Cinta kelas orang rendah "catatan sang supir"

Cinta kelas orang rendah "catatan sang supir"
9


__ADS_3

Pagi minggu yang kelabu, karena langit berselimutkan mendung tebal. Hari ini tujuh hari sudah , Nur tidak pulang. Atau tepatnya Nur minggat dari rumah. Entah sekarang, gadis kecil itu berada di mana ? Di mana terdamparnya? Di mana rimbanya?. Dan juga bagaimana keadaannya?!


Mencari keberadaannya sudah dimaksimalkan. Dan sudah melalui berbagai cara. Termasuk menyebarkan atau menempelkan foto-foto Nur di tempat-tempat keramaian. Bahkan Dafa juga sudah lapor ke kantor Polisi dan meminta bantuan pihak kepolisian untuk turut mencarikan gadis kecilnya yang menghilang itu.


Tetapi sampai kini, ....Allah belum mengembalikannya juga. Allah...belum mengabulkan harapannya juga.


Apakah Nur akan hilang selamanya? Apakah Allah tidak berkenan memulangkan Nur? Oh.....!!!


Dafa tidak mengerti apa yang akan terjadi. Biarlah...semua keputusan diserahkan pada Allah. Yang pasti Dafa harus tetap bersabar. Jangan putus asa dan jangan patah semangat. Terus yakin. ....kalau mau bersungguh-sungguh pasti Allah akan menunjukan jalan.


Seperti biasanya. Hari itu. Dafa mulai bersiap-siap untuk mencari Nur lagi.


Sehabis mandi, laki-laki itu bergegas membuka lemari untuk mencari pakaiannya. Tapi sial.....! Tampak oleh matanya, lemari itu terlihat kosong. Tidak ada pakaian yang berada di situ.


Dafa menghela napasnya. Kemudian melirik keranjang tempat pakaian kotor. Oh. Di tempat itu ternyata pakaian kotornya sudah tinggi menggunung. Dia baru menyadari kalau sudah beberapa hari ini tidak pernah mencuci pakaian. Tidak kepikiran sama sekali. Karena selama ini pikirannya selalu fokus pada usaha pencarian Nur.


Saat matanya menangkap sehelai kain di salah satu sudut lemarinya , Dafa agak lega. Segera diambilnya baju yang cuma satu-satunya yang masih tersisa itu. Kemudian dipandanginya dengan seksama. Baju itu nampak warnanya sudah memudar. Entah.... itu baju tahun berapa Dia beli. Dan entah sudah berapa lama tidak pernah dipakai-pakai.


Tidak ada rotan akar pun jadi, pikir Dafa. Yang penting ada, masalah lain-lain jangan dipikirkan. Perlahan baju itu Dia kenakan. Masih muat dan masih pantas. Cuma sayang kusut banget. Maklum...! Tapi itu mah soal gampang. Tinggal disetrika. Beres.!


Dia lepas lagi bajunya. Kemudian pergi ke meja setrikaan di ruang tengah.


"Assalamu alaikum...Daf.'


"Wa alaikumusssalam. Masuk saja pintu nggak dikunci."jawab Dafa dari ruang tengah. Dafa paham sekali siapa yang datang. Suaranya sudah dihafal betul. Pasti tidak salah. Dia......tentu Arini!.


"Daf,. ada berita di koran tentang Nur." Terdengar suara Arini dari ruang tamu.


"Yang bener?!" Dafa spontan terkejut. Spontan penasaran.


"Ini... korannya, baca saja sendiri."


Laki-laki itu tanpa berpikir panjang langsung berlari ke ruang tamu. Mengejar berita penting. Berita tentang Nur, baginya sangat penting. Lebih penting dari berita apa pun. Koran yang ada di tangan Arini segera diraihnya.


"Mana?!"


"Itu..... "tunjuk Arini pada sebuah kolom.


"Seorang gadis kecil dengan ciri-ciri tahi lalat di bawah hidung. Dan tanda lahir bulatan hitam sebesar kancing baju di belakang telinga kanannya, kini sedang berada di rumah sakit 'Sentot'. Gadis itu korban kecelakaan yang terjadi tadi malam. Kondisi gadis kecil itu tidak terlalu parah. Hanya ada sedikit memar di bahunya. Tetapi mungkin karena kondisinya lemah, sampai saat berita ini ditulis gadis itu belum sadarkan diri........."


"Benarkan itu ciri-ciri Nur?"tanya Arini ingin memastikan.

