
Pada malam harinya, di saat keluarga Dominic tengah menikmati makan malamnya, tiba-tiba saja ponsel milik Leoni berdering. Setelah dilihat, ternyata ada panggilan untuknya dari Sinta, saudara perempuannya.
***
"Siapa ma?" tanya Cristinus kepada sang istri.
"Sinta pa," jawab Leoni menatap suaminya kemudian Dominic.
"Angkat saja ma. Siapa tau penting," perintah Cristinus yang hanya di balas dengan anggukan oleh sang istri. Sedangkan Dominic nampak menghela nafasnya kasar saat mendengar nama tantenya itu.
"Halo Mba, ada apa?" tanya Leoni setelah panggilan mereka terhubung.
"Halo Leoni, begini, besok rencananya kami dan sekeluarga akan ke rumah mu. Apa kamu dan suami mu ada di rumah?" tanya Sinta membuat Leoni beralih menatap suaminya.
"Pukul berapa ya mba?" tanya Leoni lagi.
"Palingan pukul tiga sore. Gimana? Kamu dan keluarga mu ada di rumah kan?" tanya Sinta lagi.
"Hmmmmm, ada. Kebetulan besok suami ku tidak bekerja," jawab Leoni lagi.
"Ya sudah, kalau begitu, tunggu kami di rumah mu ya. Cuma itu yang ingin mba sampaikan. Mba tutup dulu ya," ucap Sinta lai tanpa menjelaskan maksud dan tujuannya berkunjung ke rumah sang adik.
"Dia bilang apa ma?" tanya Dominic penasaran.
"Tante mu bilang jika dia dan keluarganya akan ke rumah kita besok sore. Dan tante mu juga minta agar kamu dan yang lainnya tetap stay di rumah," jawab Leoni membuat Dominic dan juga Cristinus semakin penasaran.
"Memang ada apa ma?" tanya Cristinus lagi.
"Entahlah pa. Mama sendiri juga nggak tau. Ya sudah, biarkan saja. Kita lihat saja besok," jawab Leoni kembali melanjutkan makannya.
Keesokan harinya, tepatnya di jam sore, Sinta benar-benar datang bersama dengan keluarganya berkunjung ke rumah keluarga Dominic. Kedatangan mereka memang sudah di tunggu oleh Leoni dan anggota keluarga lainnya.
__ADS_1
"Hai Leoni, sudah lama sekali kita tidak bertemu," ucap sang kakak sembari melangkahkan kakinya terus masuk ke dalam rumah adiknya itu.
Sementara itu, di belakang Leoni, tampak Clarista dan Roky berjalan bergandengan tangan.
"Halo tante, kenalkan, ini Clarista calon istriku," ucap Roky dengan bangganya memperkenalkan kekasihnya itu.
"Iya, tante sudah kenal kok. Dia Clarista mantan pacarnya Dominic kan. Tante kira, kamu ini adalah laki-laki yang punya gengsi. Taunya kamu hanyalah seorang laki-laki yang menyukai bekas sepupu mu sendiri," ucap Leoni seketika membungkam mulut keponakannya itu dan membuat wajah Clarista menjadi merah karena malu.
.
.
"Di minum dulu mba air nya," tawar Leoni yang sudah beberapa tahun perang dingin dengan sang kakak.
"'Terima kasih. Hmmmmm, Leoni, langsung saja ya karena mba tidak punya banyak waktu. Jadi gini, mba mau menyampaikan jika satu minggu lagi, Roky keponakan mu akan menikah dengan kekasih nya yaitu Clarista. Mba mau minta maaf jika mau tak mau Roky terpaksa mendahului Dominic sebagai cucu pertama di keluarga kita. Gimana? Apa kamu nggak keberatan?" ucap Sinta membuat Leoni hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Tidak masalah kok mba. Lagi pula, aku juga belum memberi izin untuk Dominic menikah cepat-cepat. Dan misalkan kalau Dominic ingin menikah cepat-cepat, aku sebagai ibunya pasti akan memilih wanita yang baik-baik untuk mendampingi anakku. Aku nggak mau asal memilih wanita. Takutnya nanti dapat wanita yang tukang selingkuh gimana? Kan kasihan anak kitanya," ucap Leoni menyindir Clarista, calon menantu dari kakak nya itu.
