
Hari-hari terus berlalu. Waktu pun terus berputar. Tanpa disadari hari ini genap tujuh tahun Dafa merawat Nur Hasanah. Kini Nur bukan lagi bayi mungil yang masih merah. Tapi sudah menjelma menjadi gadis kecil yang lincah Suka dan duka yang kadang datang silih berganti tidak pernah mempengaruhi hubungan mereka. Semakin hari justru mereka semakin dekat . Dekat layaknya anak dengan ayahnya sendiri. Saling menyayangi. Saling mengasihi.
Sementara hubungan percintaan antara Dafa dan Sulis sudah kandas. Bahtera yang ingin dibangunnya hancur berkeping-keping. Yang tersisa tinggal puing-puingnya saja. Sebenarnya, Dafa sangat menyesali takdir itu. Tapi apa boleh buat, Allah berkehendak seperti itu. Mau tidak mau Dia harus menerimanya. Dia harus kuat menjalaninya.
Terlintas dipikirannya, peristiwa enam tahun yang lalu. Saat itu Dia sangat terpukul . Jiwanya seperti terkoyak. Perih.....!!! .
Siang itu Dia menerima kabar dari seseorang kalau Sulis sedang merayakan pernikahannya dengan seorang laki-laki pilihannya.
Dunia rasanya kiamat. Bumi terasa gunjang- ganjing. Tubuhnya lunglai seketika.
Tetapi akhirnya Dia sadar. Jodoh di tangan Tuhan. Jodoh tidak bisa dipaksa. Kalau jodoh dipaksa timbulnya tidak akan bahagia. Dan akan ada yang tersakiti.
Hari itu segenap kekuatan Dia coba kumpulkan . Dia berusaha tegar.
Sorenya, walau tidak mendapat surat undangan, Dafa berniat menghadiri pesta perkawinan gadis itu. Gadis yang dulu sangat dekat. Gadis yang namanya selalu mengisi relung hatinya.
Di atas pelaminan nampak Sulis mengumbar senyum kebahagiaan. Menjabat para tamu yang datang. Parasnya cantik bagai bidadari. Disampingnya seorang laki-laki yang nampak amat bahagia juga. Dafa menatap mereka dengan mata perih. Tubuhnya terus Dia perjuangkan agar tetap kuat. Terus berjalan menghampiri mereka berdua.
"Selamat menempuh hidup baru. Semoga bahagia. Panjang jodoh. Banyak rezeki. Dan cepet dapat momongan."ucap Dafa gemetar sambil menjabat tangan Sulis.
Mata mereka sempat bertemu. Seperti ada yang tersirat. Tapi teramat sangat tersembunyi. Dafa segera tertunduk. Kemudian cepat-cepat pergi. Karena hatinya sudah tak kuat lagi.
Ditinggal menikah oleh orang yang sangat dicintai ternyata dalam banget sakitnya. Menusuk sampai ke ulu hati. Bagi yang tidak mengalami bisa saja ngomong 'Tinggal cari ganti. Kan masih banyak yang lain". Tapi kenyataannya tidak semudah itu. Kenyataannya.....akh Tidak frustasi, tidak depresi.....sudah untung!
Rupanya peristiwa itu selalu mempengaruhi jiwa Dafa. Laki-laki itu tidak bisa move on. Bahkan sampai saat ini, enam tahun sudah berlalu. Dia belum berani untuk menikah. Untuk mencari pacar pengganti Sulis pun belum sanggup. Hatinya telah membeku seperti es. Dingin. Hasrat bercinta telah sirna. Terbang jauh. Jauh sekali...!!.
"Pah...! Ayo sedang apa?" Tiba- tiba Nur Hasanah datang mengejutkannya. Gadis kecil itu baru saja pulang sekolah. "Ngelamun ya? Koq ngelamun terus sih pah?'
Dafa yang sedang sendiri di belakang rumah itu hanya tersenyum. Sambil menyambut jabat tangan gadis kecil itu.
"Koq udah pulang?"
"Iya pah. Guru-gurunya sedang rapat" Gadis kecil itu duduk di samping Dafa. "Papah besok nggak kerja'kan?"
".Emang ada apa?"
'Besok hadir di sekolah ya. Ada undangan buat wali murid pah. Besok pembagian rapor"
Dafa manggut-manggut.
