Cinta kelas orang rendah "catatan sang supir"

Cinta kelas orang rendah "catatan sang supir"
berduaan dalam kegelisahan


__ADS_3

Suara azan subuh berkumandang dari pengeras suara sebuah masjid. Gaungnya yang menggema memanggil-manggil orang untuk segera bangun dari tidurnya. Mengambil air wudhu dan segera datang ke masjid untuk melaksanakan sholat.


Sebagian orang merasa berat untuk melaksanakan sholat subuh. Mereka lebih mencintai bantal dan kasurnya dari pada Sang Penciptanya. Padahal anugrah yang sudah Allah berikan pada mereka sangat banyak. Berlimpahan..! Allah sudah memberi mata, hidung, tangan, kaki, mulut dan semua yang melekat di tubuh kita. Allah juga memberikan kita udara, rezeki dan lain-lain.


Lantas ....tidak malukah sudah menerima pemberianNya yang sangat banyak, hanya diperintah sholat saja. Hanya disuruh ibadah saja, masih belum mau. Masih tidak siap. Ayo bangun. Ayo sholat. Sholat itu lebih baik dari pada tidur.


Pelan-pelan mata Ibu Arini terbuka. Dia terlihat seperti orang bingung. Kemudian mengangkat kepalanya dari bahu Dafa. Menatap Dafa sejenak saja. Setelah itu, mengucek matanya yang agak sepet.


"Oh,Allah ....saya ketiduran." desalnya. "Maap tadi saya tidur di bahu Bapak."


Dafa menggeser letak duduknya agar tidak rapat banget dengan Ibu Arini. "Tidak apa-apa Bu."timpal Dafa. "Ibu nampak lelap sekali."


Wanita itu mengangguk. Membenarkan perkataan Dafa. Sedetik kemudian dia menghela napasnya. Sambil merapihkan gaunnya yang dirasa kurang rapi.


"Sudah azan subuh."suaranya lirih. Sayup-sayup suara azan menyusur telinganya.


"Iya Bu. Kita sekarang pulang yuk. Kita istirahat dulu."


Wanita itu mengangkat bahu. "Iya. Tapi setelah itu, pencarian harus kita lanjutkan lagi."


"Iya Bu "


Berdua mereka berboncengan lagi. Di atas kendaraan roda dua itu, tubuh mereka terkadang menempel . Kalau melewati jalanan yang rusak, atau melewati polisi tidur, Dafa spontan


mengerem motornya. Pada saat sedang mengerem itu tubuh Ibu Arini terdorong ke depan. Rapat menempel pada punggung Dafa.


Dan....Dafa merasakan ada sesuatu yang menempel di punggungnya. Tepatnya ada yang mengganjal. Sepertinya yang mengganjal itu dua benda . Dua benda itu terasa halus dan lembut. Dan rasanya hangat.


Tapi karena Dafa sedang kalut memikirkan Nur. Pikirannya hanya terfokus ke gadis yang menghilang itu. Jadinya Dia tidak kepikiran yang tidak-tidak. Tidak berpikir ke situ.

__ADS_1


Begitu pula halnya dengan Ibu Arini. Dia amat fokus pada Nur. Sampai dia lupa tentang dirinya. Dia juga tidak menyadari kalau Dafa bukan siapa-siapanya. Harusnya dia bisa menjaga jarak. Harusnya lebih berhati-hati..!


Sesampainya di rumah. Bu Arini turun. Berdiri sejenak di pelataran rumahnya. Menatap Dafa sekian detik..


"Hari ini, mulai jam berapa kita mencari Nur nya pak?"tanyanya antusias


"Terserah ibu."jawab Dafa sigap.


'Habis duhur saja ya Pak. Selesai saya mengajar."


"Boleh. Tapi ee......"kata Dafa terbata "Kalau ibu cape. Hari ini ibu istirahat saja. Ibu tidak usah repot-repot. Hari ini biar saya saja yang mencari Nur."


"Emang kenapa? Apa Bapak keberatan kalau saya ikut?" Ibu Arini ngotot.


"Saya mengkhawatirkan kondisi ibu."


"Please... jangan mengkhawatirkan kondisi saya. Ada yang harus lebih kita khawatirkan. Kondisi Nur. Sekarang dia ada di mana? Bagaimana nasibnya. Kalau sampai diculik orang. Kalau sampai dijual-belikan. Kalau sampai dibunuh lalu diambil organ tubuhnya. Kalau sampai......oh!" Bu Arini bersikeras, Dia benar-benar seperti terbawa oleh perasaannya. Perasaan bagai seorang ibu yang anaknya hilang. Cemas. Takut. Sedih. Dan ribuan perasaan lainnya.


