adik. "Perutmu sudah besar. Sudah berapa bulan?"


"Empat bulan Kak."jawabnya sambil mengikuti sang Kakak keluar rumah.


"Nanti kalau bayimu lahir dijaga yah. Awas jangan sampai hilang."


"Ah, Kakak." Si adik mencubit pinggang Dafa


Dan Dafa hanya meringis. Geli.

__ADS_1


*****


Mengendarai kendaraan besar dengan jarak tempuh cukup jauh. Beratus-ratus kilo meter. Dan membawa beban muatan yang sangat berat. Kira-kira sepuluh ton ,bagi Dafa bukan suatu masalah. Bagi Dafa itu hal yang biasa. Karena laki-laki itu telah menjalani profesi itu hampir enam tahun.


Sebenarnya menjadi sopir truk bukanlah keinginannya Bukan pula cita-citanya. Tapi seperti sebuah keharusan. Dan Dafa telah menjalaninya dengan penuh keikhlasan .


Selepas SMA dulu. Dafa tidak bisa melanjutkan kuliah karena faktor ekonomi. Kedua orang tuanya hanya pedagang kecil di pasar. Yang penghasilannya tidak seberapa. Maka Dia memutuskan untuk mencari kerja.


Hanya berbekal ijazah SMA ternyata tidak mudah mendapatkan pekerjaan. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan tidak dapat .Memuakkan. Dafa malu menjadi pengangguran.


Dan pada suatu hari ketika pamannya mengajak untuk menjadi kernet truk berasnya, tanpa pikir panjang lagi. Dafa menyambutnya.


Setelah setahun menjadi asisten sopir. Sang paman sering sakit- sakitan. Sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.


Sejak saat itu bos Andre menyuruhnya untuk menggantikan posisi sang paman.


Alhamdulillah, berkat kerjaannya itu Dafa sudah bisa mengumrohkan kedua orang tuanya, yang sekarang sudah tiada semua. Dipanggil Sang Pencipta. Bisa membiayai sekolah adiknya semata wayang.


Juga bisa memiliki truk sendiri. Syukur...Alhamdulillah...


Perjalanan kali ini tidak mengalami hambatan. Jalanan yang biasanya macet. Hari ini tidak. Hingga waktu tempuh sedikit singkat.


Sampai di pasar induk Sam segera menyambutnya. Kata Sam berasnya sudah ditunggu oleh Engkoh Lee, si sodagar beras. Sebab menurutnya beras yang dibawa Dafa kwalitasnya di atas rata-rata. Jadi cepet habis terjual.


Setelah semua urusannya selesai. Dafa tidak lekas pulang. Tapi terus berkeliling sekitaran pasar induk. Hampir setiap orang yang kenal Dia tanyai. Barangkali pernah mendengar atau mengetahui kalau ada orang yang kehilangan anak bayinya.


Tapi semua yang Dia temui jawabannya sama "Di sini tidak ada orang kehilangan bayi. Barangkali dari tempat lain. Kamu berhenti di tempat lain juga kan?"


Mungkin benar, pikir Dafa. Di sini tidak ada yang mencari, mungkin bayi itu asalnya dari tempat lain. Ya. Aku harus ke sana sekarang.


Tanpa pikir lagi, truknya segera dipacu.Terus melintasi jalanan kota. Lalu masuk jalan tol. Jalanan tetus lancar. Tidak ada kendala. Hingga sampailah ke kota Karawang. Tepatnya di masjid Baitul Makmur.


Truknya Dia parkirkan di halaman masjid. Dia turun dari mobil menuju masjid. Tampak sepi. Melihat jam tangan. Jam satu kurang lima belas menit. Udara malam terasa dingin


Menunggu jamaah yang mau sholat shubuh masih sangat lama. Mau tidur di masjid pun rasanya matanya susah untuk dipejamkan. Maka laki- laki itu pergi mengambil air wudlu. Untuk melaksanakan sholat tahajud.