"Bisa hadir'kan pah?"
"Iya bisa. Nanti papah mau nelpon bos papah dulu yah. Supaya besok kirim berasnya ditunda"
Nur Hasanah menggersah. Matanya menerawang jauh. Kemudian berguman lirih. "Coba kalau mamah masih hidup, Mamah yang hadir di sekolah. Biar papah bisa tetap kerja." Gadis kecil itu nampak berduka.
Dafa tidak kuasa melihat kesedihan itu. Gadis itu pun segera dipeluknya.
"Mamah meninggal saat melahirkan Nur ya pah?"
Dafa hanya mengangguk. Dia terpaksa harus berdusta pada Nur. Entah atas dasar pertimbangan apa? Intinya, Dafa tidak sampai hati dan tega , untuk berkata jujur menjelaskan tentang siapa sebenarnya Nur itu? Seorang bayi merah yang Dia temukan di bak truknya. Yang dibuang oleh orang tuanya!
"Mamah meninggal saat melahirkan Nur. Iya pah?"
Dafa mengangguk lagi . Kali ini lebih pelan.
"Kasihan ya mamah. Pertaruhkan nyawanya demi Nur" Gadis itu berlinangan air mata. Kemudian terisak. "Maapkan Nur mah" Tangisnya makin mengguguk. Dafa mendekapnya erat. Menahan guncangan tubuh gadis itu.
"Ini sudah takdir kita nak. Kamu yang tabah ya? Kamu harus sabar ya? 'Kan masih ada papah."
Gadis itu sejenak menatap Dafa. Matanya masih basah. Sambil menahan sedu sedannya.
"Pah, tolong antar Nur ke makam mamah. Mau?"
" Mau apa?"
"Nur ingin ziarah. Ingin berdoa untuk mamah, sekalian mau minta maap"pinta gadis itu. "Papah mau 'kan antar Nur?"
Dafa tercenung tiba-tiba. Pikirannya bergejolak seperti air mendidih. Ada apalagi ini? Nur minta diantar ke kuburan mamahnya? Di mana? Oh Tuhan....apa yang harus aku lakukan?!
"Papah koq diam aja. Nggak mau antar Nur kah?" Gadis itu nampak kecewa. "Kalau nggak mau. Papah tunjukin aja lokasinya. Nur akan ziarah sendiri"
Dafa menjadi kaget. Perlahan Dia tatap anak itu. Dalam. Amat dalam. Kemudian bibirnya bersuara sambil tergetar "Yah papah mau. Tapi jangan sekarang yah?"
Nur membalas tatapan itu. Terpancar sinar pengharapan dimata itu. Kemudian mengangguk seraya memeluk Dafa.
*****
Alhamdulillah. Dafa bersyukur karena sang bos mengabulkan permohonannya. Kirim berasnya bisa ditunda. Yang biasanya berangkat pagi. Kali ini Dafa boleh berangkat malam selepas maghrib. Berarti Dia bisa menghadiri undangan sekolahnya Nur Hasanah. Hatinya lega. Karena bisa memenuhi permintaan Nur.
Duduk bersama para wali murid yang lain. Menyaksikan acara demi acara yang ditampilkan di atas pentas. Panggung nampak meriah. Para siswa dari kelas satu sampai kelas enam saling bergantian tampil. Memamerkan kepandaiannya. Ada yang menyanyi. Ada yang membaca ayat suci Al Qur an. Ada yang menari. Ada pula yang membaca puisi.
Dafa agak terkejut saat sang pembawa acara memanggil nama Nur Hasanah "Selanjutnya kami tampilkan sang juara umum kita. untuk membacakan puisinya. Siapa lagi kalau bukan Nur Hasanah. Berikan tepuk tangan yang gemuruh untuknya"
__ADS_1
Diiringi tepuk tangan para hadirin. Gadis kecil itu naik ke panggung. Dafa menatapnya dari tempat duduk, dengan penuh rasa haru. Terdengar gadis kecil itu mengucap salam. Dan beberapa saat kemudian terdengar mulai membaca puisi.
Bunda
Karya; Nur Hasanah
Sejak kecil aku tak kenal wajahmu
Tak merasakan belaianmu
Tak pernah dengar senandungmu
Juga canda dan rayuanmu
Bunda...kenapa kau pergi
Tinggalkan aku
Juga papa
Kita yang mencintaimu?
