Cinta Lintas Agama

Cinta Lintas Agama
Bab 15


__ADS_3

"Bagaimana nak? Apa keputusan mu? Kamu katakan saja. Ibu dan juga ayah mu ini juga ingin mendengar jawaban mu nak," ucap bu Siti yang juga penasaran dengan jawaban sang anak.


Jujur, ibu Siti juga berharap jika Khadijah mau menerima lamaran ustadz Zaki.


Karena bagi dirinya, ustadz Zaki adalah imam yang baik untuk anaknya itu.


"Hmmmm aku.. Aku.. Aku....," ucap Khadijah gugup.


***


"Gimana nak? Apa jawaban mu?" tanya sang ayah lagi.


"Aku.. Apa aku boleh meminta waktu tiga hari lagi bu? Aku akan salat istikharah untuk memantapkan pilihan ku," jawa b Khadijah dengan gugup.


"Kalau masalah itu, ibu serahkan semuanya sama ustadz Zaki saja nak. Bagaimana ustadz Zaki? Apa ustadz bersedia memberi Khadijah waktu tiga hari lagi?" tanya ibu Siti menatap Khadijah dan ustadz Zaki bergantian.


"InsyaAllah saya bersedia b. Saya akan menunggunya dengan bersabar. Saya harap, apapun jawaban Khadijah nanti adalah jawaban terbaik yang di tetapkan oleh Allah atas kehidupan kami berdua," jawab ustadz Zaki membuat Khadijah lega.


"Alhamdulillah. Makasih ustadz," jawab Khadijah tenang.


"Sama-sama Khadijah. Ya sudah, kalau begitu tiga hari lagi saya akan kembali ke sini. Saya harap kamu sudah memiliki jawabannya," jawab ustadz Zaki sekaligus berpamitan untuk pulang.


"Ah, baiklah. Kalau begitu hati-hati di jalan," jawab Khadijah lalu kata yang sama juga di ucapkan oleh kedua orang tua Khadijah secara bergantian.


.


.


"Khadijah, bagaimana hati mu yang sebenarnya? Bukankah kamu bilang sama kami jika kamu tidak mau menerima lamaran ustadz Zaki? Tapi mengapa kamu seolah menggantung nya nak?" tanya ayah Husin kepada putrinya itu.


"Maafkan aku ayah. Aku bukan bermaksud untuk menggantung perasaan ustadz Zaki, hanya saja aku tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan," jawab Khadijah menundukkan kepalanya.


"Ohh begitu ya sudah, ayah serahkan semuanya sama kamu nak. Hati-hati dalam mengambil sebuah keputusan. Jangan gegabah dan pertimbangkan baik-baik," ucap ayah Husin lalu masuk ke kamarnya.


"Hmmm bu, aku mau pamit dulu ya. Aku mau ke rumah Alina dulu," ucap Khadijah mencium tangan wanita yang telah melahirkannya itu.

__ADS_1


"Iya. Kamu hati-hati di jalan ya nak. Oh ya, bagaimana kabar kakak nya Alina? Apa ingatannya sudah balik?" tanya ibu Siti sembari mengantar anaknya itu hingga pintu.


"Belum bu. Kakaknya Alina belum ingat apa-apa. Aku masih heran bu, kenapa hanya aku yang diingat sama kak Dominic," jawab Khadijah yang masih saja heran dengan amnesia yang di derita oleh Dominic.


"Itu semua kuasa Allah nak. Semua sudah ada jalannya. Siapa tau ada rencana Allah di balik semua ini," jawab ibu Siti yang sebenarnya juga keheranan.


Beberapa saat kemudian, Khadijah pun tiba di rumahnya Alina. Kedatangannya sudah di tunggu oleh keluarga non muslim itu.


"Assalamualaikum om, tante. Maaf saya terlambat. Tadi ada tamu soalnya," ucap Khadijah yang baru tiba di rumah sahabatnya itu.


"Iya nggak papa kok Khadijah. Kita langsung ke taman belakang saja yuk. Kebetulan, Dominic sudah menunggu mu di sana," jawab Leoni dengan ramah.


Khadijah sendiri di minta oleh kedua orang tua Dominic untuk membantu mengembalikan daya ingat anak laki-lakinya itu.


.


.


"Dom, ini Khadijah sudah datang," ucap Leoni menghampiri putranya itu..


"Hai, Khadijah, Assalamualaikum," sapa Dominic membuat Leoni dan Cristinus mengernyitkan keningnya.


