Cinta Lintas Agama

Cinta Lintas Agama
Bab 24


__ADS_3

"Hhhhhh, kak, aku memang mencintai kakak sampai detik ini. Tapi maaf kak, begitu besar pembatas di antara kita berdua yang membuat aku harus mengalah. Aku telah memutuskan untuk menerima lamaran ustadz Zaki dan menerima beliau sebagai imam ku. InsyaAllah dalam beberapa hari lagi kami akan segera menikah.


***


"Apa? Kamu.. Kamu menerima lamaran laki-laki itu? Lalu.. Lalu bagaimana denganku Khadijah? Aku juga mencintai mu," ucap Dominic dengan air mata yang telah mengucur.


"Maafkan aku kak. Aku yakin kakak pasti akan mendapatkan wanita baik yang seiman dengan kakak," jawab Khadijah yang dadanya saat ini terasa sesak karena melihat Dominic seperti itu.


"Tapi Kha," ucap Dominic lagi.


"Hmmmm, maaf nak Dominic. Om tau kamu pasti terluka. Tapi kamu harus bisa menerima kenyataan hidup nak. Om tau kamu adalah anak yang baik. Andai saja kamu seiman dengan kami, maka om tanpa ragu akan menerima kamu sebagai menantu om. Sekarang, belajarlah menerima kenyataan nak. Ikhlaskan Khadijah. Dengan begitu, insyaAllah perlahan kamu juga akan bisa mengikhlaskannya," sela ayah Husin mengusap punggung laki-laki yang mencintai anaknya itu.


"Tapi om, bagaimana saya bisa mengikhlaskan Khadijah sedangkan saya masih sangat mencintainya?" tanya Dominic di sela-sela tangisannya.


"Om tau nak. Tapi kamu harus percaya tuhan mu. Dia tidak akan membiarkan anak baik seperti kamu bersedih terlalu lama," ujar ayah Husin lagi.


"Tapi om, apakah saya dan Khadijah tetap bisa berteman meskipun dia telah menjadi istri orang lain?" tanya Dominic berusaha melapangkan dadanya.


"Tentu nak. Bahkan pintu rumah kami ini akan selalu terbuka lebar untuk mu," jawab ayah Husin terus mengusap punggung Dominic.


"Hhhhhhh, baiklah. Saya akan mencoba untuk mengikhlaskan Khadijah dengan laki-laki itu," jawab Dominic yang sebenarnya tidak ikhlas bisa ikhlas sama sekali.


"Terima kasih kak atas kemudaannya," jawab Khadijah sedikit merasa lega.


Beberapa hari sesudahnya, tepatnya di hari jumat. Khadijah kembali tidak masuk kampus karena hari ini, gadis cantik itu akan melangsungkan pernikahannya dengan ustadz Zaki.


Perasaan Khadijah semakin tidak karuan saat ia telah selesai di rias dan akan bersiap-siap menuju masjid tempat proses ijab kabul di laksanakan.


"Khadijah, apa kamu sudah siap nak?" tanya ibu Siti menatap betapa cantiknya wajah sang anak tercinta.


"InsyaAllah aku siap bu," jawab Khadijah menghela nafasnya kasar.


"Ya sudah. Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang," balas sang ibu menggandeng tangan Khadijah.


"Hmmmm, ibu duluan saja ya. Ada ha yang ingin aku bicarakan sebentar dengan Alina," ucap Khadijah menatap sang ibu.


"Baiklah nak. Tapi jangan lama-lama ya," ucap ibu Siti lalu meninggalkan kamar Khadijah.

__ADS_1


.


.


Khadijah, apa yang ingin kamu bicarakan sama aku?" tanya Alina setelah pintu kamar sahabatnya itu tertutup rapat.


"Hmmmmm Al, apa kak Dom akan datang?" tanya Khadijah yang sudah penasaran sedari tadi.


"Hhhhhhh, iya Khadijah. Maafkan aku ya. Aku sudah berusaha untuk melarangnya. Tapi kakak aku tetap kekeh untuk menghadiri acara pernikahan mu," jawab Alina tidak enak.


"Tidak apa-apa kok Al. Tapi aku takut kakak kamu akan semain terluka," ucap Khadijah lagi.


"Aku juga menakutkan hal yang sama Khadijah. Tapi kamu tenang saja. Ada papa dan juga mamaku yang akan menemani kak Dominic ke acara pernikahan mu," jawab Alina membuat Khadijah semakin tidak enak.


"Apa? Mama sama papamu juga hadir?" tanya Khadijah lagi.


"Iya Khadijah. Maafkan aku ya. Aku nggak bisa menahan mereka. Mereka takut jika kak Dom akan melakukan hal yang nekat lagi," jawab Alina menghela nafasnya kasar.