Bunda..jasamu untukku tak terkira
Nyawamu melayang demi aku
Tuhan .... balaslah jasa bunda
Tempatkan dia disisiMu
Mendengar kata demi katanya, para hadirin banyak yang terharu. Larut dalam rasa yang mendalam. Puisi ini sepertinya dibuat sepenuh rasa. Hingga memiliki kekuatan yang dahsyat. Mampu menusuk relung hati pendengarnya.
Hadirin semuanya senyap. Senyap terbawa rasa. Rasa yang menarik air mata untuk meleleh ke pipi.
Sementara bagi Dafa. Kata demi kata yang Dia dengar dari gadis kecil itu adalah laksana jarum -jarum yang terus menusukinya. Sakit. Perih. Ada luka yang tidak mampu ditahan.
Tanpa Dia sadari air matanya meleleh. Berulangkali dibersihkan dengan sapu tangan. Tapi tetap tak terbendung .
Seorang anak yang merindukan ibunya. Sementara ibunya tega membuangnya. Seorang anak yang amat mencintai dan mendoakan ibunya. Sementara ibunya tidak menerima kehadirannya. Oh. Seorang anak yang tidak berdosa....tapi dicampakkan ...!!
Andai ibunya ada disini dan mendengarkan puisi ini. Adakah perasaan bersalah dan penyesalan atas perbuatan biadabnya itu? Adakah dia mau bertobat karena menyia-nyiakan amanat Sang Pencipta? Anak itu anugrah. Seharusnya diterima. Seharusnya dijaga. Seharusnya disyukuri. Bukan.....didlolimi!!!!
Ya Allah........ semoga sejak hari ini tidak ada lagi...ada orang tua yang tega membuang anaknya.
Dafa terus larut dalam pikirannya. Sebelum akhirnya Dia melihat seorang wanita naik ke panggung itu dan memeluk Nur Hasanah. Keduanya terus berpelukan dalam beberapa detik. Dan kemudian keduanya terisak. Mengharukan.
Setelah mengucap salam. Dafa memasuki ruang itu. Tampak di atas kursi seorang wanita sedang memangku Nur Hasanah. Wanita itu ternyata yang tadi di atas panggung memeluk gadis kecilnya.
"Silakan duduk Pa." Wanita itu mempersilahkan.
Dafa perlahan meletakkan diri di kursi yang saling berhadapan.
"Kenalkan nama saya Arini. Saya wali kelasnya Nur. " sang wanita itu terdiam sejenak. Mengelus kepala Nur berkali-kali. Penuh sayang. "Nur anak yang pandai dan baik. " Oya.... ini dengan Bapak Dafa 'kan?"
"Iya Bu."
"Ayahnya Nur?"
Dafa berpikir sejenak. Berpikir untuk menentukan jawaban.
" Pak."
"Oya Bu. Saya ayahnya Nur "
"Nur sudah bercerita banyak pada saya. Saya jadi merasa kasihan. Saya jadi iba. "Wanita itu sejenak terdiam. "Saya turut merasakan apa yang Nur rasakan. Soalnya dulu juga ibu saya meninggal saat melahirkan saya. Tumbuh besar tanpa sentuhan seorang ibu rasanya amat berat. Tanpa kasih sayang seorang ibu kehangatan terasa hambar"
Dafa melihat lantai ruangan. Warna keramik yang putih mendadak seperti berubah. Buram. Atau tanpa warna.
"Puisi yang tadi dibaca Nur, membuat masa lalu saya terlihat lagi. Saya seperti hidup di dua puluh lima tahun yang lalu."Wanita itu nampak sedih sekali. Matanya mulai berkaca-kaca.
Dafa tidak menimpali. Karena Dia tidak tahu kata-kata apa yang harus diucapkan pada wanita yang tepat dihadapannya ini. Diam. Membisu. Sekedar itu yang sanggup Dia lakukan.
Suasana hening pun berjalan lama. Dafa sempat melirik mata wanita itu. Di mata itu....ada lelehan air yang semakin deras.
"Maapkan anak saya Bu " Dafa bersuara lirih. Tiba-tiba "Karena membuat ibu menjadi sediih."katanya lagi. "Membangkitkan kenangan Bu."
