Cinta Lintas Agama

Cinta Lintas Agama
Bab 17


__ADS_3

"Tapi aku rasa dia juga mencintai mu Khadijah. Kita sendiri sudah lihat sendiri kan selama ini. Di saat kakak ku hilang ingatan, hanya kamu saja orang yang dia ingat di masa lalu mu. Dan kamu juga lihat, bagaimana sikap nya terhadap kamu. Khadijah, aku akan sangat senang sekali jika kamu menjadi kakak ipar ku," ucap Alina bersungguh-sungguh.


***


"Makasih ya Al. Tapi bagaimana dengan agama kita? Itu saja sudah menjadi penghalang besar bagi perasaan ku," balas Khadijah yang ternyata menaruh hati terhadap Dominic.


"Sudah, kamu nggak usah pikirkan itu. Nanti aku akan bantu dengan caraku sendiri," jawab Alina memegang kedua pipi Khadijah.


"Makasih ya Al. Aku beruntung sekali bisa memiliki sahabat seperti mu. Tapi kamu janji ya Al, jangan sampai kakak mu tau perasaan ku ini," balas Khadijah kembali meraih cadarnya.


Disaat Khadijah akan meninggalkan rumah sahabatnya itu, tiba-tiba saja ia di panggil oleh Dominic. Dengan tatapan serius, Dominic mengajak Khadijah untuk bicara empat mata di luar rumah.


"Memang, apa yang kakak mau bicarakan? Apa ada yang ingin kakak tanyakan?" tanya Khadijah terlihat penasaran.


"Nanti kamu juga akan tau Khadijah. Kamu bisa kan? Kita bicaranya di taman depan komplek saja," jawab Dominic mempersilahkan Khadijah untuk masuk ke dalam mobilnya.


Lima menit kemudian, keduanya sudah berada di taman tersebut. Tidak sepi, dan juga tidak ramai. Keadaan ini seolah mendukung Dominic untuk megungkapkan apa yang ingin ia sampaikan kepada gadis bercadar itu.


"Jadi, apa yang ingin kakak sampaikan?" tanya Khadijah yang duduk di ujung kursi taman. Sedangkan di ujungnya lagi di duduki oleh Dominic.


Dominic tampak menghela nafasnya berat sebelum ia mulai menyampaikan isi hatinya.


"Khadijah, maafkan aku. Jujur tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mu dengan Alina adikku. Aku mendengar jika kamu di lamar oleh seorang ustadz tempat kamu sekolah dulu. Apa itu benar?" ucap Dominic lalu melayangkan pertanyaan di akhir kalimatnya.


'Apa? Jadi kak Dominic tadi mendengar pembicaraan ku dengan Alina? Apa dia juga mendengar jika laki-laki yang aku cintai itu adalah dia?' batin gadis bercadar itu.


"I.. I.. Iya kak. Itu semua benar," jawab Khadijah dengan pandangan yang ia tundukkan.

__ADS_1


"Lalu apa jawaban mu? Apa kamu menerima lamarannya?" tanya Dominic lagi.


"Seperti yang sudah kakak dengar tadi, aku belum memberikan jawabanku karena aku masih bingung," jawab Khadijah mengulangi pembicaraannya dengan Alina tadi.


"Memang apa yang membuat mu bingung? Apa karena laki-laki yang kamu cintai itu?" tanya Dominic membuat Khadijah terdiam untuk beberapa saat.


"Jawab Khadijah. Kenapa kamu diam saja?" tanya Dominic lagi.


"I..Iya kak," jawab Khadijah menganggukkan kepala.


"Hhhhhhhh, siapa laki-laki itu? Apa saya boleh tau?" tanya Dominic setelah diam beberapa saat untuk menenangkan hatinya.


'Aduh, bagaimana ini? Apa yang harus aku jawab?' batin Khadijah panik.


"Kha," panggil dominic lagi.


"Hhhhhhh, baik. Tapi, sebenarnya bukan itu tujuan ku untuk mengajak mu kesini Khadijah," ucap Dominic yang hatinya terkoyak-koyak saat ini.


"Lalu.. Lalu apa kak?" tanya Khadijah kembali penasaran.


