Cinta kelas orang rendah "catatan sang supir"

Cinta kelas orang rendah "catatan sang supir"
19


__ADS_3

"Aku amat menyesal telah membuangnya. Dan aku pun merasa sangat berdosa , karena telah menyia-nyiakan anugrah yang Tuhan berikan.'tutur Dewi lagi. Pipinya yang merah merona terlihat dibelah oleh dua aliran air bening yang keluar dari sudut matanya.


"Kenapa kamu tidak mencari keberadaan anakmu?"tanya Dafa menimpali.


"Aku tidak mencarinya?" Dewi mengangkat matanya memandang Dafa. "Persangkaan anda salah. Aku justru selalu mencarinya. Terus mencarinya. Ke mana-mana. Akan tetapi ternyata teramat sulit. Coba anda bayangkan, kira-kira sesulit apa mencari seorang gadis kecil yang saat aku buang masih berupa bayi merah. Perubahan fisiknya tentu sudah berubah drastis."


Dafa, lelaki itu mengangguk-angguk paham. Memang sulit sih.


"Aku sudah frustasi untuk mendapatkannya kembali. Jiwa pun sudah terguncang."tambah Dewi.


"Beruntungnya aku ini seorang seniman, sehingga aku bisa melampiaskannya dengan mencipta lagu. Anda bisa teliti lebih dalam lagu yang sekarang lagi ngehits 'Mencari Cinta Sejatiku' Lagu itu tercipta disaat aku sedang shock berat. Lagu itu bercerita tentang ....keresahan yang tengah menikamku. Ditambah rasa penyesalan. keputus-asaan, sekaligus pengharapan untuk bisa bertemu dengan anakku . Dan berharap agar Yang Maha Kuasa memberiku sebuah jalan."


Dafa mencoba meresapi bait-bait syair lagu itu. Oh. Ternyata yang dimaksud cinta sejati itu......cintanya terhadap buah hatinya?!


"Syukur Alhamdulillah akhirnya kini anakku sudah ditemukan." Dewi menatap Dafa penuh haru.


"Jadi kamu yakin bahwa Nur itu anakmu?" Dafa menatap kuat ke wajah Dewi.

__ADS_1


"Aku yakin sekali."


"Apa yang membuatmu yakin sekali?"


"Tanda lahirnya ." Dewi menjawab lugas. "Sebelum bayi itu aku buang, aku pernah melihat ciri-ciri anakku. Tahi lalat dibawah hidung dan bulatan hitam dibelakang telinganya."


Dafa untuk sekian waktu terbengong. Oh.. pantas sejak peristiwa kecelakaan yang menimpa Nur, Dewi seolah-olah tidak mau jauh dari Nur. Baik saat di rumah sakit, maupun ketika sudah ada di rumah. Rupanya Dewi sudah mempunyai firasat. Rupanya Dewi mengenal tanda lahir itu. Oh!


"Aku sangat berterima-kasih pada anda, karena telah merawatnya sampai dia besar. Hutang budiku pada anda sangat besar. Tidak mungkin mampu kubayar. Andai anda meminta seluruh hartaku untuk menebus pengorbanan anda, asal anakku bisa kembali padaku. Aku ikhlaskan. Bahkan kalau itu masih kurang dan tambahannya aku harus bersedia menjadi istri anda, aku pun bersedia. Demi anakku. Demi anakku aku rela berkorban apa pun."


Dafa beberapa saat hanya tertegun. Tidak ada kata-kata yang mampu untuk disampaikan.. Ada yang sedang mempermainkan pikirannya. Apa? Entahlah; Dafa sendiri terlihat bingung.


"Mama......."tiba-tiba suasana senyap itu dikoyak oleh suara lirih.


Dewi dan Dafa serentak menoleh pemilik suara itu. Ternyata Nur, berdiri dibelakang tempat duduk mereka.


"Benarkah Tante mamanya Nur?"tanya gadis kecil itu dengan suara penuh haru. Sarat ketidak percayaan.

__ADS_1


Dewi perlahan bangkit dari tempat duduknya. Kemudian melangkah mendekati Nur sambil membentangkan kedua tangannya. Dan.... dihadapan gadis itu sang artis itu mengangguk perlahan dengan mata yang berair.


"Iya nak. Kamu anakku."suaranya sambil memeluk si gadis. Diiringi suara Isak tangis yang menyentuh.


"Nur....sudah mendengar cerita mama semuanya."kata Nur dalam dekapan Dewi di sela-sela tangisnya.


Keduanya saling mendekap erat. Dalam rentang waktu yang lama. Seperti tidak mau terlepas. Kata'-kata tidak terucap lagi dari bibir mereka. Yang terdengar hanyalah suara tangisan.


Malam yang hampir menjumpai fajar. Yang dinginnya hampir menembus tulang. Di luar embun mulai bergelayut di dedaunan. Seolah turut larut dalam tangis mereka berdua. Tangis pilu? Ah tidak. Akan tetapi tangis bahagia.


Kini akhirnya Yang Maha Kuasa mempertemukan keduanya setelah berpisah sekian tahun. Rindu menjadi syahdu. Pengharapan menjadi kenyataan!.


Sementara itu, di samping mereka berdua , Dafa hanya berdiri bagai patung. Matanya tidak bergeser dari tatapan yang menyimpan sejuta rasa terhadap dua insan yang sedang melampiaskan perasaannya itu.


Yang ternyata .......mereka adalah ibu dan anaknya...!!!


*****

__ADS_1


__ADS_2