Cinta kelas orang rendah "catatan sang supir"

Cinta kelas orang rendah "catatan sang supir"
Kenapa seperti ini?


__ADS_3

Rasa kantuk yang sulit dilawan. Maklum semalaman kurang tidur, karena terus menjaga bayi yang sesekali menangis. Membuat mata Dafa ingin dipejamkan.


Perlahan Dia membaringkan tubuhnya di atas sofa yang terhampar di depan tv. Berulang kali menguap. Perlahan-lahan matanya mulai terpejam. Pandangannya mulai memudar. Makin dalam. Makin dalam.... Dan.....


Tiba-tiba Dia terkejut. Suara tangis bayi itu menghentak telinganya Buru-buru Dia bangun untuk menuju dipan dimana bayi itu berbaring.


Dot yang masih ada susunya, yang ada di ujung dipan itu segera diraihnya. Lalu dimasukkannya ke mulut bayi itu. Hingga bayi itu terdiam . Bayi itu nampak meminumnya dengan lahap. Menghabiskannya!


Beberapa saat kemudian, mulut bayi itu melepaskan dot itu. Lalu matanya terpejam lagi. Tidur lagi.


Dafa menghela napas dalam. Tubuhnya masih terduduk ditepi dipan, sambil menatapi bayi itu. Sementara itu hatinya terus berkecamuk. Bergejolak. Sangat dahsyat....! Bayi ini membuat hubunganku dengan Sulis hampir kandas. Atau mungkin saja kandas beneran. Sesuatu yang sangat aku takutkan. Jadi apa yang harus aku perbuat dengan bayi ini?


Dafa tampak gelisah . Kesal. Dan marah! Tapi untuk siapa? Entahlah. Pada bayi itu?


Kembali Dia menatap wajah sang bayi. Lebih tajam. Dan lebih tajam lagi. Kemudian Dia tertunduk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak pantas aku benci. Tidak pantas aku marah padanya . Justru sebaliknya mestinya aku menyayanginya. Ibunya telah menyia-nyiakannya. Membuangnya. lalu tegakah aku mencampakkannya juga?! Sekelam itukah nasib sang bayi?! Mana naluri kemanusiaanku?!!


Aku harus menyayanginya. Mestinya....!!!


******


Keinginan Dafa untuk memejamkan matanya, agar rasa kantuknya hilang sore itu ...tidak jadi. Biarlah....rasa kantuk ini aku lawan saja. Segelas kopi mungkin bisa menolongku mengusir kantuk itu pergi.


Dafa pergi menuju dapur, untuk meracik segelas kopi hitam. Saat mengaduk kopi di gelas. Batin Dafa agak lara . Ada sayatan halus. Biasanya Sulis yang membuatkan kopi untuknya. Ya, sebelum ada insiden yang terjadi ini. Bukan aku. Ya ..


Pikiran Dafa mengenang hari-hari sebelumnya Sulis biasanya akan ada di rumah ini apabila Dafa tidak sedang kerja. Memasakkan nasi dan lauk pauknya. Mencucikan pakaiannya. Bahkan sampai pakaian dalamnya . Sampai terkadang Dafa merasa malu karena barang itu kan sangat privasi.


"Ini mah jangan.." Dafa meraih ****** ******** yang mau Sulis cuci. Waktu itu.


"Emang kenapa?" Sulis cemberut. Kayak sedang ingin dimanja


"Inikan sangat pribadi. Jangan sampai orang lain pegang"


"Jadi kamu anggap aku ini orang lain? Jadi selama ini aku bukan bagian dari hidupmu?" Sulis makin cemberut. Tapi dasar orang cantik, walau cemberut ya masih nampak cantik. "Baik... kalau kamu masih anggap aku orang lain. Aku akan pergi. Dan aku ingin mati. Percuma hidup juga "


"Sulis bukan itu maksudku. Aku takutnya kamu jijik."


"Kamu anggap aku perempuan apa. Masa sama calon suaminya punya rasa jijik" Sulis menatap Dafa manja. "Aku suka sama kamu dari ujung kepala sampai ujung kaki lho. Tidak ada kecuali."


Ah, Sulis memang seperti itu. Manja Selalu menggemaskan. Dan yang makin membuat Dafa jatuh hati padanya Walaupun wajahnya sangat cantik. Sebelas-dua belaslah dengan artis Sahrini mah, tapi tidak pernah sombong dan kemayu. Penampilannya tidak berlebihan. Tidak suka shoping. Tidak boros. Rajin sholat. Dan yang paling mengharukan adalah...... kesetiannya!


Kalau ada yang kurang dari dia.menurut Dafa cuma satu. Sulis belum berhijab. Ya Andai sudah berhijab.Sulis adalah wanita idaman. Idaman sepanjang zaman.


Pernah saat Hari Raya Idul Fitri Dafa bertamu ke rumahnya. Saat itu Sulis pakai hijab. Ya seperti kebanyakan perempuan- perempuan lain saat menyambut hari besar . Mata Dafa ketika itu terbelalak seperti mau keluar. Hatinya berguman " Dia itu Sulis atau bidadari dari kayangan. Cuantik bangeet.. "


"Kenapa mas. Koq bengong?"tegur Sulis waktu itu.

__ADS_1


"Oh. Benarkah kamu Sulis?"


"Iya. Kenapa memang?"


"Aku kira bidadari dari kayangan.


Cantik banget ...ck..ck..."


"Ah. Gombal."


"Aku sungguhan. Aku tidak merayu."