"Hhhhhhh, Khadijah, aku mengatakan ini bukan karena kamu akan di lamar oleh laki-laki itu. Tapi jujur, meskipun kita baru saling mengenal beberapa waktu ini, tapi aku merasa kenyamanan aku ada pada dirimu. Aku Dominic Cristinus sangat-sangat mencintai mu, Khadijah Azzahra. Mau kah kamu menjadi pacar ku?" ucap Dominic membuat Khadijah terkejut dan jantungnya berdebar kencang.


'Apa ini? Apa aku tidak salah dengar?' batin Khadijah memegang dadanya.


Andai Dominic tau, betapa gugupnya ia saat ini. Betapa merahnya wajah Khadijah saat ini.


'Ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan,' atin Khadijah lagi.

__ADS_1


"Hhhhhhh, Bismillah. Maafkan aku kak. Agama ku mengharamkan yang namanya pacaran. Bukan aku menolak. kalau boleh jujur, sebenarnya laki-laki yang aku cintai itu adalah kamu kak. Tapi aku memilih untuk tetap memendamnya karena aku tau, banyak perbedaan yang menjadi pembatas di antara kita berdua," jawaban yang di berikan Khadijah ini benar-benar membuat Dominic dilema. Di satu sisi, ia sangat bahagia sekali jika ternyata laki-laki yang dicintai oleh Khadijah itu adalah dirinya. Dan disisi lainnya, ia juga bingung karena Khadijah tidak mau berpacaran dengannya.


'Jadi.. Jadi.. Jadi laki-laki yang di cintai Khadijah itu adalah gue?' batin Dominic juga dengan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat dari yang biasanya.


"Jadi.. Jadi.. Jadi kamu juga mencintaiku? Laki-laki beruntung itu aku?" tanya Dominic masi tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Iya kak. Itu kamu," jawab Khadijah menganggukkan kepalanya.


"Oh tuhan yesus, aku senang sekali," ucap Dominic ingin memeluk Khadijah, namun dengan cepat, Khadijah segera mengingatkannya.


"Maafkan aku Khadijah. Aku sangat senang dan bahagia sekali," ujar Dominic yang tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


"Hmmmmmm, kakak kan sekarang sudah tau. Lalu, bagaimana untuk kedepannya? Apa yang ingin kakak lakukan?" tanya Khadijah seketika membuat raut wajah Dominic berubah.


"Hhhhhh, Khadijah, aku akan memperjuangkan mu bagaimana pun caranya. Tak peduli berapa banyak rintangannya. Yang jelas, aku akan tetap memperjuangkan cinta kita," jawab Dominic bersungguh-sungguh.


"Kak, jika tidak ada jalan keluar untuk cinta kita, aku tak akan pernah marah jika kakak memilih mundur dan mencari wanita lain," ucap Khadijah membuat Dominic menggelengkan kepalanya.


"Nggak. Sampai kapan pun aku tak akan pernah menyerah. Hmmmmm, Khadijah.. Jika agama yang menjadi pembatas diantara kita, apa kamu bersedia pindah agama demi cinta kita?" tanya Dominic seketika membuat Khadijah mengangkat pandangannya dan menatap Dominic sesaat.


"Maafkan aku kak, untuk pindah agama, aku nggak akan pernah mau. Cinta ku pada agama ku dan juga tuhanku, lebih besar dari cintaku sama kamu kak," jawab Khadijah seketika membuat Dominic yang juga berat meninggalkan agamanya itu hanya bisa diam membatu.


'Bagaimana ini? Aku sudah yakin, Khadijah tak akan pernah mau meninggalkan agamanya walau pun dia sangat mencintaiku. Nggak.. Aku nggak bisa menyerah. Aku akan memperjuangkan cintaku kepada Khadijah,' batin Dominic.


"Ok.. Kalau begitu baiklah. Aku akan memikirkan cara lainnya," ucap Dominic sebelum Khadijah berdiri dan berpamitan untuk pulang.


"Ya sudah. Kalau begitu aku pulang dulu kak. Kakak kembali lah ke rumah. Takutnya nanti Alina mencari mu," ucap gadis bercadar itu.

__ADS_1


"Biarkan saja dia. Aku akan mengantarmu pulang ke rumah," balas Dominic lagi.


__ADS_2