Cinta kelas orang rendah "catatan sang supir"

Cinta kelas orang rendah "catatan sang supir"
Perasaan aneh yang runtuh


__ADS_3

Hubungan antara Nur dengan Bu Arini semakin hari semakin lengket. Keduanya nampak seperti saling membutuhkan. Sering mereka menghabiskan hari-harinya bersama Mereka pun sering mengumbar kasih sayang. Hubungan mereka nyaris seperti antara anak dan ibunya..!


Dafa merasakan telah terjadi perubahan yang luar biasa pada diri Nur, setelah sekian lama dekat dengan gurunya itu. Perubahan yang positif. Gadis kecilnya itu jadi sangat periang. Jadi lincah. Suka bercanda. Dan suka juga bercerita.


Terutama bercerita tentang orang yang sangat Ia kagumi. Dia adalah Bu Arini. Ibu gurunya...!


Seperti malam itu. Dafa dipaksa untuk mendengarkan ceritanya lagi.


"Pah, ternyata Bu Guru asalnya dari Jogja lho. Dia oleh negara ditugaskan di sini. Di sini Bu Guru tidak punya siapa-siapa. Tidak punya saudara. Tidak punya..ee.....famili." Gadis itu melirik Dafa ,memastikan ceritanya didengarkan. Dan seperti biasanya Dafa akan dengan seksama mendengarkan cerita tentang Bu Arini dari Nur.


Cerita tentang Bu Arini bagi Dafa sayang jika tidak didengarkan. Seorang guru cantik. Yang ramah. Murah senyum..Dan.....tentunya berjasa besar baginya. Ya. Dengan hadirnya Ibu guru itu, Kini Dia bisa nyaman saat menunaikan kerja. Saat harus meninggalkan rumah. Karena Nur......di rumah ada yang menemani...!


"Oya. Ibu guru ternyata anak semata wayang, pah." Kembali Nur melirik Dafa. "Ayahnya tidak nikah lagi setelah ibunya meninggal. Kalau papa sih mau nikah lagi nggak?"


Ah, Dafa tersentak mendengarnya. Pertanyaan yang aneh. Pertanyaan yang tidak pernah terduga . Dan bagi Dafa teramat sulit dijawab. Dafa untuk sekian lama terpaku diam.


"Kok nggak dijawab sih pah" Nur kecewa."Kalau Nur sih pengennya papah nikah lagi. Tapi Nur punya syarat."


"Syarat?"


"Iya. Syaratnya papah boleh nikah lagi asal..... dengan perempuan yang seperti ibu Arini. Cantik. Baik hati. Lembut. Dan penyayang."


Dafa menghela napas dalam. "Kalau nggak ada yang punya karakter seperti itu, bagaimana?' Dafa segera menimpali.


"Pasti ada. Papah harus mencarinya"


Ah dasar anak kecil. Pikirannya suka aneh-aneh.. Masa sih di dunia ini ada dua orang yang sama persis ...wajah dan sifatnya.


"Sudah ah, jangan ngomong yang aneh- aneh. Papah mau tidur. Besok papah mau berangkat kerja." Dafa beranjak dari kamar itu. Menuju tempat tidurnya


"Pah, tunggu sebentar."


Dafa berbalik."Ada apa lagi?"


"Besok'kan hari minggu. Ibu Arini mau ajak Nur pelesiran ke pantai Trumtung Boleh yah?"


"Tapi kamu jangan nakal"


"Ya nggak lah."


"Jangan menyusahkan Ibu"


"Pasti dong, Nur gitu lho...."


*****


Dafa melangkah ke arah pintu ketika mendengar suara ketukan. Terlihat dibalik pintu itu ada Bu Arini yang sedang mematung. Wajah cantiknya bersembunyi dibalik kerudung warna pink. Serasi dengan warna baju birunya dan celana panjang hitamnya


"Assalamu alaikum" sapanya sambil mengumbar senyum. Sebenarnya senyum itu biasa-biasa saja, cuma di mata Dafa senyum itu terlihat manis banget. Manis legit. Sampai Dafa lupa menjawab salam dari Bu Arini. Mungkin karena gagal fokus.