"Anak Bapak tidak bersalah. Apanya yang harus saya maapkan?" Wanita itu menimpali."Dulu saya amat sayang sama Nur karena pandai dan baik. Dan kini rasa sayang saya sama Nur jadi bertambah lagi. Karena ternyata antara saya dan Nur bernasib sama." Kembali tangan wanita itu membelai rambut Nur. Sebelum akhirnya mencium kening gadis kecil itu dengan segenap perasaannya.
Dafa tertegun dan terharu. Rasa sayang dan cinta bisa datang dan pergi. Ketika datang maka akan terjalin sebuah ikatan. Ikatan yang bersumber dari Yang Maha Kuasa. Ikatan yang tidak memandang asal usul dan sebab musabab.
Laki-laki itu. Dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan adanya jalinan sayang dan cinta dari dua orang yang ada di hadapannya.
"Oya, Pa. Benarkah Nur sering Bapak tinggal kerja sampai dua atau tiga hari?"
__ADS_1
"Iya, Bu. Karena saya sopir truk beras."
"Di rumah Nur sama siapa?"
"Sendiri"
"Sendiri?" Wanita itu seperti merasa prihatin.
"Dulu. Waktu sebelum umur lima tahun ,saya titipkan ke adik. Tapi sudah dua tahun ini tidak. Itu Nur yang minta. Katanya, pengen mandiri"
Wanita itu melirik Nur. Nur pun membalas mata itu.
"Kalau Nur mau. Kalau papah kerja Nur boleh tinggal di tempat ibu.. Barangkali di rumah sendirian takut"
Nur beralih menatap Dafa."Boleh pah?"
"Maap. Barangkali merepotkan Ibu" Dafa menyanggah
"Tidak koq Pa. Saya malah senang. Jadi punya teman."
"Emang Ibu masih..." Dafa tidak mau melanjutkan kata-katanya. Takut dibilang kurang ajar.
"Saya masih sendiri."
Dafa merasa jadi tidak enak hati mengatakan kata-kata tadi. Seandainya bisa diedit pasti akan dilakukannya.
Dalam hati kecilnya. Dafa sebenarnya merasa aneh. Bagaimana mungkin perempuan secantik dia. Ramah dan punya penghasilan masa sih tidak ada laki-laki yang berminat. Atau barangkali si wanita ininya yang selalu pilih-pilih. Ah, kenapa Dafa berpikir sejauh itu.
"Pah, boleh ya. Nur tinggal sama Ibu, kalau Papah kerja. Di rumah Nur kadang-kadang takut kalau sendirian."
Dafa menatap gadis kecil itu. Kemudian menatap sang Guru. Kemudian bengong. Sekian lama kemudian baru mengangguk setuju.
Nur Hasanah langsung memeluk Dafa merespon anggukan itu. Ada bahagia yang terpancar dari matanya. Sesuatu yang tidak dapat disembunyikan. "Terima kasih Pah."katanya sambil menangis bahagia .
*****
Terasa ada yang beda yang Dafa rasakan pada perjalanannya kali ini. Pikirannya terasa enteng. Terasa ringan tanpa beban. Hatinya tenang dan tidak gelisah. Hingga perjalanan terasa menyenangkan. Konsentrasi yang dibutuhkan oleh sang pengemudi pun bisa optimal. Dafa terus mencari jawaban. Kenapa bisa begini ya? Ada apa ya?
Lagi banyak uang?. Ah. Dia menggeleng. Tidak. Uang memang punya tapi ya.... tidak banyak. Dikasih tips sama bosnya? Ah tidak juga. Dia menerima uang dari bosnya sesuai dengan standar operasional. Ya sebanyak seperti biasanya itu. Dapat undian kah? Boro-boro. Undian apa?. Ada orang yang bayar hutangkah? Tidak. Tidak ada yang bayar hutang. Lagian yang punya hutang sama Dia siapa? Kemudian karena apa? Karena apa?!
Dia mengernyitkan keningnya. Mengusapnya berkali-kali. Kemudian tiba-tiba teringat Nur Hasanah. Si gadis kecilnya itu. Oh iya ! Dafa sontak tersadar. Ada tirai yang tersibak perlahan. Pasti karena kali ini Dia tidak lagi mengkhawatirkan keadaan gadis itu. Nur sudah ada temannya. Tidak sendirian lagi. Ya...ya. pantas...aku nyaman, batin Dafa.