Setelah sholat ...Dia terus bermunajat pada Sang Kholik. Agar memberikan solusi yang terbaik atas apa yang sedang terjadi. Agar memberinya qodar terbaik. Jalan hidupnya selalu diberkahi. Dan jangan diberi cobaan diluar kemampuannya.


Malam terus berlanjut. Dafa makin merapat sama Yang Di Atas. Bagi orang yang sudah lama berumah tangga kemudian tidak dikaruniai anak. Menemukan bayi bisa jadi suatu anugrah. Tapi bagi Dafa? Justru masalah......


Oh Tuhan...jangan pisahkan aku darinya. Aku sangat mencintainya. Dan bayi itu kembalikanlah pada orang tuanya. Jangan pisahkan mereka. Mereka butuh kebersamaan. Darah mereka satu aliran. Perlu saling mencurahkan kasih sayang.


Dafa terus larut dalam doa-doanya. Hingga tidak Dia sadari waktu shubuh telah tiba. Dia lalu ikut menjadi makmum.


Selesai sholat... Dafa mendekati sang imam.


"Pa Ustad kenalkan...saya Dafa. Sopir truk itu." Dia menjabat tangan sang kiyai .


Sang kiyai manggut-manggut. Berdua berjalan keluar masjid.


"Ada yang ingin saya utarakan pada Bapak, boleh?"


"Oya, silahkan."


Dafa menarik napas sejenak. Seperti sedang mengambil kekuatan. Kemudian dengan sopan Dafa bercerita pada Pak Kiyai tentang sesuatu yang sedang menimpanya.


Sang Kiyai terus manggut-manggut. "Saya tidak mendengar ada orang yang kehilangan bayinya di sini. Tapi barangkali nanti ada. Pasti akan saya kasih kabar. " Sang Kiyai diam sejenak sambil merapihkan jenggotnya. "Oya, bayi itu sekarang dimana?"


"Saya titipkan di adik Pak"


"Urusi aja dulu. Nanti kalau Alloh menghendaki bayi itu ketemu sama ibunya pasti akan ketemu. Tapi kalau Alloh kehendaki tidak ketemu ya pasti tidak ketemu. Kalau Alloh bilang 'jadi' pasti 'jadi'. Kun fayakun. " Pak Ustad menceramahi. "Tapi apapun kehendak Alloh. Itulah yang terbaik. Walaupun terkadang menurut kita sangat tidak mengenakan" Pak Ustad melirik Dafa yang masih resah."Kamu tetap harus Husnudzon Billah. Sangka baik sama Alloh. Pasti dibalik kejadian ini Alloh punya rencana yang hebat."


"Bayi itu?" Dafa tergagap.


"Kalau bayi itu tidak ada yang mengambil. Kamu pelihara saja. Ini mungkin cara Alloh menyayangi sang bayi dan kamu."


"Saya, Pak Ustad?"


"Percayalah. Suatu saat nanti kamu akan tahu hikmah dibalik kejadian ini."


Dafa menunduk. Menatap keramik putih itu. Hidup laksana sebuah teka teki. Mencari jawabannya tidak mudah. Atau tidak mungkin. Karena kelanjutan dari hidup yang akan dijalani hanya Alloh yang tahu. Kita manusia sekedar menjalani.


*****

__ADS_1


Begitu sampai di rumah, Dafa segera turun dari truknya. Membuka pintu rumah. Tidak lama kemudian keluar dengan mengendarai sepeda motor. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan ke rumah sang adik.


Sebenarnya tubuhnya sangat penat. Capai! Tapi dorongan kuat yang bersumber dari dalam hatinya tidak mampu ditahan. Aneh memang, tiba-tiba dirinya terus kepikiran pada bayi yang dia titipkan di adiknya itu.


Sampai di rumah Della, motornya segera diparkirkan. Tampak di samping rumah sang adik sedang menggendong si bayi. Melihat kehadirannya, perempuan itu segera memburu.


"Tuh nak, papa datang."suaranya sambil mencubit pipi si bayi.


Papa? Ah kamu Della. Jangan gitu dong. Batin Dafa.


