Cinta kelas orang rendah "catatan sang supir"

Cinta kelas orang rendah "catatan sang supir"
15


__ADS_3

"Anda belum tidur?"tanya Dewi tiba-tiba. Menghentak Dafa dari lamunan. Spontan laki-laki itu menoleh ke arah samping. Terlihat di situ wajah sang artis yang sedang memperhatikannya.


"Boleh aku menemani anda?"sambungnya. "Aku nggak bisa tidur juga. Entahlah....."


Dafa tidak menjawab. Lidahnya masih terasa kaku. Dia cuma mengangkat bahu, sebagai isyarat kalau dia mempersilahkan.


Pelan-pelan Dewi menuju kursi yang terletak di samping tempat duduk Dafa. Di situ, sekian menit kemudian, dia duduk manis nan anggun.


"Sebetulnya aku sejak tadi berdiri di belakang kursi anda. Tapi karena anda sangat larut dalam pikiran, jadi anda tidak merasakan kehadiran aku."tutur Dewi setelah terduduk. Setelah sekian lama sepi. Matanya menerawang jauh ke depan.


"Oya."timpal Dafa sekenanya.


"Aku perhatikan... tadi anda juga menepuk-nepuk kening berkali-kali. Anda sepertinya sedang kalut banget. Betulkah?"


Dafa menghela napasnya dengan tarikan yang berat. Seperti tersangkut sesuatu.


"Tidak. Aku hanya...."kata Dafa terbata-bata. Ada rahasia yang ingin dia sembunyikan.


"Anda boleh mengelak. Tapi aku yakin anda sedang terlilit masalah yang berat. Anda sedang panik. Anda sedang butuh solusi"kata Dewi lagi dengan yakin. Menatap lekat lawan bicaranya.


Dafa malah menggersah. Dia amat kecewa karena tidak mampu membohongi Dewi. Karena sebenarnya Dia tidak ingin masalahnya ini diketahui oleh sang artis itu. Sebab kalau saja sampai artis ini tahu masalah yang kini sedang dihadapinya, oh.....

__ADS_1


pasti akan tambah ruwet.


"Benarkan apa yang aku katakan?"tanyanya lagi. Makin menyudutkan Dafa.


"Sebenarnya masalahku tidak sehebat yang Dewi kira. 'kilah Dafa mencoba menenangkan pikirannya."Yah......hanya masalah kecil."katanya lagi. "Masalah biasa."


"Tapi kenapa anda terlihat sepanik ini? Anda kelihatan panik sekali."katanya lagi."Aku yakin masalah yang sedang anda hadapi pasti sangat berat. Anda pasti berbohong 'kan?"


"Aku hanya sedang memikirkan Nur" jawab Dafa kemudian. Masih dengan intonasi yang dibuat setenang mungkin.


"Karena anda gagal menunjukkan letak makam mamahnya Nur kan?"


Dafa mengangguk perlahan. Wajahnya sengaja tertunduk ke lantai.


Kepala Dafa semakin tertunduk. Merenungi kata perkata yang keluar dari bibir Dewi. Dan batinnya membenarkan apa yang disampaikan sang artis itu.


"Aku jadi curiga jika sebenarnya mamahnya Nur belum mati. Benar kata-kata aku'kan?"tanya Dewi penuh selidik.


Dafa jadi bingung untuk menjawabnya. Gamang mau berkata apa?.


Suasana mendadak terasa agak tegang. Kesunyian malam di puncak tidak mampu meredam kondisi di ruangan itu.

__ADS_1


"Tolong jawab pertanyaanku. Mamahnya Nur sebenarnya sudah mati atau belum?"tanya Dewi lagi makin penasaran. Intonasinya agak meninggi.


"Aku tidak tahu "jawab Dafa sebisanya. Sebab dia merasa bingung harus menjawab apa?


"Lho koq aneh jawabannya." Dewi menggeleng-gelengkan kepala. Keingin-tahuannya semakin besar."Anda bercerai dengan istri anda. Lalu istri anda pergi dari rumah, begitu?!"


"Tidak."jawab Dafa cepat. Aneh. Tanpa pikir panjang lagi. "Sejujurnya....... aku ini belum nikah."


"Belum nikah? Lalu Nur anak siapa?"tanya Dewi semakin penasaran. Tatapan matanya kian tajam menusuk bola mata Dafa.


Kerongkongan Dafa tiba-tiba seperti tercekik. Sulit untuk bersuara. Lidahnya pun terasa kelu. Helaan napasnya sesaat tersengal-sengal. Hanya sepi yang mengisi ruangan itu. Angin dingin yang masuk laksana belaian yang turut menambah sepi itu semakin tak bertepi. Dan kuat bertahta.


Beberapa waktu kemudian.


"Tolong jawab Nur itu siapa?"tanya Dewi kemudian. Penuh harap. Seperti sedang memohon.


Dafa menatap mata Dewi yang terikat oleh rasa penasarannya. Agak meredup. Kemudian menatap langit-langit ruangan yang putih bersih. Lalu mendesah. Diaturnya napas di dadanya, agar bisa tertata dengan baik.


Dan akhirnya dengan suara berat karena dibebani oleh perasaan yang tak menentu. Dafa akhirnya bercerita pada Dewi peristiwa tujuh tahun yang lalu. Saat Dia menemukan seorang bayi yang masih merah di bak truknya. Dan seterusnya...... Dan seterusnya....


Malam itu.....di saat angin sangat dingin. Dan sepi yang sangat mencekam. Dafa terus bercerita dan Dewi, sang artis itu terus mendengarkan kisah itu dengan seksama dan sepenuh hati.

__ADS_1


*****


__ADS_2