
Sore itu. Saat matahari bersinar cerah di ufuk barat, terlihat Dafa, Arini dan Nur Hasanah memasuki area komplek salah satu pemakaman. Melangkah hati-hati dengan khidmat.
Suasana hening yang menyelimuti area itu. Barisan gundukan tanah yang di dalamnya terbaring mayat-mayat manusia. Pohon-pohon besar nan rindang yang memunculkan bau tidak sedap. Adalah ...nuansa yang sedang mereka bertiga jalani. Saat ini..!
Ziarah ke makam memang perlu juga. Biar kita bisa menyadari. Suatu saat nanti kita pun akan menjadi penghuni kubur juga. Di sana akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah kita perbuat selama hidup kita.
Di salah satu makam, tiba-tiba Dafa menghentikan langkah kakinya. Diikuti oleh Arini dan Nur yang sejak tadi membuntutinya dari belakang. Mereka untuk sekian detik saling menghela napas panjang. Kemudian mata mereka menatap gundukan tanah yang ada di hadapan mereka.
"Ini makam mamah ."kata Dafa dengan suara hampir tercekat di tenggorokan. Tangannya memegang bahu Nur. Terlihat laki-laki itu sangat berduka. Terus mencoba menahan air matanya yang mau terjatuh.
Nur menatap wajah Dafa. Di matanya ada tanya. Masih penasaran. "Ini pah?"
Laki-laki itu menganggukkan kepalanya dengan pelan.
Nur pelan-pelan mendudukkan tubuhnya. Kemudian bersimpuh di samping nisan makam itu. Matanya dengan seksama membaca tulisan yang tertera di sana
"Siti Aisah....."suaranya terdengar berat.
" Ya.... itu nama mamah."
Pelan-pelan Nur membelai nisan itu. Sepenuh rasa. Ada linangan air mata yang mulai bermunculan. Kemudian Nur menaburkan beraneka bunga di atas pusara itu. Menyiraminya dengan air dingin. Terlihat sangat khusu dan sangat hati-hati.
Kedua matanya semakin basah. Alirannya semakin deras.
Beberapa menit kemudian, sedu- sedannya mulai terdengar. Tangisnya tidak kuasa lagi dia tahan....!!!
" Mamah... kenapa mamah tega meninggalkan Nur? Nur rindu kasih sayang mamah." Tangisnya semakin pecah. "Kenapa mamah tinggalkan Nur?" Tangis gadis kecil itu sangat menyayat kalbu. Wajahnya mencium nisan. Kemudian mencium gundukan tanah kuburan. Tubuhnya tampak terguncang-guncang.
__ADS_1
Suasana yang mengharukan itu terus berjalan seiring waktu. Dafa tidak bisa berbuat apa-apa. Selain tetap berdiri mematung dengan tubuh yang bergetar. Bibir terasa kaku. Lidah menjadi kelu. Hanya air mata yang masih mengalir.
Sementara itu, Bu Arini perlahan duduk di samping Nur. Seraya tangannya membelai kepala Nur. Matanya tampak mulai basah.
"Kamu harus tabah nak. Kamu tidak boleh menangis yang berlebihan. Kasihan sama mamahmu Beliau akan merasa tersiksa kalau kamu tidak bisa mengikhlaskan kepergiaannya. Memang amat sulit untuk menerima kenyataan pahit ini nak. Tapi kamu harus bisa. Ibu dulu bisa. Masa kamu tidak bisa" Ibu Arini memberi nasehat. Dia mengenang masa-masa kecilnya dulu. Saat ayahnya membawa dia berziarah ke kubur mamahnya untuk yang pertama kali.
Nur mengusap matanya. Kemudian, memandang wajah sang guru. Sambil berusaha menahan tangisnya.
"Kalau kamu sayang sama mamah. Doakan beliau. Agar Allah menerima semua amal baiknya dan memberi tempat yang indah untuknya."lanjut ibu Arini. "Ayo....."bujuknya sambil menatap wajah gadis kecil itu.
Dafa yang sejak tadi berdiri di belakang Nur, pelan-pelan duduk di samping Nur.
"Ayo nak...doakan mamahmu" bujuknya pelan.
Nur menoleh ke Dafa. Lalu menoleh ke Bu Arini. Mengangguk pelan. Setuju. Sebelum kemudian, mengangkat kedua telapak tangannya ke langit.
"Amin......" Dafa dan Arini mengamini doa gadis kecil itu dengan khidmat.
Begitu mereka baru saja menutup doanya dengan mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah. Seorang laki-laki dan seorang perempuan yang berpakaian serba hitam menghampiri mereka. Mendekati mereka.
Kemudian yang laki-laki menjabat tangan Dafa.
"Siapa anda?"tanya laki-laki berpakaian serba hitam itu. Penasaran
"Saya sedang berziarah ke makam istri."
"Apa anda tidak keliru,?"
__ADS_1
"Maksud anda?"
"Makam ini, makam ibu saya. Beliau meninggal tujuh tahun yang lalu. Dalam usia delapan puluh tahun. Itu... lihat tulisan di nisannya." Laki-laki itu menunjuk pada tulisan yang tertera di sana. "Kalau istri anda mungkin saat meninggal usianya dibawah tiga puluhan 'kan?"
Mata Dafa segera melihat tulisan di nisan itu. Sangat kikuk. "Oh...maap....Berarti saya salah alamat. Maklum sejak istri meninggal baru kali ini berziarah. Maap ya....mas?"
Laki-laki itu manggut-manggut memaklumi. "Ya.....ya.. "jawabnya. "Tidak apa-apa."
Arini dan Nur yang sejak tadi mendengar percakapan itu diam melongo. Mematung di samping tubuh Dafa yang tampak sangat malu dan susah.
Kemudian Dafa menggapai lengan Nur erat-erat.
"Nak...maapin papah. Rupanya papah salah alamat. Yuk kita pulang dulu. Nanti papah ingat-ingat dulu. Di mana letak makam mamah yang sebenarnya. Kalau sudah ketemu. Nanti kita menziarahinya . Yuk...pulang"
Nur terlihat kecewa. Kecewa sangat. Tapi gadis kecil itu tidak berulah macam-macam. Nur memang anak baik. Dia segera menuruti kemauan Dafa. Segera mengikuti langkah laki-laki itu. Menjauhi dari makam .
Begitu Dafa, Arini dan Nur pergi. Dua orang yang berpakaian serba hitam itu kemudian tampak khusu memanjatkan doa untuk ahli kubur tersebut.
Kini .....mereka bertiga. Dafa, Arini dan Nur berjalan menuju pintu keluar. Dafa yang merasa telah mengecewakan Nur. Terus berusaha membujuk Nur agar gadis kecil itu mau memaapkannya Dan Dafa berjanji suatu saat nanti pasti makam mamahnya akan ditemukan.
Di luar pintu pagar makam. Sebuah mobil sedan mewah terparkir. Yang punya mobil itu segera keluar dari dalam mobil, begitu melihat Dafa, Arini dan Nur keluar dari area makam. Wajahnya terlihat sumringah. Bibirnya merekah mengukir senyuman.
"Hay......."sapanya
"Tante Dewi........?"Nur berlari ke arah sang artis. Wajah dukanya mulai mengabur. Hatinya yang semula sempit menjadi agak longgar.
Setelah itu....kini terlihat Nur dan Dewi saling berpelukan. Sementara Dafa dan Arini hanya memandangi mereka dari jarak yang tidak jauh.
__ADS_1
*****