"Assalamualaikum."ulang Bu Arini.


"Wa alaikumussalam."jawab Dafa gugup.


"Nur ada?"tanyanya kemudian.


" Oh ada."sahut Dafa "Oya silahkan masuk Bu" Dafa mempersilahkannya. Wanita itu kemudian melangkah menuju kursi tamu. Langkahnya terlihat anggun.


"Nur......ada Ibu Guru" suara Dafa agak nyaring dari ruang tengah.


"Iya pah. Sebentar Nur lagi mandi."jawab Nur disela-sela suara guyuran air.


Kemudian Dafa duduk di kursi yang menghadap Bu Arini. Tanpa sengaja matanya memandang paras sang tamu lagi. Tersirat wajah itu penuh kharismatik. Sarat kewibawaan. Hingga Dafa merasa sungkan dan hormat .


"Maap Bu, ada perlu apa ya?"tanyanya pura-pura tidak tahu. Padahal Nur sudah memberi tahu.


"Saya mau ajak Nur pelesir. Biar pikirannya bisa rileks. Rekreasi buat anak kecil perlu lho pa. Biar jiwanya tidak terpenjara. Biar jiwanya bisa merdeka."


Dafa cuma manggut-manggut. Batinnya membenarkan perkataan tamunya itu. Ya...


"Bapak belum pernah ajak Nur rekreasi'kan?"

__ADS_1


"Belum Bu. Waktunya belum ada."


"Ya ya. Makanya mumpung saya lagi punya waktu. Saya yang mau mengajaknya. Bolehkan pa?"


"Asal tidak merepotkan Ibu."


"Bapak tidak usah khawatir. Anak Bapak itu baik dan penurut."


Tiba-tiba Nur muncul dari dalam dengan membawa nampan yang berisi dua gelas air teh manis.


"Aduh ya anak cantik. Kok repot-repot segala sih" kata Bu Guru sambil melihat gadis itu.


"Ah cuma air kok Bu" timpalnya. "Biar Ibu nggak bengong nunggu Nur dandan. Soalnya kalau bengong nanti bernasib seperti gadis malang yang sering ibu ceritakan itu"


"Yang bagaimana sih?" Bu Guru lupa pada cerita itu.


"Itu lho Bu. Seorang gadis yang dikhianati oleh pacarnya. Duduk bengong di tepi pantai. Tidak menyadari ada ombak besar. Lalu dia terseret ke tengah lautan. Untung diselamatkan seorang nelayan." Nur menuturkan cerita itu dengan gamblang.


Dan Bu Arini mengangguk-angguk. Ingat Ya ya......


"Sudah ah sana. Cepat dandan. Ibu nungguin lho" Dafa memotong.


"Okey boss ... "Gadis kecil itu tersenyum dan segera berlalu.


Dafa dan Ibu Arini memandangi Nur sampai gadis kecil itu menghilang di ambang pintu ruang tengah. Kemudian tanpa disadari keduanya saling bertatapan. Sejenak saja . Sebelum wajah mereka tertunduk melihat lantai.


Hening seketika saat itu. Entah apa yang sedang melintas di pikiran mereka. Hanya mereka saja yang tahu.


"Airnya diminum Bu" suara Dafa lirih seperti berbisik. Tapi sanggup mengusik suasana yang sempat senyap itu. Seraya tangannya meraih gelas. "Nur sejak usia lima tahun sudah pandai membuatkan saya minuman. Tiap pagi kalau saya ada di rumah ya dia yang membuatkan " tuturnya sekenanya. Yang penting suasana agak cair. Padahal sebenarnya info tersebut tidak penting. Tidak diceritakan pun tidak berbahaya. Atau diceritakan pun tidak ada untungnya. Dasar.


Ibu Arini mengangguk, kemudian meraih gelas minuman. Menempelkannya pada bibirnya yang sensual berwarna merah cerah. Lalu perlahan menuangkan air dalam gelas lewat bibir itu. Bibir yang menawan dan manis banget. Kayak buah apel.