"Hmmmm, Khadijah, apa kita bisa bicara sebentar?" bisik Leoni yang kurang nyaman saat mendengar anaknya mengucapkan salam terhadap Khadijah.


"Bisa tante. Tante mau bicara apa?" tanya Khadijah balik.


"Hmmm, kita bicaranya di dalam saja. Ayo ikut saya sebentar," jawab Leoni mendahului langkah Khadijah.


...


"Maaf tante, tante mau bicara apa?" tanya gadis berhijab itu.


"Khadijah saya mau nanya sama kamu, tapi tolong kamu jawab jujur, apa kamu mengajarkan anak saya tentang agama mu? Seperti menjawab salam dan hal lainnya tanpa saya ketahui?" tanya wanita paruh baya itu menatap Khadijah lekat.


"Nggak sama sekali tante. Meskipun saya seorang muslim, tapi saya tidak akan mengajarkan agama saya kepada orang yang tidak seiman dengan saya. Kecuali orang itu yang meminta saya," jawab Khadijah dengan tenang.

__ADS_1


Khadijah sendiri memang tidak pernah mengajarkan hal-hal yang berkaitan dengan agamanya kepada Dominic. Ia sendiri juga terkejut saat pertama kali Dominic mengucapkan salam dan mengucapkan kata InsyaAllah kepada dirinya.


"Lalu, kenapa bisa anak saya mengucap salam sama kamu?" tanya Leoni lagi.


"Maaf tante, saya nggak tau. Mungkin saja kak Dom pernah dengar saya mengucapkan salam saat saya bicara melalui telepon," jawab Khadijah tak menutup kemungkinan.


"Hmmmmm, bisa jadi juga sih. Ya sudah, kamu boleh kembali ke tempat Dominic. Maaf ya, tadi saya sempat suudzon sama kamu," ucap Leoni lagi.


"Nggak papa tante. Tante tenang saja, saya nggak akan mengajarkan agama saya kepada orang yang bukan seiman dengan saya. Kecuali orang itu sendiri yang memintanya. Dalam agama saya di katakan, untukku agamaku dan untukmu agamamu," jawab Khadijah setidaknya membuat Leoni lega.


"Ah baiklah. Ya sudah, kalau begitu, saya ke kamar dulu," pamit Leoni lalu pergi.


.


.


"Khadijah kamu tadi bicara apa sama mama ku?" tanya Dominic penasaran.


"Nggak apa-apa kok kak. Oh ya kak, gimana? Apa kakak mengingat sesuatu?" jawab Khadijah balik bertanya.


"Nggak, sepertinya aku nggak ingat apa-apa," jawab Dominic menggeleng.


'Aku akan terus lupa hingga kita bisa bersatu suatu hari nanti Khadijah,' batin dominic.


Ya, sebenarnya Dominic hanya pura-pura mengalami amnesia saja.


Sewaktu di rumah sakit, kebetulan Dominic di tangani oleh dokter yang merupakan bapak dari teman kampusnya. Dominic memohon kepada bapak dari temannya itu untuk memberi tahukan kepada keluarganya jika dirinya terkena amnesia. Awalnya dokter tersebut keberatan dan menolaknya. Namun setelah mengatakan alasannya, bapak dari temannya itu akhirnya mau membantu dirinya untuk memberikan diagnosa palsu.


"Ok, baiklah. Hmmmmm, kak, kapan rencananya kakak akan masuk kuliah lagi?" tanya wanita bercadar itu.


"Aku kuliah? Memang aku ini masih kuliah? Bukankah kamu bilang jika umurku sudah tiga puluh tahun?" tanya Dominic pura-pura bodoh.


"Iya, lo itu masih kuliah kak meskipun umur lo udah tiga puluh tahun. Secara lo itu kan mahasiswa abadi," sela Alina yang tiba-tiba saja datang menghampiri Khadijah dan juga kakaknya itu.


'Sial, nih anak kenapa kesini sih? Nggak tau apa orang lagi pacaran. Ganggu aja. Mana mulutnya pedih banget lagi,' batin Dominic kesal.

__ADS_1


"Mahasiswa abadi? Khadijah, apa benar yang di katakan oleh bocah jelek ini?" tanya Dominic pura-pura pilon.


"Iya kak. Maafkan aku. Aku nggak mungkin nutupin kenyataannya. Kakak memang masih kuliah, dan kakak memang mahasiswa abadi. Dan untuk tahun ini, kakak kembali tidak lulus. Maka dari itu aku nanya sama kakak, kapan kakak akan mulai kuliah lagi?" jawab Khadijah apa adanya.


__ADS_2