__ADS_1


"Benar dia.. Nur. Nur punya ciri-ciri itu."tukas Dafa sigap. "Aku segera ke sana."


"Aku? Kita dong!" Arini protes. Karena 'Aku' itu kan sendiri. Kalau 'Kita' kan lebih dari satu


"Yah.....kita."rallat Dafa.


"Daf...! Kamu...!"teriak Arini tiba-tiba seraya menutupi matanya dengan kedua telapak tangannya.


Dafa merasa heran melihat tingkah Arini. Tapi akhirnya Dafa tahu kenapa Arini berbuat seperti itu. Sontak Dafa pun menjerit dan langsung lari ke dalam. Dia baru menyadari kalau Dia tidak mengenakan pakaian apa pun selain ****** ***** saja. Dafa.....oh!


Sementara di ruang tamu Arini masih menutupi matanya dengan jari-jari tangannya. Jijikkah atau supaya tidak terbayang-bayangkah. Atau entah karena apa? Hanya para wanita yang tahu jawabannya.


"Oh, bajuku.....gosong kena setrikaan.......!!!"jerit Dafa di dalam. Rupanya tadi setrikaannya belum sempat di singkirkan dari bajunya . Masih menindih baju itu. Baju yang cuma tinggal satu itu.


"Ayo buruan ah."seru Arini dari ruang tamu.


"Bajuku gosong. Padahal cuma ini yang bersih. Semuanya kotor....!"keluhnya. " Oh......jadi aku harus pakai baju mana lagi?"


"Ayo cepet Daf. Udah pakai baju apa aja. Baju bekas kemarin juga nggak apa-apa."


"Bau keringat."


"Nggak apa-apa.'


Kemudian laki- laki itu keluar . Menjumpai Arini yang masih mematung di tempat semula.


"Sudah buka matamu. Aku sudah pakai pakaian."


"Hm......pakaianmu bau keringat."kata Arini sambil mengibas hidung mancungnya berulang kali


"Padahal sudah aku kasih minyak wangi lho "


"Emang pakaianmu kotor semua?"


"Iya."


"Mau aku cucikan?"


"Nggak ah. Jangan"


"Emang kenapa?"

__ADS_1


" Masa sih ibu guru jadi tukang cuci. Tidak pantas"


"Ibu guru juga 'kan manusia. Terlebih aku 'kan wanita. Pada akhirnya nanti begitu bersuami aku juga harus mencucikan baju suamiku."


Dafa terdiam beberapa detik. Merasa bingung mau ngomong apa lagi. Mengangkat bahunya. Lalu berjalan keluar. Arini mengikuti dari belakang.


"Yuk berangkat."ajak Dafa kemudian." Oya ...pakai motor siapa?"


"Motor aku saja. Ini kuncinya" Arini menyerahkan kunci motor.


" Koq.. "


"Iya. Kamu yang bawa. Masa sih perempuan yang bawa. Dan lelaki yang membonceng."


Dafa menyadari dari kenaifannya. Tangannya pelan-pelan menggapai kunci motor dari Arini. Kemudian segera menutup pintu rumah. Sekian detik kemudian, Laki-laki itu mulai menstartet motor itu.


Arini menduduki jok belakang dengan perlahan. Kemudian memastikan mencari posisi yang nyaman.


"Rin..maapkan aku ya?" Dafa belum melarikan motor itu walau sudah menyala.


"Maapkan apanya? Memang apa salahmu?" Arini malah bingung. Aneh, Dafa bukannya segera melajukan motornya malah minta maap.


"Kejadian tadi itu. Kejadian yang sangat memalukan itu. " Dafa mematikan suara motor itu. "Aku tidak sengaja. Sungguh!"


"Ah, sudahlah."


"Aku jadi malu padamu. Karena sesuatu yang sangat pribadiku telah kamu ketahui."


"Ah, sudahlah."


"Sungguh hanya kamu yang tahu."


"Bekas pacarmu?"


" Dia belum tahu."tukas Dafa. "Kamu tadi sempat lihat anuku ya?"


"Tidak" jawab Arini lugas.


"Oh..syukur..." Dafa merasa lega. Walaupun boleh jadi jawaban Arini bohong. Boleh jadi Arini menjawab yang menurutnya yang terbaik.b


"Sudah ah....! Ayo cepat berangkat. Ingat Nur. Cepat ayo "pinta Arini sambil mencubit pinggang Dafa sampai lakj-laki itu menggerinjal karena geli.

__ADS_1


Belakangan ini hubungan mereka sudah sangat cair...!!


*****


__ADS_2