Mencari dan mencari. Itu semboyan yang terus mereka gaungkan. Mencari sampai ketemu. Walau pun adanya di ujung dunia ....!!!


Di hari pertama. Tidak ketemu. Dihari kedua. Ketiga. Keempat. Tetap belum ditemukan. Dan hari ini adalah.....hari kelima.


Sore itu, sekitar jam lima. Mereka berdua terlihat sedang duduk beristirahat di pinggiran waduk Salam Darma. Untuk melepaskan penatnya karena seharian muter-muter tak kenal arah. Tenaga mereka sudah terkuras.


Sementara pikiran mereka mulai dihinggapi rasa frustasi. Pencarian yang selalu sia-sia. Mencari seorang yang hilang dengan wilayah yang sangat luas sungguh sangat sulit. Lebih sulit dari pada mencari jarum yang hilang digundukan pasir.


"Saya sih yang salah."gumam Dafa sambil menggerutu penuh sesal. Matanya yang menyimpan duka dibiarkan memandang riak air yang diterjang angin. Di mata itu...seraut wajah gadis kecil, wajah Nur terbayang-bayang sangat jelas.


Wanita di sebelahnya menoleh. "Salah bagaimana?"

__ADS_1


"Kalau saja dulu saya tunjukkan sebuah makam. Lalu saya bilang ke Nur ' Ini makam ibumu'. Nur pasti tidak akan minggat."


Wanita di sebelahnya manggut-manggut. Batinnya menyetujui apa yang dikatakan Dafa.


Tiba-tiba terlihat ada sepasang muda-mudi yang turun dari motornya. Mereka nampak mesra sambil menyusuri pinggiran waduk yang rindang karena banyak pepohonan. Tangan mereka bergandengan. Dan terkadang pipi mereka pun bersentuhan.


Dafa dan Ibu Arini memandangi dua sejoli itu. Seolah iri. Dua sejoli itu berdua datang untuk menikmati rasa cinta. Sementara Dafa dan Ibu Arini berduaannya . ...bukan untuk bersenang-senang . Tapi justru untuk bersusah payah. Mencari dan memikirkan seseorang. Seorang yang pergi tanpa jejak Nur seorang.


"Oya. Bu. Kita cari makan yuk. Lapar banget. Tuh di sana ada warung."tukas Dafa yang teringat sejak siang perutnya belum diisi makanan. Kemudian perlahan Dafa bangun dari duduknya.


Bu Arini terlihat agak terkejut untuk sejenak. Dia kemudian memandang Dafa. Pelan-pelan dia mengangguk setuju. Perutnya memang sudah terasa lapar.


Kemudian dia berusaha untuk bangun dari duduknya. Tapi entah kenapa tiba-tiba tubuhnya terasa limbung. Tiba-tiba gemetar . Dan nyaris mau meluncur jatuh ke dalam waduk.


Dafa agak panik melihatnya. Kemudian tanpa pikir panjang, tubuh yang mau terjun ke air itu direngkuhnya. Berdua mereka akhirnya terguling-guling di atas rumput. Untung saja ada akar pohon yang melintang hingga tubuh mereka terganjal. Dan tidak jatuh ke waduk. Masih beruntung....!


Berdua mereka mengucap syukur. Karena selamat. Dafa segera bangun. Kemudian tangannya menggapai tangan Ibu Arini yang nampak kesusahan untuk bangun. Mereka naik ke atas tanggul sambil bergandengan.


"Ibu nggak apa-apa?"


"Terimakasih. Untung segera dibantu."


"Tapi saya minta maap. Atas kejadian tadi." Dafa merasa tidak enak. Karena tubuhnya tadi berkali-kali menindih tubuh Ibu Arini.


"Minta maap. Emang Bapak salah apa?"


"Barangkali saya kurang sopan"


Bu Arini menggeleng-gelengkan kepalanya. Kurang ajar bagaimana? Masa menolong orang ....dibilang kurang ajar?

__ADS_1


Di atas tanggul tangan mereka baru saling melepaskan. Kemudian mereka berdua berjalan menuju sebuah warung makan yang ada di situ. Di sekitaran area waduk 'Salam Darma'


*****


__ADS_2