Dulu, setiap Dia pergi kerja. Selalu ingat Nur. Keadaannya. Bagaimana makannya. Malam sendirian di rumah bagaimana rasanya. Pasti akan dihantui kesepian dan ketakutan. Perasaan itu yang kerap membebani pikiran dan hati Dafa. Itulah yang sering mengganggu konsentrasi kerjanya. Itulah yang membuat Dia gelisah dan ingin segera sampai rumah. Hingga terkadang mobilnya itu Dia pacu bagai kilat. Biar cepat sampai.
Kali ini Dia bisa bernapas lega. Terima kasih Allah, Engkau telah menolongku. Engkau telah kirim aku seorang yang dengan riang dan suka rela mau menemani Nur. Berhati mulia. Wanita itu laksana Malaikat. Baik. Ramah. Dan cantik... Ah, Dafa tiba-tiba terkesiap. Kenapa sudah memujinya sehebat ini. Padahal kenalnya belum lama. Padahal baru sekali berjumpa.
Dia ingat tadi waktu mau berangkat kerja Nur minta diantarnya ke tempat tinggal Bu Guru itu. Dafa mengiyakan. Karena memang tidak sulit dan tidak berat.
Bu Guru itu tinggal di perumahan guru yang ada di dalam lokasi sekolah. Perumahan disitu ada dua unit. Yang satu didiami Bu Arini yang satunya lagi kosong tidak ada penghuninya.
Begitu turun Nur langsung lari ke arah Bu Arini yang sedang berdiri di ambang pintu. Memeluknya layaknya anak pada ibunya sendiri.
"Ibu..... Nur datang" sapanya.
Bu Guru menyambutnya sambil tersenyum. Di wajah cantiknya ada seberkas sinar yang memancar. Yang tidak dapat dia sembunyikan. Berpendar-pendar. Indah. Sinar kebahagiaan.
"Bu, papah mau kerja. Nur mau nginep."
Bu Arini mengangguk-angguk sambil mengusap kepalanya Nur. "Dengan senang hati."timpalnya kemudian.
"Bu maap. Anak saya merepotkan"
Dafa mendekat.
Bu Arini menggeleng."Anak Bapak baik koq. Dia tidak akan merepotkan siapa pun."
"Barangkali ada tingkah lakunya yang tidak pantas, tegur atau marahi saja Bu. Atau kalau emang perlu dipukul juga nggak apa-apa. Anggap saja Nur itu anak sendiri."
"Nur emang sudah saya anggap anak sendiri koq Pa "balas wanita itu. Diam sejenak. Memandang Nur. "Mandi belum cantik?"
"Sudah Bu. Sudah mandi. Sudah makan. Sudah nyuci piring. Nyuci baju."
Bu Guru itu tersenyum. "Anak pinter." Wanita itu memencet hidung Nur. Lembut. Nur pun mendekap lebih erat.
"Oya Bu saya permisi. Saya mau berangkat." Dafa baru tersadar kalau pekerjaan rutinnya sudah menunggu. Dia hampir lupa. Entah kenapa ya?.
"Oya, Pa. Hati-hati di jalan ya. Jangan ugal-ugalan. Ingat di rumah. Ada yang menunggu Bapak. Ada yang mencintai Bapak."
Dafa menikmati kata-kata itu. Kepalanya manggut-manggut. Terima kasih atas petuahmu Bu Guru. Aku pasti menuruti nasehatmu.
Itulah kenapa Dafa mengendarai mobilnya kali ini amat hati- hati dan waspada. Tidak berani main serobot. Tidak mau kebut-kebutan. Selalu menjaga jarak dengan mobil di depannya. Menghindari hal-hal yang menimbulkan kecelakaan.
Aneh, kali ini Dia sangat perduli dengan nyawanya. Dia baru tersadar bahwa ada orang lain yang membutuhkannya. Membutuhkan cinta dan kasih sayangnya.
__ADS_1
Andai setiap melakukan perjalanan, aku senyaman ini, oh....!. Setenang ini oh...! Aku amat bahagia. Mudah-mudahan perasaan yang kualami saat ini akan terus kurasakan diperjalanan-perjalanan selanjutnya.
*****