Lalu mereka sama-sama meletakkan gelas di atas meja. Setelah itu mereka diam lagi. Mereka terlihat masih sama-sama canggung.


Memang terkadang tidak mudah untuk bisa langsung akrab. Bisa langsung bersahabat. Atau langsung dekat dengan orang yang belum lama kenal. Perlu waktu. Perlu proses.


Sebenarnya dalam hati Dafa ingin sih bicara atau ngobrol panjang lebar.. Ya untuk membuang kebisuan itu. Tapi bibirnya tak berdaya. Lidahnya terasa kaku. Dan topik yang ingin dibicarakannya tidak muncul- muncul.


"Saya sudah siap."katanya dengan wajah riang.


Dafa dan Ibu Arini serentak menatap gadis kecil itu. Gadis manis itu nampak sudah rapi.


"Langsung berangkat?" Ibu Arini bertanya padanya.


"Siap."jawabnya sigap.


"Oya pa. Saya pamit ya. Saya pergi dulu." Bu Arini menatap Dafa.


"Iya Bu. Hati-hati."


Bu Arini dan Nur pergi mengendarai motor maticnya. Dafa masih di teras rumah sambil terus memandangi mereka. Terus ....tertegun lama. Memikirkan tentang sebuah keajaiban. Sebuah jalinan yang terajut antara Bu Arini dan Nur. Aneh. Terasa aneh...! Kenapa keduanya sangat dekat. Sangat akrab.Bahkan seperti telah menyatu. Baik pikiran maupun jiwa raganya.


Seorang ibu bisa dekat dengan anaknya......adalah wajar , karena anaknya itu adalah telurnya atau ovumnya.. Diam di rahimnya beberapa bulan. Lalu meminum air susunya beberapa tahun. Wajar.


Tapi Ibu Arini dengan Nur kan tidak ada hubungan darah. Hanya sebatas hubungan antara murid dan guru. Hanya itu...! Tapi kok bisa sedekat itu!


Tiba-tiba Dia berpikir. Apakah mungkin perempuan yang dulu membuang bayi itu adalah Ibu Arini? Ah.


Beberapa saat lamanya pikiran Dafa bagai perahu kecil yang dipermainkan ombak besar. Tidak terkendali. Berkecamuk. Tidak berarah. Hingga sesuatu menyentaknya. Mengejutkannya. Dering hp.


Oh.....!. Dia segera bergegas. Hari ini kan harus kerja. Sampai lupa. Dering hp itu pasti dari bosnya yang sudah tidak sabar menunggunya.


****"


Dalam urusan dunia atau urusan rezeki... lihatlah yang ada di bawah kita. Biar kita bisa bersyukur. Kalau dalam hal dunia yang dilihat orang-orang yang posisinya diatas kita untuk bersyukur pasti akan terasa sulit. Selalu merasa kurang. Selalu gelisah. Akan muncul iri dengki. Dan akan menghalalkan segala macam cara untuk mencapai apa yang diinginkannya.


Filosofi atau prinsip seperti itu menurut Dafa tepat. Dan saat ini pun Dia sedang mempraktekannya. Dan hasilnya luar biasa.


Laki-laki itu terus memperhatikan para kuli panggul yang memindahkan beras dari truknya ke gudang milik si Engkoh. Keringat mengucur deras dari tubuh mereka. Bayangkan beras sebayak 9 ton harus mereka panggul hanya berlima orang.


Dafa membayangkan betapa capenya. Betapa terasa linu tulang-belulangnya. Memar pastinya! Sementara upahnya tidak seberapa. Tidak sebanding .

__ADS_1


Dia sangat beruntung mencari uangnya tidak sepayah itu. Tidak harus memanggul beban sebanyak itu. Sementara hasilnya lumayan besar. Tenaganya lebih ringan dari mereka. Keringatnya pun tidak bercucuran sederas keringat mereka.


Alhamdulillah.... Hati Dafa merasa kaya. Kaya yang sesungguhnya.


Tiba-tiba hpnya berdering. Segera dlilihatnya. Ternyata tidak tertulis nama pemanggilnya. Hanya nomornya saja . Nomor baru. Dafa yang sedari tadi duduk berdua dengan Engkoh Lee sambil mengawasi para kuli, perlahan mengangkat hpnya


"Hallo...siapa?"