Sulis tersipu malu. Hatinya seperti melayang tinggj keangkasa. Pujian Dafa sebabnya.


"Aku ingin nanti kalau kamu sudah jadi istriku, kamu berpakaian seperti ini. Mau?"


"Aku sebenarnya mau ngomong begitu. Tapi takut kamunya nggak setuju. Sekarang kamu yang ngomong. Jadi dengan senang hati. Begitu mendapat gelar nyonya Dafa. Aku berhijab."


Oh Sulis. Dafa mendesah. Kenangan-kenangan manisnya bermunculan terus dipelupuk matanya. Rindu didadanya serasa membara. Dada itu seperti mau meledak.


Sulis......aku kangen banget.....


Oh Tuhan...bukalah hatinya. Singkapkanlah tirai kecurigaannya. Agar dia bisa kembali padaku. Karena aku tidak mau kehilangan dia. Tunjukan padanya Ya Tuhan...bahwa aku tidak selingkuh. Bayi itu bukan anakku. Bayi itu bukan apa-apaku.... . Ya Tuhan.......kabulkanlah pintaku.


Pikirannya makin berkecamuk. . Aku harus menghubunginya sekarang. Barangkali kali ini dia bisa mempercayai penjelasanku.


Panggilan pertama. Ternyata Sulis tidak mengangkatnya. Dafa kecewa.


Panggilan kedua. Tidak diangkat- angkat. Ayo dong angkat ..cantik. Please....angkat. Dafa berharap dalam hati. Tapi akhirnya Sulis tidak mengangkat juga. Dafa lebih kecewa lagi.


Panggilan ketiga. Ternyata hpnya Sulis sudah dinonaktifkan. Dafa kecewa. Dafa amat sangat terpukul hingga hpnya segera Dia banting ke meja.


Sulis rupanya masih marah. Atau jangan-jangan Sulis sudah bertekad bulat untuk tidak mau lagi bertemu dengannya. Dafa menepuk dahinya. Kalau itu yang terjadi. Serasa dunia ini kiamat. Jangan...! Jangan sampai!!.


Ponselnya tiba- tiba berdering. Dafa tersentak. Menghela napas lega. Terimakasih Allah.....akhirnya dia menghubungiku.


Segera hpnya diraih. Dilihat nama sipemanggil itu. Dan kemudian pemuda itu terkulai lemas. Ternyata yang menghubunginya bukan Sulis. Tapi Bosnya. Juragan beras.


*****


Baru kali ini Dafa merasa enggan dan malas menerima panggilan hp Bosnya. Hp yang ada di tangannya diletakan lagi di meja. Lalu nada panggilan masuknya terus dibiarkan berdering. Tanpa dipedulikan. Sampai akhirnya deringnya lenyap sendiri.


Dafa terus memegangi dahinya dengan dua tapak tangannya. Terasa berat sekali .


Hpnya berdering lagi. Dafa hanya melirik hp itu. Ternyata dia lagi, bathinnya. Dan Dia kembali tidak mau mengangkatnya. Sampai dering itu lenyap lagi.

__ADS_1


Dalam hati kecilnya dia merasa salah dan kurang ajar. Seorang anak buah yang selalu menerima gaji dari majikannya. Juga sering menerima bantuan, berani mempermaikan sang majikan. Padahal barangkali saat ini majikannya butuh sesuatu.


Dan kali ini hpnya berdering lagi. Dafa meliriknya. Oh. Perlahan hpnya diambil. Ditempelkan ke telinga. Rasanya malas banget.


"Halo..." suara Dafa lirih.


"Kemana saja kamu Daf? Koq baru diangkat?"


"Anu Bos Ee....." jawabnya bingung.


"Lagi tidur?"


"Iya Bos." Bohongnya.


"Besok berangkat lagi ya. Siap kan?"


"Ke mana?"


"Lho koq ke mana? Ya biasa ke pasar Induk dong. Kirim beras."


Dafa menggersah. Baru kali ini tugas itu terasa berat. Seberat memikul gunung. Oh.


"Kamu lagi nggak enak badan?" Bosnya menangkap suatu kejanggalan.


" Nggak Bos."


"Tapi koq kayaknya malas berangkat. Oya, pasti masih kangen sama Sulis. Iya kan?"


Dafa hanya menelan ludah yang terasa seret . Dan mengering sebelum sampai ke tenggorokan.


"Masak sih tiga hari nggak cukup untuk kamu melepas rasa rindu. Oya, sekarang pasti kamu lagi sama Sulis kan?"


"Nggak Bos" jawabnya lirih. Nyeri!


"Oya, sudah sore sih. Dia pasti sudah pulang ya?" Bosnya terkekeh."Oya Daf, kapan kamu mau melamarnya?"


Dafa menggelengkan kepala. Walaupun gelengannya itu pasti tidak dapat dilihat Bosnya. Sebab untuk menjawab 'entah atau tidak tahu' mulutnya tiba-tiba macet.


"Kalau mau melamar bilang yah? Soalnya pasti membutuhkan uang banyak."tutur Bos beras itu penuh perhatian. "Barangkali nanti kamu butuh tambahan uang bilang saja. Insya Alloh saya akan memberi hutangan."


"Iya Bos. Terimakasih.."


"Sudah yah. Jangan lupa besok siap " ucap sang Bos menutup percakapan.


Dafa menaruh hp di meja. Membuang napas yang sedang tidak beraturan. Sore nampak kelabu.Dafa akhirnya larut dalam pikiran.

__ADS_1


******


__ADS_2