Cinta kelas orang rendah "catatan sang supir"

Cinta kelas orang rendah "catatan sang supir"
14


__ADS_3

Dewi Amoy merengkuh tubuh Nur dengan penuh cinta. Dengan mesra! Kening gadis kecil itu pun dikecupnya perlahan.


"Sudah ziarahnya?"tanya sang artis dengan merdu


Nur menggeleng. Wajahnya tiba-tiba agak muram. Bermuram durja!


"Belum? Lho koq belum? Bukankah tadi habis dari dalam area pemakaman?"


"Belum ketemu makamnya."


"Maksud Nur?"tanya Dewi tak mengerti. Tidak paham!


Gadis kecil itu tidak menjawab. Malah membisu. Matanya berpaling ke arah Dafa. Dewi pun ikut menoleh ke arah laki-laki yang berdiri tidak jauh dari mereka itu.


Dafa mendekati Nur dengan langkah-langkah kecil. Kemudian mengelus rambutnya yang tertutupi kerudung warna putih.


"Sabar ya Nak. Papah akan berusaha mengingat letak makam mamah. Suatu saat nanti, pasti ketemu."hibur Dafa lirih. Berusaha membujuk.


Oo..Kepala Dewi Amoy manggut-manggut mrngerti. Rupanya makam yang mereka tuju untuk diziarahi tidak ketemu. O....o.....


"Papah janji, bisa menemukan makam mamah?"tanya Nur antusias


"Iya ...."


"Oya...kenapa kita jadi kelihatan sedih sih?" Dewi Amoy tiba-tiba berbicara riang. "Kejadian tadi baiknya kita lupakan saja. Sekarang yuk kita senang-senang."


"Maksud Tante?"tanya Nur tak mengerti. Matanya menatap wajah Dewi tanpa berkedip.


"Tante sengaja datang ke sini untuk mengajak liburan ke puncak. Mumpung Tante sedang libur. Sedang tidak ada show "


"Papah juga ikut Tante?"


"Iya dong. Ibu Arini juga ikut. " Dewi menjawab.


"Kapan?" Nur bertanya lagi.


"Sekarang."jawabnya sigap


"Asyik....." Nur meloncat-loncat kegirangan.


Dafa dan Arini hanya tersenyum kecil melihat tingkah gadis itu


Setelah itu, mereka berempat meninggalkan tempat itu.


Sebelum berangkat ke puncak, mereka pulang terlebih dulu ke rumah. Tentu saja untuk mempersiapkan apa-apa yang mesti dibawa . Juga untuk mandi dan berganti pakaian.


Setelah semua persiapan dirasa cukup. Barulah perjalanan liburan ke puncak itu mereka lakukan.


Terlihat di dalam mobil mewah itu, Dewi Amoy duduk di belakang kemudi. Nur duduk di sampingnya.

__ADS_1


Sementara itu, Dafa duduk di kursi belakang di samping Arini.


Kini, mobil itu pun terus menerobos malam yang gelap. Menyibak udara pegunungan yang dingin berembun. Yang dinginnya terasa menusuk.


."Oya.....katanya Nur hapal lagunya Tante " Dewi menoleh sebentar ke arah Nur.


"Emang "tukas Nur.


"Coba nyanyiin dong "


"Lagu yang judulnya 'Mengejar Cinta Suciku' kan? Yang sekarang lagi tenar'kan?"


"Iya,"angguk Dewi.


Kemudian Dewi menghidupkan tafe mobilnya. Suara instrumen lagu pun terdengar. Menyusup gandang telinga. Menina-bobokan alam pikiran


Nur tampak terus memperhatikan betul musik itu. Dia sedang menunggu saat yang pas kapan masuknya. Kapan memulainya......Dan ketika saatnya tiba, gadis itu pun mulai bernyanyi.


Andai aku tahu.... seperti ini rasanya...


Tak'kan mungkin kuperbuat itu ...


Andai aku tahu seperti ini jadinya...


Tak mungkin aku mau jauh darinya


Ternyata aku tidak bisa hidup tanpa dia....


Ternyata dia sangat berarti bagiku..


Untuk dia ...aku siap berkorban...


Karena dia adalah cinta sejatiku....


Kemanakah aku harus mencarinya..


Khabarkan padaku Tuhan...


Kembalikan cinta suciku Tuhan...


Oo...oo....oo.. .


Suara Nur yang merdu ditambah instrumen lagunya yang manis membuat pendengarnya Dewi, Dafa dan Arini terpesona. Ketiganya..... berdecak kagum.


Dan Nur pun sangat senang karena menerima pujian dan tepuk tangan dari.mereka.


Mata Dafa malam itu tidak mau terpejam. Dan rasa kantuknya tidak berkenan datang. Padahal ingin rasanya segera dia terlelap. Untuk mengusir rasa lelahnya, setelah seharian tadi jalan-jalan ke beberapa tempat rekreasi di kota Bogor bersama Dewi, Arini dan tentu saja... Nur Hasanah.


