
"Dimalam yang senyap itu, aku dengan menggendong bayiku, terus menyusuri jalanan yang lengang . Gerimis kecil yang disertai suara petir, menyatu dengan derasnya air mata mengiringi langkahku, ke mana aku pergi."tutur Dewi dengan berurai air mata.
" Sementara kecamuk yang bersarang di batinku seiring waktu kian bertambah. Rasa pilu dan rasa sakit hati tanpa disadari memunculkan rasa putus asa yang hebat. Sekujur tubuh ini terasa terbenam dalam kubangan yang teramat melelahkan. Yang membuatnya senantiasa menggigil. Dan memupus habis semangat hidupku. Hingga tanpa rasa ragu lagi, aku bertekad ingin mengakhiri hidup . Karena hidup terasa sudah tidak ada gunanya lagj."tutur Dewi dengan suara pilu. Dan kata-katanya agak sulit dicerna
"Sampai nekad mau bunuh diri?"tanya Dafa mencoba menerka.
"Ya." Angguk Dewi lunglai. "Saat itu aku menuju sebuah sungai yang airnya sedang meluap. Dari atas jembatan aku bersiap untuk melompat. Aku mau menceburkan diri, biar hanyut dan tenggelam dibawa arus. Biar jasadku mati.bersama segenap penderitaan yang menyertai hidupku.'
Dafa terkesiap mendengarnya. Tubuhnya sampai terlonjak. Dan menggigil seperti orang kedinginan. Ternyata perempuan yang tetlihat lemah ini, berani berbuat sefatal itu. Dan senekat itu..
"Tapi saat hendak melompat, tiba-tiba bayiku menangis. Terpaksa aku urungkan niat itu. Aku belai kepalanya dengan lembut. Tentu saja.. dengan penuh rasa sayang. Aku tatap wajahnya. Aneh, tiba-tiba dari dalam hatiku rasa ibaku kian bertambah . Aku jadi berpikir, bayiku sebaiknya harus tetap hidup. Yang mati biar aku saja. Bayi ini masih punya masa depan. Biarkan dia menikmati masa depannya. Semoga saja masa depannya cerah. Masa depannya gemilang.Tidak sekelam dan senista nasib ibunya."
Dewi tampak membungkam mulutnya beberapa saat. Jemari tangannya saling merapat. Sepertinya dia sedang mencari kekuatan baru yang dahsyat untuk melanjutkan cerita kelamnya itu.. Ada tetes-tetes air mata yang tiba-tiba jatuh ke lantai.
"Saat aku sedang bingung akan dititipkan pada siapa bayiku ini. Aku melihat ada sebuah mobil truk yang terparkir di halaman masjid. . Maka tanpa pikir panjang lagi, aku letakkan bayiku di bak mobil itu. Tentunya.. . dengan susah payah. Dan perjuangan yang hebat."
Dafa manggut-manggut berkali-kali. Pikirannya membayangkan suatu kejadian di satu masa . Ada ******* pendek yang dilakukannya untuk menenangkan segenap perasaan yang kali ini sedang bergejolak. " Mungkin waktu itu aku sedang berada di dalam masjid."ujar Dafa lirih.
"Ya."
__ADS_1
"Setelah meletakkan bayi, kamu ke mana lagi?"
"Aku ke sungai lagi. Untuk menceburkan diri."
Dafa terlihat agak emosi mendengar jawaban itu. Sekaligus membenci tindakan bodoh yang dilakukan wanita yang kali ini ada didepannya itu. Menyelesaikan masalah bukan harus dengan cara tragis seperti itu. Karena itu bukan solusi.
Bersabar dan bertawakal pada Sang Pencipta itulah obat mujarab menghadapi setiap masalah yang datang. Bukankah Dia tidak pernah menguji hambaNya diluar batas kemampuan sang hamba?
"Aku menceburkan diri ke sungai. Dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi."katanya lagi. "Entah setelah itu apa yang terjadi padaku"
"Lalu?"tanya Dafa penasaran.
"Tahu-tahu saat kubuka mata, aku berada di sebuah tempat dan ditemani oleh seorang nenek. Awalnya aku mengira aku sudah berada di alam lain. Tetapi ternyata aku masih berada di alam dunia."tuturnya terpotong.
"Ternyata aku masih hidup. Aku ditolong oleh seorang nenek . Lalu aku tinggal bersama nenek itu selama bertahun-tahun."
Dafa hanya tercenung mendengar kisah hidup dari perempuan muda itu. Hidup layaknya sepenggal kisah yang ditulis Sang Pencipta. Apa yang sudah Allah tulis untuk hambaNya pasti akan menjadi garis hidup sang makhluk. Apa yang manusia rencanakan kalau Allah tidak menghendaki pasti tidak akan terjadi. Kita adalah aktris yang harus memerankan scenario dari Sang Maha Sutradara. Tuhan kita!
Walaupun Dewi berusaha ingin mengakhiri hidupnya dengan cara piciknya itu. Tapi kalau Allah menghendaki dia tetap hidup. Toh... perempuan itu masih bernyawa juga. Bahkan sampai detik ini!
__ADS_1
"Aku selalu mendapat bimbingan dari nenek. Petuah-petuahnya yang bijak membangkitkan lagi semangat hidupku yang pernah pudar."
"Nenek itu bagai malaikat penyelamatmu?"timpal Dafa
"Betul. Rupanya Allah kirim dia untukku. Bahkan kesuksesanku ini pun berkat jasanya juga."
Tanpa terasa malam yang dingin itu terus menyisir waktu. Beberapa saat lagi mingkin ufuk timur akan mengibarkan semburat fajarnya. Kedua manusia yang sebetulnya belum akrab-akrab betul itu saling diam untuk beberapa saat. Membiarkan suasana tanpa kata-kata Mungkin mereka sedang dimainkan oleh pikirannya masing-masing. Di ruangan itu.
Dan setelah sekian waktu itu berlalu. Kemudian... tanpa diminta. Dewi bercerita awal mula dia menjadi artis beken.
"Suatu hari di daerah itu ada acara Ajang Pencarian Bakat . Nenek membujukku untuk ikut ajang itu. Aku menolak. Tapi nenek terus membujukku. Memberi aku motivasi. Menyuntikkan semangat. Hingga aku pun mencoba memberanikan diri untuk mendaftar."
"Lalu hasilnya?"
"Ternyata aku jadi juara."suara Dewi bungah. "Sejak saat itulah nasibku berubah. Aku sering diundang untuk tampil di pentas-pentas besar. Para pencipta lagu pun banyak yang memintaku untuk menyanyikan lagu karyanya. Aku tiba-tiba menjelma menjadi penyanyi ternama. Tetapi ....."
"Tetapi?"
"Sebenarnya aku tidak sebahagia yang orang lihat. Dipanggung aku bisa menghibur orang banyak. Tapi sesungguhnya jiwaku sangat rapuh. Disaat-saat sendiri aku sering menangis. Penyebabnya tidak lain, karena selalu teringat anak yang aku buang itu. Aku sangat ingin bertemu dengannya."
__ADS_1
*****