"Ini... ..dengan pak Dafa'kan?"


"Iya. Anda siapa?"


"Arini."


"Oh ibu. Ada apa Bu?"


"Bapak dimana?


"Di pasar Induk Bu. Lagi bongkar beras "


"Bisa cepat pulang pak?"


"Emang kenapa?"


"Nur sakit. Lagi dirawat di rumah sakit Sentot"


"Sakit apa Bu?"


"DBD "


"Ya aku segera pulang. Tapi...." Suaranya terhenti karena Bu Arini mematikan hpnya.


Mendadak Dafa resah gelisah. Pikirannya menjadi tak karuan. Kepikiran terus akan Nur. Ingin segera menemuinya. Melihat keadaannya. Sayang Dia tidak bisa terbang. Andai bisa, pasti saat ini juga akan Dia lakukan.


Buru-buru Dafa menghampiri si Engkoh.


"Koh bisa nggak minta tolong?"tanya Dafa dengan napasnya agak memburu.


"Kanapa?"tanya Sang Juragan seraya melebarkan matanya. Tapi dasar matanya sipit walaupun dilebarkan ya tetap saja kecil. Malah jadinya kayak mata burung gagak yang lagi mengincar mangsa.


"Saya minta dipercepat,..baik bongkarnya maupun proses pembayarannya. Soalnya saya harus segera pulang."


"Emang ada apa?"


"Anak saya sakit. Sedang dirawat di rumah sakit"


"Anak? Emang kamu sudah punya anak?"


"Maksud saya Nur."


"Oo...anak yang kamu temukan itu?"


"Iya Koh"


Sang Juragan itu manggut-manggut. Dan mau mengerti apa yang diminta Dafa. Segera dia ajak Dafa ke sebuah kamar yang disebutnya 'kantor'. Untuk menerima pembayaran.


Begitu semua urusannya beres. Dafa segera melajukan truknya. Tetapi malang. Hari ini jalanan nampak penuh. Jalanan kota ke arah Tol yang biasanya bisa ditempuh dua jam, kali ini sudah lima jam tapi belum tembus. Ah. Dafa jadi gusar. Menggerutu tak menentu


Masuk jalan Tol. Kemacetan pun masih berlanjut. Ini mobilnya yang kebanyakan apa jalannya yang menyempit. Tampak di kanan-kiri jalan sedang ada proyek pelebaran. Mungkin itu biang keladi kemacetan ini.


Berulangkali Dafa mengumpat dalam hati. Kesal sekali. Aneh. Biasanya Dia tidak sekesal ini kalau menjumpai macet. Toh bukan baru kali ini Dia terjebak dalam kemacetan. Jakarta macet kan lumrah. Kalau nggak macet bukan Jakarta dong. Orang Jakarta 'kan kaya-kaya. Banyak yang punya mobil.


Setelah hampir sepuluh jam terjebak macet di Tol. Akhirnya Dia keluar dari pintu Tol Cikampek. Menyusuri jalur Pantura, yang juga masih macet. Tapi mending tidak parah. Truk masih bisa melaju dengan kecepatan antara 30 sampai 40 km/jam.


Nur di rumah sakit dengan siapa? Rintih batinnya. Ibu Arini tentu tidak bisa sepenuhnya mengurusi. Bukankah dia punya tugas yang lebih penting dari sekedar menunggui Nur di rumah sakit. Murid-muridnya lebih pantas untuk diutamakan.


Dipikirannya terpampang tubuh mungil Nur terbaring dengan jarum infus yang menusuk lengannya. Gadis itu tergolek sendiri tanpa teman. Kedinginan dan kesepian!. Dan tentunya menahan rasa sakit... !!!


Dafa amat sedih membayangkan itu. Sampai-sampai hampir menangis. Gadis yang malang. Gadis yang terbuang. Kurang kasih sayang! Terbaring sendirian di kamar rumah sakit.....akh!!


*****

__ADS_1


__ADS_2