Terbaring sendirian di salah satu kamar villa milik Dewi, berulang kali laki-laki itu menggersah. Gelisah. Pikirannya terus dihadapkan pada satu masalah yang sulit dipecahkan.

__ADS_1


Sulit dipecahkan?!


Dafa membuang napasnya jauh-jauh. Berharap beban di pikirannya sedikit berkurang. Berharap ada secercah sinar yang mampu menerangi kegelapan yang kini sedang menjelajah pikirannya


Ya Allah.... Tolonglah aku. Ya Allah...tunjukkan aku jalan keluar dari masalah ini... Ya Allah.....jangan Engkau bebani aku dengan masalah yang sekiranya tidak sanggup aku pikul, doanya.


Kali ini, pikiran lelaki itu selalu teringat pada kejadian beberapa hari yang lalu, saat perbuatan bohongnya ketahuan. Saat menunjukkan salah satu makam pada gadis kecilnya, yang sebenarnya Dafa tahu kalau itu ....pasti bukan makam mamahnya Nur.


Kiranya siasatnya itu tidak berjalan sesuai dengan yang dia harapkan. Siasatnya kandas ditengah jalan. Berharap dengan membawa Nur ke salah satu makam, maka akan menyelesaikan masalahnya.


Akan tetapi itu malah tidak..!!


Justru itu malah membuatnya jadi malu. Malu pada ahli waris penghuni kubur yang menegurnya kala itu. Malu pada Nur. Dan utamanya malu pada dirinya sendiri.


Dan setelah misi pertamanya itu gagal. Apakah Dafa masih punya nyali untuk menunjukkan Nur ke makam yang lain?


Apakah Dafa akan mengajak ziarah kubur Nur lagi dengan membawanya ke suatu makam lain?


Lelaki itu menggersah lagi. Bingung untuk menentukan sikap.


Kalau aku mengajak lagi Nur ziarah ke salah satu makam, aku takut kejadian yang lalu terulang lagi. Tapi kalau tidak.....?! Bukankah aku sudah berjanji pada Nur untuk membawanya ziarah ke makam mamahnya. Oh...Allah......kenapa serumit ini?! Kenapa masalahnya seberat ini....?!!!!!


Oh..oh! Dafa semakin jatuh dalam kebingungan. Dan semakin sulit untuk melepaskannya. Beban yang menggayut di pikirannya membuat kepalanya serasa mau pecah...!!


Di saat-saat sangat panik itu, tiba-tiba dan tanpa disadari muncul di pikiran lelaki itu satu ide baru.


Ide baru?!


Ya, lelaki itu kepikiran untuk membongkar rahasia yang selama ini dia simpan. Dia kepikiran untuk mengatakan sejujurnya pada Nur. Siapa sesungguhnya gadis itu?


Matanya tiba-tiba menerawang jauh. Membuka lembar-perlembar kenangan masa lalu. Kenangan yang sudah terkubur tujuh tahun silam.


Terbayang jelas, saat dirinya menemukan seorang bayi di bak truknya. Meminta bantuan Sulis,pacarnya kala itu, untuk mengantar bayi itu ke seorang Bidan. Dan seterusnya. Dan seterusnya......


Peristiwa tujuh tahun yang lalu itu kini terlihat jelas, sampai seolah dirinya kali ini berada di waktu itu.


Betulkah...mengatakan sejujurnya siapa sebenarnya Nur itu, adalah sebuah solusi?! Tiba-tiba muncul pertanyaan itu di batinnya. Seandainya aku terus terang pada Nur kalau Nur itu bukan anakku. Akan tetapi seorang bayi yang dibuang ibunya dan ditaruh di mobilku, bisakah Nur menerima kenyataan itu?


Oh..Allah. Bagaimana nanti perasaan Nur?! Siapkah menerima khabar ini? Bisakah menerima? Atau malah jiwa Nur akan terguncang ?


Oh... !!! Kegalauan yang dirasakan Dafa kini terlihat semakin dalam.


Kemudian....tiba-tiba Dafa bangun dari pembaringannya. Pikirannya sudah tidak nyaman lagi. Sekian menit kemudian, tubuhnya....dia dudukan di pinggir dipan itu. Dengan dua telapak tangan yang memegang kepalanya.


Dan seiring waktu yang berjalan kepanikan Dafa justru semakin parah. Lelaki itu pun...untuk mencoba mengurai beban pikirannya, agar sedikit lebih ringan, segera keluar dari kamar itu. Untuk menuju ruang tamu.


Kemudian di sana, di ruang tamu itu, Dafa duduk termenung seorang diri, sambil berharap ada mukjizat. Ada keajaiban...penawar masalah yang sedang dia hadapi kini.


*****

__ADS_1


__ADS_2