"Pulang kapan?"tanyanya sambil menjabat dan mencium tangan si kakak.


"Baru sampai."


"Langsung ke sini?"


Dafa mengangguk. Mereka kemudian memasuki rumah. Della meletakan bayi itu di dipan.


"Rewel nggak?"tanya Dafa sambil menatap wajah si bayi.


" Nggak. Anteng banget."


"Oh, syukurlah..."


"Anak baik.. "sambung Della. "Oya, saya buat kopi dulu ya. Kakak kayaknya loyo banget." Dia bergegas ke dapur.


Setelah puas menatap tubuh si bayi. Dafa meletakan tubuhnya di kursi yang letaknya tidak jauh dari dipan yang ditiduri si bayi itu.


Beberapa kali mendesah. Dengan ******* yang dalam. Ada yang bermukim di wajahnya. Seperti ada yang disesali.


"Kenapa Kak?"tanya Della yang sedang meletakkan gelas di meja. Dia menangkap sesuatu dari diri sang kakak.


Dafa mendesah lagi. "Tidak ada hasil." Gumannya seperti ngomong pada dirinya sendiri.


"Maksud Kakak?"


"Aku tidak menemukan orang tua bayi itu"


Della manggut- manggut . Dia mengerti apa yang sedang kakaknya pikirkan. Dia pun duduk disebelah kakaknya. Meletakkan tangannya di paha Dafa.


"Kakak tidak usah sekecewa itu sih. Toh kalau Alloh berkehendak bayi itu kembali sama ibunya. Pasti akan bisa.".


"Kalau Alloh menghendaki tidak dipertemukan dengan ibunya?" Dafa menatap wajah adiknya.


"Ya kita urus"


Dafa menghela napas sedalam hatinya. Tertegun beberapa saat. Lalu berguman lirih. "Aku akan kehilangan cinta Sulis "


Della menepuk- nepuk paha Dafa."Kakak. Kakak.....koq pikirannya jadi sekerdil itu sih. Aku jadi heran lho." Della mengernyitkan keningnya. "Apa Kakak telah lupa dengan kata-katamu saat dulu memberi nasehat padaku. Kakak bilang.' Hidup ini sudah diatur sama Alloh. Kita ini hanya wayang dan Alloh dalangnya. Atau kita ini seperti pemain sandiwara dan Alloh itu sutradaranya. Kita diciptakan untuk menjalani sekenarioNya . Iya kan?"


Laki- laki itu tidak bereaksi apa-apa. Tapi sepertinya mendengarkan dengan sungguh-sungguh apa yang disampaikan adiknya.


"Kalau Kakak berjodoh dengan Kak Sulis jangankan bayi yang kakak temukan cuma satu . Bayi yang kakak temukan seratus pun, tidak akan mampu memisahkan kalian. Kalau Kakak tidak berjodoh. Kakak tidak menemukan bayi pun. Kalian akan bubar. Jodoh itu di tangan Alloh. Bukan ditangan bayi"


Dafa terperangah. Bulir-bulir hikmah yang keluar lewat mulut adiknya laksana setetes embun bagi sang musafir yang sedang kehausan. Dia pun menjadi sadar kalau semua yang terjadi sudah menjadi kehendakNya.


"Terimakasih adikku, kau telah menyadarkan aku."


Della tersenyum.


"Tapi boleh aku minta tolong padamu?"


"Tolong apa Kak?"


"Aku 'kan kerjanya harus meninggalkan rumah. Kalau aku kerja. Aku nitip si bayi ini lagi "


"Siap."


"Terimakasih." Diam sesaat. "Suamimu tidak merasa keberatan?"


"Tidak. Dia sudah aku beri pengertian."


Dafa manggut- manggut. Kepalanya sudah terasa enteng sekarang. Wajahnya sudah tidak berawan lagi. Tidak ada yang perlu dipusingkan. Mikir tidak perlu dalam-dalam. Karena takdir manusia hanya untuk dijalani. Bukan untuk dirisaukan.

__ADS_1


*****


__ADS_2