"Nggak usah minta maaf Al. Akulah yang salah. Nggak seharusnya aku mengutarakan perasaan ku sama kakakmu," jawab Khadijah semakin merasa bersalah.


"Sudah, tidak apa-apa. Cinta kalian memang berat. Ya sudah. Kalau gitu ayo kita turun. Kasihan mereka sudah pada nungguin kita," ajak Alina menutup pembicaraan mereka.


Di sana nampak rombongan dari ustadz Zaki telah lebih dulu hadir dan berada di dalam masjid. Sedangkan Dominic dan kedua orang tuanya juga sudah menunggu di depan masjid.


Hati Khadijah rasanya sakit saat melihat wajah sendu Dominic. Namun tidak dengan Cristinus.


Laki-laki paruh baya itu sangat terkejut sekali saat melihat ibu Siti berjalan mendampingi Khadijah. Dalam hati ia bertanya-tanya apa hubungannya dengan Khadijah.


Ibu Siti sendiri adalah cinta Cristinus beberapa tahun silam. Karena agama, mereka akhirnya memilih jalan hidup masing-masing.


'Astaga, itu, itu, itu bukannya mas Cris?' batin ibu Siti berdebar kencang.


"Bu, kamu kenapa?" bisik ayah Husin yang sadar dengan perubahan istrinya.


"Hmmmm, aku nggak papa yah. Hanya saja aku sedikit gugup," jawab ibu Siti berbohong.


Ia tidak mungkin mengatakan jika di depan sana ada mantan pacarnya sewaktu dulu.

__ADS_1


"Sudah, tidak apa-apa. Berusahalah untuk tetap tenang. InsyaAllah semuanya akan baik-baik saja," jawab ayah Husin menenangkan sang istri.


Kedua orang tua Dominic menyempatkan dirinya untuk mengucapkan selamat kepada Khadijah sebelum gadis cantik itu masuk ke dalam masjid.


Disaat itu Cristinus baru tau jika ibu Siti adalah ibu kandung dari Khadijah.


'Pantas saja anakku tergila-gila kepada Khadijah. Ternyata dia lahir dari rahim wanita hebat seperti mu Siti,' batin Cristinus sembari berjalan masuk ke dalam masjid untuk menyaksikan akad nikah Khadijah.


"Dom, apa kamu kuat? Kalau nggak, kita keluar saja," bisik Cristinus yang faham betul bagaimana perasaan putranya itu.


"Hhhhhh, aku kuat kok pa. Papa tenang saja," jawab Dominic dengan mata yang mulai basah.


.


.


"Assalamualaikum, apakah bisa acaranya kita mulai?" tanya penghulu yang akan menikahkan mereka.


"InsyaAllah bisa ustadz," jawab ustadz Zaki dengan mata berbinar.


"Alhamdulillah. Baiklah kalau begitu silahkan jabat tangan pak Husin," jawab penghulu tersebut lalu memulai acaranya..


"Bagaimana saksi? Sah?" tanya penghulu setelah ustadz Zaki mengucapkan ijab dan kabulnya dengan satu kali tarikan nafas.


"Sah," jawab semua orang yang hadir di sana. Terkecuali Dominic yang hanya bisa diam menyaksikan wanita yang ia cintai kini telah menjadi istri orang lain.


Dominic hanya bisa terdiam membatu dengan air mata yang sudah menetes begitu saja. Hatinya semakin sakit saat melihat Khadijah mencium punggung tangan ustadz Zaki dan ustadz Zaki pun mencium kening Khadijah dengan penuh perasaan. Tak terbayang betapa bahagianya ustadz Zaki saat ini dan betapa hancurnya Dominic.


Ia sangat mencintai wanita tersebut meskipun hanya sekali melihat wajah Khadijah dari kejauhan.


"Selamat ya Khadijah, saat ini kamu sudah menjadi seorang istri. Semoga kamu bahagia selamanya," ucap Alina memeluk sahabatnya itu.


"Amiinn.. Makasih ya Alina," jawab Khadijah mencoba untuk tetap tersenyum.


"Selamat ya Khadijah. Selamat menempuh hidup baru dan selamat berbahagia," ucap Cristinus dan Leoni bergantian.


"Sama-sama Om, tante. Makasih ya om dan tante sudah menyempatkan untuk hadir di sini," jawab Khadijah menyalami tangan suami istri itu.

__ADS_1


"Khadijah, selamat ya. Semoga kamu bahagia dengan kehidupan baru mu," giliran Dominic mengucapkan selamat walaupun hatinya hancur berkeping-keping.


__ADS_2