Cinta kelas orang rendah "catatan sang supir"

Cinta kelas orang rendah "catatan sang supir"
8


__ADS_3

Di sekitaran waduk Salam Darma itu, ada warung lesehan. Dengan menu serba ikan. Ada ikan bakar. Ikang goreng. Pepes ikan. Dan lain-lain. Sementara tempat untuk menyantap hidangannya, pemilik warung itu membuatkan saung-saung. Atau panggung-panggung kecil. Satu saung, paling banyak ditempati untuk empat orang. Tapi idealnya sih untuk dua orang. Biar nyaman dan romantis..!


Di tiap-tiap saung punya nama masing-masing. Ada temanya. Ada saung yang bertuliskan 'Saat Cinta Bersemi'.Ada yang bertuliskan. ' Pelepas Rasa Rindu'. Merajut Kasih. Saling Mencintai. Dan lain-lain. Warung itu setiap malam minggu. Minggu siang. Atau hari libur ...selalu ramai. Selalu penuh. Banyak orang-orang yang sengaja datang.


Dafa dan Ibu Arini memilih salah satu saung. Tapi mereka tidak menghiraukan tema saung itu. Sebab bagi mereka tema tidak penting. Yang penting tempat yang mereka pilih nyaman. Itu saja....!


Sekian saat setelah mereka berada di saung itu, seorang pelayan perempuan datang mendekat.


"Pesen apa mas, mba?"tanyanya diselingi senyuman. Duh itu lipstiknya tebel banget. Merah banget lagi. Seperti habis makan darah.


"Gurami bakar."jawab Dafa masih mengawasi bibir si pelayan.


"Kalau mbaknya pesen apa?"tanya si pelayan genit itu lagi


"Sama saja."jawabnya sigap.


"Minumnya?" Si pelayan tanya lagi. Makin genit.


"Air jeruk hangat. "


"Kalau mbaknya?"


"Sama."


"Cuci mulutnya?"


"Apel merah. "


"Mbaknya. Apel merah juga'kan?'


Ibu Arini mengangguk. Sebenarnya bukan karena ikut-ikutan Dafa. Tapi memang Ibu Arini menyukai sajian yang dipesan Dafa. Lelaki di sampingnya itu.

__ADS_1


"Anda.... pasangan yang serasi. Itu bisa dilihat dari kesamaan selera kalian, he....he....he...."


Si pelayan kemudian pergi untuk menyiapkan pesanan. Jalannya digeal-geolkan. Entah biar apa. Mungkin untuk menarik para pelanggan. Atau mungkin dia fans beratnya Zaskia Gotik. Atau memang sudah bawaannya...!


Tidak berapa lama si pelayan sudah datang lagi dengan membawa barang pesanan. Meletakkan hidangan dengan rapi di atas tikar yang sudah terhampar. Kemudian mempersilahkan hidangan itu untuk dinikmati. Sebelum akhirnya dia pergi lagi, tentunya dengan geolan khasnya.


"Ayo Bu, kita makan" ajak Dafa.


Bu Arini cuma menghela napas. Hidangan dihadapannya belum mau disentuhnya. Pelan-pelan dia mengangkat wajahnya. Sekian detik menatap Dafa. Kemudian berpaling kearah lain. Menerawang jauh...!


"Sebelum makan boleh saya ngomong dulu?" Bu Arini nampak serius. Setelah itu.


"Oh silahkan Bu".


"Saya sering memperhatikan banyak orang yang heran melihat kita. "


" Maksud Ibu."


Dafa belum mengerti maksud ucapan Bu Arini. Dahinya dikerutkan untuk menyibak tirai ketidaktahuanya itu.


"Menurut saya penyebabnya adalah karena cara kita memanggil satu sama lain ."kata Ibu Arini kemudian. "Terlalu formal. Dan kaku "


"Jadi saya memanggil Bu Arini dengan panggilan 'Ibu'. Dan Ibu panggil saya dengan kata 'Bapak'. Itu bermasalah?"


"Sepertinya mereka heran. Dan mungkin menurut mereka tidak lazim."


Dafa manggut-manggut mengerti. Memang sih Dia sendiri sering menjumpai orang yang terheran-heran akibat ulahnya itu. Akibat kebiasaan itu. Panggilan itu ..


"Mulai saat ini bagaimana kalau saya dipanggil namanya saja. Nggak usah dipaggil Ibu. Rini boleh Atau Arin juga boleh. Umur saya 'kan masih dua puluh enam. Saya kira masih pantas dipanggil seperti itu"


Dafa manggut-manggut lagi. Iya sih. Masih pantas. Masih muda. Masih cantik.

__ADS_1


"Kalau Ibu ingin dipanggil namanya saja. Kemudian saya, masihkah Ibu tetap mau panggil saya 'Bapak?" Dafa seperti setengah protes. "Saya masih tiga puluh tahun. Dan belum pernah menikah. Dipanggil Dafa sudah ketuaankah?"


Mata mereka kemudian bertemu. Agak lama. Sekian menitan. Baru kali ini mereka berani bertatapan selama itu Mungkin ada tirai yang mulai terbuka. Ternyata kata-kata panggilan membawa pengaruh.


"Jadi mulai saat ini, setuju kita saling memanggil dengan namanya saja?"tanya Ibu Arini memastikan


"Jelas dong"


Kemudian mereka tertawa renyah. Lupa waktu. Dan hampir lupa pada hidangannya.


"Oya, koq pesanan kita ,belum kita makan." Dafa tersadar. "Ayo kita makan Bu. Eh ...salah. Ayo kita makan Rin." Dan mereka tertawa lagi. Kedengarannya agak asing. Jadinya lucu. Sedikit masih canggung.


"Dafa.....Dafa. Awas nanti jangan salah panggil lagi."


Dafa mengacungkan jempolnya. Mengisyaratkan tidak akan salah panggil lagi. Tidak memanggil Ibu lagi. Tapi Rini. Ya ..!


"Oh tapi..." Dafa tiba-tiba menghentikan kunyahannya. "Kalau saya di sekolah. Atau kamu sedang bersama para murid. Aku akan memanggilmu 'Ibu'"


"Kenapa emang?"


"Ya untuk menjaga wibawamu."


"Emang wibawa itu tercipta karena panggilan gitu? Menurutku tidak. Orang walaupun dipanggil ibu. Bunda. Baginda atau apapun kalau sifatnya jelek. Akhlaknya rusak. Ya,.. tetap tidak berwibawa. Sebaliknya orang walaupun tidak mendapat panggilan kehormatan. Tapi sifatnya baik. Akhlaknya baik. Pasti akan disegani. Dan punya wibawa."


"Jadi dihadapan muridmu sekalipun, aku tetap memanggilmu Rini?"


Wanita itu mengangguk. Kemudian mereka kembali menghabiskan hidangannya.


Menjelang azan maghrib, mereka baru beranjak dari saung itu. Mata Dafa dan mata Arini melirik sebuah tulisan yang terukir di pojok atas tempat itu. Tulisan yang merupakan tema saung itu. Yang belum sempat dibaca sejak tadi. Yang luput dari perhatian mereka dari awal datang. Ternyata tema saung mereka bertuliskan. "SAAT CINTA BERSEMI"....


*****

__ADS_1


__ADS_2