"Ya, kamu betul. Itu semua terserah kamu saja," ucap Sinta yang sudah mulai panas.
"Oh ya tante, kelihatannya perut calon menantu tante itu kok buncit ya? Apa dia jarang olah raga?" tanya Alina yang seolah-olah tidak mengenal Clarista sebelumnya.
Mendapat pertanyaan yang menohok dari keponakannya itu, seketika wajah Sinta merah padam. Harus di taruh dimana mukanya jika ia mengakui jika Clarista saat ini tengah hamil darah daging anaknya.
Tak jauh beda dengan Sinta, wajah Roky dan juga Clarista tampak memerah juga. Ingin sekali rasanya Roky menyumpal mulut saudara nya itu, tapi sayang sekali, ia tidak cukup berani untuk melakukan hal itu.
"Ah, biasa saja. Clarista ini kebetulan banyak duduk. Jadi perutnya memang agak buncit. Lagi pula, kami baru saja habis makan sebelum berangkat ke sini," jawab Sinta yang sebenarnya tidak menyukai Clarista sebagai calon menantunya.
"Oh gitu.. Kirain...," ucap Alina lagi.
"Kirain apa dek?" tanya Dominic yang muncul dari arah dapur.
__ADS_1
Dominic seolah-olah tak mendengar apa ang baru saja mereka bicarakan. Tapi sebenarnya, Dominic sudah mendengarnya semenjak awal pembicaraan itu di mulai.
"Itu lo kak, perut clon istrinya kak Roky terlihat besar gitu kak. Aku pikir sakit atau gimana gitu, eh taunya banyak duduk dan habis selesai makan juga," jawab Alina yang sudah bersekongkol dengan kakaknya untuk memalukan Roky dan juga keluarganya.
"Banyak duduk atau banyak hal lainnya? Bukannya kemarin Roky bilang jika calon istrinya itu tengah hamil?" tanya Dominic melihat ke arah tantenya itu. Sedangkan Cristinus dan Leoni hanya bisa diam melihat kelakuan anak-anaknya itu.
"Maksud kamu apa Dom? Jangan asal bicara kamu ya?" protes Sinta mulai terpancing emosi.
"Loh? Aku bicara apa adanya lo tan. Kalo tante nggak percaya, coba tanya saja sama anak dan calon menantu tante itu." balas Dominic merasa puas.
Sinta hanya bisa diam. Bertanya pun tak ada gunanya, pasalnya ia sudah tau jika Clarista hamil anaknya Roky.
"Sudah, saya ke sini hanya ingi menyampaikan itu saja. Saya sibuk sekali hari ini. Saya permisi pulang dulu," balas Sinta pergi begitu saja meninggalkan rumah sang adik. Dan di susul oleh Roky dan juga Clarista.
"Awas lo ya. Gue pasti akan balas kelakuan lo ini," ancam Roky sebelum benar-benar pergi meninggalkan rumah itu.
"Haha. Boodo amat. Lo pikir gue takut apa," balas Dominic meledek.
.
.
"Ini semua gara-gara kamu Roky. Jika bukan kamu yang memaksa mama ke sini, mama nggak akan malu seperti ini di hadapan tante Leoni dan keluarganya. Kamu tau, mereka saat ini pasti sedang mentertawakan kita," umpat Sinta kesal.
"Sudahlah ma. Biarkan saja. Cepat atau lambat, aku pasti akan membalas mereka semua," jawab Roky lalu menyalakan mesin mobilnya.
Sementara itu, di rumah, Dominic tampak tertawa lepas. Ia sangat senang sekali karena telah mempermalukan Roky di depan Clarista dan orang tuanya.
"Gimana Dom? Kamu puas?" tanya Cristinus kepada anak laki-lakinya itu.
"Puas pa. Aku puas sekali," jawab Dominic.
__ADS_1